CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Kembali Berdebar


__ADS_3

Seruan istighfar dalam hati terus menggema tak putus-putus, tatkala Anjani mengingat segala kekhilafan masa lampau. Tentang khilaf pandangan mata, khilaf sentuhan tangan, khilaf perasaan berlebih yang bersemayam dalam dada, hingga khilaf kata-kata sayang antara dirinya dengan sosok lelaki yang belum halal baginya. Ya, itu semua adalah dosa masa lalu, dan kini Anjani menyesalinya.


"Astaghfirullah."


Anjani teringat kekhilafan masa lampau antara dirinya dengan Mario. Segeralah meluncur kata istighfar usai fardu dhuhur ditunaikan. Tangan ditengadahkan, seiring istighfar dan doa-doa tuk memohon ampunan. Untaian kata-kata indah memuji asma-Nya menjadi penutup doa. Ucap syukur atas segala nikmat pun tak lupa pula dihaturkan kepada Sang Pencipta.


"Alhamdulillaah."


Masih di kampus, Anjani segera melipat mukenanya dan merapikan jilbabnya. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Anjani melangkah keluar dari mushollah area jurusan ekonomi. Langkahnya terasa lebih ringan, dengan senyum yang masih bertahan usai ibadah dhuhur ditunaikan.


"Hei, Anjani. Sebelah sini!" seru Meli, melambaikan tangannya seraya memberi kode agar Anjani mendekat.


"Sudah. Ayo, ke kelas! Ini ujian hari terakhir, kan?" tanya Anjani sekaligus mengajak Meli tuk segera menuju kelas.


"Iya, ini ujian terakhir, mata kuliahnya Pak Nizar. Yuk!" Meli bangkit dari duduknya.


"Oke, yuk!"


Sudah delapan hari berlalu sejak Anjani dan Meli meminta bantuan pada Pak Nizar untuk diajari mengaji. Hari-hari pun berlalu dengan Anjani dan Meli yang disibukkan dengan jadwal ujian akhir semester. Sesuai kesepakatan yang telah dibuat, Anjani dan Meli akan belajar mengaji mulai sehari setelah ujian selesai. Itu artinya Anjani dan Meli akan mulai belajar mengaji besok.


Anjani dan Meli akan belajar mengaji selama masa liburan semester. Selama liburan semester itu pula Anjani dan Meli kembali freelance di toko bunga Kak Lisa. Pagi hingga siang Anjani dan Meli freelance di toko bunga Kak Lisa, sedangkan sore harinya belajar mengaji hingga pukul lima.


"Akhirnya masa ujian selesai juga. Lega, deh!" seru Meli girang.


"Alhamdulillaah," sahut Anjani sembari menyenggol pundak Meli.


"Hehe, iya. Alhamdulillaah. Semoga nilainya A semua. Aamiin," imbuh Meli.


"Teman, aku balik duluan, ya. Mau bantuin Kak Lisa di toko. Ada pesanan buket. Oh ya, sampai ketemu besok di toko. Aku akan menyambut kalian dengan hangat, hehe." Berlian terlihat riang sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Oke, siap." Meli menjawab mantap diikuti acungan jempol dari Anjani.


"Aku juga balik, deh. Ada orderan cokelat lagi, nih. Bye, semua!" pamit Dika, lalu menyejajarkan langkahnya dengan Berlian yang juga berniat pulang duluan.


Tersisa Anjani, Meli, dan Juno di depan ruang kelas yang tadinya dipakai sebagai tempat pelaksanaan ujian.


Di depan kelas, Meli terlihat sibuk membalas beberapa chat di smartphone miliknya. Hanya Anjani dan Juno yang tidak melakukan apa-apa, hanya berdiri sambil menunggu Meli selesai dengan urusannya. Namun, di balik itu ada sesuatu yang terjadi tanpa disadari oleh Meli. Hanya Anjani dan Juno yang merasakannya, karena mereka berdualah tokoh yang saat itu sedang terjebak dalam perasaan tak biasa.


Juno sedari tadi terus menatap Anjani tanpa sungkan. Anjani yang merasa risih dengan tatapan Juno pun terus memalingkan pandang, menunduk berulang, bahkan sampai menegur Juno pun dilakukan. Namun, Juno sama sekali tak sungkan. Terus saja menatap Anjani dengan senyum mengembang.


