
Rutinitas kehidupan berlanjut. Azka-Meli kembali LDR. Berjauhan jarak, tapi hati mereka begitu dekat. Beda lagi dengan Mario-Anjani. Sejak kepengurusan ruko diberikan pada Anjani, manajemen waktu pun berubah. Anjani menyeimbangkan waktu antara kuliah, mengurus ruko, dan melayani Mario.
Tepat satu minggu Mario-Anjani tinggal di rumah Paman Sam. Kesempatan itu digunakan Mario untuk mengakrabkan diri dengan keluarga Anjani. Apalagi selama satu minggu pula orangtua Anjani menginap di sana, juga demi mengenal dekat menantunya. Ya, Ma tak lagi tinggal di desa. Kini dia membantu usaha suaminya di kota.
"Suami kau belum pulang?" tanya Ma.
"Belum, Ma. Insya Allah sebentar lagi. Tadi habis dari kampus pamit langsung menemui Pak Daniel di kantornya," terang Anjani.
Ma tampak mengingat-ingat. Nama Pak Daniel begitu asing di telinganya.
"Pak Daniel siapa pula?" Ma belum tahu.
"Pimpinan anak perusahaan yang sekarang, Ma. Mario sama Pak Daniel akhir-akhir ini sering bertukar ide untuk perkembangan perusahaan itu. Begitu kata Mario," terang Anjani.
Anggukan kecil dilakukan Ma. Beliau mulai paham.
"Pak Daniel, ganteng?" tanya Ma lagi.
"Ya mana Anjani tahu, Ma. Ketemu aja belum pernah," aku Anjani.
"Sudah menikah belum?" Lagi-lagi Ma bertanya.
"Kata Mario sih sudah. Eh, ini kenapa Ma jadi tanya-tanya Pak Daniel terus sih?" Anjani curiga.
"Ma tak bermaksud kepo. Kalau Pak Daniel sudah menikah, berarti aman. Tak akan ada orang jahat seperti Leon lagi. Betul tak?" Ma antusias kali ini.
"Oh karena itu. Yaudah. Kita siap-siap. Nanti begitu Mario datang, kita berangkat. Semua ikut ngantar kan sore ini?" tanya Anjani.
"Tentu, dong. Semua mau ikut ke rumah besan." Ma membenarkan.
Sore ini Mario-Anjani akan mulai menetap satu rumah bersama Mommy Monika dan John. Dalam hati, Anjani tampak sedikit gugup. Bahkan sedari kemarin Anjani sudah merancang obrolan untuk mertuanya.
***
Pukul setengah empat sore. Keluarga Anjani sudah bersiap. Baru saja Mario menelepon akan segera sampai di rumah.
"Oleh-oleh siap?" tanya Paman Sam pada istrinya.
"Sudah. Itu di kardus. Eh, Renal mana ini kok belum kelihatan?" Sarah mencari-cari putranya.
"Ini di sini, Bu. Baru selesai murojaah," sahut Renal.
"Wah. Keponakanku rajin betul ngajinya." Joko mengacungkan jempolnya.
"Anjani, kau sudah siap belum?" tanya Ma sedikit berteriak.
"Iya, Ma. Barusan masih betulin jilbab," dalih Anjani.
Anjani barusan di kamarnya. Sempat membetulkan jilbab, tapi setelahnya dia berlama-lama menenangkan diri karena gugup. Mulai malam ini dia akan tinggal bersama mertuanya.
Tak lama kemudian, Mario tiba. Mobilnya langsung diputar arah sehingga keluarga Anjani bisa langsung naik ke mobilnya.
"Sudah tidak ada yang tertinggal?" tanya Mario pada Anjani.
"Insya Allah tidak ada. Nanti kalau ada yang tertinggal kamu tinggal anterin aku ke sini. Ayo berangkat!" Anjani masuk mobil setelah semua anggota keluarganya masuk mobil lebih dulu.
