CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Ups, Gangguan Datang!


__ADS_3

Masih Suasana Pengantin Baru.


Di bawah 18 tahun silakan skip part ini.


Like dan Komentari ya kakak. Happy Reading.


__________________________________


Tidur yang begitu damai. Begitulah pikir Anjani. Rasa syukur tak henti menggema lantaran nikmat yang telah dia terima. Senyum merekah tak henti-hentinya. Apalagi saat Anjani teringat perlakuan lembut Mario di malam pengantinnya. Tetiba saja rona wajah Anjani memerah begitu mengingatnya.


Masih pukul dua dini hari saat Anjani terjaga. Didekapnya tubuh Mario dengan mesranya. Mario lekas terjaga pula. Dibalasnya pelukan sang istri.


"Selamat pagi, Sayang." Mario menatap bola mata Anjani.


"Selamat pagi juga, Sayangku. Ayo siap-siap!" tutur lembut Anjani mengajak Mario.


Mario tersenyum jahil.


"Siap-siap? Kamu ketagihan ya dengan permainan kita semalam? Ayo lagi!" goda Mario berlagak tidak paham dengan pembicaraan.


Anjani mencubit gemas perut Mario. Dia beralih gerak dengan cepat hingga posisinya tepat di atas Mario. Tawa pelan tercipta dari keduanya. Khawatir Mario tak bisa mengendalikan dirinya, lekas dia luruskan semuanya.


"Ayo kita panjatkan syukur atas semua nikmat ini!" ajak Mario dengan tutur kata lembutnya.


Anjani memperbaiki posisinya. Senyumnya merekah. Dengan hati penuh syukur, Mario-Anjani bersiap menunaikan ibadah malam mereka.


***


Di kamar lainnya, Meli mengerjap-ngerjapkan matanya pelan. Dia terjaga saat merasakan dekapan Azka.


"Mau merasakan nikmat lainnya?" bisik Azka di telinga Meli tiba-tiba.


"Eh? Semalam sudah dua kali loh. Mas Azka emangnya mau lagi? Sekarang?" Meli bertanya dengan polosnya.


"Istriku ini pikirannya kemana coba?" Azka menyentil pelan hidung Meli.


Meli terkekeh. Dia sadar jika dirinya telah salah paham.


"Kamu pengen dekat-dekat terus sama suami tampanmu ini, ya?" Azka terpancing untuk menggoda Meli.


"Iih. Mas Azka ke-GR-an, nih. Deket-deket sama Mas Azka tuh bikin jantung Meli berasa main lompat tali. Dredeg-deg-deg terus tau!" Ekspresi Meli menggemaskan, membuat Azka berusaha mengontrol dirinya.


"Kalau gitu istirahat dulu main lompat talinya. Kita bersiap ibadah malam dulu, yuk. Habis itu kita murojaah sembari menunggu subuh," tutur lembut Azka.


"He'em. Ayo, Mas!"


Azka-Meli Mario-Anjani pun kompak menunaikan ibadah malam meski terpisah kamar.


***


Pagi menjelang. Azka-Meli lebih dulu sarapan di lantai dasar hotel. Ada resto dengan beragam menu di sana. Pasangan serasi itu kompak memesan nasi pecel bertabur remah rempeyek.


"Pelan-pelan makannya," tegur Azka dengan lembut, sambil menjulurkan tangan mengusap bumbu pecel yang belepotan di bibir Meli.


"He'em," sahut Meli cepat, tapi tetap saja lahap. Ketahuan deh kalau Meli doyan makan.


"Mas Azka dari Medan mampir ke Jogja dulu atau emang langsung nemuin Meli di sini?" tanya Meli yang sedari kemarin tidak sempat bertanya.


"Langsung nemui kamu, tapi sudah ngasih kabar dulu kok ke ayah dan ibu mertua. Suami tampanmu ini juga sudah minta izin untuk menculik putrinya tiga hari tiga malam," terang Azka sembari tersenyum penuh arti.


"Hihi, Mas Azka bisa aja. Masa iya Mas Azka nyulik Meli. Em oya, Mbak Via, Mas Farhan, sama Ratna jadi nggak bisa datang kondangan ke sini ya? Waktu itu sih Meli VC, mereka bilang nggak bisa datang. Mereka sempat hubungin Mas Azka nggak?" tanya Meli membuka topik.

__ADS_1


"Iya, Mas Farhan sempat telpon. Mereka nggak bisa datang. Lebih baik mereka nggak datang ke sini, deh. Ntar ngerecokin kita lagi," celetuk Azka lantas menyuap sesendok nasi goreng.


Meli geleng-geleng kepala.


"Mas Azka nggak boleh gitu, dong. Mana mungkin mereka ngerecokin kita. Memangnya kita lagi sibuk apa sampai direcokin hayo?"


Entah kenapa saat itu Azka berpikiran bahwa ekspresi Meli sungguh menggemaskan. Ingin mencubit, tapi Meli lagi makan. Ingin disayang, tapi banyak orang di sekitar. Duh, repot deh!