"Juno, kumohon jangan bersikap seperti ini!" pinta Anjani dengan nada lirih, tapi terdengar oleh Juno, bahkan Meli di sebelahnya pun mendengar.


"Hm, memangnya kenapa?" tanya Juno.


Juno masih bertahan dengan sikapnya. Sama sekali tak sungkan menatap Anjani sambil tersenyum menunjukkan pesona tampannya. Anjani sampai menutupi wajahnya dengan tas kuliahnya, agar Juno tak bisa memperhatikan dirinya.


"Woi-woi!" seru Meli sembari melempar gumpalan tisu ke wajah Juno. Dia sudah selesai dengan urusannya.


"Ih, jorok banget, sih. Bekas ingus, ya?" Juno menyingkirkan gumpalan tisu yang tadi dilempar Meli. Segera dia lempar ke tong sampah di dekat sana.


"Iya, rasain! Habis, tuh mata nggak bisa dikondisikan apa, ha? Nih, jilbab Anjani sudah selebar ini. Tundukkan pandanganmu juga, Jun. Malah asyik menatap." Meli protes, membela Anjani.


"Ah, kalau iri bilang, Mel!" celetuk Juno.


"Siapa yang iri? Ingat nggak sih kalau situ sudah ada Alenna?" Meli tak terima, dan terus melontarkan protesnya.


"Hm. Maka dari itu, aku akan putus dengan Alenna dengan segera." Juno ringan berkata demikian.

__ADS_1


Usai berkata akan putus dengan Alenna, Juno kembali menoleh ke arah Anjani dan tersenyum padanya. Anjani sampai tidak habis pikir kenapa Juno bisa bersikap seperti itu kepadanya.


"What? Santai banget sih bilangnya," kata Meli tak percaya.


"Tentu, karena sekarang aku sudah sadar bahwa ...." Kata-kata Juno terputus.


Sebelum Juno melanjutkan kata-katanya. Anjani lebih dulu memotong dan mengajukan protesnya.


"Stop-stop! Aduh, kenapa jadi berantem begini, sih?" seru Anjani.


Setelah Anjani berkata demikian, untuk beberapa saat Juno dan Meli tak berkomentar. Keduanya saling membuang pandang.


"Sudah selesai? Ayo, pulang!" saran Anjani.


"Eh, Anjani. Maaf, liburan semester ini kamu pulang kampung nggak?" tanya Juno tiba-tiba.


Anjani menggeleng dengan sikap ramah. "Ma yang akan ke kota, karena aku freelance di toko bunga Kak Lisa. Kamu?" Anjani tanya balik.


Juno menggeleng lalu tersenyum lebar.


"Aku tidak pulang kampung. Sudah pamit juga ke ayah. Aku kan ketua penyambutan mahasiswa baru. Kamu sama Meli ada di bagian konsumsi, ya. Kalau ada kesulitan, bilang saja padaku." Juno menjelaskan.


"Iya, Pak Ketua Juno. Sekarang kita boleh pulang?" tanya Meli.


"Silakan," jawab Juno ramah.


Meli segera menarik lengan Anjani untuk segera menjauh dari hadapan Juno. Juno sempat melayangkan senyumnya lagi sebelum Anjani berlalu pergi.


"Huft." Juno menghembuskan nafas dalam.


***


Sore hari di kontrakan Mario.


Mario sudah terbiasa tinggal sendirian di kontrakan barunya. Hari-harinya semakin terasa bermakna karena hampir setiap hari Mario selalu belajar mengaji dengan Pak Nizar. Terkadang Mario yang datang ke kontrakannya Pak Nizar, kadang pula Pak Nizar yang datang ke kontrakannya Mario. Meski sering bertemu Pak Nizar, sampai saat ini Mario belum tahu bahwa akan ada Anjani yang akan belajar mengaji juga.


Sore itu, Mario kedatangan ayahnya dan Alenna. Ayah Mario telah mendukung keputusan anak lelakinya itu. Alenna juga demikian, bahkan mulai terinspirasi dengan jalan baru kakaknya.


"Ingat, hanya sampai lulus. Setelah itu kau harus kembali ke rumah, juga kembali memimpin perusahaan." John mengingatkan Mario.


"Hm. Baik, ayah." Mario mengiyakan.


Selanjutnya John memberi kode kepada Alenna untuk pamit pulang.