***
Keluarga Anjani duduk di ruang tamu ditemani Mommy Monika. Sedari tadi mereka mengagumi mewahnya rumah yang akan ditempati Mario-Anjani.
"Ayah kemana, Mom?" tanya Mario yang baru saja membantu Anjani membawa barang-barangnya ke ruang tamu.
"Mantu Mommy sini dulu. Duduk dekat Mommy, ya Sayang?" Mommy Monika tidak menjawab pertanyaan Mario tapi malah menyuruh Anjani duduk di sampinganya.
Pelukan erat diterima Anjani dari Mommy Monika. Perlahan saja kegugupan di hati Anjani sirna. Dia mulai nyaman.
"Mom, peluk menantunya dilanjut nanti lagi dong. Tuh ada besan!" kode Mario.
__ADS_1
"Hehe, maaf. Insya Allah kami akan menjaga Anjani dengan sepenuh hati," tutur lembut Mommy Monika.
Ma dan Joko menanggapi dengan baik. Begitu pula dengan Paman Sam dan Bibi Sarah. Bahkan, Renal ikut-ikutan mendoakan.
"Mom, ayah kemana?" Mario mengulang pertanyaan yang belum dijawab tadi.
"Ayahmu ke Jakarta. Ada perlu di sana. Sekalian nengokin Alenna," terang Ma.
"Kapan berangkatnya? Tumben Mario tidak diberi tahu?" Mario merasa ada yang aneh.
"Baru tadi pagi berangkat. Sudah-sudah, ayo kita makan dulu. Mommy sudah menyiapkan banyak sekali makanan untuk menyambut besan." Mommy Monika mengajak keluarga Anjani menuju ruang makan.
Anjani tidak terburu ikut. Dia menghampiri yang suami yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Sayangku kenapa galau?" tanya Anjani sambil menggandeng lengan Mario.
Mario tersenyum. Bukan jawaban yang diberikan atas pertanyaan Anjani, justru Mario malah bertanya balik.
"Apa kamu masih gugup?" Mario tak memudarkan senyumnya.
"Alhamdulillaah sudah nggak lagi. Aku aja yang khawatirnya berlebihan. Seneng deh liat Mommy menerimaku dengan baik." Anjani tampak bahagia.
Satu kecupan mendarat di kening Anjani. Mario bisa merasakan kebahagiaan yang Anjani rasakan.
"Ayo makan dulu. Mereka pasti sudah menunggu kita," ajak Mario.
"Iya. Ayo!"
Mario-Anjani bergabung di meja makan. Keharmonisan begitu kentara di sana. Keluarga Anjani sangat yakin bahwa Anjani akan bahagia tinggal bersama suami dan mertuanya.
***
"Sayang, sebentar lagi Pak Daniel akan berkunjung ke sini. Mau antar kado pernikahan untuk kita. Waktu itu dia tidak bisa hadir," terang Mario usai sholat maghrib berjamaah bersama pekerja-pekerja di rumah itu.
"Kalau begitu kamu segera ganti baju. Aku siapkan dulu, ya." Anjani menyimpan mukenanya, dan segera menyiapkan pakaian Mario.
Anjani juga berganti baju usai menyiapkan baju untuk Mario. Dia juga segera menuju dapur, membantu juru masak menyiapkan sedikit hidangan dan minuman.
"Sebentar lagi ada Pak Daniel ke sini, Mom." Anjani tersenyum. Tak ada lagi rasa canggung.
"Pak Daniel yang menggantikan Leon itu, kan? Oke-oke. Oya, Mommy mau keluar sama teman-teman. Mau jenguk anak teman Mommy. Nanti pulangnya Mommy belikan martabak, dan kamu harus temani Mommy makan. Okey?" Mommy Monika antusias.
Anjani mengangguk mantap. Tentu saja Mommy Monika berniat lebih mengakrabkan diri. Anjani pun menyambut baik niatan itu.
