CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Mencoba Terbiasa


__ADS_3

“Brengsek kau, Leon!” seru Vina sembari melangkah masuk ke ruang kerja Leon.


Siang itu saat istirahat makan siang kantor sudah berlalu sejak beberapa menit lalu, Vina berjalan tergesa dan langsung menerobos masuk ke ruang kerja Leon. Padahal, di ruangan tersebut Leon tidak sendirian. Ada dua karyawan yang sedang melaporkan hasil pekerjaannya. Mendapati raut wajah kurang menyenangkan dari Vina, Leon seketika berdiri dari kursinya. Lekas pula Leon menyuruh dua karyawannya untuk kembali ke ruang kerjanya dengan janji diskusi akan dilanjutkan lagi nanti.


Vina berdiri sambil memasang wajah sinis. Raut wajah cantiknya dipenuhi aura hitam, membuat dua karyawan Leon di ruangan itu ketakutan melihatnya. Barulah setelah dua karyawan tersebut meninggalkan ruangan, Vina mendekat ke meja Leon sembari mempertahankan wajah sinisnya.


“Silakan duduk dulu, Vin.” Leon mencoba tetap ramah, mempersilakan Vina untuk duduk di sofa ruangan itu.


“Aku tidak mau lama-lama di sini. Seenaknya saja kau memakiku, mengataiku ‘ember’, tidak bisa jaga mulut. Ngaca, dong! Kita berdua terlibat dalam kasus pencemaran nama baik John. Kenapa sekarang kau malah menyalahkan aku, ha?” Vina panjang lebar melontarkan protes pada Leon sambil menunjukkan chat yang pagi tadi dikirim Leon padanya. Chat berisi makian Leon pada Vina.


“Sorry, Vin. Aku tidak seharusnya memakimu seperti itu. Tadi pagi aku terpancing emosi. Lebih tepatnya aku panik. Sorry,” kata Leon memelas.


“Cih!” umpat Vina sambil membuang muka.


“Alenna bilang tidak akan membeberkan rekaman itu, juga tidak akan memberi tahu Pak John ataupun Mario. Aku sudah memastikannya. Jadi, sekarang sebisa mungkin kita harus mengambil hati Alenna lagi. Kamu terutama, jika keinginanmu untuk kembali dekat dengan Mario terwujud.” Leon menjelaskan pemikirannya.


Raut wajah sinis Vina memudar seiring pikirannya yang mulai mencerna kata-kata Leon. Perubahan ekspresi wajah Vina membuat Leon tersenyum dalam hati. Ada perasaan lega di sana, karena Leon berpikiran bahwa Vina sudah berhasil termakan oleh pemikirannya. Wajah senang Leon semakin tergambar saat melihat Vina mengangguk-angguk, sependapat dengan Leon.


“Baiklah, kali ini kau kumaafkan. Mari susun rencana untuk mengambil hati Alenna. Kalau bisa bukan hanya Alenna, tapi Mario juga. Aku benar-benar menginginkannya,” jelas Vina lagi.


“Oke, setuju! Di awal mungkin akan sedikit sulit, terutama untuk mengambil hati Mario, tapi kau harus terbiasa dengan itu. Aku yakin seorang Vina pasti akan mendapatkan apa yang diinginkannya,” imbuh Leon.


Vina tersenyum mendengar kata-kata Leon, khususnya kalimat yang terakhir, ‘seorang Vina pasti akan mendapatkan apa yang diinginkannya’.


“Kalau begitu aku pulang dulu. Jangan sampai aku membaca pesan umpatan darimu lagi!” ancam Vina.


“Tidak akan. Janji!” tegas Leon.


Vina segera berbalik badan untuk segera meninggalkan ruangan Leon itu. Namun, begitu sampai di ambang pintu Vina berhenti melangkah dan berbalik badan.


"Ada yang tertinggal?” tanya Leon.


“Nanti malam ayahku ingin bertemu di rumah. Ada obrolan bisnis. Ditunggu!” jelas Vina.


“Baik. Aku akan menemui beliau malam ini. Terima kasih, Vin.” Leon menanggapi Vina dengan baik, menampilkan senyum ramahnya.


Vina pun berbalik badan, bergegas meninggalkan ruangan. Kali ini Vina benar-benar meninggalkan ruangan itu, membuat Leon teramat sangat Lega.


“Huft. Aku harus berhati-hati dengan Vina. Aku tahu dia licik. Kebusukanku bisa saja terumbar ke media,” gumam Leon.


***


Di rumah Mario


Alenna celingukan mengintip ke beberapa ruangan di rumah tersebut sambil memanggil nama Mario. Alenna sempat bertanya pada security, juru masak, bahkan tukang kebun rumah mewah itu tentang keberadaan Mario. Namun, tidak ada satu pun yang tahu di mana Mario. Security mengatakan pada Alenna, bahwa kemungkinan besar Mario ikut naik di dalam mobil pengantar barang yang beberapa jam lalu parkir di halaman rumah itu. Mobil pengantar barang yang dimaksud adalah mobil perusahaan John yang biasa mengantar barang ke rumah itu.


