CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Pintu Rahasia


__ADS_3

Kutitipkan rasa rinduku pada Sang Pemilik Rindu. Doa pun kulangitkan agar Sang Pemilik Hati menjagakan hatinya untukku. (Mario Dana Putra)


***


Terasa waktu berlalu begitu cepat tatkala tiada sesuatu yang dinanti hadirnya. Sebaliknya, rasanya detak sang waktu begitu terasa lambat tatkala ada sesuatu yang ditunggu hadirnya. Apalagi, hal yang ditunggu-tunggu itu adalah sesuatu yang sangat diharapkan akan segera terlaksana. Pasti hari-hari penantian dipenuhi desiran merdu, sembari angan mewarnai bayang-bayang candu.


Seyum Anjani merekah mengingat janji yang dibuat bersama teman-temannya. Janji itu terucap sejak lima belas hari lalu, sesaat sebelum ujian akhir semester terlaksana. Anjani dan teman-temannya berucap janji akan sungguh-sungguh dalam mengerjakan ujian akhir semester tanpa mengesampingkan hafalan Alquran yang sudah diikhtiarkan.


Ada yang menarik dari semangat yang mereka serukan. Mario kala itu membuat janji temu sehari setelah pelaksanaan ujian akhir semester berakhir, dan berlaku untuk teman-teman terdekatnya, yakni Ken, Juno, Dika, Vina, Berlian, Meli, adik Mario yang kebule-bulean, dan tentunya Anjani. Mario akan mengajak teman-temannya itu ke pusat berbelanjaan terbesar, dan membebaskan teman-temannya untuk memilih masing-masing satu barang yang disuka berapapun harganya.


"Ukhti solihah, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Meli setengah menggoda Anjani.


"Em ... kenapa ya? Mungkin karena ujiannya sudah selesai dan hafalan juz 30 juga rampung. Alhamdulillaah. Hehe, mungkin itu yang membuatku senyum-senyum," jelas Anjani.


"Mungkin? Lah, kok mungkin?" tanya Meli heran. "Ngaku aja deh kalau udah nggak sabar ketemu Kak Mario besok?" Meli semakin menggoda Anjani.


Rasanya Anjani tak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum. Spontan saja senyum Anjani mengembang. Anjani memang sedang memikirkan janji yang telah dibuat oleh Mario. Janji itu memang dibuat Mario untuk teman-temannya, tapi bagi Anjani janji itu terasa istimewa karena jarang-jarang Mario mengajak teman-temannya untuk jalan bersama.


"Jujur, sih. Sebenarnya aku juga senang ujian sudah selesai dan beneran sudah nggak sabar buat besok. Yuhuuu!" seru Meli sambil bersorak mengangkat kedua tangannya.


"Sst, Mel. Pelankan suaramu! Ada kelas lain yang masih ujian." Anjani mengingatkan.


"Ups, hehe. Lupa!" Meli menutup mulutnya.


"Oya, kamu jadi pulang kampung?" tanya Meli setelah menarik lengan Anjani agar menjauh dari ruang-ruang kelas.


"Insya Allah," jawab Anjani.


Gazebo terdekat dari ruang kuliah menjadi incaran mereka berdua. Kebetulan juga gazebo itu kosong karena sebagian besar mahasiswa memilih langsung pulang saat ujian selesai.


"Kapan berangkat?" tanya Meli setelah mereka duduk di gazebo.


"InsyaAllah lusa, pagi-pagi aku akan berangkat ke desa. Besok kan masih ada acara bareng kalian," kata Anjani.


"Oh. Berapa lama?" tanya Meli lagi.


Anjani merasa ada yang aneh dengan Meli. Biasanya Meli tidak akan bertanya sebanyak itu dengan ekspresi yang biasa-biasa saja. Seketika Anjani mendekatkan wajahnya ke arah Meli. Senyum penuh arti pun disuguhkan pula padanya.


"Ada apa, nih?" tanya Anjani sembari tetap tersenyum.


