CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Khawatir


__ADS_3

Mario terheran. Cuitan burung yang biasa bertengger pada dahan pohon-pohon di halaman rumahnya, pagi itu tidak terdengar. Burung-burung memang ada di dahan pohon-pohon itu, juga masih bersiul seperti biasanya saat pagi tiba. Namun, kali ini siulan merdu burung-burung itu terganti oleh suara merdu Alenna yang sedang menyenandungkan lagu.


Hampir setiap hari Mario seringkali mendengar Alenna bernyanyi. Lagu yang biasa dinyanyikan Alenna adalah lagu berbahasa inggris. Namun, tumben-tumbennya pagi itu si bule cantik Alenna menyanyikan lagu berbahasa Indonesia.


Suara Alenna saat sedang berbicara memang terkesan cerewet, blak-blakan, dan sedikit ada nada cempreng. Akan tetapi, lain lagi ceritanya saat bernyanyi. Suara Alenna seketika melembut dan terdengar merdu. Sampai saat ini, hanya Mario yang tahu, karena Alenna lebih sering bernyanyi saat di rumah. Alenna pagi itu menyanyikan lagunya Dash Uciha yang berjudul Merindukanmu.


Kau ciptakan lagu indah


Kau senyum semanis buah


Satu tapi pasti dan sangat berarti


Kau takkan terganti


Mario berjalan mendekati kamar Alenna. Pintu kamar Alenna kebetulan terbuka lebar. Langkah kaki Mario berhenti tepat di ambang pintu kamar Alenna. Sambil bersedekap dan bersandar pada bingkai pintu, Mario memperhatikan Alenna sambil tersenyum.


Senyum dirimu membuatku terlalu bersemangat


Jalani hari-hariku dengan hebat


Kau tahu hidup tanpamu itu berat


Denganmu aku kuat


Gerakan ringan dibuat Alenna mengikuti nada lagu. Sesekali jemari tangan kanannya dijentikkan. Lagu itu dinyanyikan di depan cermin kamarnya. Saat itu Alenna juga telah berdandan dengan baju kerja yang sudah membalut tubuhnya.


Sadar bahwa ada yang memperhatikannya, Alenna pun berbalik badan tanpa berhenti menyenandungkan lagu tersebut. Apalagi saat tahu bahwa itu Mario, Alenna semakin bersemangat menyanyi sambil berlagak seperti seorang penyanyi terkenal sedang show di atas panggung.


Dengan begitu kuberhenti untuk terus mencari


*Karnaku telah temukan pawang hati


Mengisi kesempurnaan hidup ini


Jangan kau pergi lagi


Oh ho ho ho ho ... Juno*.


Dahi Mario mengernyit saat mendengar nama Juno disebut oleh Alenna. Tangan yang sedari tadi bersedekap diturunkan. Langkah kaki Mario pun membawanya masuk ke dalam kamar Alenna.


"Juno?" tanya Mario.


"Yes, Juno. My honey," jawab Alenna antusias.


"Maksudmu, lagu itu tadi untuk Juno? Alenna, jangan bilang kau menyukai Juno!" ujar Mario.


"Bukan hanya menyukai lagi. Hubungan kami sudah resmi," tutur Alenna sambil tersenyum dan memutar badan karena senang.


"Apa?" kata Mario terkejut.


Rasa heran segera memudarkan senyum Alenna. Dirinya sedikit terkejut mendengar nada bicara kakaknya, Mario.


"Betul. Baru tadi malam aku dan Juno jadian," jelas Alenna. Kali ini dengan nada serius.


"Alenna, bukankah kau ada di toko bunga Kak Lisa juga saat Juno melayangkan tinjunya padaku? Kau juga tahu kan alasan tinju itu dihantamkan?" tanya Mario.


"Ck-ck. Seperti bukan dirimu saja. Jarang sekali aku melihatmu sekhawatir ini padaku. Bertanya begitu panjang pula," sahut Alenna.


"Sebagai kakak aku hanya khawatir kau hanya akan dibuat sebagai pelarian saja," jelas Mario mengungkapkan rasa khawatirnya.


Giliran Alenna yang saat ini mengernyitkan dahi mendengar penuturan Mario.


"Sebagai kakak, cukup dukung hubunganku dengan Juno. Lagipula, kemarin malam aku bisa merasakan ada ketulusan lewat tatapan mata Juno. Ya, meskipun itu kecil, yang penting terlihat," jelas Alenna lalu kembali tersenyum ceria.


"Oke. Semoga hubungan kalian indah," kata Mario pada akhirnya.


