CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Selangkah Lagi


__ADS_3

Kuliah pagi itu terasa berbeda. Anjani sungguh tidak fokus menyimak penjelasan dosen mata kuliah umum. Untungnya seminggu lalu materi yang diterangkan dosen sempat Anjani pelajari. Sehingga, Anjani masih sedikit nyambung saat pikirannya tersadar.


"Fokus, Anjani!" desis Anjani sembari memejamkan mata.


"Sst. Jangan dipikirkan lagi, Anjani. Leon jahat itu sudah mendekam di dalam penjara. Kak Mario pasti akan mengurus tuntas kasus ini," bisik Meli.


Satu hembusan nafas dalam nan panjang. Anjani mencoba tenang. Dia tersenyum sembari mengangguk pelan ke arah Meli. Anjani bersyukur memiliki sahabat yang bisa menyemangatinya, seperti yang dilakukan Meli saat ini.


Dua puluh lima menit terakhir berhasil dilewati Anjani dengan fokus. Anjani menyimak baik-baik materi kuliah pagi itu. Hingga akhirnya jam kuliah pun berakhir saat siang hari. Ada tiga jadwal mata kuliah hari ini, dan tiga-tiganya sudah dilewati.


"Makan siang dulu di kantin. Baru setelah itu kita ke ruko," saran Meli.


"Baiklah, ayo!" Anjani menurut.


Meli memahami apa yang dirasakan Anjani saat ini. Anjani tentu masih terbayang kejadian kemarin sore. Meli merutuki Leon yang tega membuat jebakan untuk sahabatnya itu.


"Sudah lebih baik?" tanya Meli sesaat setelah Anjani menghabiskan semangkuk soto ayam.


Anjani mengangguk. "Maaf jadi membuatmu khawatir, Mel."


"Aku justru lebih khawatir kalau kemarin kamu yang terjebak di ruangan itu bersama Kak Rangga. Ah, nggak bisa dibayangin deh gimana reaksi Kak Mario. Pasti lebih parah lagi dari ini. Lagian Leon itu jahat banget sih. Geregetan aku jadinya. Semoga ...."


"Eit, doakan yang baik-baik saja, Mel."


Meli tidak jadi merutuki Leon berlebihan. Doanya lekas diganti dengan doa yang lebih baik.


"Semoga Leon tobat dan nggak bakal ganggu hubunganmu dengan Kak Mario lagi," doa Meli.


"Aamiin. Sip!" Anjani mengacungkan jempolnya.


Obrolan terjeda. Anjani dan Meli menghabiskan es jeruk yang mereka pesan.


"Apakah keluarga pebisnis memang selalu punya masalah yang sama? Persaingan. Saling menjatuhkan." Meli bertanya-tanya


"Entahlah. Mungkin sebagian iya, dan sebagian lagi tidak. Kenapa?" Anjani menangkap kekhawatiran Meli.


Tiba-tiba saja Meli teringat dengan Via-Farhan, kakak iparnya di Jogja sana. Mereka begitu dekat dengan dunia bisnis dan jalinan kerjasama dengan perusahaan lain. Pastilah persaingan dan saling senggol itu sangat mungkin terjadi. Memikirkan itu membuat Meli khawatir.


"Semoga Mbak Via dan Mas Farhan dilindungi dari orang-orang yang seperti Leon. Doa yang sama untuk suamiku juga. Semoga Mas Azka juga dilindungi dari orang-orang yang hendak berniat jahat," doa Meli meluncur. Begitu tulus hingga membuat Anjani dapat merasakan betapa dalamnya doa itu dituturkan.


Anjani tersenyum melihat Meli. Jika dipikir-pikir lagi, sahabatnya itu sudah jauh lebih dewasa. Bahkan, Anjani sudah jarang melihat Meli berdebat tidak penting dengan orang lain. Menurut Anjani, Meli sudah bisa lebih menjaga sikap. Ya, meskipun kadang masih suka ceroboh.


"Kamu sayang banget ya sama keluarganya Mas Azka?" tanya Anjani.


"Bangeeeeet. Em, Anjani. Andai suatu saat nanti aku dibawa Mas Azka tinggal di Jogja, jangan sampai lupain aku loh ya. Ajak aja Kak Mario main ke Jogja. Nanti biar anak-anak kita main bareng di sana." Mata Meli berbinar cerah mengatakannya.


"Ide bagus. Ayo kita lakukan! Satu lagi. Meskipun kita terpisah jarak, kamu tetap jadi sahabat terbaikku, Mel." Anjani mengucapkannya dengan tulus.


"Uh. Baper-baper-baper. Udahan ah bahas ini. Mendadak aku jadi melow, nih." Meli menggembungkan pipinya, membuat bibirnya manyun menggemaskan.