"Apanya yang ada apa?" tanya Meli tidak paham.


"Ehem. Aku cuma beberapa hari aja kok di desa. Setelah itu aku balik lagi ke kota. Mau ngajakin aku kemana emangnya?" tanya Anjani yang seakan tahu isi pikiran Meli.


Meli cengar-cengir saat Anjani bertanya.


"Kok kamu tau aja, sih?" tanya Meli tanpa memudarkan cengiran di wajahnya.


"Aku kan temenan sama kamu nggak sehari dua hari, Mel. Ayo bilang, mau ngajakin aku kemana, nih?" tanya Anjani.


Meli tampak memainkan jemarinya. Anjani pun sabar menanti Meli.


"Sepertinya ... aku rindu Jogja. Mungkin ... liburan ke Jogja bakalan seru," kata Meli setengah ragu.


Dugaan Anjani tercerahkan. Senyum Anjani pun semakin mengembang.


"Rindu Jogja atau rindu Kangmas Azka?" tanya Anjani dengan nada menggoda.


"Ka-kangmas Azka? Ehah, hahaha. Hehe ... anu. Em, cuma rindu ngobrolin olshop bareng Ratna sama Via aja, kok." Meli salah tingkah. Pipinya merona.


"Kalau gitu tinggal telepon aja. Ngapain harus ke Jogja," tukas Anjani.


"Ya bedalah. Kalau ketemu langsung kan enak," kata Meli, dan kali ini lebih antusias.


"Bilang aja pengen ketemu Azka. Ngaku-ngaku-ngaku!" desak Anjani.


"Em, ya itu salah satunya, sih." Perlahan Meli mulai mengaku. "Jadi?" tanya Meli kemudian.


"Jadi apanya?" Anjani malah bertanya balik.


"Mau liburan ke sana?" tanya Meli.


Anjani paham betul keinginan Meli. Meli jelas-jelas tengah merasakan virus merah jambu yang bernama cinta.


Melihat Anjani tak kunjung menjawab, Meli pun membuat kemungkinan lain.


"Apa sebaiknya aku pindah kuliah aja ke Jogja?" Tiba-tiba saja Meli berkata demikian.


"Ngomong apa, sih? Masa iya kamu mau ninggalin aku. Udah, kuliah di sini aja." Anjani tak ingin Meli pindah kuliah.


Bibir Meli manyun, dan tak ada kata lain lagi yang dia ucapkan.


"Terus, nggak mau nih liburan ke Jogja?" tanya Meli lagi.


"Lihat nanti, ya. Aku mau pulang kampung dulu karena udah kangen berat sama Ma. Nanti kubawain oleh-oleh, deh." Pada akhirnya Anjani menjanjikan oleh-oleh untuk Meli.


"Iya, deh. Jangan lama-lama, ya." Meli merajuk ala anak kecil.


Anjani gemas melihat tingkah sahabatnya itu.

__ADS_1


"InsyaAllah. Yuk, pulang! Simpan tenaga buat jalan-jalan besok!" Anjani bersemangat.


"Siplah. Yuk!" sahut Meli.


"Tunggu! Ke perpustakaan dulu, deh. Balikin buku. Kamu juga ada buku yang belum dibalikin kan?" tanya Anjani.


"Oh iya. Hampir aja lupa. Okey, yuk!" Meli bersemangat.


Ujian akhir semester telah selesai dilaksanakan. Liburan sudah di hadapan. Tak sabar rasanya hati menanti keseruan-seruan. Namun, apakah benar akan seseru dalam bayangan?


***


Ken melangkah masuk ke dalam rumah mewah di kompleks perumahan elit. Itu rumah Mario. Ken datang hendak mengembalikan buku-buku kuliah milik Mario yang sempat dipinjam.


Bibi juru masak rumah itu sempat menyapa Ken di teras depan rumah, lalu bergegas kembali ke dapur demi membuat minuman dan camilan untuk Ken yang sudah terbiasa datang menemui Mario.


