
Rangkaian kegiatan untuk mahasiswa baru telah selesai dilaksanakan semuanya. Baik penyambutan, rangkaian jadwal tiga hari OSPEK, bahkan acara belajar wirausaha bersama kelompok sesama mahasiswa baru pun selesai dilakukan. Semua berjalan seperti yang sudah direncanakan. Semua mahasiswa baru menikmati jalannya setiap acara. Sementara panitia begitu bangga sekaligus lega karena sudah berhasil menyelesaikan tugas di masing-masing bidang yang diamanahkan.
Kegiatan perkuliahan telah aktif. Jadwal setiap mata kuliah telah berjalan dan sudah ada beberapa tugas dari dosen pengajar. Mahasiswa kembali disibukkan dalam aktivitas perkuliahan. Semangat baru, torehan kisah baru, semua tercipta seiring langkah yang terus maju.
Anjani masih terjebak dalam rasa penasarannya. Mbak Bida dan Vina, dua nama itulah yang faktanya ingin segera Anjani ketahui. Dua nama yang ada hubungannya dengan Mario Dana Putra. Rasa ingin tahu itu telah ada sejak sebelum masa penyambutan mahasiswa baru terlaksana. Hingga satu bulan berlalu sejak saat itu, Anjani belum berhasil meruntuhkan rasa penasarannya.
Ya, satu bulan memang sudah berlalu, dan menyisakan rasa penasaran yang sama. Anjani tidak punya kesempatan lagi untuk bertanya setelah pertemuan terakhirnya dengan Mario, yakni saat jilbab Anjani terkena coretan spidol kala itu. Sejak saat itu Anjani tidak punya kesempatan untuk berbicara dengan Mario.
Anjani, Meli, Berlian, dan Alenna telah punya jadwal ngaji sendiri bersama ustaza Nuri. Tentunya di tempat yang berbeda dari jadwal mengaji laki-laki. Mario, Juno, Ken, dan Dika juga memiliki jadwal dan tempat mengajinya sendiri bersama Pak Nizar. Itulah salah satu alasan Anjani jarang bisa bertemu dengan Mario, sekaligus tidak memiliki kesempatan untuk bertanya tentang Mbak Bida ataupun tentang Vina.
Jadwal kuliah yang berbeda antara Anjani dan Mario juga menjadi salah satu alasan keduanya jarang bertemu Mario. Namun, ada alasan lainnya yang membuat Anjani tidak bisa mendekat menemui Mario, yakni adanya Vina.
Anjani memang tidak punya kesempatan untuk bertemu tatap dengan Mario. Akan tetapi, Anjani masih bisa melihat sosoknya dari jauh, terutama saat pergantian jam mata kuliah. Di saat-saat itulah Anjani sering kali melihat Mario, tapi selalu ada Vina di sampingnya. Bahkan, saat istirahat makan siang di kantin pun Anjani pernah melihat Vina makan bersama Mario dan Ken.
Siang itu Anjani kembali melihat Vina, juga tak jauh-jauh dari Mario. Anjani melihatnya saat hendak makan siang di kantin bersama Meli dan Berlian. Ya, ada Vina sedang makan siang bersama Mario dan Ken.
"Itu kan ...." Meli tidak melanjutkan kata-katanya karena lebih dulu disela oleh Anjani.
"Sst. Biarkan saja. Yuk, pesan makanan!" ajak Anjani kemudian.
"Kalian pesan duluan saja. Aku pilih tempat duduknya dulu. Kalau nggak pilih duluan, nanti nggak kebagian tempat duduk. Em, di sini aja ya?" Berlian mengusulkan pilihan tempat duduk.
"Oke."
"Sip."
Tempat duduk yang dipilih Berlian berjarak cukup jauh dari Vina, Mario, dan Ken. Namun, Anjani masih dapat nelihat jelas ke arah Mario.
Anjani dan Meli lebih dulu mengantri. Meli mengantri membeli bakso, sedangkan Anjani mengantri membeli mie ayam ceker. Untungnya saat itu antrian makanan yang mereka pilih tidak mengular, sehingga baik Anjani ataupun Meli dengan cepat mendapatkan makanan yang dipesan. Setelah itu, barulah Berlian mengantri membeli soto ayam. Tidak sampai lima menit, Berlian sudah kembali duduk bersama Anjani dan Meli.
