
Udara siang terasa lebih menyengat dari hari-hari sebelumnya. Membuat sebagian besar penghuni kota memilih beraktivitas di dalam ruangan. Ada pula yang berteduh di bayang-bayang gedung dan pepohonan tatkala terpaksa menunaikan tuntutan pekerjaan di luar ruangan.
Telah tiba waktu istirahat makan siang. Para pekerja berbondong-bondong menuju kantin, rumah makan, atau tempat lain yang menyediakan menu makanan. Karyawan kantor di perusahaan yang dipimpin oleh Leon pun melakukan hal yang sama. Namun, tidak bagi Alenna.
"Hei, mau kemana?" tanya Leon saat melihat Alenna menenteng tas miliknya.
"Mau ke kampus. Ada hal penting. Mario mau pergi dari rumah," jelas Alenna buru-buru.
"Wow. Keluarga kalian ini aneh, ya. Selalu saja membuat hal-hal yang merepotkan orang lain," kata Leon tanpa sungkan.
Alenna yang sudah mendekati ambang pintu pun seketika berhenti melangkah, berbalik badan, lalu menatap tajam ke arah Leon. Tatapan mata Alenna mengisyaratkan ketidaksukaan atas perkataan Leon sebelumnya.
"Jaga bicaramu, Leon! Mau kulaporkan pada ayah, ha? Ingat, aku punya kartu yang bisa melengserkan posisimu saat ini! Ingat itu!" tegas Alenna. "Ohya. Rapat setelah ini akan di-handle Paman Li. Jangan mencariku!" imbuh Alenna.
Suara hentakan high heels Alenna terdengar memenuhi ruangan. Perlahan suara itu samar seiring langkah kaki Alenna yang menjauh.
"Cih. Sial!" umpat Leon.
Sepandai-pandai tupai melompat pasti akan terjatuh juga. Ungkapan yang cocok sekali untuk Leon. Leon memang pandai menyembunyikan kebusukannya, tapi akhirnya terbongkar juga.
Ya. Baru pagi tadi Alenna mengetahui bahwa Leon adalah dalang atas tersebarnya berita memalukan tentang perselingkuhan John hingga menyebabkan batalnya pernikahan Mario-Anjani.
Flashback on
Pukul enam pagi Alenna sudah ada di kantor. Bukan kebiasaan Alenna berangkat pagi seperti saat itu. Akan tetapi, pagi itu Alenna diminta ayahnya mengambil beberapa dokumen penting di kantor.
Leon yang memang terbiasa datang lebih awal ke kantor, pagi itu ada janji temu dengan Vina. Jadilah, Leon dan Vina asyik mengobrol berdua di ruangan kerja Leon.
Pagi itu begitu sampai di kantor, Alenna lekas menuju lift dan segera menuju ruang kerjanya, yakni ruangan yang sama dengan Leon. Begitu keluar dari lift dan mulai melangkah mendekati ruangan kerjanya, terdengarlah tawa seorang wanita yang begitu dikenal oleh Alenna. Tawa itu adalah tawa Vina. Disusul oleh tawa lainnya, yakni tawa Leon.
Merasakan ada yang tidak biasa, Alenna pun memelankan langkahnya, mengendap-endap mendekati ruangan kerja tempat Leon dan Vina mengobrol di sana. Melalui sebuah celah kecil, Alenna pun mengintip ke dalam sana.
Terlihatlah, Vina tengah asyik duduk di atas meja kerja Alenna. Sementara di seberangnya terlihat Leon sedang berdiri sambil bersedekap. Berulang kali Vina menyebut-nyebut nama Mario. Obrolan itu terdengar jelas di telinga Alenna karena memang pintu ruangan yang tidak tertutup.
Alenna tentu semakin merasa ada yang aneh, karena saat bersama Alenna, Vina tidak intens menyebut-nyebut nama kakaknya. Alenna segera berinisiatif mengaktifkan alat perekam suara di smartphone miliknya.
"Aku benar-benar ingin memiliki Mario seutuhnya," kata Vina.
"Cih. Sabar sebentar. Dokumen kepindahanmu sedang dalam proses pengurusan. Mulai semester depan kamu bisa kuliah di tempat yang sama dengan Mario. Setelah itu kau bebas berbuat apa pun padanya," jelas Leon.
"Ya-ya. Kau memang berhutang budi padaku. Urus semuanya sehingga aku bisa selalu dekat dengan Mario. Ingat, pernikahan Mario tidak akan gagal semudah itu kalau bukan karena bantuanku." Vina mengingatkan Leon tentang usahanya.