“Heran, deh. Ngapain juga Mario nggak pamit sama siapa pun kalau pergi. Jangan-jangan betul Mario ngumpet di mobil pengantar barang. Aduh, kalau Mario benar-benar pergi dari rumah bagaimana, dong?” Alenna meluapkan kepanikannya di depan Juno.


Usai tidak berhasil membujuk Anjani, Alenna dan Juno pergi makan siang bersama. Lantaran terlalu khawatir dengan kakaknya, Alenna pun jadi tidak tenang saat menunggu pesanan makan siang tiba. Tidak tega melihat kekasihnya gelisah, Juno pun memberi ide agar makanannya dibungkus saja. Alenna bahkan juga berinisiatif memesankan sebungkus nasi goreng petai untuk Mario.

__ADS_1


“Mario! Kakakku sayang, di mana kau? Aku bawakan nasi goreng petai kesukaanmu, nih. Ayo, muncullah!” seru Alenna.


Perasaan Juno saat itu setengah-setengah. Setengah khawatir, setengah ingin tertawa melihat tingkah lucu Alenna. Si bule cantik kekasihnya itu memang memiliki ekspresi lucu saat sedang bingung.


“Mario beneran suka nasi goreng petai? Sejak kapan?” tanya Juno yang sedari tadi memang penasaran.


“Iya. Kakakku beneran suka nasi goreng petai. Sukanya sejak kenal Anjani. Saat pernikahan mereka batal pun Mario sering masak nasi goreng petai sendiri,” jelas Alenna.


“Eh? Sampai masak sendiri? Memangnya Mario bisa masak?” Juno terheran untuk ke sekian kalinya.


“Awalnya sih suka gosong. Bibi-bibi di dapur sampai khawatir kakakku akan membakar dapur. Aku yang ngomel-ngomel saat itu. Mungkin karena kekuatan cinta kakakku pada Anjani, lama-lama Mario terbiasa masak nasi goreng petainya. Terakhir kali aku coba cicipi masakan Mario rasanya enak, lho.” Alenna menjelasakan dengan antusias.


Pembahasan tentang nasi goreng petai berhasil membuat kekhawatiran Alenna berkurang. Juno juga antusias membahasnya. Setelah mendengar Alenna bercerita tentang nasi goreng petai buatan Mario, mendadak Juno ingin mencicipi masakannya.


“Mario! Kakakku sayang! Di mana kau?” seru Alenna lagi.


“Ah, mulai lagi, deh!” gumam Juno.


“Alenna,” panggil Juno sembari menepuk pundak Alenna.


Alenna menoleh dengan menampilkan wajah memelas. Juno gemas melihat ekspresi itu.


“Itu lihat!” kode Juno sembari menunjuk ke sudut ruangan di bagian samping vas bunga besar.


Di sudut ruangan, di bagian samping vas bunga besar terlihat satu koper berukuran sedang. Koper tersebut adalah koper milik Mario. Begitu melihat koper itu, Alenna seketika senang dan langsung berlarian kecil menunju koper. Koper itu bahkan sampai dipeluknya.


“Aku gemas melihatmu. Jadi kubiarkan saja dulu. Hehehe.” Juno tak sungkan lagi untuk melepas tawanya.


“Huh. Jahil bangat!” seru Alenna.


Protes itu tak berlangsung lama. Cemberut di wajah Alenna sudah musnah. Alenna yakin kakaknya akan segera kembali ke rumah. Setelahnya hanya terasa perasaan lega. Dengan Juno di sebelahnya, hari Alenna kembali berwarna.


“By the way, saat ini Mario ada di mana?” gumam Alenna.


***


Tidak hanya satu dua pasang mata yang terpesona, melainkan ada beberapa pasang mata sedang terpesona yang saat itu tengah berbelanja. Ada yang berseru tertahan, ada yang memanggil-manggil dengan kata ‘ada cogan’, dan tak sedikit pula yang curi-curi pandang ke arah lelaki berkaca mata hitam dan bertopi yang saat itu memakai pakaian casual.


Anjani yang saat itu berada di mall sempat bertanya-tanya tentang sikap pengunjung mall. Akan tetapi, Meli di sebelahnya terus menarik-narik tangan Anjani agar segera menuju ke bagian penjual pakaian wanita. Alhasil, Anjani pun tidak memiliki waktu untuk memperhatikan lainnya.