"Anjani, santai aja dong ngasih sambalnya. Itu sambalnya udah tiga sendok, tuh!" seru Meli.
"Astaghfirullah, ternyata yang aku tuang sambal, ya. Hehe." Anjani cengar-cengir, lalu menjauhkan wadah sambal menuju ke arah Meli.
"Barusan kan udah sholat dhuhur. Udah segar karena air wudhu. Kalau masih nggak fokus kayak gini pasti lagi ada yang dipikirin," tebak Berlian.
Anjani memutar bola matanya, tersenyum, lalu memegang perutnya. "Lapar, nih. Perut keroncongan bikin gagal fokus," jelas Anjani meyakinkan Meli dan Berlian.
Anjani tidak sedang membual. Perut Anjani memang terasa lapar saat itu. Namun, di satu sisi fokusnya terganggu karena melihat Vina yang duduk di meja yang sama dengan Mario dan Ken. Untuk alasan yang satu itu Anjani tidak mau memberi tahu Meli ataupun Berlian.
"Ya udah. Yuk, dimakan!" Meli mulai memegang sendok dan garpu.
Anjani dan Berlian melakukan hal yang sama, mulai memegang sendok dan garpu di mangkuk masing-masing. Anjani dengan mie ayam ceker, dan Berlian dengan soto ayam.
Anjani makan mie ayam ceker sambil sesekali melihat ke arah meja yang ditempati Mario, Vina, dan Ken. Tampak jelas di sana Vina sedang mengajak Mario mengobrol. Vina dan Mario duduk berhadap-hadapan. Tampak jelas di mata Anjani, Vina selalu berusaha membuat Mario menanggapi obrolan yang dibuatnya.
Cetek! Suara ceker yang berhasil patah karena digigit keras oleh Anjani.
Meli dan Berlian kompak berhenti mengunyah. Mereka berdua memperhatikan Anjani yang sedang memakan ceker dalam mie ayam dengan tenaga maksimal. Seolah ada luapan emosi yang mengalir pada gigitannya.
Tidak ada komentar dari Meli dan Berlian. Keduanya saling lirik, lalu mengikuti arah tatapan mata Anjani. Meli dan Berlian segera tahu bahwa rupanya Anjani sedang memperhatikan meja kantin paling ujung yang ada Vina, Ken, dan Mario di sana. Terlihat pula keseruan obrolan di meja kantin yang ditempati Mario dan lainnya.
"Oh," ucap Berlian.
"Ehem." Meli berdehem.
"Cem-bu-ru!" eja Meli dan Berlian bersamaan.
Seketika Anjani berhenti mengunyah, dan segera melihat ke arah Meli dan Berlian.
"Hm? Siapa yang cemburu melihat Vina dan Mario?" tanya Anjani.
Anjani tidak sadar bahwa pertanyaannya itu justru memperjelas dugaan Meli dan Berlian, karena Anjani menyebut nama Vina dan Mario di dalamnya.
"Anjani, meskipun kamu jarang curhat-curhatan usai pelajaran ngaji sama ustaza Nuri, tapi kami tahu kalau kamu sebenarnya masih ada rasa sama Kak Mario," jelas Berlian.
"Iya nggak apa-apa. Perasaan yang wajar kok bila manusia itu merasakan jatuh cinta. Seperti aku pada Dika," kata Meli.
"Loh?" Anjani kaget karena Meli membahas Dika di depan Berlian.
__ADS_1
Anjani ingat betul obrolan terakhirnya dengan Meli. Tidak ada orang lain yang tahu perasaan Meli pada Dika kecuali Anjani. Namun, siang itu Anjani justru mendengar Meli mengungkit nama Dika di depan Berlian.
"Berlian tahu?" tanya Anjani.
"Iya. Baru tadi pagi tahunya. Itu aja karena Meli keceplosan," terang Berlian.
"Iyap. Tepat sekali," kata Meli membenarkan.
"Fix, nih. Masing-masing dari kita punya orang yang disuka." Tiba-tiba saja Berlian berkata demikian.
Anjani mengunyah mie ayamnya dengan pelan, lalu menelannya. Setelahnya barulah Anjani mengajukan tanya karena masih belum terlalu paham dengan perkataan Berlian.
"Yang dimaksud dengan masing-masing punya orang yang disuka?" tanya Anjani.