"Hahaha. Terima kasih juga telah membantuku menyebarkan berita perselingkuhan ayah Mario ke awak Media. Kau iblis wanita yang berbahaya, Vina. Mendadak aku tertarik padamu," kata Leon sambil melangkah mendekat ke arah Vina, berniat menggoda.
"Tak perlu buang-buang waktu untuk hal yang mustahil. Kau sama sekali tak menarik minatku. Pesonamu tidak sekuat Mario. Jadi, urus saja tugasmu. Percepat, agar aku bisa lebih cepat pindah ke kampus itu!" pinta Vina.
Klik!
Alenna menelan ludah, sesaat setelah selesai merekam sebuah fakta. Nafas Alenna mendadak tak karuan. Ada sesak yang terasa di dada, terutama lantaran kecewa. Alenna tak menyangka, bahwa Leon yang selama ini begitu dipercaya oleh ayahnya telah berkhianat. Terlebih, Vina yang selama ini dekat dengannya juga ikut andil dalam rencana busuk tersebut.
Alenna berdiri tegak, bersandar pada tembok, dan berusaha mengatur nafasnya. Sambil tetap melangkah perlahan, Alenna masuk ke dalam salah satu ruangan sembari menunggu Vina pulang.
Lima belas menit berlalu. Alenna sudah bisa bersikap lebih tenang dari sebelumnya. Deru nafasnya kembali normal, tidak lagi memburu seperti sebelumnya.
Alenna melihat Vina keluar dari ruangan kerja Leon, berjalan perlahan memasuki lift. Tepat saat pintu lift tertutup, Alenna bergegas keluar dan menemui Leon di ruangan kerjanya.
"Alenna?" Leon sedikit terkejut melihat kedatangan Alenna dengan raut muka marah.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Alenna segera menghidupkan rekaman yang telah dia ambil sebelumnya.
Leon terbelalak begitu mendengar suara Vina dan dirinya dalam rekaman tersebut. Apalagi jelas terekam di sana rencana busuk dirinya dan Vina. Tanpa menunggu rekaman tersebut habis, Leon bergegas merebut smartphone Alenna. Jemari Leon lincah menuju simbol sampah, hingga terhapuslah file rekaman itu.
"Nih, kukembalikan!" ujar Leon sembari menyerahkan smartphone Alenna.
Alenna menerima smartphone miliknya dengan sikap biasa saja. "File rekamannya sudah kugandakan di mana-mana. Selamat!" seru Alenna.
"Apa? Kau itu ...." Leon menuding wajah Alenna dengan telunjuknya.
"Tenang saja. Tidak akan kuadukan pada ayah, mengingat kinerjamu sangat baik untuk perusahaan. Setelah ini perbaiki sikapmu dan jangan pernah mengganggu kakakku!" tegas Alenna.
Setelah berkata demikian, Alenna mengambil beberapa dokumen dari mejanya, lalu bergegas keluar dari ruangan itu.
"Sial!" umpat Leon.
Flashback off
Leon masih memperhatikan Alenna pergi menjauh dari ruangan itu. Leon tak lagi bisa bebas bergerak karena ancaman Alenna. Jujur, Leon tidak ingin posisinya di perusahaan tergeser. Alhasil, mau tidak mau kini Leon harus menuruti perkataan Alenna.
"Ck. Mood makan siang jadi kacau, deh!" Leon kesal, tapi tetap tak punya pilihan.
***
Alenna melangkah keluar menuju parkiran. Dering smartphone miliknya sedari tadi terdengar, masih dengan nomor yang sama. Panggilan itu dari John yang khawatir berlebihan terhadap keputusan Mario untuk pergi dari rumah.
"Halo, ayah!" kata Alenna yang akhirnya mengangkat telepon ayahnya.
"Sudah bertemu kakakmu?" tanya John.
"Baiklah. Ayah tunggu," kata John.
Telepon pun terputus.
Mobil Alenna segera melaju keluar dari halaman parkir perusahaan. Alenna tidak terburu-buru, santai saja mengemudikan mobilnya. Namun, mobil itu tidak menuju rumahnya, tempat Mario berada saat ini dan masih berkemas barang miliknya. Alenna mengemudikan mobilnya menuju kampus.