Pak Daniel sampai selepas isya'. Tepat saat Mario-Anjani usai berjamaah bersama pekerja lainnya di rumah mewah itu.
"Maafkan saya yang waktu itu tidak bisa datang ke pesta pernikahan Anda, Mario. Maklum. Peralihan posisi jabatan membuat saya harus adaptasi lebih, sekaligus mengurus beberapa kerjasama yang sempat terbengkalai," terang Daniel.
"Terima kasih, Pak Daniel." Mario mengambil kado pernikahan yang diberikan Daniel.
"Mario, ubahlah sapaanmu itu. Umurku belum genap tiga puluh tahun, lho. Jadi berasa tua kalau dipanggil pak," pinta Daniel.
"Sudah berulang kali saya coba, tapi rasanya kurang sopan. Saya izin tetap panggil Pak Daniel saja," terang Mario ramah.
"Baiklah-baiklah. Oya, sudah tahu kabar terbaru dari ayahmu?" tanya Daniel tiba-tiba.
Mario menggeleng. Jangankan kabar terbaru, sang ayah pergi ke Jakarta saja baru tadi sore Mario tahu.
"Sebenarnya ada salah satu perusahaan di Jakarta sana yang akan bekerjasama dengan perusahaan kita. Kalau menurut saya sih ini peluang bagus, karena relasi mereka luas. Kemungkinan perusahaan kita tidak hanya bergelut di bidang sepatu dan bahan mentah, tapi juga merambah ke bisnis lainnya." Daniel tampak antusias. Obrolan malam itu seketika membahas bisnis.
Mario tidak langsung menanggapi Daniel. Pikirannya melambung, menghubung-hubungkan kepergian sang ayah ke Jakarta. Mario menduga bahwa relasi kali ini begitu penting hingga mengharuskan ayahnya ke sana.
"Kenapa mereka justru melirik anak perusahaan untuk diajak bekerjasama? Bukankah akan lebih menguntungkan bagi mereka jika bekerjasama langsung dengan induk perusahaan ayah di Jakarta sana?" Logika Mario mulai bermain.
"Nah itu dia. Pak John ke Jakarta karena rupanya perusahaan itu telah lama bekerjasama dengan perusahaan induk." Daniel menyampaikan apa yang dia tahu.
"Tetap saja ini aneh. Perusahaan besar seperti mereka pastinya akan membidik perusahaan besar lain untuk bekerjasama. Apalagi, induk perusahaan juga sudah diajak bekerjasama," pikir Mario.
__ADS_1
Mario merasa ada yang aneh. Sebenarnya sih dia senang karena ada perusahaan besar yang akan bekerjasama dengan anak perusahaan yang saat ini dipimpin Daniel. Namun, tetap saja Mario merasa ada yang aneh.
"Bolehkah aku tahu nama yang jadi utusan perusahaan mereka?" tanya Mario tiba-tiba. Dia bersiap meluruskan kekhawatirannya.
"Namanya Vero. Arvero Dewanggi. Putra tunggal Johan Renaldi. Pebisnis sukses yang sudah terkenal di mana-mana. Duda kaya, tampan dan penuh wibawa." Pak Daniel memuji ayah Vero.
Alenna kerja di induk perusahaan. Aku yakin, Alenna pasti tahu tentang Vero. Batin Mario. (Tengok novel baru author jika ingin tahu lebih tentang Vero 😉 ups)
Belum sempat Mario menanggapi, Anjani lebih dulu bergabung.
"Baiklah. Kita bahas ini lagi saat ayah sudah kembali. Perkenalkan ini istri saya. Namanya Anjani." Mario memperkenalkan.
Daniel sedikit terkejut melihat Anjani. Semula Daniel mengira istri Mario akan berpenampilan terbuka, seksi, dan banyak dugaan lainnya.
Aku benar-benar tidak paham dengan selera Mario. Tapi Anjani cukup cantik juga, batin Daniel.
