
Malam tiba dengan berjuta pesonanya. Bintang-bintang bertaburan, berkedip manja, dan terlihat indah. Purnama tidak lagi bertahta, hanya tampak bulan sabit bercahaya. Sungguh malam yang cerah, tanpa awan-awan yang menghalangi pandangan ke langit sana.
Pencahayaan di desa tidak terlalu remang. Setiap rumah sudah dilengkapi lampu-lampu terang. Hanya saja, di sepanjang area jalanan masih ada yang terlihat remang, karena memang jarak rumah-rumah di sana cukup jauh. Saat jalanan melewati lahan-lahan tanam, maka akan minim dijumpai lampu penerangan. Beberapa rumah malah ada yang masih menggunakan obor untuk menerangi halaman depan rumahnya. Pemandangan obor-obor itu begitu lumrah di desa Anjani.
"Masih hangat kue kucurnya. Jangan lupa bilang terima kasih sudah kasih Ma mentimun tadi siang, ya. Hati-hati di jalan," tutur Ma sambil memberikan sekotak kue kucur.
"Iya, Ma. Eh, Mel. Mau ikut nggak?" tanya Anjani.
"Nggak, deh! Aku mau diajarin cara bikin kucur. Hihi, nggak apa-apa kamu sendiri, kan?" tanya Meli memastikan.
"Oke, deh. Aku pergi dulu, ya. Eit, jangan dihabisin. Sisain buat teman-teman yang lain. Da!" pamit Anjani.
Rumah teman Ma tidak terlalu jauh. Anjani santai saja berjalan dan tidak merasa was-was meski malam itu sepi orang berlalu-lalang. Desa Anjani terkenal aman, dan jarang sekali ditemui tindak kejahatan. Itulah alasan Anjani berani-berani saja keluar rumah malam-malam.
Selesai mengantar kue untuk teman Ma, Anjani tidak langsung pulang. Dia mengambil waktu sejenak untuk jalan-jalan. Enam bulan di perantauan sudah cukup membuatnya rindu dengan suasana desanya. Beberapa ada yang telah berubah, seperti cat tembok rumah-rumah tetangga, pagar-pagar kayu rumah warga, juga gardu poskamling terlihat ada perubahan dari segi warna dan ukuran kentongan. Dari segala macam yang terlihat berubah itu, ada yang masih tetap sama. Ayunan pohon kersen yang dikunjungi Anjani dan teman-temannya tadi siang, ayunan pohon kersen yang telah ada bahkan sebelum Anjani lahir itu pun masih saja terlihat sama.
Ah, jadi ingin main di ayunan lagi, deh! batin Anjani.
Anjani telah berjalan-jalan selama dua puluh menit. Merasa lelah, Anjani pun berhenti sebentar di dekat salah satu pohon belimbing yang tumbuh di luar pagar salah satu rumah warga desa. Anjani mendongakkan kepalanya untuk melihat belimbing-belimbing yang kebanyakan telah ranum di pohonnya. Buah belimbing kekuningan terlihat menggoda mata Anjani, hingga membuatnya senyum-senyum sendiri membayangkan rasanya yang manis dan segar.
"Mau nyolong belimbing, ya?" tanya seseorang yang suaranya sangat Anjani kenal.
Anjani sebenarnya senang mendengar suara itu, karena itu suara Mario. Akan tetapi, kedongkolan dalam hati mendengar tuduhan itu membuat Anjani enggan untuk balik badan atau bahkan menyapa kehadirannya.
"Kalau memang mau nyolong belimbing, sini kubantu! Kita nyolong sama-sama," tutur Mario tiba-tiba.
"Eh, jangan asal bicara, ya!" ujar Anjani sambil berbalik badan.
Tepat saat Anjani berbalik badan, setangkai mawar putih langsung disodorkan Mario. Lenyaplah seketika rasa dongkol dalam hatinya. Mawar putih yang disodorkan Mario telah sanggup memperbaiki suasana hatinya menjadi kembali bahagia. Akan tetapi, saat Anjani hendak mengambil setangkai mawar putih itu, tiba-tiba saja Mario menjauhkannya dari tangan Anjani yang sudah tinggal beberapa cm saja dari tangkai bunga.
"Eh, mau kuambil kok malah dijauhin, sih? Niat ngasih nggak?" tanya Anjani. Merasa dijahili Mario, hatinya kembali dongkol.
