CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Anjani Sakit


__ADS_3

Motor Meli sampai di ruko sepatu. Sebuah mobil dan dua motor lainnya lebih dulu terparkir di sana. Dengan hati riang Meli masuk ke dalam ruko. Meli tidak mau ambil pusing dengan pria yang tadi menghadangnya di jalanan.


Sosok yang pertama kali dilihat Meli adalah Rangga. Meli sadar dan tahu betul bahwa ruko baru dibuka besok. Meli yang merasa asing dengan Rangga pun lekas menghampiri dan menuduhnya macam-macam.


“Eh, mau maling sepatu ya?” tuduh Meli tanpa dosa.


“Woo! Mbaknya ini baru datang main tuduh aja. Memangnya saya ada tampang maling?” Rangga membela diri. Aksen Jawanya begitu khas terdengar.


“Lah itu apa?” Meli menunjuk sepatu yang dipegang Rangga di bagian rak pajang.


Rangga menghela nafas dalam. Sepatu yang dipegang lekas dikembalikan ke rak pajang. Rangga tidak ingin berdebat di hari pertamanya bekerja. Rangga ingin memfokuskan diri bekerja, bekerja, dan bekerja.


“Meli,” panggil Ken.


“Hei, Kak Ken. Ada maling, nih!” Meli melaporkan tuduhannya pada Ken.


Ken tepuk jidat. Dia tidak habis pikir dengan tingkah pengantin baru di depannya itu.


“Namanya Rangga. Karyawan di sini. Mario yang mempekerjakan,” terang Dika yang baru saja turun dari lantai dua.


“Oh.” Meli nyengir. Dia telah sangka.


“Duh. Kalau suamimu ada di sini pasti tuh mulut udah disumpel. Suudzon, sih.” Ken geleng-geleng kepala.


“Astaghfirullah. Maafkan Meli Ya Allah. Maafkan Meli juga Mas Azka. Meli janji akan lebih hati-hati lagi saat bertutur kata,” doa Meli sembari memejamkan kedua mata dan menengadahkan tangannya.


Ken kembali dibuat geleng-geleng kepala melihat Meli yang tiba-tiba berdoa dengan suara nyaring. Sementara Dika tersenyum melihat sikap polos Meli. Sempat pula Dika berangan-angan tentang Meli. Namun, pikiran buruknya lekas dihempas saat Dika kembali teringat bahwa Meli telah menjadi istri Azka.


“Maaf ya Kak Rangga yang baik. Hehe. Salam kenal, namaku Meli. Istrinya Mas Azka.” Meli begitu bangga dengan statusnya.


“Meli sudah menikah?” tanya Rangga.


“Iya. Pengantin baru,” celetuk Ken lalu meninggalkan mereka semua.


Ken melihat Anjani memarkir motor. Ken memperhatikan lekat-lekat sosok cantik Anjani karena gerak-geriknya tidak seperti biasanya. Anjani terlihat letih. Benar saja, saat Anjani berjalan mendekat barulah Ken bisa melihat raut wajah Anjani yang pucat.


“Kamu sakit?” tanya Ken begitu Anjani melangkah masuk ruko.


Anjani menggeleng pelan sambil memasang senyum di wajahnya. Anjani bisa membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Namun, wajah pucatnya sama sekali tidak bisa membohongi siapa pun yang ada di sana.


“Anjani. Wajahmu pucat, tuh!” Meli yang baru sadar dengan kedatangan Anjani pun segera menghampiri.


“Aku cuma sedikit lelah. Nggak akan kenapa-kenapa, kok.” Anjani mencoba meyakinkan Meli.


“Kamu bilang nggak kenapa-kenapa. Kalau sampai Kak Mario tahu, pasti dia yang kenapa-kenapa.” Meli berbisik.


Anjani mencubit pelan pipi Meli sambil tersenyum. Anjani ingin bercanda dengan Meli, tapi dirinya terlalu lelah. Pria yang kemarin ditemuinya di jalan juga mengganggu pikirannya.


“Yuk, ke atas. Kita bahas persiapan besok,” ajak Anjani.


Anjani memberi isyarat pads Meli, Ken, dan Dika untuk segera berkumpul di lantai atas, menemui Mario. Anjani juga meminta Rangga untuk bergabung, karena yang akan dibahas adalah jadwal stay ruko.


Dika dan Ken berjalan lebih dulu meniti anak tangga. Dengan langkah riangnya, Meli menyusul kemudian. Anjani mengekor di belakang langkah Meli dengan berpegangan pada anak tangga. Pelan-pelan Anjani melangkah karena kondisinya yang terasa lelah. Namun, dapat setengah pijakan anak tangga justru Anjani terpeleset.


“Aaaa!” seru Anjani. Berusaha menggapai pembatas tangga.

__ADS_1


“Hati-hati!” Rangga refleks menarik lengan Anjani dan berhasil menopang tubuhnya.


