CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 OSPEK Hari Kedua


__ADS_3

"Kukuruyuuuk."


Anjani telah bersiap sejak pagi buta. Dia telah siap dengan atasan putih, bawahan hitam, dan sepatu hitam. Kali ini dia tidak kesulitan mencari sepatu. Sejak kejadian kemarin pagi, setelah mengantarkan Anjani ke kampus, Paman Sam langsung berburu tiga pasang sepatu hitam di pasar. Paman Sam tidak ingin Anjani terkena masalah lagi karena kehilangan pasangan sepatunya.


"Gimana paman kau ini? Sudah terlihat baik atau belum?" tanya Paman Sam di sela aktivitas melayani pembeli di warungnya.


"Iya-iya. Paman memang terbaik, deh." Anjani menanggapi sambil memakai tas kardus miliknya. Semalam dia telah menambahkan beberapa pernak-pernik agar terlihat lebih bagus.


"Anjani! Ayo berangkat!" teriak Meli. Dia telah datang dengan motornya.


"Motor kau baru itu, Mel?" tanya Paman Sam.


"Bukan, Paman. Dapat pinjem. Ada teman yang kebetulan ke luar kota dan titip motor di rumah. Sudah izin, kok." Meli terlihat ceria.


"Oh, begitu. Anjani, bawa saja motor di dalam itu!" ujar Paman Sam menawarkan motornya.


"Nggak perlu, Paman. Lebih enak dibonceng. Sudah, aku pamit dulu. Sampai jumpa nanti sore, Paman." Anjani berpamitan dan bergegas duduk di boncengan motor.


Meli melambai ke arah Paman Sam, tanda ikut berpamitan. Paman Sam hanya tertawa melihat tingkah dua perempuan yang sudah dia anggap sebagai putrinya sendiri.


***


Motor melaju dengan kecepatan sedang, karena memang masih ada waktu untuk sampai di kampus tepat waktu. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di kampus dengan naik motor, tidak sampai sepuluh menit dengan kecepatan sedang. Kalau naik angkot bisa jadi butuh waktu setengah jam, karena sopir angkot sambil mencari penumpang lain. Sebenarnya ada juga mahasiswa yang jalan kaki, meski harus menempuh jarak jauh dan butuh waktu sekitar lima belas hingga dua puluh menit. Ya, semua itu memang tergantung pada niatan untuk sampai di kampus, tidak masalah dengan cara apa saja.


Meli melajukan motor dengan hati-hati karena ada pemberhentian lampu merah. Setelah melewati perempatan jalan, mendadak motor berhenti, padahal belum setengah jalan yang ditempuh. Anjani turun, diikuti Meli. Mereka berdua memeriksa motor yang tiba-tiba berhenti. Seketika Meli teringat bahwa dirinya lupa belum mengisi bensin, padahal kemarin sudah diingatkan oleh temannya.


"Aduh! Gimana ini, ya!" Meli terlihat panik.


"Kita dorong saja, kalau tidak salah di depan sana ada yang jual ecer. Waktunya juga masih cukup, kok. Ayo!" usul Anjani.


Anjani membantu Meli mendorong motor. Anjani yakin akan sampai di kampus tepat waktu, karena masih ada waktu sekitar lima puluh menit sebelum masuk. Saat Anjani dan Meli mendorong motor, melajulah motor Juno, Ken, dan paling belakang adalah motor Mario. Rupanya hanya Mario yang menyadari bahwa yang sedang mendorong motor adalah Anjani dan sahabatnya. Meskipun tahu, Mario tidak berhenti dan tetap melajukan motornya.


Tidak butuh waktu lama untuk menemukan penjual bensin ecer. Sampai di depan penjual, Meli dan Anjani patungan untuk membeli dua botol bensin. Dan ... berhasil, motor telah kembali nyala. Seketika terlihat ekspresi lega di wajah Anjani dan Meli.


Motor kembali dilajukan. Anjani dan Meli terlihat lebih bersemangat kali ini. Akan tetapi, baru beberapa meter tiba-tiba ban belakang motor terasa meletus. Motor sempat oleng, untungnya baik Anjani ataupun Meli tidak sampai terjatuh.