Langkah kaki Anjani dan Meli selanjutnya membawa mereka menuju ruko. Sudah menjadi rutinitas yang sama sekali tidak membosankan bagi mereka. Ruko butuh bantuan mereka setelah kekacauan yang terjadi. Apalagi saat ini Rangga diminta Mario untuk cuti.


Di ruko. Meli langsung ke posisi favoritnya, di belakang meja kasir, mengecek penjualan sambil menunggu adanya pengunjung toko. Anjani menuju bagian packing order olshop. Ada Dika, Ken, dan Mario di sana.


"Assalamu'alaikum," salam sapa Anjani untuk semua.


"Wa'alaikumsalam," jawab Dika dan Ken kompak, disusul Mario.

__ADS_1


Mario melangkah mendekati calon istrinya itu. Senyum manis di wajah tampan Mario lekas tersuguh.


"Ehem. Yang mau nikah ehem," celetuk Ken.


"Kalau iri bilang, Mas!" Justru Dika yang tidak terima.


"Aku mau ngobrol dulu sama Anjani sebentar," pamit Mario pada teman-temannya.


Ken dan Dika memahami. Mereka berdua membiarkan Mario-Anjani. Namun, tidak demikian dengan Meli.


"Eh-eh. Kak Mario sama Anjani mau kemana?" tanya Meli tanpa meninggalkan mesin kasir.


"Mau ke lantai dua. Ada yang mau diobrolin," terang Anjani.


"Berdua saja? No! Ngobrol di sini!" Meli memerintah.


Dua kursi tunggu dipindahkan ke dekat mesin kasir. Beres dengan itu, Meli memberi isyarat agar Mario-Anjani menempati kursi masing-masing.


"Silakan ngobrol di sini. Kalian berdua dilarang berduaan sebelum halal," tegas Meli.


Anjani terdiam. Dia pun paham. Selama Meli di Jogja beberapa hari lalu, Anjani juga sempat berdua saja dengan Mario. Yang terjadi justru Mario sering menggodanya, meski itu hanyalah sebuah kata-kata mesra.


Mario tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tersenyum, mengangguk, lalu menurut saja. Rupanya sikap penurut Mario membuat Anjani menahan tawanya.


"Em, begini." Mario yang sempat canggung memulai kata-katanya. "Rangga masih cuti selama tiga hari ke depan. Ruko ini jelas kekurangan karyawan. Aku berencana merekrut dua karyawan lagi. Bagaimana menurutmu?" tanya Mario pada Anjani.


"Ide bagus. Cari yang cekatan seperti Mas Rangga." Anjani antusias menanggapi.


"Aku tidak berniat mencari karyawan laki-laki, Anjani. Aku tidak mau ada yang menyatakan cinta lagi padamu," ungkap Mario.


"Eh? Tapi kan aku segera akan menjadi istrimu," sahut Anjani.


"Ehem!" dehem Meli dengan kerasnya.


Mario merasa tersindir. Dia langsung tersadar dengan ucapannya. Sementara Anjani, dia kembali menahan tawanya saat melihat Mario ditegur Meli dengan dehemnya.


"Dua karyawati. Setuju?" tanya Mario, kembali meminta pendapat Anjani.


"Baiklah. Kalau bisa cari yang muslimah, ya. Khawatirnya nanti Mas Rangga malah digoda. Dia kan yang hampir selalu stay di ruko," pendapat Anjani.


Mario bersedekap. Dia sedikit cemburu karena calon istrinya malah mengkhawatirkan Rangga.


"Kenapa menatapku seperti itu, Mario? Apa salahku?" tanya Anjani polos.


Mata Mario terpejam. Dia mencoba tenang. Tidak ingin lagi terjebak dalam kecemburuan.


"Rangga tidak akan semudah itu tergoda. Aku yakin dia mulai memantapkan hatinya untuk adikku," terang Mario.


Yang terkejut bukannya Anjani, melainkan Meli. Tak habis pikir rasanya dengan jalan cerita yang diketahuinya. Rasanya baru kemarin Meli mendengar kabar bahwa Rangga menyatakan cintanya pada Anjani. Sekarang, Meli malah mendengar bahwa Rangga mulai memantapkan hatinya untuk Alenna.


Anjani tidak begitu kaget. Anjani pun yakin bahwa Alenna mencintai Rangga, terlihat jelas dari beberapa perlakuan khusus Alenna pada Rangga. Bahkan Anjani sempat memergoki Alenna menciumi bibir Rangga secara sepihak.


