
Mario Dana Putra. Mahasiswa yang sosoknya tak lagi seperti mahasiswa. Aura Mario berbeda, dan itu dirasakan oleh teman-temannya. Menurut mereka, Mario lebih cocok jadi pimpinan sebuah perusahaan. Ya, memang seperti itulah sebenarnya. Faktanya, hanya segelintir orang saja yang tahu detil aktivitas Mario di luar kampus. Itulah Mario. Tak suka mengumbar tentang kesuksesan dirinya.
"Bro. Tumben ngajak ketemu di gazebo? Biasanya langsung cus nemuin Daniel di ruang kerjanya," celetuk Ken sambil memberi isyarat pada Mario untuk segera duduk.
"Ken, boleh aku tanya rencana masa depanmu?" tanya Mario tiba-tiba.
Kacamata dibetulkan letaknya. Ken tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya bertanya.
"Masa depan yang seperti apa nih? Apa yang kau maksud dengan siapa aku akan menikah? Ah, Bro. Kau kan sudah tau aku sukanya sama siapa? Tentu saja setelah lulus aku akan melamar Berlian," terang Ken sambil tersenyum dengan bangganya.
Mario tersenyum. Tangan disedekapkan di depan dada lantas menggeleng-gelengkan kepala.
"Bukan itu maksudku, Ken? Setelah lulus, kau mau lanjut studi atau bekerja di perusahaan ayahmu?" tanya Mario.
Usai mendengar pertanyaan itu, Ken cengar-cengir. Dia telah salah kira. Memang dasar Ken yang di pikirannya penuh dengan nama Berlian.
"Sebenarnya sih ayah menyuruhku segera membantu perusahaannya. Tapi kau tau sendiri aku sudah nyaman di kota ini. Mana bisa aku jauh-jauh dari Berlian," canda Ken.
"Kali ini aku serius, Ken. Aku ingin tahu rencanamu," kata Mario.
Mendadak mimik wajah Ken serius. Dia tampak berpikir. Orangtua Ken adalah pebisnis, sama seperti ayah Mario. Hanya saja kesuksesan dan kekayaannya tidaklah sebanding dengan keluarga Mario.
Selama ini Ken anaknya terlihat slow. Santai-santai saja menjalani hidup meski jauh dari orangtuanya. Kebutuhan Ken memang telah dicukupi. Namun, Ken tidak pernah menolak ajakan teman-temannya. Misalnya saja saat Mario memintanya membantu dan bekerja di ruko. Ken juga kadang membantu Dika mempromosikan cokelat batangannya.
"Ken," panggil Mario karena Ken tak kunjung memberi jawaban.
"Aku sih pengennya kerja, Bro. Tapi rasanya enggan buat beralih kota tinggal." Ken berterus terang.
"Mau membantuku mengurus anak perusahaan ayah?" tanya Mario.
Sorot mata Ken berubah. Ada ketertarikan dari ajakan Mario.
"Ya tentu maulah, Bro. Kalau aku ceritakan ini pada ayahku, beliau pasti oke-oke saja. Ayahku kan pengagum sosok ayahmu. Haha," tawa Ken di akhir kalimatnya.
"Aku senang mendengarnya. Mari kembali bekerjasama, Ken. Tapi ... ada syaratnya."
"What? Tumben pakai syarat segala? Apa-apa? Kalau syaratnya memberatkan, langsung kulaporin ke Anjani kau." Ken mengancam.
Mario terkekeh pelan karena nama Anjani dibawa-bawa.
"Syaratnya, kau dan aku harus sama-sama mempercepat ritme, agar kita bisa lulus lebih awal. Cukup ikuti saja ritmeku. Kau bersedia, Ken?"
"Deal. Aku bersedia. Semakin cepat aku lulus, semakin cepat pula aku direstui ayah untuk menikah." Ken antusias. "Btw, gimana kabar cerita pengantin baru? Ehem?" kode Ken agar Mario sedikit bercerita.
"Apa kau mau tau apa saja yang kulakukan dengan Anjani saat malam?" Mario tersenyum jahil.