"Tidak, aku cuma pamer!" ujar Mario sambil tersenyum.
"Eh, maksudnya?" tanya Anjani tidak mengerti.
"Aku dapat mawar putih dari seorang warga desa. Itu, yang rumahnya cat kuning!" tunjuk Mario ke salah satu rumah.
"Jadi, mawar itu bukan untukku?" tanya Anjani sekali lagi.
"Tentu saja bukan," jawab Mario sambil tetap tersenyum.
Malu ...! batin Anjani menyeru.
Anjani telah salah sangka, dikira mawar putih yang disodorkan Mario akan diberikan padanya. Nyatanya, Mario hanya mau pamer saja. Demi mengatasi rasa malunya, Anjani tertawa-tawa sendiri kemudian menunjuk ke arah bulan sabit di langit.
__ADS_1
Mario berdiri di samping Anjani, dan ikut melihat ke arah bulan sabit. Mario ikut menikmati pesona bulan sabit yang menemani jutaan bintang-bintang di langit sana. Sesaat kemudian, tangan Mario terangkat dan membuat gerakan seperti sedang melukis.
Anjani memperhatikan gerakan tangan Mario. Tidak ragu pula dia bertanya pada Mario.
"Sedang apa?" tanya Anjani.
"Melukis senyum di wajah bulan sabit. Cobalah!" suruh Mario.
Meski kurang paham untuk apa, tapi Anjani ikut mencobanya. Tangannya bergerak perlahan dan melukiskan sebuah senyum pada bulan sabit. Bekas lukisan yang sudah dia torehkan pada wajah sang bulan, tentu saja hanya dapat terekam dalam ingatan. Ajaib, tiba-tiba saja senyum Anjani mengembang.
"Jadi ... tujuan melukis senyum bulan sabit itu untuk membuat pelukisnya tersenyum juga, ya?" tanya Anjani pada Mario.
"Iya. Cobalah melukisnya lagi saat hatimu sedang sedih, Anjani." Mario berkata sambil tetap melihat ke arah bulan sabit.
Anjani memperhatikan Mario yang sedang tersenyum memperhatikan lukisan senyum yang tadi dia torehkan pada bulan sabit. Anjani merasa bahwa Mario benar-benar menikmatinya, seolah lukisan senyum itu dapat membawa dampak besar di kehidupannya.
"Apa kau sering melukis senyum saat ada bulan?" tanya Anjani.
"Iya, terutama saat sedih," tutur Mario.
Anjani langsung terpingkal mendengarnya. Tawa Anjani yang begitu tiba-tiba tentu saja membuat Mario terheran.
"Ternyata orang sedingin kamu bisa sedih juga?" tanya Anjani sambil menahan tawanya.
"Jadi itu yang membuatmu tertawa, he?" tutur Mario, kemudian dia ikut tertawa. "Tentu saja Anjani. Terserah orang mau menilaiku dingin, acuh, dan kurang asyik diajak berteman. Itu terserah mereka. Dan ... setiap orang pasti pernah sedih karena mereka memiliki perasaan. Termasuk aku," jelas Mario kemudian.
Anjani merenungi kalimat Mario sambil menatap bulan sabit. Seketika dia kembali tersenyum. Larut dalam pesona bulan dan percakapan ringan dengan Mario, Anjani sampai tidak sadar bahwa dirinya sudah terlalu lama meninggalkan rumah.
"Sebaiknya kamu segera kembali ke rumahmu," tutur Mario.
"Iya, pasti Ma dan Meli sudah menungguku. Eh, bagaimana denganmu? Masih ingat jalan ke rumah Juno? Kalau lupa biar kuantar." Anjani mencoba menawari Mario, karena saat ini mereka berada di desa yang belum pernah dikunjungi Mario.
"Kecerdasanku tidak bisa diragukan, Anjani. Aku ingat betul jalan ke rumah Juno." Mario menegaskan dengan rasa percaya dirinya.
"Iya-iya. Percaya, deh. Oke, aku pamit duluan. Da!" pamit Anjani.
"Eh, tidak jadi nyolong belimbing, nih?" tanya Mario sedikit berteriak.
"Aku tidak dengar. Da!" jawab Anjani.
Mario tersenyum. Dia terus memperhatikan kepergian Anjani. Saat hendak kembali melihat ke arah bulan sabit, tiba-tiba saja ada yang menepuk bahunya.