"Tidak perlu kaget seperti itu. Biarlah waktu yang menjawab Ikatan Cinta Alenna. Apakah akan berjodoh dengan Rangga, atau justru malah dengan mantan pacarnya dulu. Juno." Mario menyatakan pemikirannya. (tengok novel baru author di sebelah, ya)


Anjani mengangguk-angguk. Dia setuju dengan pemikiran Mario. Bahkan, Meli yang memang menyimak obrolan Mario-Anjani pun ikut mengangguk.


"Maaf, Kak. Jadi, Alenna sudah terbang ke Jakarta?" tanya Meli.

__ADS_1


"Benar. Tadi pagi dia berangkat. Ada Paman Li yang akan menjaga Alenna di sana," terang Mario.


"Berapa lama?" tanya Meli lagi, dia merasa sedih dengan nasib temannya itu.


"Tidak pasti. Satu tahun. Dua tahun. Lihat saja nanti. Yang jelas, kami semua ingin Alenna bisa menjernihkan pikirannya dan memperbaiki sikapnya di sana. Paling tidak, untuk sementara dia bisa jauh dari Rangga."


Sebenarnya Mario juga tidak tega pada adiknya, tapi itu harus dia lakukan. Semua demi kebaikan Alenna.


"Lalu, bagaimana dengan anak perusahaan ayahmu? Tanpa Leon dan Alenna, siapa yang memimpin?" Tiba-tiba saja Anjani kepikiran.


"Ayah sudah meminta anak rekan kerjanya yang lain menggantikan posisi Leon untuk sementara sampai aku lulus kuliah," terang Mario.


Senyum Mario tampak berbeda saat menjelaskan pengganti Leon. Senyum itu memancing Anjani untuk kembali bertanya.


"Kenapa senyummu seperti itu, Mario?"


"Aku hanya senang saja. Sudah tidak ada Leon di sana. Lalu, pengganti Leon juga sudah menikah. Jadi, tidak ada lagi yang akan menggodamu selain aku," terang Mario dengan pedenya.


"Ehem!" dehem Meli dengan kerasnya.


Kembali Meli menegur kata-kata Mario lewat dehemnya. Mario refleks menutup mulutnya saat dehem Meli diserukan. Itu membuat Anjani kembali menahan tawanya.


"Bagaimana kondisi Leon di penjara?" Anjani kembali bertanya.


"Heem. Jangan bahas Leon lagi, Sayang!" seru Mario pada Anjani.


"Aduh. Istighfar, Kak. Belum halal udah sayang-sayangan. Duh. Cepetan nikah kalian deh! Aku gemes nih lihatnya!" omel Meli.


Kali ini Anjani tidak dapat menahan tawanya. Dia tertawa pelan sambil melihat ekspresi bingung Mario saat ditegur Meli.


"Tinggal beberapa hari lagi kan akad nikahnya. Dokumen untuk penerbitan buku nikah udah beres?" tanya Meli dan langsung disusul anggukan kompak oleh Mario Anjani.


"Bagus. Undangan siap?" tanya Meli lagi.


"Semua keperluan pernikahan sudah disiapkan Mommy. Tinggal undangan saja yang belum," terang Mario. "Meli, besok tolong temani Anjani memilih desain undangannya, ya. Sekalian juga pilihkan desain kamar pengantin dari beberapa foto yang besok aku kirimkan kepada Anjani via email," pinta Mario.


Anjani refleks menutup mulutnya saat Mario menyebut kamar pengantin.


"Siap, Kak. Memangnya kamar mana yang mau didesain jadi kamar pengantin?" Meli malah melanjutkan obrolan kamar pengantin dengan Mario.


Sebelum Mario menjawabnya, lebih dulu Anjani menghentikan obrolan itu.


"Em, Mario kita bahas itu nanti saja ya. Besok Meli pasti membantuku memilih desainnya. Sekarang lebih baik kamu bantu Kak Ken dan Dika cek orderan. Sana-sana." Anjani mengusir Mario untuk segera pergi.


Mario yang sadar bahwa calon istrinya itu malu, memilih untuk mengiyakan saja. Dengan sedikit berat hati Mario kembali menemui Ken dan Dika.


"Kenapa?" tanya Meli saat melihat Anjani gugup.


"Tiba-tiba saja jantungku dag-dig-dug. Huft." Anjani menghela nafas dalam.


"Hihi. Wajar kok. Bawaan orang mau nikah, tuh. Insya Allah dimudahkan sampai sah." Meli mengedipkan sebelah matanya.


Anjani tersenyum. Dalam hati Anjani meng-aamiin-kan doa Meli.


Bersambung ....


Kira-kira kalau cerita Mario-Anjani end, reader keberatan nggak ya?

__ADS_1


Hayuuk, penggemar Azka-Meli, segera kunjungi novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Cari tahu asal usul Azka beserta keluarga super kerennya. Dukung kolaborasi kami, ya. 😉 See You.



__ADS_2