"Astaga! Siapa yang buang paku di jalanan, sih. Bocor, deh!" keluh Meli.


"Aduh! Nggak mungkin juga kita ninggalin motor terus naik angkot, Mel." Anjani sedikit mulai khawatir.


"Ya jangan. Motor orang, nih. Kita cari bengkel aja, deh. Yuk, dorong lagi!" pinta Meli.


Anjani dan Meli kembali mendorong motornya. Rupanya, mencari bengkel terdekat lebih sulit dari yang mereka berdua bayangkan. Alhasil, bengkel motor yang sepagi itu buka, baru ditemukan lima belas menit kemudian.


"Ini perlu ganti ban dalam, Neng." Abang tukang tambal ban menjelaskan.


"Terserah saja, deh. Yang penting bisa dinaiki lagi, Bang." Meli terlihat pasrah dan mengiyakan saja.


Cukup lama Anjani dan Meli menunggu. Mereka berdua sadar pasti akan datang terlambat ke kampus. Apalah daya, semua seolah terjadi begitu saja. Tidak ada rencana dan tidak ada yang menginginkannya. Biarlah sudah, setiap hal yang terjadi pasti menyimpan kebaikan di dalamnya.


"Anjani, kemarin hukumannya menghafal nama ruang sama minta tanda tangan, kan?" tanya Meli memastikan.


"Iya. Sepertinya hari ini bakal terulang lagi, Mel. Nanti bareng, ya." Anjani terlihat pasrah dengan hukuman yang menanti di depan gedung kampusnya. Bahkan, dia sudah bisa membayangkan wajah-wajah mahasiswa senior yang nanti akan ditemui di sana.


Pergantian ban motor selesai tepat saat jam masuk OSPEK hari kedua. Anjani dan Meli jelas terlambat. Percuma juga melajukan motornya dengan tergesa, sampai sana pun mereka berdua tetap terhitung terlambat. Dengan kecepatan sedang, lima menit kemudian Anjani dan Meli sampai di parkiran kampus.


Saat memarkir motor, dari jauh lima mahasiswa senior yang berjaga di depan gedung terlihat memperhatikan Anjani dan Meli. Mereka adalah komisi kedisiplinan yang memberi konsekuensi pada Anjani kemarin. Seperti biasa, wajah kelima mahasiswa senior itu tidak terlihat ramah. Mereka berlima terlihat seperti hakim yang siap menjatuhi hukuman bagi terdakwa. Meski demikian, Anjani dan Meli tidak gentar, dan tetap berjalan santai menuju gedung.


"Lagi-lagi kamu, Adinda Dewi Anjani. Kemarin menggunakan drama cinderella, kali ini apa alasanmu sehingga terlambat?" tanya mahasiswa senior yang kemarin hendak memberi hukuman tambahan bagi Anjani.

__ADS_1


"Apes dua kali, Kak. Pertama kehabisan bensin, kedua ban motor kena paku, Kak." Anjani menjawab jujur.


"Alasan klasik!" sahut mahasiswa senior yang tadi bertanya pada Anjani.


"Kamu! Nama lengkap!" Salah satu mahasiswa senior bertanya pada Meli.


"Meli Syahrani, Kak." Meli menjawab dengan lantang sampai membuat mahasiwa senior yang bertanya sedikit kaget.


"Alasan terlambat!" Mahasiswa senior lainnya bertanya.


"Sama persis seperti Anjani, Kak. Kita kan boncengan." Meli menjelaskan dengan wajah ceria. Sukses membuat beberapa mahasiswa senior tepuk jidat.


"Kategori kedisiplinan, peringatan pertama untuk Meli, dan peringatan kedua untuk Anjani. Konsekuensi yang harus dilakukan adalah mengumpulkan lima tanda tangan senior sekaligus bertanya satu hal yang mereka sukai. Waktu kalian tiga puluh menit dari sekarang. Silakan!" ujar mahasiswa senior yang memegang kertas.


