
Aroma ayam goreng krispi tercium gurih. Ayam-ayam itu baru saja selesai digoreng dan kini tengah ditiriskan oleh Anjani. Di sisi lain dapur Paman Sam sibuk membuat sambal. Tujuh cabai hijau beserta bumbu pendamping diulek lembut dalam cobek. Sentuhan terakhir dari Paman Sam membuat masakan pagi itu tampak begitu lezat. Ayam goreng krispi diulek bersama sambal yang telah jadi.
"Ayam geprek sambal ijo ala Paman Sam sudah jadi .... Uhuy!" seru Paman Sam.
"Anjani nggak sabar, Paman. Ayo kita makan!" pinta Anjani.
"Kalau nanti kau ketagihan sama rasa pedas sambal ijonya bilang saja, ya. Paman kau ini masih punya sekantong penuh cabai ijo. Haha .... Ayo-ayo makan dulu!" ajak Paman Sam.
Sarapan pagi Anjani bersama Paman Sam begitu heboh. Bukan heboh lantaran suatu permasalahan. Kehebohan yang terjadi karena baik Anjani maupun Paman Sam sama-sama kebingungan mengatasi rasa pedas dari sambal. Peluh juga terus-terusan bercucuran di kening. Meski demikian, rasa pedas sambal memang 'bikin nagih'. Meski pedas, ayam geprek terus dilahap lagi, lagi, dan lagi.
Biasanya waktu makan memang cocok diselingi dengan obrolan ringan demi membangun kebersamaan. Akan tetapi, saat itu tidak mungkin diselingi dengan obrolan karena Anjani dan Paman Sam sibuk mengatasi rasa pedas sambal dari ayam geprek. Alhasil, obrolan-obrolan ringan dilakukan setelah selesai makan, tepatnya saat Anjani menemani Paman Sam menjaga warung.
Obrolan yang berlangsung tak jauh dari persiapan pulang kampung yang kurang tiga hari lagi. Layaknya orangtua yang begitu perhatian pada anak gadisnya, Paman Sam lebih banyak menyisipkan nasihat-nasihat dalam obrolannya. Anjani tidak keberatan, dia justru sangat senang karena merasa diperhatikan.
"Terus kapan kau balik lagi ke kota?" tanya Paman Sam.
"Belum juga pergi, sudah ditanya kapan balik. Hihi .... Nggak terlalu lama, kok. Kalau udah waktunya pemrograman kelas mata kuliah baru pasti segera balik ke sini. Ma pasti nyiapin oleh-oleh juga buat paman."
"Ah, paling-paling oleh-olehnya jengkol sama singkong. Bisa ditebak. Sebaiknya kau naik kereta saja. Bareng sama teman-teman kau pasti seru," ujar Paman Sam.
"Iya, Paman. Udah direncanain matang sama yang lain. Udah sip, deh!" kata Anjani sambil mengacungkan jempolnya.
Tiba-tiba saja Paman Sam berdehem, tapi itu semua hanya dibuat-buat. Setelah itu dia tersenyum penuh arti, lalu berdehem lagi. Anjani gagal memahami isyarat dari Paman Sam. Anjani benar-benar tidak mengerti.
"Si ganteng ikut juga?" tanya Paman Sam.
"Siapa yang ganteng, Paman?" tanya Anjani. Dia belum juga paham.
"Itu, tuh. Sepatu baru. Dia ikut?" tanya Paman Sam.
Anjani masih mengerutkan kening karena tidak paham dengan maksud Paman Sam. Namun, dia mencoba mengingat lagi hubungan antara si ganteng dan sepatu baru.
"Oh, Mario. Iya, dia ikut." Anjani akhirnya peka dengan apa yang dimaksud oleh Paman Sam.
"Bakal seru, nih. Mario pasti jadi sorotan di desa. Saingan sama si Juno, anak kepala desa kau itu. Uhuu!"
Paman Sam antusias dengan pemikirannya. Dia seolah sedang berada di pihak Mario dan dengan sepenuh hati akan mendukungnya. Anjani terheran dengan sikap Paman Sam. Dia menduga-duga bahwa Paman Sam diam-diam telah menjadi salah satu fans Mario.
__ADS_1
"Ah, ganti bahas yang lain aja, deh!" ujar Anjani.
Baru saja Anjani mau membuka topik baru, tapi smartphone miliknya tiba-tiba bergetar. Ada satu panggilan. Itu dari Meli. Sayang sekali sepertinya sinyal sedang buruk. Suara Meli di seberang sana tidak terdengar. Anjani mencoba menelepon balik, tapi tidak diangkat.
"Semoga nggak ada sesuatu yang darurat," tutur Anjani lirih.
***
Meli kesal karena terjebak masalah jaringan. Dia gagal menghubungi Anjani. Kekesalan pada dirinya semakin menjadi saat smartphone miliknya low bat.
"Hei, Bule! Tetap diam di sana atau aku teriakin maling!" ancam Meli pada seorang bule cantik.
"No no no!"
Wanita yang disebut bule oleh Meli itu telah berniat meminjam motor teman Meli yang kebetulan sedang dia pinjam. Meli pinjam motor, tapi motornya mau dipinjam sama orang lain. Namun, situasi sebelumnya menjelaskan bahwa bule itu tidak bisa dikatakan sedang meminjam, karena dia telah membawa motor Meli tanpa izin.