"Suami tampanmu ini ingin berduaan terus sama kamu, Sayang. Kita kan sempat LDR-an. Masa kamu nggak rindu sama aku?" Azka terus menatap Meli.


Meli tersipu. Jantungnya berpacu cepat hanya dengan membalas tatapan suaminya. Meli senyum-senyum sambil memainkan sendoknya.


"Besok kamu ada kuliah, ya?" tanya Azka.


"He'em. Cuma satu, sih. Eh bentar, Mas. Aku belum cek grup. Sepertinya ada info." Meli gesit mengecek setiap informasi yang terlewat sejak kedatangan Azka kemarin malam.


Menit berikutnya, Meli mengucap hamdalah dengan kerasnya. Membuat Azka kembali geleng-geleng kepala dengan tingkah polos nan heboh sang istri.


"Niat Mas Azka terdukung, nih. Besok free. Ganti hari. Bentar lagi ke taman dekat hotel, yuk Mas. Meli masih pengen makan es krim. Mas Azka sih semalam belinya cuma satu," protes Meli.


"Tidak mau. Kita di kamar aja. Saling bertukar cerita. Ceritakan banyak hal tentangmu, Sayang. Terutama saat kita LDR. Bagaimana caramu menahan rindu itu. Mau ya?" pinta Azka sambil menunjukkan pesonanya.


Meli tak dapat menolak keinginan Azka. Apalagi sang suami meminta dengan pancaran pesona yang membuat hati Meli meleleh dibuatnya. Hawa-hawa pengantin baru masih melekat.


"He'em, deh. Aku mau. Semoga hari ini nggak ada yang ngerecokin kita, ya Mas." Meli malah mendukung kata-kata Azka yang sebelumnya.


Azka bersorak dalam hati. Dia sudah berhasil membujuk sang istri.


"Em, btw Mario-Anjani kok nggak kelihatan sarapan, ya?" tanya Azka tiba-tiba.


"Paling masih berduaan di kamar, Mas. Sst. Jangan ganggu mereka, ya! Gangguin aku aja," kata Meli sambil mengedipkan sebelah matanya.


Azka makin dibuat gemas oleh sang istri. Dalam hati dia berdoa, semoga seharian ini memang tidak ada yang mengganggu mereka berdua.


***


"Apa kamu sudah punya teman baru di sana?" tanya Anjani pada adik iparnya itu.


"Sudah, tapi baru satu. Namanya Barra," terang si bule cantik Alenna.


"Cowok?" tanya Mario.


"Iya, cowok. Kenapa, Kak? Takut aku berbuat mesum lagi seperti yang pernah kulakukan pada Mas Rangga?" Alenna tampak cekikikan. Dia menikmati ekspresi khawatir Mario.


"Iya. Jangan sampai lupa, Alenna. Kamu telah membuat ikatan cinta di sini. Bukankah itu yang kamu inginkan dari Rangga saat berpisah di bandara? Kamu bahkan menghadiahi Rangga dompet," bidik Mario.


Alenna bungkam. Dalam hati dia bertanya-tanya kenapa Mario bisa sampai tahu. Namun, dia tidak mau ambil pusing.


"Anjani, tolong kasih tahu kakakku dong. Aku suka sama Mas Rangga. Bujuk dia agar segera memperbolehkan aku pulang. Ya-ya-ya?" Alenna memohon.


Anjani terkekeh. Dia melepas pelukan Mario sejenak. Lantas menyuruh suaminya itu segera membuka pintu kamar karena pesanan sarapan mereka sudah datang.


"Sst. Jangan khawatir. Pelan-pelan akan kubujuk kakakmu ini. Kamu fokus saja dengan pekerjaanmu di sana. Jaga diri dan jaga hati untuk Mas Rangga kalau kamu benar-benar menyukainya," tutur lembut Anjani. Dia sedikit berbisik agar Mario tidak mendengarnya.


"Oh kakak iparku baik sekali. Sini peluk dari jauh. Uhhhm. Kalau gitu aku tutup dulu, ya. Selamat untuk pernikahan kalian. Ehem, jangan lupa hadiah dariku sering-sering dipakai di depan kakakku. Bye-bye. Assalamu'alaikum." Alenna mengakhiri VCnya.


"Wa'alaikumsalam." (Semua tentang Alenna ada di novel baru author. Intip yuk! 💋)


VC berakhir. Mario tampak menyiapkan makanan yang baru datang. Tanpa basa-basi lagi, mereka berdua lekas menyantap sarapan yang telah dipesan.


Mario gesit merapikan semua usai santap pagi mereka. Dia tidak membiarkan Anjani membantunya. Perlakuan Mario yang begitu memanjakannya justru membuat Anjani semakin jatuh cinta saja pada suaminya itu.

__ADS_1


"Sayang, boleh ya? Sebentar saja?" lirih Mario sambil mulai mendekap Anjani.