Cogan yang dimaksud oleh para pengunjung mall, lelaki berkaca mata hitam, bertopi, dan memakai pakaian casual itu adalah Mario yang sedang menguntit Anjani. Dengan alat khusus yang dimilikinya, Mario dengan mudah bisa mengetahui posisi Anjani lewat deteksi ponselnya. Bagi keluarga Mario memiliki alat-alat semacam itu tentu tidak menjadi masalah yang berarti.


“Wow! Aku pilih yang ini saja deh. Simple dan cocok dibuat ngampus. Anjani, kamu pilih-pilih juga sana. Aku mau coba yang ini dulu!” seru Meli antusias.


“Baiklah,” kata Anjani sembari mengacungkan jempolnya.


Anjani memilih-milih busana yang cocok dengannya. Busana yang dipilih adalah setelan rok dan baju lengan panjang. Anjani akan membelinya beberapa pasang. Uang yang dikirimi Ma dari desa lebih dari cukup, karena Anjani selama ini menabungnya.


Terpilihlah satu setelan. Atasan lengan panjang polos warna pink peach dan bawahan pink kombinasi abu-abu. Anjani menempelkan setelan itu di tubuhnya, mengukur dan memastikan panjangnya pas. Seuntai senyum pun terlihat menghias di sana.

__ADS_1


Empat puluh menit berlalu, Anjani sudah berhasil memilih tiga setelan busana. Meli juga sudah selesai dengan pilihan busananya. Mereka berdua pun lekas membawanya ke salah satu pramuniaga yang bertugas di sana.


Langkah kaki Anjani dan Meli terus menjelajahi mall. Kali ini langkah kaki mereka menuju bagian mall yang menjual kerudung dan perlengkapan hijab. Ya, Anjani dan Meli mantap berhijrah. Langkah awal untuk merealisasikan niatan itu adalah dengan menutup bagian auratnya.


“Bismillaah,” kata Anjani sembari memilih salah satu kerudung dengan warna yang tidak terlalu mencolok.


“Mau pilih hijab instan juga?” tanya Meli.


Anjani mengangguk. “Aku mau beli beberapa. Lagipula di sini juga ada harga grosir, kan? Hehe.” Anjani terkekeh. Jiwa ekonominya ternyata masih berlaku hari itu.


“Benar juga. Aku mau beli beberapa juga, deh. Totalitas nih hijrahnya. Tiap hari bisa dipakai bergantian. Iya, kan?” Meli setuju dengan Anjani.


Anjani dan Meli sama-sama antusias memulai langkah barunya. Jemari dan sorot mata mereka lincah memilih model dan warna hijab yang diinginkan. Tanpa mereka berdua sadari, sedari tadi ada sosok tampan yang memperhatikan.


“Setelah ini, kau akan mencoba terbiasa dengan langkah barumu, Anjani. Begitu juga denganku,” gumam Mario sembari tersenyum.


Mario terus saja memperhatikan Anjani dari arah seberang. Posisi Mario saat itu ada di bagian busana muslim pria. Meski ada kaca pembatas yang memisahkan bagian busana pria-wanita, tapi Mario bisa melihat Anjani dengan jelas.


Maafkan aku yang sampai detik ini tidak bisa menghapus perasaanku padamu. Semoga melalui langkah kebaikan, kita bisa kembali dipersatukan, batin Mario.


“Uhuk! Hai, Bro!” sapa Ken yang tiba-tiba sudah ada di samping Mario.


Mario menoleh tanpa menunjukkan ekspresi kaget.


“Sejak kapan kau mengikutiku, Ken?” tanya Mario.


“Sejak kau mengikuti Anjani masuk ke dalam mall ini. Uhuy, makin seru aja, nih. Seorang Mario Dana Putra sepertinya telah tergila-gila sampai rela jadi stalker,” goda Ken.


“Hm.” Jawaban khas Mario.


Sejenak keduanya saling diam. Baik Mario ataupun Ken sama-sama memperhatikan Anjani yang tengah asik memilih kerudung.


“Mario, apa yang setelah ini kau lakukan?” tanya Ken tiba-tiba.


“Membelikanmu sarung dan peci,” jawab Mario lalu melangkah meninggalkan Ken yang terbengong-bengong.


“What?” seru Ken tak percaya dengan jawaban Mario.


“Cepat ikuti aku, Ken!” seru Mario.


"Ah! Baiklah," kata Ken pada akhirnya.


Mario dan Ken dengan urusannya. Anjani dan Meli juga dengan urusannya. Dua kubu yang dulunya teramat dekat itu, kini kedekatannya tak sama seperti dulu, Namun, niatan yang mereka miliki sama, yakni mencoba terbiasa dan terus terbiasa dengan langkah hijrah yang niatannya telah mengudara memenuhi hati mereka.


Bersambung ....


Nantikan lanjutan ceritanya, ya.


Terima kasih sudah berkenan membaca novel Cinta Strata 1. 🌹

__ADS_1


__ADS_2