
Minggu malam usai menunaikan fardu maghrib, rumah Paman Sam kedatangan tamu. Saat itu Anjani baru saja selesai sholat maghrib dan belum melepas mukenanya. Terdengar bunyi pintu rumah digedor berulang diiringi dengan salam yang diserukan. Gedoran pintu itu terdengar sedikit keras, seperti sedang tak sabaran.
Paman Sam saat itu tidak ada di rumah. Demikian juga dengan warung yang sejak siang ditutup lantaran Paman Sam harus membantu acara pernikahan anak Paman Topan, mantan anak buah Paman Sam. Jadi, Anjani harus berada di rumah sendirian.
Tok-tok-tok!
"Assalamu'alaikum," salam seorang perempuan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Anjani.
Saat di kamarnya, Anjani samar-samar mendengar suara salam itu. Begitu Anjani keluar dari kamarnya, barulah suaranya begitu jelas. Gedoran pintunya terdengar terburu dengan salam yang diucapkan berulang kali. Perempuan yang datang malam itu adalah Meli.
Begitu mengenali suara sang tamu yang datang malam itu, Anjani melangkah cepat menuju pintu. Ada rasa senang bercampur kekhawatiran. Anjani senang karena dapat mendengar suara Meli setelah beberapa hari tak bertemu. Namun, ada pula rasa khawatir karena Meli seperti sedang terburu oleh sesuatu.
Ceklek! Suara pintu dibuka oleh Anjani.
"Meli!" seru Anjani begitu melihat Meli dengan kehebohan barang yang dibawanya.
Anjani hendak melepas rindu dan berniat memeluk Meli. Akan tetapi, Meli justru malah berniat lain.
"Mukena-mukena. Ah, aku pakai mukena yang kamu pakai ini aja. Yuk, masuk-masuk!" Meli heboh sendiri.
Meli masuk lebih dulu, dan meninggalkan Anjani yang masih terbengong-bengong di ambang pintu.
"Anjani, ayo cepetan! Aku belum maghriban nih!" Meli kembali heboh.
Seketika Anjani paham. Rupanya Meli terburu hendak menunaikan fardu maghrib.
"Ambil air wudhu dulu, masuk kamarku, dan ada mukena satu lagi di sana. Tenangkan dirimu, dan tunaikan kewajibanmu." Anjani memberi arahan pada Meli sambil tersenyum.
"Siap!" seru Meli sambil berlarian menuju kamar mandi rumah itu.
"Ini barang-barangmu aku masukin ya!" teriak Anjani agar Meli mendengar.
"Aku nggak dengar! Terserah kamu aja!" teriak Meli sambil tetap berlarian.
Anjani terkekeh melihat Meli tergopoh-gopoh. Namun, di satu sisi Anjani senang karena Meli ingin cepat-cepat menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah.
Pandangan mata Anjani beralih menuju barang-barang yang dibawa Meli yang masih tergeletak di lantai teras depan rumah. Anjani mengambil beberapa bungkusan dan kardus berukuran kecil, lalu membawanya satu per satu ke ruang tamu. Terakhir, Anjani duduk di sofa sembari menunggu Meli selesai fardu maghrib.
Sebuah gantungan kunci menghiasi sling bag milik Meli. Anjani memperhatikan gantungan kunci berornamen candi itu sembari menyunggingkan senyum di wajahnya.
"Kamu benar-benar dari Jogja," kata Anjani sembari menyentuh gantungan kunci di sling bag milik Meli.
Perhatian Anjani teralihkan. Anjani melihat satu per satu bungkusan lainnya. Anjani tersenyum saat melihat ada bakpia pathok Jogja. Tak ragu Anjani mengeluarkan sekotak bakpia, membukanya, lalu memakannya beberapa. Anjani yakin bahwa barang-barang yang dibawa Meli adalah oleh-oleh untuknya.
Beberapa menit berlalu, Meli melangkah riang dari arah kamar Anjani. Wajahnya sudah cerah, tidak sebingung tadi. Meli bahkan melangkah sambil menyenandungkan nada 'lalalalala' sangking riangnya.
"Anjani .... Aku peluk kamu, ya. Aku peluk kamu. Yeee!" seru Meli sambil langsung memeluk Anjani.