Anjani yang tahu maksud Mario pun hanya bisa mengangguk. Dia mulai hafal dengan rutinitas baru sang suami. Tangan Mario suka sekali menyapu lembut bagian bawah lehernya.


"Ehm." Terdengar lenguhan kecil dari Anjani. Dia mulai keenakan dengan perlakuan Mario.


"Kamu suka?" lirih Mario tanpa menghentikan aksinya.


"I-ya. Teruskan saja," lirih Anjani menjawabnya.


Mario membimbing Anjani menuju sofa. Dipangkunya sang istri dengan posisi saling berhadapan dengannya. Aksi Mario tak berhenti. Dia terus menyapu lembut bagian bawah leher sang istri.


"Est. Em, kenapa kamu sangat suka bagian itu? Tidakkah kamu mau menyentuh yang lainnya juga?" tawar Anjani.


Mario tersenyum mendengar pertanyaan itu.


"Tentu saja aku akan melakukannya," bisik Mario di telinga Anjani.


Detik berikutnya, sentuhan dan cumbuan menjadi bumbu manis di pagi mereka yang indah. Pengantin baru Mario-Anjani benar-benar sedang dimabuk asmara.


***


Rutinitas selanjutnya sungguh tak terduga. Anjani dan Meli teringat tugas online mereka. Sambil menyelam minum air, baik Anjani ataupun Meli sama-sama memanfaatkan suaminya untuk menjadi tutor belajar. Anjanilah yang lebih dulu ingat dan lekas mengirim pesan pendek pada Meli. Tak disangka, Meli pun berpikiran sama.


"Aduh, kenapa di saat manis seperti ini kamu ingat tugas kuliah sih, Sayang?" protes Mario.


"Walau bagaimanapun aku ingin jenius sepertimu, agar nanti juga bisa membantu perusahaanmu. Bantu aku ya?" Anjani memelas, agar Mario luluh.


"Baiklah," sahut Mario pasrah.


Anjani mengangguk mantap. Dia pun larut mengerjakan tugas-tugasnya. Sesekali Mario usil dengan melakukan aksi yang sangat disukainya. Anjani menurut saja dengan perlakuan sang suami. Dia sangat memahami hawa pengantin baru yang masih kentara. Setelah menahan cinta sekian tahun lamanya, sangat wajar bila sang suami seringkali meluapkan cinta kasih padanya.


Sementara itu, di kamar Azka-Meli.


Azka merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia merangkul pinggang sang istri sambil sesekali memberi penjelasan ringan tentang tugas yang sedang dikerjakan istrinya itu.


"Mas Azka waktu di Medan suka bolos kuliah nggak?" tanya Meli.


"Ya nggak dong. Suami tampanmu ini mahasiswa teladan," aku Azka dengan bangganya.


"Keren. Kalau gitu bantu Meli jawab yang ini, ya?" pinta Meli dengan antusias.


"Aduh. Kena jebakan deh aku." Azka tepuk jidat. Mau tidak mau dia pun membantu Meli.


***


Seharian berlalu dengan banyak hal tak terduga. Namun, Mario-Anjani ataupun Azka-Meli tetap punya waktu untuk memadu kasih. Banyak waktu mereka habiskan untuk saling bertukar cerita, berbagi hal yang disuka, dan saling mengungkap kekurangan mereka. Hingga saat malam pun akhirnya tiba.


Azka-Meli hendak memulai aksi malam mereka layaknya pengantin baru. Hidung Azka mulai menjelajah pipi Meli. Saat mulai turun ke leher, aksinya harus terhenti karena dering smartphone miliknya dan milik sang istri. Azka sedikit kesal, sedangkan Meli justru senang, karena panggilan itu dari Via dan Farhan yang ternyata malam itu sudah ada di Jember.


Hal yang serupa terjadi pada Mario-Anjani. Tangan Mario yang tengah asik bermain di bukit indah Anjani pun harus terhenti.


"Ehm, Sayang. Aku angkat telepon dulu, ya. Kita lanjutkan lagi setelah ini," izin Anjani.


"Baiklah," sahut Mario setengah hati.


Dengan berat hati dia mengizinkan Anjani mengangkat telepon yang ternyata dari Ratna. Teman asal Jogja itu rupanya sudah ada di Jember dan ingin bertemu dengannya untuk memberi ucapan selamat. Mendengarnya, membuat Mario tepuk jidat.


"Kenapa harus di malam hari, sih?" protes Mario dalam hati.


Bersambung ....

__ADS_1


Ikuti lanjutan cerita Via-Farhan-Ratna dalam mengusili duo pengantin baru, tengok di novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Ini authornya lagi pada jahil. Suka betul godain pengantin baru yang lagi asik menikmati malam mereka. Hihihi. Dukung karya kami yaa. Like dan komentari dong kakak. Biar author semakin semangat up. 😗 Hayuuuk cek di sini dulu!



__ADS_2