Anjani dan Meli bergegas mengumpulkan tanda tangan. Sejujurnya Anjani lebih suka menghafal nama ruangan dari pada berburu tanda tangan, apalagi harus bertanya hal yang disukai oleh senior. Akan tetapi, konsekuensi harus diselesaikan demi bisa bergabung dengan teman-teman mahasiswa baru lainnya. Di balik itu semua, hanya Meli yang sepertinya begitu menikmati konsekuensi yang diberikan.


"Mel, kamu kelihatan ceria banget?" tanya Anjani. Dia penasaran dengan sikap Meli.


"Jangan sia-siakan kesempatan, Anjani. Kita bisa sekalian kenalan sama mahasiswa senior di sini." Meli menjawab dengan nada ringan dan penuh keceriaan.


Anjani geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Meli memang memiliki cara pikir yang unik, membuat siapa pun yang ada di dekatnya ikut terdampak keceriaannya.


Beruntung, Anjani dan Meli bertemu Ken. Dia bisa menjadi kandidat pertama untuk mengisi tanda tangan.


"Loh! Anjani kena hukum lagi. Aduh, sekarang malah ajak-ajak teman. Sini .... Langsung kuberi tanda tangan saja," tutur Ken. Dia begitu peka.


"Kak Ken, seneng banget bisa ketemu. Oh iya, sebutkan satu hal yang disukai. Suka apa, Kak?" tanya Meli. Dia yang paling antusias bertanya.


"Aha, ada yang semacam itu juga ternyata. Kalau aku suka lihat junior dihukum kayak kalian sekarang ini. Ahaha, nggak-nggak, bercanda." Ken bermaksud mencairkan suasana agar Anjani terlihat lebih santai, jadi usaha itulah yang nanti akan dipamerkan pada Juno dan Mario. Namun, usaha itu justru lebih berpengaruh untuk Meli, bukan Anjani. Sedari tadi Anjani justru menunggu jawaban Ken.


"Kak, bisa dipercepat sedikit? Waktu kami hanya tiga puluh menit." Anjani akhirnya meminta dipercepat.


Begitu mendengar hal yang disukai Ken, Anjani segera berterima kasih dan menarik lengan Meli untuk bergegas mencari mahasiswa senior lainnya. Rupanya Ken larut dalam ceritanya hingga tidak menyadari bahwa Anjani dan Meli telah pergi.


Anjani terus menarik lengan Meli agar ikut berlarian kecil. Kalau tidak begitu, Meli akan tetap berjalan santai dan bertanya hal yang tidak perlu. Rupanya, tidak jauh dari tempat Ken terlihat dua mahasiswa senior yang sedang asyik bercanda. Mahasiswa-mahasiswa itu terlihat ramah. Langsung saja Anjani membawa Meli ikut bersamanya menuju mahasiswa yang dimaksud. Dugaan Anjani pun benar, dua mahasiswa senior tadi langsung bersedia memberi tanda tangan dan menyebutkan satu hal yang disukai.


"Wow ... sudah dapat tiga. Waktunya masih tersisa lima belas menit. Keren!" ujar Meli. Dia berteriak senang, membuat dua mahasiswa yang baru saja memberinya tanda tangan ikut memperhatikan.


"Meli, nggak perlu teriak. Nanti malah banyak yang datang," kata Anjani mengingatkan. Dia sebenarnya khawatir komisi kedisiplinan akan menambah konsekuensinya bila ketahuan membuat gaduh.


Sekali lagi Anjani dan Meli berlarian kecil. Dalam hati, sebenarnya dia berharap bisa bertemu dengan Mario. Meski hanya ada jatah bertanya satu pertanyaan, tapi Anjani telah menyiapkan banyak pertanyaan khusus untuk Mario. Namun, sepertinya hal itu masih sebatas angan bagi Anjani. Sedari tadi dia memperhatikan, tapi tetap saja Mario tidak terlihat. Anjani menduga bahwa Mario tidak ingin terlalu sering menampakkan dirinya, terbukti saat acara perkenalan mahasiswa baru minggu lalu, Mario tidak menampakkan dirinya. Padahal jelas-jelas posisinya adalah wakil ketua pelaksana. Anjani pun berani bertaruh bahwa hanya sebagian kecil saja mahasiswa baru yang pernah melihat Mario.


