
Drrt … Drrt … Drrt
Baru saja dibahas, Mario muncul dalam sebuah pesan singkat untuk Anjani. Mario meminta Anjani untuk ke ruko barunya.
“Apa sebaiknya aku ceritakan tentang ini pada Mario?” pikir Anjani.
Memikirkan dan menimbang, Anjani tidak langsung mengiyakan. Anjani biasa kemana-mana ditemani Meli. Sore itu Anjani tidak enak hati jika mengajak Meli keluar bersamanya. Besar kemungkinan Meli sedang beristirahat usai pernikahannya.
Di satu sisi, Anjani sungguh ingin menemui Mario. Banyak hal yang ingin Anjani sampaikan pada Mario. Namun, Anjani tidak ingin bertemu Mario seorang diri. Khawatir di sana dia dan Mario hanya berdua saja.
“Ke sana sama siapa, ya?” Anjani berpikir.
Pikiran Anjani seperti memiliki sambungan khusus yang terhubung pada Mario. Segera, satu pesan singkat lainnya muncul di layar smartphone Anjani.
Ada Alenna di ruko. Kemarilah. Aku butuh bantuanmu.
Begitulah bunyi pesan singkat dari Mario. Wajah Anjani seketika cerah. Dia segera mengambil sling bag dan bergegas menuju ruko sepatu Mario.
***
Ruko sepatu milik Mario menjelma baru. Corak warnanya berbeda dari saat terakhir kali Anjani datang ke ruko itu. Anjani terdiam sebentar di samping motor Paman Sam. Diamatinya sekitar. Benar-benar rapi, bersih, dan menarik perhatian siapa pun yang melintas di depan ruko.
Melangkah masuk ke dalam ruko, sepatu-sepatu sudah terpajang dengan desain pajang mengelompok. Mario tidak menggunakan pajangan rak memanjang. Rak-rak sepatu beraneka macam model, bahkan ada yang seperti pajangan pot tanaman. Semua sudah tertata rapi. Lantai ruko pun terlihat bersih dan mengkilat.
“Sudah rapi seperti ini. Apa lagi yang bisa kubantu?” pikir Anjani.
“Anjani,” sapa Alenna, mendekati Anjani.
“Mario di lantai atas. Kamu temui dulu. Aku menyusul setelah memajang ini,” kata Alenna sambil mengedipkan sebelah matanya pada Anjani.
“Baiklah. Aku ke atas dulu.” Anjani tersenyum, lalu menapakkan langkahnya meniti anak tangga.
Anjani sempat melihat bagian belakang lantai satu ruko. Semua kebutuhan packing orderan sudah tersedia dan tertata rapi. Meski Anjani sudah biasa melihat betapa kerennya keluarga Mario dalam menjalankan bisnisnya, tapi Anjani tetap saja terkagum-kagum melihat itu semua.
Anjani melihat Mario sedang duduk di sofa, berkutat dengan smartphonenya. Salam diucapkan, disusul sebuah senyuman. Wajah Mario seketika berhias senyum melihat kedatangan Anjani.
“Apa yang bisa kubantu, Mario?” tanya Anjani sembari mengambil posisi duduk di sofa lainnya.
“Insya Allah ruko sudah siap. Sudah bisa mulai beroperasi lusa. Tepat saat kuliah aktif. Bagaimana menurutmu?” Mario meminta pendapat.
Anjani mengangguk-angguk. Dengan segala kesiapan yang sudah di depan mata, maka jalan terbaik adalah segera memulainya.
“Setuju. Pemrograman mata kuliah sudah berjalan. Nanti aku bantu menyusun jadwal siapa-siapa yang stay ruko dari jadwal mata kuliah teman-teman. Jadi siapa saja personilnya?” tanya Anjani.
“Aku, kamu, Meli, Ken, dan Dika. Juno mengundurkan diri dari tim karena akan membantu bisnis ayahnya. Ayah Juno segera akan tinggal di kota ini,” terang Mario.
Anjani terdiam. Penjelasan Mario sama seperti yang dikatakan Ma. Anjani lekas teringat pula dengan rencana ayah Juno yang menginginkan dirinya untuk menjadi istri Juno. Niatan untuk membagi kabar itu pada Mario sudah membuncah, tapi lidah Anjani tak bisa-bisa berucap kata.
“Kenapa Anjani? Ada yang ingin kamu sampaikan?” Mario bisa menangkap perubahan sikap Anjani.
“Ti-tidak. Maaf, aku hanya sedikit kurang fokus.” Anjani tertunduk. Dia merutuki kebingungan dalam dirinya.