Anjani jatuh dalam pelukan Rangga. Pandangan mata mereka terperangkap dalam beberapa detik. Meli, Ken, dan Dika ternganga melihat adegan mesra itu.


“Ehem!” dehem Mario.


Cepat-cepat Anjani melepaskan diri dari pelukan Rangga.


“Ma-maaf, Mas.” Anjani kikuk.


“Hati-hati,” kata Rangga singkat, lalu melanjutkan meniti anak tangga.


Anjani melihat sosok Rangga berlalu melewatinya. Refleks tangan kanan Anjani menyentuh dada sebelah kiri. Hembusan nafas pelan menyusul kemudian. Dada Anjani berdebar-debar.


Anjani, Mario, Meli, Ken, Rangga, dan Dika duduk di sofa. Namun, suasana di sana sungguh berbeda. Mario tidak segera membuka obrolan. Raut wajahnya terlihat tidak suka. Seolah ada emosi yang sedang ditahannya.


“Huuuum. Panas-panas-panas. AC-nya lupa nggak dihidupin, nih!” celetuk Meli, lalu melangkah mencari remot AC.


Panas. Suasana lantai dua ruko panas. Bukan panas dalam arti yang sebenarnya. Panas yang terasa terjadi lantaran api cemburu tengah melanda. Mario cemburu melihat adegan mesra Anjani dan Rangga, tadi di anak tangga.


“Bro. Kondisikan hatimu. Rangga hanya menolong Anjani. Kalau nggak ditolongin bisa jatuh tadi. Profesional, Bro. Profesional.” Ken berbisik, agar yang lain tidak tahu apa yang dia katakan.


Mata Mario terpejam sebentar. Setelahnya, barulah dia memulai obrolan tentang jadwal jaga ruko untuk timnya. Mario kembali bersikap profesional. Memimpin timnya selayaknya seorang pemimpin pada umumnya.


“Rangga, jika kamu merasa butuh satu orang lagi untuk membantumu di bagian packing orderan, jangan ragu untuk bilang. Aku akan segera mencarikannya.” Mario bersikap terbuka.


“Insya Allah. Ohya. Di seberang jalan itu mushollah, kan? Setiap azan izin jamaah di sana, ya?” Rangga izin lebih dulu.


“Tentu saja boleh. Kamu bisa beribadah dengan leluasa di sini.” Mario tersenyum ramah. “Oya. Satu lagi. Kamu boleh menginap di sini jika kau mau. Aku sediakan kendaraan operasional juga. Ini kunci ruko, dan ini kunci motornya.” Mario murah hati pada karyawannya.


Anjani menoleh, memperhatikan semangat Rangga yang menggebu-nggebu. Baru kali ini Anjani melihat sosok lelaki seperti Rangga dengan semangat kerja berapi-api. Tanpa sadar bibir Anjani mengembang. Dia tersenyum melihat Rangga. Dan … rupanya Mario melihat itu.


“Anjani, kau bisa pulang sekarang.” Nada Mario terdengar kasar


“Kamu ngusir aku?” tanya Anjani, tidak terima.


“Kamu sakit. Pulanglah. Akan aku antar pulang. Ayo!” Mario berdiri mendekati Anjani.


“Tidak mau!” Anjani menolak.


Anjani tidak mau pulang. Ada beberapa hal yang akan dia urus di balik meja kasir ruko. Anjani berniat memulai kerjanya saat itu juga. Apalagi Mario memberikan upah dengan nominal tinggi untuk semua timnya.


Mario tidak bisa memaksa Anjani. Dia memperhatikan wajah pucat Anjani sebentar, lantas membuang muka ke sisi lain.


“Terserah kamu saja. Lakukan yang kamu mau.” Mario melangkah menjauh, meninggalkan Anjani.


Ken dan Dika yang tidak mau ambil pusing dengan sikap Mario lekas turun untuk segera pulang. Pembahasan jadwal stay ruko sudah selesai dilakukan. Mulai besok mereka berdua akan kuliah, dan hadir ke ruko mengikuti jadwal yang ada. Waktunya pun bisa dikondisikan bila mendadak ada perubahan jadwal kuliah.


Meli masih bersama Anjani. Meli tahu apa yang akan dikerjakan Anjani di balik mesin kasir. Anjani akan memastikan kesiapan alat operasional penghitung pemasukan dan pengeluaran ruko itu. Anjani juga akan menyiapkan pembukuan khusus sebagai arsip cadangan bila sewaktu-waktu terjadi data eror pada sistem mesin kasir.


“Anjani. Kamu pucat banget, lho.” Meli khawatir.


“Duh. Pengantin baru satu ini perhatian betul sama aku. Eh, gimana kabar Mas Azka?” tanya Anjani.


Aura Meli selalu berubah cerah saat nama Azka disebut. Meli tampak malu-malu.

__ADS_1


“Mas Azka baik, kok. Semoga Om Candra dan istrinya juga segera membaik, agar pikiran Mas Azka bisa tenang. Aamiin.” Doa Meli kembali ditujukan untuk sang suami, Om Candra dan juga sang istri.