"Hei, Bro!" sapa Ken.
Mario tidak terkejut. Dia sudah menyadari keberadaan Ken sejak beberapa menit lalu. Ken sengaja bersembunyi di balik pohon lainnya sambil menunggu Anjani pulang.
__ADS_1
"Sepertinya makin lama makin akrab saja dengan Anjani. Naksir?" tanya Ken.
"Bukankah kita semua yang sedang liburan di sini bersahabat, Ken?" tanya Mario. Bukan jawaban yang dia berikan pada Ken, melainkan sebuah pertanyaan.
"Iya, sih. Tapi banyak loh cerita sahabat jadi cinta," jawab Ken sambil menepuk-nepuk bahu Mario.
"Katakan! Ada apa menyusulku ke sini," pinta Mario agar Ken segera menjelaskan.
Mario terlihat serius kali ini. Dia hafal betul, Ken tidak akan menyusulnya jika tidak ada sesuatu yang penting.
Ken segera merogoh saku hoodie abu-abu yang saat itu dipakai olehnya. Rupanya Ken mengeluarkan smartphone. Bukan smartphone milik Ken, tapi milik Mario. Saat pamit untuk jalan-jalan tadi Mario meninggalkan smartphone miliknya di kamar.
"Alenna terus menghubungi," tutur Ken sambil menyerahkan smartphone milik Mario.
Mario mengecek layar smartphone. Tertulis 5 pesan belum dibaca dan 5 panggilan tidak terjawab, dan semua itu dari Alenna.
"Eh, nggak mau dibalas dulu pesannya, atau ditelpon?" tanya Ken. Dia heran melihat Mario yang langsung mematikan smartphone miliknya.
"Tidak. Ayo, kita kembali ke rumah Juno!" ajak Mario.
Ken memang tidak mengerti dengan sikap Mario. Sudah beberapa tahun sikap Mario masih saja sama, tidak peduli pada Alenna. Namun, Ken enggan mengungkit-ungkit ataupun bertanya lebih jauh. Ken menghargai Mario sebagai sahabatnya. Termasuk saat Mario memilih untuk menyimpan sebuah rahasia, maka Ken akan menghormatinya.
***
Anjani santai berjalan menuju rumahnya. Dari kejauhan, dia melihat Meli mondar-mandir di halaman rumahnya seperti sedang panik. Melihat itu, Anjani bergegas menghampirinya.
"Anjani ...! Aduh, dari mana saja, sih! Lama banget perginya!" protes Meli.
"Aku dari melukis senyum di wajah bulan sabit, Mel." Anjani berkata terus terang.
Untuk sesaat, Meli terdiam dan berusaha mencerna penjelasan Anjani. Semakin lama dipikirkan, dia semakin tidak paham.
"Aduh, kayaknya bener kata Ma, deh. Kamu habis kena begal, ya? Makanya ngomongnya ngelantur gini. Iya, kan?" tanya Meli memastikan dugaan Ma beberapa menit lalu, saat Anjani tidak pulang-pulang.
"Begal? Ngawur, nih! Mana ada yang mau membegal kue kucur, Meli!" bantah Anjani.
"Ahaha, jadi nggak dibegal, ya? Yauda, cepat temui Ma di dapur. Siap-siap dengerin ceramahnya karena pergimu lama. Semangat!" ujar Meli.
"Ah, Ma!"
***
Di kota, Alenna sedang berada di rumah Mario. Dia duduk sendirian di meja makan. Padahal telah terhidang aneka macam menu makanan lezat, tapi makanan-makanan itu dianggurkan. Sendok yang sedari tadi dia pegang, berulang kali ditancap-tancapkan ke ayam goreng pada salah satu piring.
Alenna ngambek karena pesan dan panggilan suaranya tidak ditanggapi oleh Mario. Awalnya sebelum makanan-makanan di meja terhidang, Alenna terus berceloteh dan asal curhat pada bibi juru masak dan security di rumah Mario. Alenna mengatakan bahwa dirinya ingin segera bertemu Mario. Bibi juru masak dan para security sampai kerepotan menanggapi rengekan Alenna. Setelah bibi juru masak membujuk Alenna untuk makan, Alenna pun langsung meluapkan semuanya pada ayam goreng di piring, ditusuk-tusuk puluhan kali.
__ADS_1
"Ah, Mario! Kamu tega!" ujar Alenna.
***