Mario tidak menelan mentah-mentah perkataan Anjani. Mario tahu Anjani sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Namun, Mario menahan diri untuk tidak bertanya lagi.
“Ohya Mario. Melihat perkembangan orderan via olshop yang membludak, saranku tetap harus ada karyawan yang benar-benar stay di sini.” Anjani menjernihkan pikiran dan lekas memberi saran.
__ADS_1
“Mau satu atau dua?” tanya Mario.
“Terserah kamu mau berapa karyawan,” jawab Anjani.
“Kamu maunya berapa?” tanya Mario lagi.
“Aku maunya kamu. Ups. Ma-maksudku aku maunya kamu yang menentukan sendiri.” Anjani terbawa suasana hati.
Senyum Mario mengembang.
“Baiklah satu. Sebentar lagi yang kamu mau akan muncul di tengah-tengah kita,” jelas Mario tanpa memudarkan senyumnya.
“Eh?” Anjani tidak mengerti maksud Mario.
Terdengar suara Alenna mendekat. Alenna menapaki anak tangga menuju lantai atas sembari mengobrol dengan seseorang. Suara seorang lelaki yang begitu asing di telinga Anjani.
“Silakan duduk. Yang tampan itu kakakku, owner ruko ini. Namanya Mario. Sedikit dingin, tapi baik kok.” Alenna memperkenalkan Mario pada lelaki yang datang bersamanya.
“Silakan duduk.” Mario mempersilakan.
Anjani memperhatikan lelaki yang duduk berseberangan dengan dirinya. Posturnya tinggi dan badannya ideal. Kulitnya sawo matang. Gurat-gurat otot tampak di punggung tangannya. Tanda bahwa kesehariannya dilalui dengan penuh kerja keras menggunakan fisiknya. Tubuh lelaki itu juga kekar. Andai kaos yang dipakainya disibak, pastilah akan terlihat dada bidang.
“Anjani, kubawakan yang kamu mau. Perkenalkan, namanya Rangga.” Mario memperkenalkan.
Namanya Rangga. Terlihat gagah. Batin Anjani.
“Anjani, kenapa bengong?” tanya Mario.
“Ah, tidak. Ehm. Selamat bergabung dengan kami di ruko ini ….” Anjani tidak meneruskan. Dia bingung membuat panggilan sapaan untuk Rangga.
“Rangga ini seusiaku, Anjani. Terserah kamu mau panggil dia Kak, Mas, atau langsung panggil nama juga tidak apa-apa asalkan Rangga mau,” jelas Mario.
“Mas Rangga.” Anjani memilih sapaan Mas karena begitu cocok dengan aksen jawa Rangga yang begitu khas. “Panggil saya Anjani saja,” pinta Anjani.
Rangga mengangguk singkat. Dia tidak ingin memperdebatkan panggilan untuknya.
“Anjani, kamu tampak lelah.” Alenna mendekat sambil membawa botol minuman dingin untuk Anjani dan Rangga.
Anjani hanya menggeleng pelan. Dia hanya merasa sedikit mengantuk. Efek lelah juga karena beberapa hari ini sibuk membantu persiapan pernikahan Meli.
“Anjani, pulanglah. Istirahat. Biar Alenna yang mengantarmu,” saran Mario.
“Aku bisa pulang sendiri, kok. Bawa motor Paman Sam juga. Mario, izin pulang dulu boleh?” izin Anjani.
“Boleh sekali. Kabari Alenna jika sudah sampai,” pinta Mario.
Anjani memutuskan untuk pulang lebih dulu. Sebelum beranjak, Anjani kembali melihat sosok Rangga. Seolah ada magnet kuat yang membuat Anjani menoleh pada lelaki gagah itu. Tak lama, Anjani pamit pada semua.
Motor dilajukan dengan kecepatan sedang. Anjani sungguh tidak fokus saat menyetir. Badan terasa lelah. Pikiran juga penat. Berulang kali Anjani beristighfar sembari tetap menyusuri jalanan. Hingga tiba-tiba ….
Brak!
Anjani oleng. Ban depan motor menghantam trotoar jalanan. Dia tidak apa-apa. Motornya hanya sedikit lecet di bagian spion kiri. Tidak ada pula yang terluka akibat kecerobohannya. Namun, seorang pria berusia empat puluh lima tahunan yang hendak menyebrang jalan terkaget melihat motor Anjani yang mendadak oleng. Pria itu jatuh terduduk.
“Astaghfirullah. Maaf, Pak. Maafkan saya.” Anjani mendekati pria itu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nak. Saya cuma ka-get." Kata-kata pria itu terhenti begitu melihat Anjani.