Anjani tidak cukup puas sebelum menyelesaikan konsekuensinya. Dia kembali mengajak Meli berlarian kecil melewati koridor. Ketemu! Di sana ada dua mahasiswa senior yang sedang menyiapkan beberapa kotak kue. Sepertinya mereka berdua yang bertanggungjawab tentang konsumsi panitia dan mahasiwa baru. Tidak ingin melewatkan kesempatan, Anjani pun bergegas mengajak Meli meminta tanda tangan mereka.


Selesai. Konsekuensi telah selesai dikerjakan, juga telah dilaporkan kepada komisi kedisiplinan. Anjani senang bisa melewatinya. Namun, ada lagi yang paling terlihat senang. Ya, dia adalah Meli. Bahkan Meli menyayangkan kenapa hanya disuruh mencari lima tanda tangan.


Kini Anjani dan Meli bergabung dengan kelompoknya. Anjani senang karena tidak terlalu banyak tertinggal kegiatan, karena mahasiswa baru lainnya baru saja selesai mengikuti apel pagi. Kegiatan selanjutnya pun baru akan dimulai beberapa menit lagi.


Seperti biasa, Dika, ketua kelompok menyapa Anjani dengan ramah. Beberapa teman kelompok yang lain juga demikian. Hanya satu, dan tetap sama sikapnya. Dia adalah Berlian. Berlian hanya tersenyum singkat saat Anjani menyapanya. Setelah itu sikapnya berubah lagi seperti pertama Anjani melihatnya.


"Teman, setelah ini kegiatan kita adalah penjelajahan. Hanya ada dua pos, dan kita cukup mengikuti arahan senior," jelas Dika pada anggota kelompoknya.


Kelompok Anjani pun bersiap, juga kelompok lainnya. Setiap kelompok berbaris lurus dan mengikuti petunjuk seniornya. Saat tiba di pos pertama, ada sebuah game seru. Setiap anggota kelompok harus kompak mengekspresikan sebuah kata yang telah disiapkan di pos pertama.


Kelompok Anjani mendapat kata 'pengendara'. Seketika setelah Dika memberi instruksi pada kelompoknya, semuanya pun menirukan gerakan Dika yang berperan sebagai pengendara. Semua anggota kelompok mengikuti dengan antusias, dan tertawa bersama setelahnya.


Tidak kalah seru, di pos kedua setiap kelompok harus bekerjasama menyusun puzzle. Memang terlihat sederhana, tapi nyatanya cukup rumit menyatukan guntingan gambar yang telah diacak. Dika menyemangati kelompoknya. Sementara Berlian memegang komando untuk mengarahkan teman-temannya. Anjani pun kebagian menyatukan dua potongan gambar. Setelah lima menit berlalu, akhirnya potongan gambar terakhir selesai disatukan. Mereka terlihat gembira, tertawa lepas bersama. Tanpa sadar, Anjani dan Berlian pun melakukan tos seperti halnya teman-teman lainnya. Akan tetapi, begitu Berlian sadar bahwa yang di depannya adalah Anjani, dia pun bergegas kembali ke sikap awal.


"Kerja bagus, teman-teman. Sekarang kita kembali ke ruangan untuk istirahat makan siang." Dika kembali memberi komando untuk anggota kelompoknya.

__ADS_1


Dua pos telah dilalui, kelompok Anjani kembali ke ruangan sambil menunggu kelompok-kelompok lainnya datang. Setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan sharing tentang apa pun yang terkait dengan jurusan. Acara dipandu langsung oleh ketua pelaksana. Anjani mengedarkan pandang ke segala arah, berharap dia bisa menemukan Mario di salah satu kerumuman mahasiswa senior. Namun, tetap tidak ada. Biasanya ketua didampingi oleh wakilnya, tapi nyatanya tidak demikian.


