
H-1 menjelang pernikahan Meli-Azka. Kesibukan memenuhi rumah Meli, mempelai wanita yang tinggal hitungan jam saja akan berganti status menjadi istri Azka. Keluarga sibuk menyiapkan acara untuk akad nikah yang dilaksanakan besok pukul sembilan pagi. Tetangga terdekat berdatangan, membantu persiapan di bagian dapur. Teman-teman Meli pun ikut hadir membantu persiapan.
Backdrop wedding selesai dipasang sebelum azan maghrib berkumandang. Meja ijab beserta hiasannya sudah siap untuk digunakan. Tikar-tikar sudah digelar memenuhi ruangan. Ada pula kursi-kursi yang sudah ditata rapi. Tempat jamuan keluarga dan tamu undangan sudah selesai ditata dengan bantuan Berlian, Alenna, Ken, Juno, dan Dika. Satu lagi, kamar pengantin juga sudah bertaburan bunga.
Sehabis maghrib, Roni dan Fatimah kedatangan rombongan keluarga Pak Haris. Azka tentu tidak ikut datang. Sama seperti Meli, Azka menjalani proses pingitan. Bu Aisyah memperkenalkan Mira dan Salsa pada keluarga Meli, karena sebelumnya mereka berdua tidak ikut datang saat proses lamaran.
“Saya Mira, istrinya Mas Edi.” Mira memperkenalkan diri, lalu tersenyum pada suaminya.
“Senangnya bisa lebih mengenal keluarga Jogja,” tutur Fatimah ramah.
“Yang cantik ini siapa?” tanya Fatimah sembari menunjuk Salsa yang sedari datang hanya diam.
“Nama saya Salsa,” jawab Salsa. Dia masih menata hati, juga mencoba tersenyum dengan lebih baik di depan keluarga Meli.
Obrolan demi obrolan mewarnai dua keluarga Jember-Jogja. Teman-teman Meli juga masih ada di sana. Berlian, dan Alenna masih membantu merapikan tempat untuk prosesi ijab qobul sambil menunggu kedatangan Mario-Anjani yang sedang mengambil baju couple mereka untuk besok. Dika, Ken, dan Juno juga masih asik mengotak-atik kamera DSLR, sambil sesekali mengambil beberapa foto kesibukan malam itu.
Malam begitu cepat tiba. Rombongan keluarga Azka kembali ke hotel tempat mereka menginap. Satu per satu tetangga yang membantu kembali ke rumahnya. Teman-teman Meli juga ikut pamit pulang. Tersisa Ma, Paman Sam, Bibi Sarah, Roni, Fatimah, Renal, Adit, Anjani, dan tentu saja Meli, mempelai wanita yang sedang gugup sekaligus bahagia menanti proses akad nikah tiba.
***
Momen yang ditunggu pun akhirnya datang juga. Meli tampak lebih cantik dari biasanya. Gaun pengantin, riasan wajah, dan melati yang dipakai menambah anggun penampilannya. Meli duduk tidak jauh dari meja akad, didampingi sang ibu dan Anjani. Meli tertunduk. Bibirnya terkulum senyum. Hatinya pun menggema syukur.
Beriringan dengan hadirnya penghulu dan petugas KUA, rombongan mempelai pria datang. Azka terlihat lebih tampan dengan pakaian pengantinnya. Ada kebahagiaan terpancar dari wajah gugupnya.
“Mas Farhan, kok aku gugup gini, ya?” bisik Azka pada kakaknya.
“Bismillaah, Dek. Atau posisimu mau digantikan Rio saja?” canda Farhan, dan lekas mendapat cubitan pelan dari Via.
“Ya jangan, Mas. Aku cinta Meli, Mas.” Azka protes.
“Sudah-sudah. Kalian berdua ini, ya.” Pak Haris melerai dua putranya sebelum bertambah lagi kejahilan lainnya.
“Ka, ayo. Bismillaah.” Bu Aisyah memberi isyarat agar Azka dan lainnya bersiap menuju meja akad.
Azka menangkap wajah cantik Meli. Ada desir merdu kala sosok Meli menyapu pandangannya. Senyum di wajah Azka mengembang. Dengan jantung berdebar-debar, Azka duduk dan bersiap untuk prosesi ijab qobul.
Roni, ayah Meli siap menikahkan putrinya dengan Azka. Para saksi sudah mengelilingi meja akad. Keluarga, teman-teman Meli, juga tamu undangan sudah duduk khidmat. Siap menyaksikan momen sah Meli-Azka.