“Aamiin. Udah resmi LDR-an, dong?” tanya Anjani lagi. Dia terus mengalihkan obrolan agar Meli tidak membahas wajah pucatnya.


Raut wajah sedih sempat terlihat di wajah Meli saat Anjani membahas LDR. Namun, wajah sedih itu tidak lama bertengger di wajah Meli. Setelahnya wajah Meli kembali cerah saat mengingat gombalan-gombalan Azka saat ViCall dengannya. Komitmen yang Meli dan Azka buat akan menjadi penyemangat mereka berdua. Meli yakin, masa LDR akan bisa dia lewati.


“Aku sudah membuat list khusus untuk Mas Azka. Jadi, kalau Mas Azka sudah ada waktu untuk mengunjungiku di Jember, aku akan melakukannya bersama Mas Azka,” terang Meli dengan nada cerianya.


“Melakukan apa?” Anjani belum paham.


“Aku sama Mas Azka mau sewa hotel,” jawab Meli dengan polosnya.


“Sewa hotel?” Anjani memastikan apa yang dia dengar.


“Iya, sewa hotel. Katanya, Mas Azka mau ngajak olahraga bareng di sana,” terang Meli dengan wajah tanpa dosa.


“Oke, cukup. Tidak perlu dilanjutkan. Sekarang bantu aku mengurus ini!” Anjani yang mengerti arah pembicaraan Meli pun lekas menyudahi obrolan tentang Azka.


Anjani dan Meli larut dalam pengkondisian mesin kasir dan pembukuan. Selesai dengan itu semua, Anjani dan Meli menyiapkan pembukuan khusus untuk orderan via olshop. Anjani terbiasa dengan double arsip. Terlihat rumit, tapi itu akan sangat membantu untuk analisis laba rugi andai basis data arsip pada sistem terjadi eror dadakan.


Diam-diam, Mario terus memperhatikan Anjani dari lantai dua ruko. Mario khawatir dengan wajah pucat Anjani. Ingin sekali kembali menyuruh Anjani pulang dengan nada yang lebih baik. Mario sedikit menyesal karena sempat sedikit kasar pada Anjani tadi.


“Sepertinya aku sudah bersikap berlebihan pada Anjani. Rangga tidak sengaja memeluk Anjani. Rangga hanya ingin menolong Anjani,” pikir Mario. Dia menepis jauh-jauh prasangka buruknya.


Bibir Mario tersenyum perlahan. Anjani dan Meli asyik bercanda di bawah sana.


Bagaimana caraku mengumpulkan nyali untuk kembali melamarmu, Anjani? Batin Mario


Rangga berjalan menuju meja kasir karena Anjani memanggilnya. Anjani dan Meli menunjukkan pembukuan sederhana pada Rangga. Anjani juga menjelaskan secara singkat cara pengisiannya.


“Aku mengerti. Di tempat kerjaku yang sebelumnya juga pakai pembukuan semacam ini. Untuk arsip. Bedanya di sana tidak ada teknologi canggih seperti mesin kasir Mario ini,” terang Rangga.


“Semoga Kak Rangga betah kerja di sini, ya.” Meli tersenyum ramah pada Rangga.


“Insya Allah betah. Apalagi Mario baik banget ngasih gaji tinggi. Ada banyak fasilitas untuk karyawan juga. Uh, adik-adikku pasti bisa tenang sekolahnya nih karena biaya sudah ada.” Rangga terlihat senang.


“Mas Rangga membiayai adik-adiknya juga?” tanya Anjani.


“Begitulah. Cuma bantu-bantu orangtua aja, kok.” Rangga tidak bercerita lebih lanjut tentang kondisi keluarganya.


Anjani semakin dibuat kagum dengan sosok Rangga. Di mata Anjani, Rangga tidak hanya sosok pekerja keras, tapi juga peduli pada keluarganya.


“Astaghfirullah,” lirih Anjani tiba-tiba.


Kepala Anjani mendadak pusing sekali. Anjani memegangi keningnya.


“Anjani. Aduh. Kan, lebih baik kamu istirahat saja. Kamu lagi sakit itu.” Meli heboh melihat Anjani.


Anjani menggeleng pelan, dan masih saja berusaha tersenyum di depan Meli. Namun, tidak lama kemudian Anjani ambruk. Lagi-lagi Ranggalah yang berkesempatan menolong Anjani. Anjani kembali berada dalam pelukan Rangga. Lebih dari itu, Rangga sigap membopong tubuh Anjani seorang diri.


Lagi-lagi, Mario menyaksikan semua itu. Matanya membulat. Hatinya pekat. Api cemburu kembali membuncah hebat.


Bersambung ….


Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Btw, kepo-in juga kisah Azka yang sudah menjalani proses LDR nya dengan Meli. Cari tahu di novel karya Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Barakallah atas dukungan kakak-kakak semua. Senang sekali melihat vote dan like yang bertambah. See You. 😉

__ADS_1


__ADS_2