"Nah, gitu dong. Harus mendukungku juga, karena aku mendukung hubunganmu dengan Anjani. Yuk, sekarang kita sarapan!" ajak Alenna.


Alenna lebih dulu melangkah keluar dari kamarnya. Sementara Mario masih berdiri terdiam.


Mario tahu betul bagaimana perasaan Juno pada Anjani. Tinju yang dilayangkan Juno menyiratkan rasa sakit hatinya karena cintanya pada Anjani tidak terbalas. Tahu-tahu pagi ini Mario mendengar kabar peresmian hubungan Juno dengan Alenna. Tentu itu membuat Mario khawatir, karena sisa-sisa perasaan Juno pada Anjani pastilah masih ada.


Aku harus bertemu dengan Juno, batin Mario.

__ADS_1


Di meja makan, Alenna begitu menikmati sarapannya. Sepiring nasi goreng, lengkap dengan kacang polong dan sosis, juga telur mata sapi setengah matang.


Mario belum menyentuh sarapannya. Jemarinya masih lincah bergantian membalas pesan dari Leon, sekretaris pribadi ayahnya, juga Ken.


"Makanlah dulu! Nanti Anjani bisa syok kalau lihat Mario-nya kurusan," ujar Alenna di tengah aktivitas sarapannya.


"Hm." Jawaban singkat khas Mario.


"Huh, nyesel tanya. Jawaban itu lagi," protes Alenna, tapi tetap tidak dihiraukan oleh Mario.


Satu menit kemudian, Mario meletakkan smartphone miliknya. Sendok dan garpu mulai dipegang, dan sesuap nasi goreng meluncur masuk ke mulutnya. Setelah tiga suapan, Mario berhenti sebentar.


"Alenna, aku titip beberapa berkas yang tadi malam sudah kuperiksa. Feedback dan usulan ada dalam catatan kecil di dalamnya. Bantu berikan pada Leon. Catatan, abaikan ocehan Leon tentangku. Bekerjasamalah yang baik dengannya, demi perusahaan. Lalu, pagi ini aku masih ada kuliah sampai pukul 10 nanti. Ada tugas yang harus diserahkan juga saat aku izin tidak hadir kuliah karena lebam waktu itu," jelas Mario.


Mario sengaja menjelaskannya dengan sedikit panjang agar Alenna tidak gagal paham. Selain itu terkadang Alenna mudah lupa, meski posisinya di perusahaan adalah sekretaris Leon dan Mario. Mariolah yang sering kali mengingatkan Alenna jika di kantor, demi terhindar pula dari kata-kata tidak penting Leon.


"Oke. Percayakan padaku," jawab Alenna.


"Hm, bagus!" sahut Mario.


***


Di kantor. Leon telah hadir di ruang kerjanya sejak pagi, demi menyelesaikan beberapa berkas untuk persiapan meeting siang nanti. Kebiasaan itu sudah biasa Leon kerjakan, karena memang sudah menjadi tanggung jawabnya. Lagi-lagi Leon jarang mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Alhasil, Leon bisa bersikap profesional dengan posisinya di perusahaan.


Jarum jam belum menunjukkan pukul 7 pagi, tapi Leon sudah menyelesaikan semuanya. Namun, Leon tetap membutuhkan Alenna, sekretarisnya untuk mempersiapkan beberapa hal. Tanpa pikir panjang Leon bergegas mengirim pesan singkat untuk Alenna, menyuruhnya agar segera datang ke kantor dan mengurus beberapa pekerjaan. Usai mengirim pesan pada Alenna, Leon beralih menghubungi seorang lainnya. Seorang wanita yang akan membantu melancarkan aksinya.


"Halo Vina," sapa Leon via telepon.


"Halo, ini siapa?" tanya Vina di seberang sambungan telepon.


"Aku Leon," jawab Leon.


"Oh, hai. Bagaimana kabarmu Leon? Tumben sekali menghubungiku. Ada perlu apa?" tanya Vina.


"Masih mengingat Mario?" tanya Leon pada Vina.


"Ya pastinya ingatlah. Ada apa dengan si tampanku?" tanya Vina.


"Aku punya berita menarik untukmu," kata Leon.


***


Pukul 08.30 pagi, di kampus jurusan ekonomi.


Anjani dan teman-temannya baru saja selesai mengikuti kelas salah satu mata kuliah. Ada yang berbeda pagi itu. Wajah teman-teman Anjani terlihat cerah dan ceria, khususnya perempuannya, termasuk Meli. Bincang-bincang antar geng mulai dilakukan, dan semua membahas topik baru yang membuat hati bersemangat membahasnya. Ya, apalagi bahasan mereka kalau bukan tentang idola dan wajah tampan. Mahasiswa-mahasiswa itu baru saja membahas dosen baru yang pagi itu mengajar di kelas Anjani. Pak Nizar, dosen baru yang mendadak diidolakan dan cepat menjadi perbincangan.