“Nak Azka siap?” tanya Roni, ayah Meli.
“Insya Allah, siap.” Azka berkata mantap. Setelahnya, Azka menghela nafas dalam demi mengusir rasa gugup yang masih saja ada.
Roni mengulurkan tangannya dengan penuh kemantapan hati. Azka pun mantap menjabat tangan Roni. Ijab qobul, dimulai.
“Ananda Muhammad Azka Alfarizi bin Haris Alfarizi saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Meli Syahrani binti Roni Syahroni dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 90 gram dibayar tunai.”
“Sah!” seru Azka mantap.
“Aduh!” desis Roni.
Meli memejamkan matanya. Jantungnya berdebar-debar melihat kegugupan calon suaminya. Fatimah, sang ibu di sebelahnya tak henti-hentinya berucap ‘bismillaah’ untuk calon menantunya. Sementara Anjani yang menangkap rasa cemas yang melanda Meli pun lekas menyemangati.
“Dek, udah nggak sabar sah, ya? Nih, minum dulu.” Farhan menyodorkan segelas air mineral pada Azka.
“Aku nggak haus, Mas. Cuma gugup,” bisik Azka pada Farhan.
Farhan tetap menyuruh Azka minum agar lebih tenang. Azka meminumnya beberapa teguk, lalu kembali menarik nafas dalam sambil menghadap ayah Meli.
“Nak Azka siap?” tanya Roni, kali kedua.
“Insya Allah, siap.” Azka kembali berkata mantap.
Lagi-lagi Roni dengan kemantapan hati mengulurkan tangannya. Azka menjabat kembali tangan Roni dengan sigap. Begitu Roni selesai mengucap ijab, Azka lekas menyambungnya dengan qobul.
“Saya terima nikah dan kawinnya Roni Syahroni binti Meli Syahrani dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 90 gram dibayar tunai,” ucap Azka mantap.
“Tidak Sah!” seru Paman Sam, sebagai saksi.
“Loh, kok nggak sah?” Azka kebingungan.
__ADS_1
Azka terbalik mengucapkan nama mempelai wanita dan nama ayah. Bu Aisyah dan Pak Haris sudah cemas melihat Azka yang tak kunjung selesai mengucap qobul dengan benar. Farhan kembali mendekati sang adik.
“Dek, kamu mau nikahin Meli atau ayahnya, sih?” bisik Farhan.
“Ya nikah sama Meli, Mas. Duh, aku bener-bener gugup nih. Padahal kemarin waktu latihan sama Mas Edi lancar banget.” Azka merutuki dirinya yang terus-terusan gugup.
“Tarik nafas. Hembuskan. Tarik lagi. Hembuskan. Bagus. Bismillaah. Kalau yang ketiga ini salah juga, nanti kamu dapat piring cantik,” canda Farhan sebelum kembali ke tempat duduknya.
Azka mencoba tenang. Dia sempatkan menoleh melihat sosok Meli. Calon istrinya itu masih tertunduk. Senyum di wajah cantiknya masih setia menyemangati Azka. Perlahan, kegugupan Azka mereda. Senyum menghiasi wajahnya. Hatinya kembali mantap.
“Bagaimana Nak Azka? Siap?” Roni masih setia menanyakan hal yang sama.
“Insya Allah, siap.” Kata-kata Azka terdengar lebih mantap dari sebelumnya.
Untuk ketiga kalinya, Azka menjabat tangan Roni. Usai Roni mengucap ijab. Azka lekas menyambungnya dengan qobul dalam satu tarikan nafas.
“Saya terima nikah dan kawinnya Meli Syahrani binti Roni Syahroni dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 90 gram dibayar tunai.”
“Saaaaah!” seru para saksi, bahkan beberapa tamu undangan yang hadir ikut-ikutan berkata sah.
“Alhamdulillaah,” ucap Azka penuh syukur.
Usai akad, Azka membaca sighat taklik. Meli dipersilakan menuju meja akad. Azka telah sah menjadi suaminya. Malu-malu Meli meraih tangan suaminya lalu menciumnya. Baik Azka ataupun Meli sama-sama dipenuhi rasa syukur.
Sementara tamu undangan menyantap hidangan prasmanan, Azka dan Meli berfoto dengan latar backdrop wedding sambil memamerkan buku nikah. Orang tua Meli dan Azka menjadi yang pertama memberi ucapan selamat sekaligus berfoto dengan kedua mempelai.