"Hahaha. Apa kabar, Mel?" tanya Anjani sambil membalas pelukan Meli.
__ADS_1
"Kabarku baik sekali. Eh-eh-eh. Kamu tahu nggak?" tanya Meli sambil melepas pelukannya pada Anjani.
Meli duduk tepat di sebelah Anjani. Meli bahkan sempat membetulkan peniti pada bros yang dipakai sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Bentar, penitiku lepas." Meli masih membetulkan bros yang menghiasi jilbabnya.
"Oke. Sudah cantik?" tanya Meli sumringah.
"Iya, sudah cantik." Anjani menanggapi dengan baik.
"Eh-eh-eh, kamu tahu nggak?" tanya Meli, mengulang pertanyaannya lagi.
"Iya aku tahu," jawab Anjani sambil terkekeh.
"Eh, kamu tahu?" Meli terheran karena Anjani sudah tahu apa yang mau disampaikan padanya. "Tahu apa coba?" tanya Meli lagi.
"Ya, aku tahu kamu mau ngasih tahu aku sesuatu. Iya, kan?" Anjani terkekeh karena melihat ekspresi bingung di wajah Meli.
"Anjani!" seru Meli sambil menggelembungkan pipinya.
"Hehe. Ceritain aja, Mel. Pasti kamu mau cerita pangeran Jogja yang namanya Azka itu, kan?" tebak Anjani.
"Horeeee. Tebakanmu benar, lho. Kamu stalkerin aku, ya!" Giliran Meli yang menebak-nebak dengan nada kelewat ceria.
"Ya nggak mungkin aku jadi stalker sampai Jogja, Mel. Kan kamu sendiri yang heboh nyebutin nama Azka via telepon sama chat," terang Anjani.
Meli cengar-cengir mendengar Anjani berkata seperti itu. Ada getar lain di hatinya saat nama Azka disebutkan.
"Azka itu nyebelin!" seru Meli sambil bersedekap, lalu memajukan bibirnya.
Anjani dibuat terheran dengan penjelasan Meli sekaligus sikap yang cepat sekali berubah.
"Nyebelin? Kok bisa? Katanya dia hero-mu?" Anjani jadi kepo sendiri.
"Iya, Azka itu nyebelin. Aku sebel karena dia udah berhasil ngebuat sebagian hatiku tertinggal di Jogja!" tegas Meli dengan nada menggebu-ngebu.
"Astaghfirullah, kirain nyebelin dalam arti yang sebenarnya. Ternyata kiasan. Hehe. Terus Dika gimana? Azka udah berhasil menggeser posisi Dika ya?" Anjani iseng tanya, karena sudah terlanjur dibuat kepo dengan ekpresi Meli yang tak biasa.
Bibir Meli manyun. Bola matanya melihat ke arah ubin lantai ruang tamu. Meli tampak galau saat Azka diperbandingkan dengan Dika.
"Kenapa, Mel?" tanya Anjani, tetiba khawatir dengan perubahan ekspresi sahabatnya itu.
"Ntahlah. Aku sendiri bingung. Saat di Jogja malah aku ngerasa nyaman banget sama my hero," kata Meli.
Tak enak hati melihat kegalauan Meli, Anjani pun mengambil topik bahasan lain. Tentunya masih seputar liburan Meli di Jogja.
Antusias Meli lekas kembali. Meli seketika bercerita tentang kebaikan Ratna dan Via, yang dengan tangan terbuka mau membagi ilmunya tentang dunia online shop. Keluarga Azka tak luput pula dari cerita, khususnya Bunda Aisyah yang tak lain adalah ibunya Azka.
"Heee? Kamu ikutan manggil bunda?" tanya Anjani.
"Iya. Aku panggil bunda juga. Siapa tahu nantinya bisa jadi ibu mertua," terang Meli dengan ceria.
__ADS_1
Anjani memperhatikan ekspresi Meli. Sahabatnya itu sungguh antusias saat menceritakan segala hal tentang Jogja, khususnya Azka. Dompet yang semula hilang pun sama sekali tak disesali, bahkan Meli bersyukur bisa bertemu dengan Azka lewat perantara dompet hilang.
"Skip dulu ya ceritanya. Aku haus nih. Tamu spesial nggak dapat minum, nih." Goda Meli.