__ADS_1
"Boleh-boleh. Ceritalah, tapi jangan terlalu detil. Gimana rasanya, Bro?" Ken mendekatkan telinganya.
"Hangat," jawab Mario asal
"Terus?" Ken masih saja kepo.
Mario menjitak kepala Ken. Lantas beranjak dari tempat duduknya.
"Teruskan saja sendiri otak mesum. Cepat pergi ke ruko atau Bos Cantikmu akan menegurmu karena malas-malasan," ancam Mario setengah bercanda.
"Dasar Mario. Iya-iya! Aku berangkat. Eh, mau ke mana kau?" Ken sedikit berteriak.
"Ke tempat Pak Daniel."
Ken menyusul langkah Mario. Mereka berpisah di parkiran. Mario menuju mobilnya, sementara Ken menuju motornya. Sebelum motor Ken dilajukan, samar-samar Ken melihat sosok berhijab mendekati Mario yang saat itu sedang memutar arah mobilnya.
"Eh, itu kan Vina?" gumam Ken, tapi memilih acuh dan meneruskan lajunya.
***
Mario duduk santai di ruang kerja Daniel. Hal yang sangat lumrah dan sudah sangat biasa. Obrolan mereka tak jauh dari bertukar ide demi kemajuan anak peeusahaan.
Daniel sendiri mulai mengenal karakter Mario. Meski tak pernah diucapkan, tapi Daniel mengakui otak jenius putra John itu.
Pantas saja jika Pak John berharap besar pada Mario untuk segera bisa memimpin perusahaan. Dia jenius. Batin Daniel di sela diskusi mereka.
"Benar sekali. Baru saja aku akan memberitahumu. Haha. Aku yakin, anak perusahaan ini akan semakin dikenal ke depannya." Daniel begitu percaya diri.
"Semoga saja begitu. Kalau begitu aku pamit dulu. Setelah ini Pak Daniel harus menghadiri meeting dengan utusan perusahaan Jakarta itu kan?"
"Benar-benar. Sebagai tindak lanjut atas dana yang sudah mereka transferkan kemarin lusa. Sayangnya bukan Arvero Dewanggi sendiri yang hadir," keluh Daniel yang begitu ingin bertemu langsung dengan Vero.
Aku lebih senang jika Vero tidak datang. Fakta bahwa dia membidik anak perusahaan agar bisa menikah dengan Alenna masih belum bisa kuterima. Batin Mario.
Mario keluar dengan langkah penuh wibawa. Memang sudah bawaan dirinya, sehingga melangkah saja sudah membuat orang-orang segan padanya. Begitu mendekati lift, seorang karyawan yang mengurusi keuangan perusahaan menemui dirinya. Dia adalah Amanda, salah satu kepercayaan John dan sudah akrab dengan Mario.
"Maaf Tuan Mario, saya ingin mengobrol sebentar." Amanda menunduk sopan.
"Baik. Di ruanganmu saja," ajak Mario.
Mario dan Amanda terlibat obrolan serius. Ada sebuah masalah. Amanda mencurigai pergerakan dana ke rekening pribadi Daniel. Padahal dana yang dimaksud adalah transferan dari perusahaan Vero, yang baru saja menggandeng anak perusahaan.
"Seberapa besar?" tanya Mario serius.
"Setengah dari dana yang diinvestasikan perusahaan Tuan Arvero Dewanggi," terang Amanda.
__ADS_1
"Sudah kamu coba klarifikasi pada Pak Daniel?" tanya Mario lagi.
"Sudah, Tuan. Beliau beralasan dana itu digunakan untuk pemenuhan stok bahan mentah demi keperluan produksi sepatu-sepatu di pabrik. Namun, menurut saya pribadi ini sedikit aneh. Biasanya segala pemenuhan seputar pabrik ataupun perusahaan selalu melalui proposal pengajuan agar ada perincian dan pengarsipan tentunya. Kali ini tidak." Amanda menjelaskan dengan hati-hati.
"Berapa orang yang tahu tentang ini?" Mario terus bertanya.
