
Hati Anjani tak karuan rasanya. Perasaan itu berkecamuk dalam dada. Anjani sangat kesal dengan Alenna yang bisa-bisanya mendekati dua lelaki sekaligus, Juno dan Mario. Ya, Anjani cemburu, hingga membutakan mata hati. Setelah melempar cabai ke arah pagar rumah Mario, Anjani pun tak lagi peduli dengan apa yang terjadi.
Uh, ini tidak adil. Kenapa hanya aku yang merasakan sakit hati seperti ini? batin Anjani.
Anjani memacu motornya dengan kencang di area kompleks perumahan. Begitu kencang hingga Anjani tidak bisa mengendalikan lajunya saat sebuah mobil yang juga sama kencangnya datang dari arah berlawanan.
"Aaaa!" teriak Anjani.
Brak!
Anjani tidak tertabrak mobil. Anjani hanya terjatuh dari motor saat membelokkan setir ke arah kiri, hingga ban depan motornya menyerempet pot besar di depan pagar salah satu rumah.
Motor yang digunakan Anjani tidak terlalu rusak parah, hanya kaca spion kiri yang patah. Body motor bagian kiri sedikit lecet. Selebihnya mesin motor masih berfungsi dan bisa dikendarai.
Anjani bersusah payah untuk berdiri, tapi gagal. Kakinya terkilir. Terlihat lebam membiru di kaki bagian kirinya. Sekali lagi Anjani mencoba berdiri. Namun, tiba-tiba lengannya dipegangi seseorang yang hendak membantunya berdiri.
"Jangan dipaksakan, Manis!" ujar Leon.
Anjani sedikit terkejut melihat Leon. Rupanya mobil yang menjadi lawan motor Anjani tadi adalah mobil yang dikendarai oleh Leon. Seketika Anjani bingung harus bagaimana.
"Aku bisa," kata Anjani ketus.
"Hm? Serius? Aku lepaskan, nih!" seru Leon dengan segera melepaskan lengan Anjani.
Leon melihat Anjani berusaha berjalan mendekati motornya. Sengaja Leon tidak pergi menjauh khawatir Anjani tidak sanggup melangkah lebih jauh. Dugaan Leon benar. Anjani hanya mampu melangkah tiga langkah saja. Baru memulai langkah keempatnya, Anjani tidak bisa menopang tubuhnya. Leon sigap menangkap tubuh Anjani, dan Anjani pun tidak sampai terjatuh.
"Simpan dulu sikap egoismu, Anjani. Biarkan aku membantumu!" pinta Leon dengan nada serius.
"Em, baik. Maaf," jawab Anjani pada akhirnya.
Leon tersenyum, lalu membantu Anjani untuk duduk di tepian. Sandal di kaki kiri yang dipakai Anjani dilepas perlahan. Leon melihat kondisi kaki Anjani yang terkilir. Leon tidak memiliki keahlian untuk menyembuhkan kaki terkilir. Tiba-tiba Leon meniup-niup pelan bagian kaki Anjani yang lebam. Beberapa kali tiupan, setelah itu Leon tersenyum pada Anjani.
"Tiupan dariku sungguh ajaib. Kakimu akan segera sembuh, wahai tuan putri Anjani," kata Leon.
"Hehehe." Anjani terkekeh melihat tingkah konyol Leon. "Terima kasih, Leon. Maaf, sikapku kurang baik sebelum ini," tutur Anjani.
"Aku lebih tua darimu, Anjani. Setidaknya panggil aku dengan sapaan yang lebih sopan," jelas Leon.
__ADS_1
"Sayangnya aku tidak bisa sopan dengan laki-laki yang juga tidak bisa bersikap sopan padaku," sahut Anjani sambil tersenyum.
Leon terkekeh mendengar itu. Leon sadar betul apa yang sedang dimaksud oleh Anjani. Rupanya Anjani masih ingat kejadian di dalam bus, saat Anjani dalam perjalanan pulang dari desanya.
"Waktu itu aku iseng menggodamu. Maaf," kata Leon sambil tersenyum.
"Permintaan maaf diterima. Itu yang aku tunggu," sahut Anjani juga sambil tersenyum sama seperti Leon.
"Tapi aku jujur, lho. Kamu memang terlihat manis," kata Leon sambil melihat ke arah bola mata Anjani.
Ditatap Leon membuat Anjani sedikit tidak nyaman. Anjani pun bergegas mengalihkan topik dan berniat pulang. Namun, Leon justru menawarkan tumpangan dan bersedia mengurus motor Anjani.
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Bantu aku sampai di motor saja," pinta Anjani.
"Kamu cukup keras kepala juga rupanya. Baiklah kalau begitu," kata Leon.
Leon membantu Anjani berjalan menuju motornya. Leon memastikan Anjani bisa mengemudikan motor itu dengan baik.
"Aku pulang dulu," pamit Anjani.
"Hati-hati, Manis!" seru Leon saat motor Anjani mulai melaju.