"Hehe. Lupa. Aku buatin bentar, ya." Anjani hendak berdiri, tapi lengannya ditahan oleh Meli.
"Bercanda doang. Hehe. Aku mau langsung pulang aja. Tadi begitu sampai rumah, orangtuaku belum pulang. Makanya aku ke sini. Itu semua oleh-oleh buatmu, ya. Ada baju juga, dapat dibeliin Mas Azka, lho. Hihi." Meli tak henti-hentinya tersenyum.
"Heeem. Mas Azka. Pakai sebutan 'mas'. Ehem." Anjani semakin menggoda sahabatnya itu.
"Ah, udah. Aku pulang dulu, ya. Oh ya, kamu belum cerita keseruan apa aja yang udah terjadi selama aku di Jogja. Eh, tapi besok aja di kampus ceritanya, ya." Meli ingin tahu.
"Oke," jawab Anjani sembari memberi kode tangan OK.
"Baiklah. Meli Syahrani pulang dulu, ya. Salam dariku buat Paman Sam. Assalamu'alaikum," pamit Meli.
"Wa'alaikumsalam," jawab Anjani ramah.
Anjani mengantar Meli sampai teras depan rumah. Meli melambaikan tangan sebelum melajukan motor matic-nya.
"Kamu pasti akan terkejut saat tahu Vina sudah berhijab," gumam Anjani sembari tersenyum.
Anjani kembali ke kamarnya. Sebelumnya tak lupa Anjani memastikan pintu sudah tertutup rapat karena dirinya sedang sendirian di rumah.
Langkah Anjani membawanya menuju jendela kamar tidurnya. Jendela dibuka dan tampaklah langit malam yang indah. Awan tipis tampak berarak. Kedip bintang tampak indah mengagumkan. Tak ketinggalan, sang lunar yang saat itu tengah bersinar terang.
Tetiba saja Anjani teringat Mario. Jari telunjuk Anjani lekas teracung ke atas dan membentuk sebuah gerakan seperti sedang melukis. Anjani sedang melukis senyum di wajah bulan. Mariolah yang mengajarkan pada Anjani saat liburan di desanya dulu. Anjani teringat sampai kini, dan selalu saja tersenyum dibuatnya.
"Seperti halnya Meli yang bersyukur bisa dipertemukan dengan Azka, aku pun bersyukur bisa mengenalmu Mario. Semoga takdir indah lekas menyapa kita berdua," kata Anjani sembari melihat bulan di langit sana.
***
Di saat yang sama, Mario sedang memandang langit yang sama di balkon lantai dua rumahnya. Terhitung mulai hari ini Mario sudah tidak lagi mengontrak rumah. Itu semua atas permintaan Joh, ayahnya, serta bujukan dari Alenna.
John telah membuat jadwal rutin untuk berkunjung ke rumah tempat putra-putrinya tinggal. John ingin lebih akrab dengan anaknya. Itulah salah satu alasan yang tidak bisa ditolak oleh Mario. Meski sudah banyak yang telah terjadi antara dirinya dengan sang ayah, tapi John selamanya akan tetap menjadi ayahnya.
"Rindu sekali dengan tempat ini," lirih Mario sembari tersenyum.
Mario memandang rembulan yang tengah bersinar terang. Tetiba saja senyumnya semakin mengembang. Telunjuk Mario teracung dan melukiskan senyum di wajah bulan. Ingatannya lekas tertuju pula pada Anjani.
Ada getar merdu terasa di dada tatkala nama Anjani menyeruak dalam benaknya. Rasa syukur pun menyusul lantaran takdir yang telah diterima. Mario senang karena dipertemukan dengan Anjani yang telah mengisi sebagian dari hidupnya. Meski Mario sempat menyayangkan pernikahannya yang batal, tapi Mario tetap percaya bahwa jodoh tak akan kemana.
"Anjani, apakah hatimu masih tetap untukku jika aku pergi jauh untuk beberapa waktu?" kata Mario dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba berubah.
Bersambung ....
***
Benarkah Mario akan pergi jauh? Kemana? Bagimana dengan Anjani jika itu benar?
Kepo-in lanjutan cerita Cinta Strata 1. Vote, Like, dan Komentari agar author semakin semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih sudah membaca. Semoga selalu suka dengan jalan ceritanya. See You. 😉
__ADS_1
***