"Selain saya ada kepala divisi produksi dan kepala divisi yang membawahi pabrik. Namun, mereka mengiyakan saja. Sementara saya masih sanksi, karena ini tidak biasanya terjadi," terang Amanda.
Mario tampak berpikir. Dia mulai menghubung-hubungkan temuan Amanda dengan selentingan kabar tentang Daniel yang ia dengar dari sang ayah. Mario mencoba tenang. Dia tidak mau terburu membuat kesimpulan.
"Tetap awasi pergerakan dana. Segera sampaikan padaku jika ada temuan lain yang mencurigakan. Satu lagi, jangan beritahukan ini pada ayahku. Aku tidak ingin beliau stres memikirkan ini," terang Mario.
"Siap, Tuan. Saya percayakan pada Tuan Mario." Amanda berdiri dan menundukkan badan begitu Mario keluar.
Tujuan Mario selanjutnya adalah menemui orang-orang kepercayaan ayahnya yang menduduki posisi penting di anak perusahaan. Yang saat ini Mario bisa lakukan adalah berdiskusi, mencari titik terang dari temuan yang dia simpulkan. Hanya itu yang Mario bisa lakukan. Oleh sang ayah, memang sudah diumumkan secara resmi bahwa Mario telah menjadi bagian dari perusahaan, akan jadi pimpinan selanjutnya. Namun, Mario tetap tidak bisa berbuat banyak karena bukan dialah pimpinan saat ini.
Mario sedikit penat atas masalah yang dihadapi. Sementara itu, di ruko, Anjani tengah syok. Sampai-sampai hampir limbung kalau tidak dipegangi Meli.
"Astaghfirullah," ucap Anjani begitu dalam.
"Aduh, Anjani. Ada apa sih ini? Ayo duduk dulu. Bentar kuambilkan minum!" Meli menuju kulkas.
Posisi Anjani dan Meli saat itu ada di lantai dua. Anjani bersandar di sofa sambil menyandarkan kepalanya. Tanpa sadar air matanya mengalir. Lebih lanjut, Anjani terisak.
Sebotol air diteguk. Meli mengusap lengan Anjani sembari menyerukan kata-kata menenangkan.
"Sudah lebih tenang?" tanya Meli.
Meli melihat anggukan pelan.
"Coba ceritakan!" pinta Meli.
Anjani menggeleng. Dia kembali terisak sambil beristighfar. Smartphone di genggamannya lekas diberikan pada Meli agar sahabatnya itu tidak bertanya-tanya lagi.
"Astaghfirullaah!" seru Meli dengan kerasnya.
Meli sungguh terkejut dengan beberapa foto yang dilihatnya. Dua foto bersandingan, dan dua-duanya menampakkan kemesraan Mario dan Vina. Foto sebelah kiri, menampilan Mario dan Vina yang berpelukan di dalam mobil. Foto di sebelah kanan, menampilkan Mario dan Vina yang tengah memutus jarak bibir mereka di dekat pintu mobil Mario. Lebih dari itu. Di bawah foto ada caption yang membuat jengkel siapa pun yang membacanya.
Suami tak puas, selingkuh jadi jalan pintas. Begitulan caption di bawah foto.
Baru saja Meli hendak menenangkan Anjani yang sesenggukan. Tiba-tiba saja ada notif pesan di smartphone Meli. Pesan yang masuk berisi foto yang sama persis seperti foto yang baru saja dilihatnya. Tak disangka, detik berikutnya Ken dan Dika hampir bersamaan menuju lantai dua. Mereka sama-sama mendapat kiriman foto yang sama. Foto Mario dan Vina, telah tersebar kemana-mana.
Bersambung ....
Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Mohon dukungannya ya kakak-kakak. Like dan vote. 😗 Author lagi krisis dukungan nih 🙈 Hayuuuk, ikuti juga lanjutan cerita LDR-an Meli dan Azka. Segera kunjungi novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Akak-akak semua bakal nemuin banyak sandaran di sana. Dukung karya kami, ya. Terima kasih sudah mampir dan membaca.
__ADS_1