"Kalau aku tiba-tiba jadi istrinya Pak Nizar gimana, dong?" tanya Meli yang sedari tadi heboh sendiri.


"Apa'an sih, Mel? Woy! Mengkhayalnya ketinggian!" seru Dika.


"Ih, sirik saja kau. Huh!" seru Meli.


"Sudah-sudah. Dari tadi yang dibahas Pak Nizar melulu, sih. Ini, nih. Tugasnya juga pikirin!" saran Anjani.


"Makluminlah, Anjani. Gimana nggak jadi topik hangat? Pak Nizar gantengnya saingan sama Kak Mario. Masih single lagi. Apalagi suara Pak Nizar waktu mengajar itu, uh ... khas. Bikin betah dan jadi semangat kuliah," jelas Meli antusias.


"Yah, mulai lagi, deh. Dahlah, aku pamit duluan, deh. Da!" pamit Dika.


"Dasar Dika nggak asik!" seru Meli meneriaki Dika, tapi seruannya tidak dihiraukan.


Sementara itu, dari arah berlawanan terlihat Mario dan Ken berjalan mendekat. Ken dan Mario memang ada kelas juga pagi itu. Anjani sudah tersenyum lebih dulu, dan segera mendapat senyuman yang sama dari Mario.


"Ehem, Bro. Jangan lupa bahas tentang Leon. Tadi pagi aku melihatnya menemui Anjani," kata Ken setengah berbisik sambil tetap berjalan.


"Hm. Oke," jawab Mario.


Sampailah Mario dan Ken di hadapan Anjani dan Meli. Seperti biasa, Meli lebih dulu menyapa Mario dan Ken dengan ekspresi ceria. Dan ... seperti biasa juga, Ken menanggapinya dengan tak kalah hebohnya.


Anjani merogoh tasnya, dan mengeluarkan kotak berukuran sedang dengan hiasan pita warna pink polkadot. Anjani menyodorkan kotak itu pada Mario.


"Leon menemuiku pagi tadi dan memberikan ini. Aku tidak ingin tahu apa isinya. Takut membuatku khawatir dan berpikiran yang tidak-tidak. Jadi, ini untukmu saja. Terserah mau diapakan," terang Anjani.


Mario tersenyum. Dirinya baru saja berniat membahas tentang Leon, tapi Anjani sudah membahasnya lebih dulu.

__ADS_1


"Aku senang kau begitu terbuka padaku, Anjani. Aku ambil ini," kata Mario.


"Oke, aku pulang dulu, ya. Ada Ma di rumah. Mau membahas acara Sabtu ini. Juga, sekretaris pribadi ayahmu juga akan ke rumah Paman Sam siang ini." Anjani berterus terang.


"Baiklah, hati-hati di jalan. Sampaikan salamku pada ibu mertua," kata Mario sambil tersenyum.


"Baik, akan kusampaikan. Da!" pamit Anjani dengan senyuman yang sama seraya melambaikan tangannya.


"Da-da kakak-kakak ganteng semua. Eh, jangan lupa kenalan sama dosen baru yang gantengnya kayak kalian berdua, ya. Hihi. Aku pulang dulu!" seru Meli lalu melangkah pergi mengikuti Anjani.


Mario melihat kepergian Anjani dan Meli. Setelah itu, Mario pun bertanya pada Ken tentang dosen baru yang dimaksud Meli tadi. Ada hal yang Mario lewatnya saat dirinya tidak masuk karena luka lebam di wajahnya.


"Dosen baru?" tanya Mario.


"Ya, namanya Pak Nizar. Ah, nanti kau juga tahu. Ngajar di kelas yang kita tempuh juga, kok." Ken menerangkan. "Eh, buka kotak dari Leon itu dulu. Aku kepo," pinta Ken.


Mario bergegas membuka kotak pemberian Leon untuk Anjani. Saat dibuka, terlihat sebuah gantungan kunci berbentuk mawar. Ada sebuah pesan yang terselip di sana.


Terimalah hadiah dariku. Jika kau masih ingin tahu wanita yang kumaksud tempo hari, hubungi nomorku ini. Sedikit clue, initial V. Leon


"Wow! Untung saja Anjani tidak membukanya. Kalau sampai dia membuka kotak ini, sudah bisa dipastikan bukan hanya Anjani yang khawatir, pasti kau lebih khawatir lagi. Iya kan, Bro?" tanya Ken.