***
Di rumah Mario
Security melaporkan kejadian yang baru saja terjadi di depan pagar rumahnya. Saat itu Mario sedang berdiri di teras depan rumah karena sebelumnya menerima panggilan telepon dari Leon yang memintanya untuk segera menyusulnya ke tempat pertemuan.
"Cabai?" kata Mario sambil mengingat-ingat sesuatu.
Seketika Mario langsung bisa menebak siapa yang melempar bungkusan isi cabai di pagar rumahnya. Mario berekspresi datar saat itu. Sempat Mario menduga-duga alasan Anjani melakukan itu.
"Baik, terima kasih laporannya. Kalau melihat nona yang tadi melempar cabai ini datang ke sini lagi, jangan usir dia. Persilakan saja dia menemuiku," terang Mario.
"Baik, Tuan Muda."
Tanpa pamit pada Alenna, Mario memutuskan untuk pergi lagi ke tempat pertemuan. Mario memacu mobilnya dengan sangat kencang, berharap bisa sampai di tempat tujuan tepat waktu. Saat mobil hendak keluar dari kompleks perumahan, Mario melihat Anjani sedang dibantu oleh security kompleks setelah sebelumnya jatuh.
__ADS_1
Anjani sempat terjatuh dari motornya tadi, karena kurang seimbang. Selain itu kaki Anjani masih terasa nyeri. Untuk kembali ke motornya saja Anjani harus dibantu oleh dua security kompleks.
Mario yang melihat itu berniat menghampiri Anjani. Namun, entah kenapa saat itu Mario teringat cabai yang menurut security rumahnya dilempar ke gerbang rumahnya. Mario menduga bahwa ada sesuatu yang mengusik hati Anjani, sehingga dia melakukan itu. Mario juga khawatir Anjani akan lebih tidak nyaman bila dia menghampirinya. Oleh karena itu, Mario urung menghampiri Anjani dan lebih memilih melajukan kembali mobilnya, meski dengan setengah hati.
***
Pulang ke rumah dengan kondisi kaki lebam akan membuat kehebohan bagi Paman Sam. Tahu akan hal itu, Anjani memutuskan untuk pergi ke rumah Meli lebih dulu. Untung saja Meli ada di rumah, dan orangtua Meli sedang tidak ada di sana.
Meli yang tahu itu Anjani, bergegas menghampiri. Meli membantu Anjani berjalan hingga duduk di kursi ruang tamu rumahnya. Meli sedikit tahu tentang luka lebam, terkilir, dan sejenisnya. Bergerak cepat, Meli mengambil minyak urut dan mulai memijit pelan.
"Au!" seru Anjani sedikit kesakitan.
"Tahan!" perintah Meli.
Sambil menunggu kondisi Anjani lebih baik, Meli meminta Anjani bercerita perihal luka lebam yang didapatkan. Anjani pun berterus terang pada Meli. Cerita tentang kepergiaannya ke rumah Mario, adegan melempar cabai ke gerbang rumah Mario, juga saat terjatuh dan ditolong oleh Leon, semua diceritakan oleh Anjani.
"Aku nggak mau tanya tentang rasa sakit kakimu lagi, deh. Yang kutanyakan sekarang, kamu cemburu sama Kak Mario dan Alenna, kan?" tanya Meli sambil tersenyum.
Mulanya Anjani mengelak, menepis dugaan Meli karena malu. Namun, Meli gencar memburu Anjani, hingga akhirnya Anjani pun mengakui.
"Anjani, tolong jujur sama sahabatmu ini! Kamu ada rasa sama Kak Mario, kan?" tanya Meli dengan mempertahankan senyumnya.
Mulanya Anjani enggan menanggapi pertanyaan yang satu itu. Namun, setelahnya Anjani merasa semua akan lebih baik jika dia bercerita. Alhasil, Anjani pun mengangguk sebagai jawabannya.
"Ciee. Beneran jatuh hati rupanya," goda Meli.
"Hus, jangan ceritakan pada siapa pun!" pinta Anjani.
Meli seketika mengiyakan, kemudian mencubit gemas hidung Anjani. Menurut Meli, Anjani berekspresi lucu saat nama Mario disebutkan.
"Tapi, sepertinya aku harus mengambil jeda untuk menjaga jarak dengan Mario. Terlebih lagi, aku harus bisa mengendalikan diriku lebih dulu. Biar Mario fokus pada pekerjaannya. Ya, itu lebih baik," terang Anjani.
"Aku sebenarnya nggak terlalu paham dengan yang kamu bicarakan. Kalau suka sih suka aja. Nggak perlu pakai menjaga jarak segala Anjani," sahut Meli.
"Hm. Oke, biar semua ini mengalir begitu saja. Huft!" Anjani menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya.
Meli menepuk-nepuk pelan bahu Anjani. Sesudahnya, Meli menuju dapur dan membuatkan secangkir cokelat hangat untuk Anjani. Mungkin saja dengan meminum cokelat itu perasaan Anjani jadi lebih baik.
__ADS_1
***
Nantikan lanjutannya, ya. 💕☕