"Aku pulang dulu, ya. Jangan sampai telat makan," nasihat Alenna pada Mario.


Mario tersenyum dan memberi kode jari 'OK'.


"Ayah pulang," kata John.


"Hati-hati ayah," tutur Mario sembari meraih tangan ayahnya lalu mencium punggung tangan ayahnya.


John sedikit terkejut dengan sikap Mario. Tak biasanya Mario melakukan hal itu. Namun, hati kecil John merasa senang dengan tindakan Mario yang tiba-tiba meraih dan mencium punggung tangannya itu.


"Ayah bangga padamu, Nak." John berkata tulus.


"Terima kasih ayah." Mario tersenyum.

__ADS_1


Bukan hanya John dan Mario yang merasakan atmosfir rasa nyaman di sana, Alenna pun demikian. Alenna bahkan sampai tersenyum girang memperhatikan ayah dan kakaknya itu.


John dan Alenna pun pulang. Tersisalah Mario, kembali sendirian. Tepat saat Mario berbalik badan, dering smartphone-nya pun terdengar. Sebuah panggilan suara dari Pak Nizar, dan Mario lekas menerima panggilan itu.


"Assalamu'alaikum," salam Mario via telepon.


"Wa'alaikumsalam. Mario, saya minta maaf. Hari ini saya izin tidak bisa mengajari ngaji seperti biasanya. Kebetulan ada perlu dengan beberapa dosen. Tidak apa-apa, ya." Pak Nizar menjelaskan.


"Iya, Pak. Tidak apa-apa. Kalau begitu saya ulang kembali pelajaran-pelajaran sebelumnya agar lebih lancar ngajinya," terang Mario.


"Alhamdulillaah. Semoga senantiasa dimudahkan niatan baikmu," kata Pak Nizar.


"Aamiin," jawab Mario.


"Mario, sekalian saya mau bilang. Besok ada teman kamu yang juga akan belajar mengaji, tapi beda kelompoknya saja. Untuk sementara tempatnya saya samakan agar teman-teman kamu tidak canggung dengan teman saya yang akan mengajari mereka berdua mengaji. Tidak apa-apa ya kalau tempatnya saya alihkan?" Pak Nizar menjelaskan sekaligus meminta pendapat Mario.


"Iya tidak apa-apa, Pak. Saya justru senang jika banyak teman yang belajar mengaji," kata Mario menanggapi.


"Alhamdulillaah. Untuk tempatnya akan saya beritahukan menyusul, ya." Pak Nizar kembali menjelaskan. Kali ini terdengar jelas nada khas kejawa-jawaannya.


"Baik, Pak. Apakah Ken, teman yang saya ceritakan tempo hari? Maksud saya teman yang akan bergabung belajar mengaji, Pak." Mario bertanya dan menduga itu adalah Ken.


"Bukan. Bukan Ken. Mereka ini adik tingkatmu. Mereka berdua mengenalmu juga. Perempuan," imbuh Pak Nizar.


Sejenak Mario berpikir, tapi tetap tidak menemukan siapa yang dimaksud oleh Pak Nizar.


"Perempuan? Siapa, ya Pak?" tanya Mario.


"Namanya Meli dan Anjani," sebut Pak Nizar.


Deg-deg-deg.


Mendadak jantung Mario kembali berdebar-debar saat nama Anjani disebutkan. Sudah lama debaran itu tidak dia rasakan.


Anjani? batin Mario.


"Halo? Mario?" Pak Nizar berusaha memanggil Mario via telepon karena ada jeda beberapa detik tak terdengar tanggapan dari Mario.


"I-iya, Pak." Mario berusaha mengendalikan dirinya.


"Saya rasa cukup. Sampai bertemu besok, ya. Assalamu'alaikum," pamit Pak Nizar.


"Wa'alaikumsalam."


Telepon dimatikan.


Masih terasa debaran jantung Mario. Mario masih tidak percaya pada sebuah jalan takdir yang ditemuinya. Beberapa kali hembusan nafas dalam meluncur seiring istighfar yang digumamkan.


Ya Allah, rencana-Mu pasti jauh lebih indah, batin Mario.


"Anjani, besok kita akan bertemu." Mario tersenyum.


***


Bersambung ....


Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan ceritanya. Krisan buat author ditunggu, ya 😉.

__ADS_1


__ADS_2