"Ehem!" dehem Mario saat mendapati Daniel memperhatikan istrinya dengan tak wajar.
"Oh. Hehe. Maaf-maaf. Senang berkenalan dengan Anda, Nona." Daniel menangkupkan kedua tangannya di depan dada mengikuti gerakan Anjani.
"Sama-sama, Pak Daniel. Silakan diminum dulu." Anjani mempersilakan.
Daniel meraih cangkir dan meneguk isinya sambil memperhatikan Anjani. Mario menangkap itu. Sedikit tidak suka, tapi Mario masih membiarkan Daniel.
"Oya, Pak Daniel masih menempati rumah kos atau sudah menemukan tempat cocok?" tanya Mario membuat pengalihan topik agar Daniel tidak terus memperhatikan Anjani.
"Oh. Saya sudah pindah ke kompleks baru. Tangan kanan Pak John yang mencarikan. Aku ... tinggal sendirian di sana," aku Daniel.
"Kenapa begitu? Bukankah Pak Daniel sudah menikah?" Mario mendadak khawatir.
"Sudah lama pisah ranjang. Istri saya selingkuh." Daniel tampak muram.
Anjani jadi tidak enak sendiri dengan topik baru di ruangan itu. Satu kode diberikan Anjani agar Mario lekas membuat topik lainnya.
"Oya, Sayang. Ini ada kado pernikahan untuk kita. Kita doakan juga Pak Daniel bisa segera mendapatkan pengganti istrinya." Mario memperlihatkan kemesraannya dengan sang istri di depan Daniel. Se-nga-ja.
Anjani tersenyum lantas meng-aamiin-i.
Obrolan setelahnya lebih banyak tentang bisnis. Anjani bahkan tak lagi memandang Mario sebagai seorang mahasiswa yang sedang belajar. Kecakapan dan kejeniusan Mario telah membuat jiwapebisnisnya begitu matang. Hingga yang saat ini tampak di depan mata Anjani adalah sosok suami yang begitu dewasa dan berwibawa.
Cukup lama Daniel berbincang. Hingga jarum jam tepat di angka sembilan, Daniel pamit pulang.
"Huft. Aku tidak suka dengan caranya menatapmu," keluh Mario saat mobil Daniel melaju.
"Kapan Pak Daniel menatapku? Aku nggak merasa, tuh!" Anjani sungguh tidak merasa.
"Heeem. Kamu sih nggak peka!" ledek Mario sambil mencubit gemas hidung Anjani.
"Hihi. Yaudah. Aku temani Mommy makan martabak dulu, ya. Kamu mau gabung juga?" tawar Anjani.
"Nggak, deh. Pasti nanti ujung-ujungnya cerita soal hal sensitif wanita. Aku tunggu kamu di kamar, ya." Mario berbisik, membuat Anjani seketika berdebar.
Anjani mengangguk malu-malu. Setelahnya Anjani menuju ruang keluarga, menemani Mommy makan martabak, nonton TV, dan bercerita ke sana kemari. Tanpa sadar, rupanya sudah tengah malam. Begitu Anjani ke kamar, didapatinya Mario sudah terlelap.
"Sayangku pasti lelah," lirih Anjani sambil membetulkan selimut Mario.
Saat hendak mematikan lampu tidur, mata Anjani menangkap sebuah note yang tertempel di sana.
Mulai besok akan kubatasi jam nonton TV di rumah ini.
Suamimu.
"Ups," lirih Anjani sambil melirik Mario yang sudah terlelap.
Bersambung ....
Nantikan lanjutan ceritanya. Kepo-in yuk sekembalinya Via-Farhan-Ratna di Jogja sana usai berhasil merecoki Azka-Meli. Cuuuus meluncur ke novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung karya kami. 😉
__ADS_1
Intip novel baru author yang berjudul Ikatan Cinta Alenna. Sudah ada 9 bab di sana 💋. Ada Rangga, Juno, Vero, dan ... ehem, cek dulu yuk!