“Menantu bunda cantik sekali. Azka tadi gugup pasti salting lihat kamu cantik kayak gini.” Bu Aisyah mengedipkan sebelah matanya, menggoda putra keduanya yang terlihat berbunga-bunga.
“Yang penting sekarang sah,” kata Azka sambil menggenggam tangan Meli dengan penuh cinta. Azka tak sungkan menatap Meli dengan lekat dari jarak dekat.
Semua yang melihat kemesraan Meli-Azka sukses jadi baper. Jiwa para jomblo meronta-ronta. Ken yang bertugas menjadi juru kamera sampai tak mampu mengabadikan momen mesra Meli-Azka.
“Kasih Dika aja kameranya, Mas. Daripada blur nanti hasilnya,” saran Juno.
“Sst, lihat! Bengong gitu gimana mau motret,” bisik Ken sambil menunjuk Dika.
“Insya Allah,” lirih Dika, lalu tersenyum. Hatinya mencoba tegar mengikhlaskan Meli untuk Azka.
Tidak hanya Dika yang hatinya terluka melihat momen sah Meli-Azka. Ada Salsa yang juga merasakan sesak yang hampir serupa. Baik Salsa maupun Dika saat itu sama-sama berusaha menata hati, sembari terus mencoba ikhlash melepas orang yang dicintai.
“Mario, cepetan lamar Anjani, dong. Aku udah punya konsep buat pesta pernikahan kalian nih.” Alenna mengompori kakaknya.
“Iya tuh, Kak. Nggak baper lihat Meli sama
Mas Azka?” Berlian ikut-ikutan jadi kompor.
Anjani dan Mario yang saat itu memakai baju couple hanya tersenyum malu-malu. Tidak ada yang mengiyakan, juga tidak terdengar penolakan. Dalam hati, mereka sama-sama berdoa yang terbaik. Juga, sama-sama berharap agar segera menyusul kebahagiaan Meli dan Azka.
Di saat yang sama, Meli melambai-lambaikan tangan ke arah Anjani dan Mario. Meli menyuruh mereka berdua untuk mendekat dan berfoto bersama.
“Ayo foto dulu. Anjani di sebelahku. Kak Mario di sebelah Mas Azka,” pinta Meli dengan keceriaan khasnya.
“Mas Azka, selamat ya.” Mario memberi selamat pada Azka.
“Cepat nyusul, ya.” Azka memberi kode mata agar Mario melihat Anjani.
Senyum Mario mengembang. Mempelai pria rupanya ikut-ikutan mendoakan dirinya dan Anjani.
Cekrek!
Keluarga Jember-Jogja bergantian berfoto dengan pengantin. Via menggendong Baby Zayn dengan penuh kasih sayang, lantas bersama Farhan memberi selamat dan berfoto bersama kedua mempelai yang berbahagia.
“Kakak ipar,” sapa Meli pada Via.
“Adik iparku cantik banget, sih.” Via memuji Meli.
“Dek, lega udah sah?” tanya Farhan pada Azka.
“Udah, dong. Istri Azka cantik, kan?” Azka menarik pinggul Meli hingga mendekat ke arahnya.
__ADS_1
“Heeeem. Udah berani mesra-mesraan ya sekarang?” canda Farhan.
“Biarin, yang penting sah,” sahut Azka.
Azka terus saja merangkul Meli. Meski malu-malu, hati Meli sungguh tak dapat menolak pesona Azka.
Resepsi pernikahan digelar sederhana. Tamu undangan lain berdatangan memberi ucapan selamat dan doa untuk kedua mempelai. Kebanyakan yang datang adalah tetangga dekat, keluarga dekat, dan teman Meli beberapa orang saja. Sambil tersenyum ramah, Meli dan Azka menyambut para tamu dengan penuh suka cita.
Menjelang dhuhur, sudah tak terlihat lagi tamu undangan yang datang. Tersisa keluarga Jember-Jogja dan teman-teman baik Meli saja. Meli dan Azka terus-terusan memancarkan aura bahagia, hingga kemudian datanglah kabar tak terduga di tengah-tengah kebahagiaan mereka.
Raut wajah Farhan serius menerima kabar dari seseorang via telepon. Via dan Edi bahkan langsung mendekat. Begitu selesai menerima telepon, Farhan menyampaikan kabar yang didengarnya. Om Candra kecelakaan saat akan terbang ke Jember untuk menghadiri pernikahan Meli dan Azka.
“Aku akan memberi tahu Azka. Tolong beri tahu ayah dan bunda. Kita harus segera pamit terbang ke Medan," kata Farhan serius.