Saat itu Meli sedang mengantri untuk membeli bubur kacang hijau pesanan temannya, tapi dari tempat duduk bakul bubur Meli melihat bule cantik sedang menuntun motornya dari parkiran. Meli seketika sadar bahwa kontak motor lupa dia amankan dan masih menggantung di sana. Gerak cepat, Meli menghentikan aksi bule cantik.
"Help me, please!" ujar bule cantik.
Bule cantik tiba-tiba mengacak-acak rambutnya, lalu mengentak-entakkan kakinya. Sesaat kemudian dia terduduk di tanah, sambil mulai menitihkan air mata.
Hati Meli terasa iba. Dia tidak tega melihatnya, apalagi dia dan bule cantik itu sama-sama wanita. Berjalan mendekat, dia pun mengajak bule cantik untuk duduk di tempat teduh dan memberinya kesempatan untuk bercerita.
Bule cantik duduk di bangku kayu dekat pohon teduh. Meli meninggalkannya sebentar untuk membeli es jeruk dalam wadah plastik. Tak lupa pula dia memastikan motor temannya aman dan kontaknya telah ada di saku Meli. Selesai dengan semua itu, Meli kembali menghampiri bule cantik.
"Minum dulu biar seger. Nih!" ujar Meli sambil menyodorkan es jeruk dalam wadah plastik.
"No no. Minuman apa itu? Aku nggak biasa dengan model seperti itu." Bule cantik menolak.
"Ah, banyak gaya. Minum aja, nih!" tegas Meli sedikit memaksa.
Bule cantik ragu-ragu menerima minum dari Meli. Dia mencicipi sedikit es jeruk dalam wadah plastik. Setelah tegukan pertama melewati kerongkongannya, seketika wajahnya berubah. Dia menyukai rasa es jeruk itu, dan cepat-cepat meminumnya lagi hingga habis.
Meli tertawa penuh kemenangan. Dia bisa menakhlukkan rasa takut bule cantik terhadap es jeruk dalam wadah plastik. Ujung-ujungnya bule cantik malah ketagihan.
"Sekarang coba kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi," tutur Meli ramah.
__ADS_1
"Oke," jawab bule cantik.
Meli mendengarkan dengan seksama. Bule cantik bercerita bahwa dia dicopet di area depan bandara saat menunggu seseorang yang akan menjemputnya. Satu koper lengkap dengan isinya raib, bahkan smartphone miliknya tak ketinggalan diambil juga. Satu-satunya yang tersisa hanya pakaian yang melekat di badannya. Bule cantik mengaku sempat mengejar pelaku copet menggunakan ojek, tapi tidak terkejar. Lebih parah lagi, dia diturunkan paksa di jalan karena heboh sendiri hingga tanpa sadar memaki-maki ojek yang mengantarkannya.
Meli terdiam. Ekspresinya datar. "Ceritamu itu bukan settingan, kan?" tanya Meli kemudian.
"OMG, masa iya muka cantik gini nipu, sih! Aku serius. Help me, please! Bantu aku pulang. Nanti kukasih hadiah, deh. Tempatku pulang nanti kaya raya, kok." Bule cantik mengiming-imingi Meli dengan hadiah.
Meli tampak berpikir. Dia berniat menghubungi Anjani untuk mendengarkan pendapatnya. Namun, dia tersadar bahwa smartphone miliknya telah kehabisan daya.
"Oke. Aku bantu, tapi tanpa hadiah. Aku nggak suka ntar dibilang matre. Mana alamat rumahmu. Sini tunjukin!" pinta Meli.
"Ada di ponselku, tapi udah diambil orang. Dan, aku nggak ingat alamatnya. Gimana, dong?" tanya bule cantik.
"Uh! Ampun, deh!" ujar Meli.
Raut wajah bule cantik seolah mengatakan bahwa dirinya benar-benar mengharapkan bantuan Meli, dan tidak mau dibantu orang lain. Mungkin rasa es jeruk dalam wadah plastik tadi telah mengangkat citra seorang Meli di mata bule cantik.
"Tapi bener di kota ini, kan?" tanya Meli memastikan.
"That's right," tutur bule cantik membenarkan.
"Gini aja, deh. Sementara kamu tinggal di rumahku. Mulai ntar sore kuantar keliling kota, siapa tahu ingat sesuatu dengan daerahnya. Gimana? Mau nggak?" Meli memberikan pilihan.
Bule cantik manggut-manggut sambil menampilkan wajah ceria. Itu artinya dia setuju dengan tawaran Meli.
"Baiklah. Kenalkan dulu. Aku Meli. Siapa namamu?" tanya Meli.
"Aku Alenna. Nice to meet you, Meli."
Namanya Alenna. Wajahnya blasteran, dan lebih mirip bule. Hidungnya mancung. Mungkin karena sering perawatan jadi wajahnya glowing. Rambut Alenna tidak pirang seperti bule-bule kebanyakan. Dia memiliki rambut yang hitam, lurus, dan panjang sepinggang. Tinggi badannya sama seperti Meli. Dari semua unsur cantik pada diri Alenna, hanya satu kekurangannya. Dia tidak terbiasa hidup sederhana.
Lalu, bagaimanakah nasib Alenna selanjutnya?
***
❤ Like, comment, click fav, and vote. Happy reading. ❤
__ADS_1