"Hm. Ayo ke kelas!" ajak Mario.


Langkah kaki Mario dan Ken menuju ke kelas. Saat tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai di kelas, Mario berpapasan langkah dengan Juno. Saat langkah kaki yang berlawanan arah itu bersisian, baik Mario ataupun Juno sama-sama menghentikan langkah kakinya. Tanpa saling berhadap-hadapan, keduanya memulai obrolan singkat.


"Jaga hati Alenna," kata Mario memulai.


"Tanpa kau suruh akan kulakukan. Anjani, jaga dia baik-baik. Jangan pernah membuatnya menangis!" ujar Juno.


"Hm, pasti kulakukan tanpa kau suruh." Mario menegaskan.


Tanpa ada kode untuk saling mengakhiri obrolan, keduanya sama-sama melanjutkan langkah tanpa ada kata-kata lainnya. Ken yang melihat adegan itu sampai geram, karena baik Juno ataupun Mario sama-sama sahabatnya. Keduanya juga sama-sama sering bercerita. Membuat Ken terkadang jadi serba salah, hingga sebisa mungkin berusaha selalu memposisikan diri di tengah mereka berdua.


***


Suasana kelas Mario tidak jauh berbeda dengan kelas mata kuliah yang ditempuh Anjani tadi pagi. Mahasiswa-mahasiswa di kelas Mario juga sibuk membahas Pak Nizar. Beberapa mahasiswi di sana bahkan berandai-andai, berkhayal suatu saat nanti bisa menjadi istri Pak Nizar.


"Ah, dasar cewek, yang dibahas pasti yang tampan-tampan. Kita kalah pamor, nih. Ketampanan kita tersaingi," kata Ken basa-basi usai kelas selesai.


"Hm." Jawaban khas Mario terdengar lagi.


"Eh, ada yang bisa kubantu untuk acara pernikahanmu Sabtu ini?" tanya Ken yang merasa dirinya tidak membantu apa-apa.


"Cukup datang tepat waktu saat acara pernikahanku. Itu sudah sangat membantuku," sahut Mario.


"Haha. Tahu saja kau kalau aku berencana datang terlambat. Takut baper lihat kau di sana, Bro!" seru Ken blak-blakan.


"Baper? Sejak kapan kata itu ada di dalam kamusmu, Ken?" tanya Mario.


"Dahlah, tidak perlu dibahas lagi. Kau mau langsung ke kantor, kan? Aku pulang duluan kalau begitu. Oh ya, besok ada mata kuliah yang akan diajar oleh Pak Nizar. Just info, Bro! Aku duluan. Da!" pamit Ken.


Mario menuju parkiran mobil. Ya, sejak bekerja di anak perusahaan ayahnya, Mario sering ke kampus mengendarai mobil. Itu semua demi memudahkan urusan pekerjaannya jika tiba-tiba saat selesai kuliah Leon memintanya untuk langsung menghadiri rapat di tempat yang lumayan jauh dari kampusnya.


Meski ke kampus mengendarai mobil, tapi tidak banyak teman Mario yang tahu. Itu karena Mario memarkir mobilnya tidak di parkiran mahasiswa, melainkan menyempil di paling ujung bagian parkiran dosen. Parkiran mahasiswa dan dosen pun terpisah jauh, sehingga menguntungkan Mario untuk melancarkan niatnya agar tidak banyak yang tahu. Tentu saja Mario sudah meminta izin ke petugas yang berjaga di sana.


Saat berjalan ke arah mobilnya, Mario berpapasan dengan seorang lelaki berpakaian rapi dan bersepatu. Wajahnya juga terlihat tampan dengan kulit sawo matang.


Mario melihat headset yang dibawa lelaki itu terjatuh tanpa disadari oleh pemiliknya. Cepat-cepat Mario mengambil headset itu dan memberikannya.


"Maaf, headset-nya terjatuh." Mario mengulurkan headset yang tadi terjatuh.


"Ah, iya. Headset ini baru saja saya gunakan mendengarkan rekaman. Sepertinya saya kurang betul saat menyimpannya. Terima kasih, ya." Lelaki itu menjelaskan dan berterima kasih dengan nada bicara khas kejawa-jawaan.


"Sama-sama. Maaf, apa Bapak ini dosen?" tanya Mario seperti punya feeling bahwa lelaki itu adalah dosen baru yang dimaksud teman-temannya.


"Iya, saya dosen baru. Panggil saja saya Pak Nizar."


Pak Nizar memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Mario.


"Mario," jawab Mario sembari menyambut jabat tangan Pak Nizar.


***

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan ceritanya, ya. 😊✨


__ADS_2