"Ehem. Begini-begini. Mario-Anjani. Dika-Meli. Kak Ken untuk Berlian. Juno sama Alenna biar CLBK. Em, tuh-tuh. Si Vina yang bikin kamu cemburu biar sama Leon aja. Pas, deh." Berlian mengatakannya dengan ringan.
Anjani terkejut dengan list pasangan yang baru saja dikatakan Berlian. Rasanya ingin tertawa juga karena pemikiran Berlian itu. Meli bahkan sudah tertawa lebih dulu tanpa sungkan.
"Bisa-bisanya kamu punya ide list pasangan gitu, deh. Eh, tapi itu bakalan seru kalau beneran terjadi." Meli sempat menanggapi sebelum akhirnya kembali tertawa.
Anjani yang semula terkejut, pada akhirnya ikut tersenyum juga. Siang itu dalam list pasangan yang disebutkan Berlian, disadari atau tidak Berlian sudah mengakui perasaannya pada Ken.
"Em, tapi jodoh itu rahasia Allah. Siapa pun jodoh kita nanti, pasti pilihan yang terbaik dari-Nya," kata Anjani.
"Setuju," ucap Meli dan Berlian bersamaan.
Acara makan siang dilanjutkan. Meli memakan baksonya dengan lahap. Berlian memakan soto ayamnya dengan nikmat. Sedangkan Anjani lanjut memakan mie ayam cekernya dengan masih memikirkan list pasangan yang dikatakan oleh Berlian tadi.
Lalu, siapa jodohnya Mbak Bida yang sudah diberi buket mawar putih oleh Mario waktu itu? Akan berjodoh dengan Mario atau orang lain? batin Anjani menggema lagi.
***
Usai makan siang di kantin, Vina pamit ke kamar mandi dan menyuruh Ken dan Mario untuk menunggunya kembali. Namun, Ken dan Mario malah memutuskan untuk pergi tanpa persetujuan Vina.
"Gila, Bro." Ken memulai obrolannya dengan Mario.
"Ups. Astaghfirullah. Aku lupa kalau di sebelahku ini ada ustaz. Ustaz Mario," kata Ken.
"Hm." Kata khas seorang Mario muncul lagi.
"Eh, tapi nih ya. Vina ini terlalu cari muka. Mepet terus sama Mario Dana Putra. Teman-teman di kelas sampai kepo sama hubunganmu dan Vina, Bro. Lama-lama bisa jadi trending kampus," duga Ken.
"Biarkan saja, Ken. Jangan terlalu dipikirkan," kata Mario sambil terus melangkah menuju parkiran.
"Biarkan gimana?" tanya Ken.
"Biarkan waktu yang menjawab semua," jawab Mario ringan.
Ken mengangkat bahunya. Obrolan disudahi hingga Ken dan Mario sampai di parkiran.
Mario dan Ken tidak berniat pulang, karena keduanya masih ada kegiatan kerja kelompok dengan beberapa teman. Mario dan Ken menuju parkiran karena hendak mengambil sesuatu di jok motor mereka masing-masing. Mario mengambil sekotak bolpoin pesanan teman sekelompoknya. Sedangkan Ken mengambil benda yang lain.
Kotak kado berukuran kecil yang sudah terbungkus rapi dengan pita warna navy telah ada di tangan Ken. Dipandanginya kado kecil itu dengan senyuman.
"Itu yang kau ambil?" tanya Mario.
"Yoi. Aku pamit ngasih ini ke Berlian dulu, ya. Aku bilang aja oleh-oleh dari ayahku," kata Ken.
"Lucu sekali rencana basa-basimu, Ken. Bilang saja itu hadiah darimu, sebagai dukungan atas perubahan Berlian yang sekarang berhijab. Isinya bros, kan?" Mario memastikan.
Ken mengangguk. "Ide bagus. Ketemu di gazebo, ya. Assalamu'alaikum," kata Ken.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mario, lalu menutup kembali jok motornya.
Mario hendak menuju ke gazebo, tempat yang telah disepakati untuk kerja kelompok bersama teman-temannya. Namun, langkah kaki Mario terhenti karena melihat Anjani di parkiran.
Mario memutuskan untuk menghampiri Anjani. Tampak olehnya, Anjani sedang mengambil sesuatu di jok motor. Mario tidak tahu apa yang diambil Anjani dari jok motor, karena yang tampak hanya kresek hitam berukuran sedang.