Sharing ditutup setelah pertanyaan terakhir dari Juno. Juno bertanya tentang peluang kerja jurusannya. Dia bertanya dengan nada bicara yang tegas dan terlihat berwibawa. Momen itu ditangkap banyak mahasiswa. Jelas, setelah ini akan semakin banyak yang mengagumi sosok Juno.


Apel penutupan kegiatan OSPEK hari kedua dilaksanakan setelah game tebak kata berhadiah dari panitia. Semua mahasiswa baru mengikuti dengan tertib. Tidak ada yang gaduh, dan tidak ada yang mengeluh.


"Besok akan diumumkan pemenang kreasi tas kardus, kelompok terkompak, mahasiswa terdisiplin, mahasiswa terfavorit, dan vote senior terfavorit. Jadi, jangan surutkan semangat kalian sampai besok, siapa tahu nama kalian ada di salah satu kategori. Selamat beristirahat, dan sampai jumpa di OSPEK hari ketiga. Semangat!" Ketua panitia menutup kegiatan.


***


Di parkiran motor


"Mel, kamu pulang dulu saja. Aku masih ada perlu," jelas Anjani.


"Mau kutemani?" tanya Meli. Dia menawarkan diri agar sahabatnya itu tidak sendirian.


"Makasih, Mel. Tidak perlu," tolak Anjani dengan ramah.


"Oke, deh. Eh, besok kujemput lagi, ya. Dijamin besok nggak akan terlambat lagi, deh." Meli meyakinkan Anjani.


"Oke, sampai ketemu besok. Hati-hati di jalan, Mel."


Anjani memang ada urusan. Lebih tepatnya dia penasaran dengan satu hal. Dia menunggu di parkiran cukup lama. Parkiran motor yang semula ramai terlihat lebih sepi. Sesekali ada mahasiswa senior yang menyapanya. Ada pula teman seangkatan yang menyapa. Namun, itu semua hanya sekedar sapaan basa-basi.


"Anjani," sapa Juno tiba-tiba.


"Hai."


"Nunggu siapa?" tanya Juno penasaran.


"Nungguin kamu," jawab Anjani.


Anjani memang menunggu Juno sejak tadi. Melihat Juno yang tiba-tiba datang jelas membuat hati Anjani senang. Dia tidak harus menunggu lebih lama lagi.


"Aku boleh tanya nggak?" tanya Anjani.


"Ya boleh, ngapain juga aku nolak." Juno menanggapi dengan antusias.


"Oke. Kamu tinggal di mana? Lalu, kenapa aku sering lihat kamu sama senior, maksudku pelanggan bunga, Ken, Mario. Terus, kenapa kamu bisa dekat banget sama mereka. Satu lagi, benar nggak Mario itu kerja sambilan sebagai sales? Atau hanya dugaanku saja? Em, pertanyaanku banyak, ya?" tanya Anjani.


Mendengar itu Juno tertawa. Namun, di sisi lain dia merasa senang karena akhirnya Anjani mau ngobrol dengannya.


"Sebenarnya kamu itu penasaran sama aku atau sama Mas Mario, sih?" Juno tidak menjawab pertanyaan, justru balik bertanya.


"Semuanya," jawab Anjani singkat tanpa basa-basi.


"Oke, akan kujawab tapi tidak sekarang. Besok malam pukul 7, cafe 'Bro-Sis'. Kita ketemu di sana," kata Juno sambil tersenyum ramah.


Anjani tahu nama cafe yang dimaksud Juno. Cafe itu berada persis di depan warung bakso langganan Anjani dan Meli. Tidak perlu menunggu lama untuk menjawab, Anjani mengangguk setuju. Lagi pula, Anjani perlu memperbaiki hubungannya dengan Juno setelah kekacauan di desa.


"Iyes! Kalau begitu mau kuantar pulang?" tanya Juno.


"Tidak perlu, terima kasih. Aku bisa pulang sendiri," tolak Anjani dengan sopan.


Juno tidak mau memaksa. Juno pun pamit pulang lebih dulu, sementara Anjani lebih memilih naik angkot untuk pulang.


***


Lanjut di update selanjutnya, ya. Dukung author dengan cara like dan tinggalkan jejak komentar di bawah. See You.

__ADS_1


__ADS_2