“Iya, pelan-pelan bicara pada Dek Azka,” nasihat Via.
Azka menyadari ada yang berbeda di sekitar. Keluarganya tampak khawatir dan menyebut-nyebut keluarga Candra Wijaya. Azka mengajak Meli mendekat untuk mencari tahu apa yang terjadi. Farhan lekas menyambut Azka dan Meli. Berhati-hati, Farhan menyampaikan bahwa Om Candra kecelakaan.
“Kita harus segera ke Medan,” kata Azka mantap. Azka ingin segera mengetahui kondisinya, karena selama di Medan dia tinggal bersama Candra Wijaya.
Farhan mengangguk, lalu meminta izin untuk memberi pengertian pada keluarga Meli.
Meli masih bingung mengartikan situasi di sekitarnya. Suasana bahagia mendadak berubah menjadi kekhawatiran. Meli melihat Bunda Aisyah, Pak Haris dan lainnya berbincang dengan orang tuanya. Ada keseriusan dalam perbincangan itu.
Azka menggenggam tangan Meli begitu erat. Berat hati Azka untuk meninggalkan sosok cantik yang baru saja sah menjadi istrinya itu. Namun, Azka harus pergi ke Medan dengan segera.
“Ikut aku sebentar,” bisik Azka di telinga Meli.
Meli mengangguk. Masih dalam genggaman tangan Azka, Meli melangkah menuju kamarnya. Kamar yang sudah dihias dan bertaburan bunga. Kamar yang seharusnya menjadi kamar pengantin untuk malam pertama mereka.
Azka menatap manik mata Meli dengan lekat.
“Sayang, aku harus pergi sekarang,” kata Azka.
“Aku mengerti,” lirih Meli sembari menahan rasa sesak.
Azka terdiam. Dia mampu merasakan kesedihan dan rasa khawatir istrinya. Diusapnya pelan pipi Meli sembari tersenyum.
“Jaga diri baik-baik. Jaga kehormatanmu. Jaga kehormatan suamimu. Semangat lanjutkan kuliahmu. Kita bisa melewati ini, dan segera kita akan bisa bertemu lagi,” pesan Azka pada Meli.
Senyum Meli mengembang. Satu anggukan menyusul kemudian. Meli memahami setiap pesan Azka untuknya.
“Aku mencintaimu istriku,” ucap Azka tulus.
Azka memutus jaraknya dengan Meli. Bibir mereka menyatu. Beberapa detik Meli dan Azka larut dalam kehangatan dan luapan cinta kasih yang mengalir dari bibir mereka. Begitu puas, Azka melepas. Senyum manis kembali disuguhkan untuk Meli.
***
Pak Haris dan keluarga rombongan dari Jogja sudah bersiap di dekat mobil. Mereka tinggal menunggu Azka. Tak lama kemudian, Azka muncul ditemani Meli
Azka berpamitan pada mertuanya, keluarga Meli yang lainnya, juga teman-teman Meli yang masih ada di sana. Terakhir, Azka kembali berpamitan pada sang istri.
“Jangan ragu untuk ngemil banyak bila kamu mau. Aku sama sekali tidak masalah jika kamu gendutan,” ucap Azka sambil menatap Meli.
Meli terkekeh pelan. Senyum mengembang menghiasi wajah cantiknya. Azka sedikit lega bisa melihat senyuman Meli sebelum keberangkatannya.
Azka mencium kening Meli dengan lembut. Meski dalam suasana khawatir, semua yang menyaksikan cinta kasih Azka untuk Meli sukses dibuat baper.
“Assalamu’alaikum istriku,” pamit Azka seraya tersenyum.
“Wa’alaikumsalam suamiku,” jawab Meli dengan senyuman terbaiknya.
Mobil mempelai pria melaju meninggalkan kediaman mempelai wanita. Meski momen haru harus terjadi di tengah kebahagiaan mereka, yang penting Meli-Azka SAH.
Bersambung ….
Bagaimana kondisi Candra Wijaya di Medan? Bagaimana Azka melalui hari-harinya saat jauh dari Meli? Cari tahu jawabannya di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR Karya Kak Cahyanti. Yuk rame-rame baca dan cari tahu di sana. Dukung kolaborasi kami. Diucapkan terima kasih juga bagi kakak-kakak semua yang sudah vote, like, dan meninggalkan jejak komentarnya di setiap bab novel kami. Barakallah. Semoga kebahagiaan Meli-Azka lekas menular pada siapa pun para single yang membaca ini. 😉
__ADS_1