"Assalamu'alaikum, Anjani." Mario menyapa lebih dulu.
__ADS_1
Anjani menoleh, dan sedikit terkejut bahwa yang menyapanya adalah Mario.
"Wa'alaikumsalam," jawab Anjani lirih, dan masih sedikit terkejut.
"Lama tak berjumpa," kata Mario sembari tersenyum.
Anjani mengangguk, tersenyum, lalu mengiyakan.
"Hehe, iya. Kabar baik?" tanya Anjani.
"Alhamdulillaah," jawab Mario.
"Em, sibuk nggak? Setelah ini mau kemana?" tanya Anjani.
Anjani bertanya demikian karena Anjani merasa bahwa itulah saat yang tepat untuk bertanya tentang Mbak Bida ataupun Vina. Namun, Anjani jadi berpikir ulang untuk bertanya lebih lanjut, karena Mario menjawab bahwa dirinya sedang sibuk.
"Lumayan sibuk. Ini mau kerja kelompok bareng yang lain," jawab Mario.
"Em, setelah kerja kelompok sibuk?" tanya Anjani lagi.
"Setelah kerja kelompok langsung mau ke toko bunga. Mau beli buket mawar," jelas Mario apa adanya.
"Buket mawar? Untuk?" Anjani benar-benar memburu Mario dengan tanya.
Mario tersenyum dan tidak segera menjawab pertanyaan Anjani.
Pasti untuk Mbak Bida. Duh, sejauh apa hubungan Mario dengan mbak Bida? batin Anjani.
"Kamu sudah tahu jawabannya, Anjani. Kamu sudah bisa menebak bunga itu untuk siapa," kata Mario tanpa memudarkan senyumnya.
Dukun, nih. Sudah berapa kali Mario bisa menebak pikiranku? Tuh, bunganya beneran untuk Mbak Bida, kan. Huhuhu, batin Anjani.
"Em, Mario. Sebenarnya apa hubunganmu de ...." Kata-kata Anjani disela oleh Vina.
"Hei, Anjani. Ngapain lu di sini? Mau cari kesempatan buat dekat sama Mario?" tanya Vina.
Vina segera mengambil posisi berdiri di samping Mario. Vina seketika tersenyum manis kepada Mario, lalu kembali menatap Anjani.
"Astaghfirullah. Aku nggak berniat seperti itu." Anjani membela diri.
"Ah, alesan aja lu. Bilang aja lu masih tergila-gila sama Mario dan ngarep bisa jadian lagi." Vina semakin nge-gas.
"Vina! Jaga bicaramu! Astaghfirullah." Anjani terpancing emosi karena tuduhan dari Vina.
Mario merasakan atmosfir yang berbeda di sana. Vina dan Anjani jelas-jelas telah tersulut dalam pertengkaran.
"Huft. Sok alim lu!" ejek Vina semakin memojokkan Anjani.
"Cukup, Vin. Hentikan!" seru Mario.
Mario berniat menengahi agar Vina dan Anjani tidak bertengkar lagi. Namun, usahanya itu tidak berjalan lancar. Vina justru menjadi-jadi.
"Emang kenyataannya gitu. Anjani emang masih ngarepin cinta dari lu. Oke, Mario. Sekarang coba pilih. Lebih cantik mana? Vina atau Anjani?" tanya Vina.
Anjani berulang kali istighfar. Sama sekali tidak terbayangkan bahwa dirinya sampai terjebak pertengkaran dengan Vina.
Mario masih belum menanggapi. Belum ada jawaban darinya.
"Oke, tidak perlu dijawab. Sudah pasti lebih cantik Vina," kata Vina dengan PD-nya. "Satu pertanyaan lagi dan harus kau jawab, Mario. Mana yang akan kau pilih sebagai kekasih, aku atau dia?" tanya Vina serius.
Astaghfirullah. Kenapa Vina sampai sejauh ini, sih? Salah apa aku pada Vina? batin Anjani.
Bersambung ....
Siapakah yang akan dipilih oleh Mario? Vina, Anjani, atau justru bukan keduanya?
***
Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Kritik saran buat author selalu ditunggu, lho. Eit, vote karya ini, dong. See You. 😊
__ADS_1