Perubahan ekspresi juga terjadi pada Anjani. Terkejut hingga membulatkan mata. Refleks, Anjani mundur beberapa langkah. Dengan ekspresi bingung, Anjani lekas menuju motornya. Mesin dihidupkan dan motor melaju kencang.
"Anjani!" seru pria itu kencang, tapi Anjani telah pergi.
***
Keesokan harinya ....
Meli bangun dengan wajah segar setelah istirahat semalaman. Sempat pula dia terbangun dan mendirikan sholat malam, meminta ampunan kepada-Nya sembari mendoakan suami tercinta, Azka.
Libur kuliah hanya tinggal sehari. Meli memanfaatkan waktunya, melakoni segala rutinitas pagi. Membantu sang ibu di dapur juga membantu Adit menyiapkan keperluan sekolahnya untuk besok.
Ada yang beda pagi itu. Status Meli yang sudah berubah menjadi Nyonya Azka mengharuskannya untuk membahagiakan hati suaminya di mana pun sang suami berada. Meli bertegur sapa dengan sang suami melalui ViCall.
Saat ViCall, Azka masih berada di area tempat Om Candra dirawat. Sempat pula Meli bertegur sapa dengan kakak iparnya, Farhan. Hanya sebentar, selanjutnya obrolan dengan Azkalah yang membuat jantung Meli berdebar-debar. Canda dan kata-kata mesra diucapkan Azka untuk sang istri tercinta. Meli yang polos pun dibuat tersipu malu karenanya. Rupanya, Azka jago nge-gombal.
ViCall dengan Azka akan menjadi rutinitas baru Meli. Rutinitas yang insya Allah menjadi ladang pahala karena Meli meniatkannya untuk membuat bahagia sang suami. Meli-Azka resmi LDR. Azka akan memulai tesisnya, sementara Meli melanjutkan kuliahnya.
"Meli pamit ke ruko dulu, Bu." Meli pamit.
"Sama Anjani?" tanya Fatimah.
"Iya. Sudah izin sama Mas Azka juga, kok. Meli diizinkan membantu Kak Mario mengelola rukonya," jelas Meli dengan senyum bahagia.
"Hati-hati di jalan, ya. Jangan lupa makan siang," nasihat sang ibu.
"Siaaaap, Bu. Kak Mario nggak mungkin membiarkan karyawannya kelaparan, kok. Apalagi di sana ada Anjani. Hehe. Berangkat dulu, Bu. Assalamu'alaikum." Meli mencium punggung tangan sang ibu.
"Wa'alaikumsalam."
Meli mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Hatinya riang dengan pergantian status barunya. Hawa-hawa pengantin baru masih melekat, meski usai sah jalan ceritanya tidak seperti pengantin baru pada umumnya. Meli akan menabung rindu untuk Azka. Tabungan rindu berbalut keimanan yang teriring doa. Hingga saat takdir temu dijumpa, Meli akan mencurahkan segalanya pada Azka.
"Allahu Akbar," seru Meli. Dia hampir menabrak orang.
Bukan Meli yang salah, tapi orang yang sengaja menghadangnya. Jantung Meli sudah berdebar-debar karenanya. Untung saja Meli cekatan menghentikan motornya.
"Pak. Meli salah apa sih kok sampai di hadang kayak gini? Untung Meli nggak jantungan," protes Meli.
Nada protes Meli justru terdengar seperti rengekan anak kecil. Untung tidak ada Azka di tempat itu. Kalau ada Azka, pasti dia gemas dengan sikap polos sang istri. Bisa habis Meli dimakan Azka sangking gemasnya.
"Kamu Meli, kan?" tanya pria berjenggot yang menghadang motor Meli.
"I-iya. Kok tahu, sih?" Meli ragu-ragu menjawab.
"Anjani. Di mana Anjani tinggal?" tanya pria di depan Meli, terlihat tak sabaran.
Pria di depan Meli justru heboh sendiri. Terus menyebut nama Anjani. Meli yang ketakutan pun mundur beberapa langkah. Diperhatikan lagi, Meli seperti mengenal pria di depannya. Ingatan itu samar. Meli tidak dapat menjangkaunya. Rasa takut Meli semakin menjadi lantaran pria itu terus mendekat. Cepat-cepat Meli menuju motor dan melajukan motornya menuju ruko sepatu Mario.
"Anjani!" seru pria itu, tapi motor Meli sudah pergi.
Bersambung ....
Siapa pria itu sebenarnya?
__ADS_1
Ehem. Azka jago nge-gombal? Hihi. Kepo-in yuk di novel Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Meli-Azka resmi LDR-an, nih.