***
Siang itu masih berlangsung mata kuliah Pak Nizar, setelah sebelumnya Anjani dan teman-temannya menghadiri mata kuliah Pak Koko. Pembelajaran kuliah siang itu diikuti Anjani dan teman-temannya dengan antusias. Bagi yang kurang suka dengan materinya, cukup melihat paras wajah Pak Nizar dan seketika tetap enjoy mengikuti kelasnya.
"Demikian materi kuliah hari ini. Adakah yang ditanyakan?" tanya Pak Nizar dengan suara khas kejawa-jawaannya.
Meli mengacung dengan cepat.
"Iya, silakan!" seru Pak Nizar.
"Seperti apa tipe wanita yang Pak Nizar sukai?" tanya Meli dan langsung mendapat semprotan kata dari teman-teman sekelasnya.
"Huuuuuuu!"
"Meli Caper!"
Meli hanya membuang muka saat teman-temannya berseru. Sementara Anjani dan Berlian di sebelah Meli hanya bisa terkekeh dan geleng-geleng kepala.
"Sudah-sudah. Meli, adakah yang mau ditanyakan terkait materi hari ini?" tanya Pak Nizar dengan ramah.
"Tidak ada, Pak." Meli menjawab sambil nyengir.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Saya rasa cukup untuk hari ini. Ingat, jangan ragu untuk berbagi. Bisa berbagi apa pun, termasuk juga ilmu yang sudah kalian dapatkan hari ini. Saya akhiri dulu. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang." Pak Nizar menutup kelas siang itu.
Anjani dan teman-temannya merapikan buku catatan kuliah masing-masing. Saat merapikan buku catatannya, sekilas Anjani melihat ada seorang wanita cantik sedang berdiri di depan pintu kelas dan menyapa Pak Nizar. Anjani memperhatikan wanita itu sekali lagi.
"Alenna?" kata Anjani.
Alenna melangkah masuk ke dalam ruang kelas setelah selesai menyapa Pak Nizar.
Juno senang melihat kekasihnya datang ke kampus. Cepat-cepat Juno menghampiri.
"Hai. Rindu aku, ya?" tanya Juno PD.
"Juno. Minggir! Aku mau ketemu Anjani!" protes Alenna saat Juno menghadang langkahnya.
"Mencariku?" tanya Anjani yang mendengar perkataan Alenna.
Juno menggeser langkah dan mempersilakan Alenna untuk menghampiri Anjani. Namun, Juno tetap berdiri di samping kekasihnya itu.
"Ada apa, Alenna?" tanya Anjani.
"Mario mau pergi dari rumah," kata Alenna langsung pada topik.
Anjani terdiam mendengar nama Mario disebut. Sedikit terkejut pula mengetahui kabar tentangnya.
Di sebelah Alenna, Juno terlihat bingung, antara mengiyakan kabar itu atau tidak. Sebenarnya Juno sudah tahu rencana Mario beserta alasannya. Namun, Juno enggan untuk memberi tahu Anjani. Khawatir jika Anjani kembali teringat dengan Mario. Juno pun memilih diam, pura-pura tidak tahu.
"Anjani, bisakah kau menemui kakakku dan membujuknya agar tidak pergi dari rumah?" pinta Alenna.
Anjani terdiam. Hati dan pikirannya beradu, mempertimbangkan banyak hal. Sekian detik Anjani masih bertahan dengan posisi diamnya. Bahkan, Meli yang saat itu meminta Anjani untuk mengiyakan permintaan Alenna sama sekali tidak ditanggapi olehnya.
Astaghfirullah, batin Anjani.
"Anjani, mau ya?" desak Alenna.
Anjani tersenyum sambil menatap Alenna.
"Maaf, Alenna. Aku tidak bisa. Permisi. Assalamu'alaikum," pamit Anjani.
"Eh. Anjani tunggu aku!" seru Meli.
"Juno, Alenna, aku tinggal dulu, ya. Bye!" pamit Berlian lalu mengejar Meli dan Anjani.
Alenna berdiri mematung. Beberapa detik kemudian, Alenna tersenyum.
"Alenna," panggil Juno, khawatir dengan kekasihnya itu.
"Sudah kuduga," gumam Alenna lirih.
Keteguhan hati Anjani dalam mempertahankan keputusannya tak bisa digoyahkan. Anjani telah membatasi diri, seiring perjalanan hijrah yang akan segera dilalui.
***
Bersambung ....
Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan ceritanya, ya.
Kritik dan sarannya selalu aku tunggu 😊
__ADS_1