Ken segera menuju kolam renang, mengintipnya, tapi tidak ada Mario di sana. Ken juga ke balkon lantai 2 rumah Mario, tapi sama sekali tidak ada sosok Mario di sana. Smartphone menjadi pilihan selanjutnya untuk mengetahui di mana Mario berada.


"Hallo, Bro!" sapa Ken begitu panggilan tersambung.


"Assalamu'alaikum, Ken." Mario memberi salam.


"Eh, hehe. Iya. Wa'alaikumsalam," jawab Ken.


"Ada apa, Ken?" tanya Mario.


"Posisi," kata Ken singkat.


"Perpustakaan."


"Eh? Sejak kapan di rumahmu ada perpustakaannya?" Ken terheran dan baru saja tahu.


"Vas navy besar lurus ke selatan. Temukan tombol di balik lukisan bunga mawar. Tekan tombolnya dan temukan pintu masuknya," jelas Mario. "Assalamu'alaikum." Telepon dimatikan.


"Wa'alaikumsalam. Wow!" seru Ken.


Bagi Ken, mendengarnya saja sudah sangat keren. Ken benar-benar baru tahu bahwa di rumah Mario ada perpustakaan. Ken menduga bahwa itu merupakan perpustakaan rahasia.


Segera Ken mencari keberadaan perpustakaan dengan petunjuk yang disampaikan Mario. Ken mencari vas navy besar yang ternyata ada di lantai 1 rumah itu. Ken berjalan lurus ke selatan dan berhenti tepat di depan sebuah lukisan. Itu adalah lukisan mawar putih. Mawar tunggal dengan goresan yang menakjubkan.


"Pantas Mario suka banget ngasih mawar putih untuk Anjani," gumam Ken.


Puas memandangi lukisan berukuran besar di depannya itu, Ken pun memeriksa tembok di belakang lukisan dengan hati-hati. Benar, ada tombol kecil di sana.


"Kenapa terasa seperti menjelajahi peta harta karun ya?" Ken bersemangat.


Begitu tombol ditekan, rak-rak besar yang terpajang lima meter dari lukisan itu pun bergeser pelan. Ken ternganga menyaksikannya.


Ken lekas menuju pintu yang ada di sana. Namun, langkahnya tertahan karena pintu itu menggunakan kata sandi.


"Yang seperti ini nih yang bikin repot. Mau ngembalikan buku aja harus main tebak-tebakan dulu," gerutu Ken.


Ken tidak mau ambil pusing. Smartphone kembali dikeluarkan dan satu panggilan suara ditujukan pada Mario.


"Assalamu'alaikum. Kata sandi, Bro!" Ken langsung pada topik.


"Wa'alaikumsalam. Tiga kata, dan kau sudah tahu sejak mencari keberadaan tombol di balik lukisan. Buat otakmu berpikir, Ken! " suruh Mario lalu menutup telepon itu.


Tut-tut-tut.


"Mario, hei!" seru Ken, tapi sayang telepon itu sudah ditutup. "Astaghfirullah, aku harus main tebak-tebakan, nih. Awas aja kau Mario. Begitu aku berhasil, kau harus membayar mahal atas waktu yang sudah kugunakan untuk berpikir," gerutu Ken.


Lebih dulu menarik nafas dalam, kemudian Ken bergegas menyebutkan kemungkinan kata-kata yang mungkin akan berhasil digunakan untuk membuka pintu.


"Aku idola kampus," ucap Ken.


Silakan coba lagi!


"What? Bisa ngasih feedback juga ternyata. Canggih!" Ken takjub dan sedikit terlupa dengan rasa kesalnya.


"Pria super tampan," kata Ken.


Silakan coba lagi!


Dua tebakan kata, dan semua salah. Ken mencoba lagi, lagi, dan lagi, hinga sudah tak terhitung lagi berapa kali Ken mencoba. Ken yang semula bersemangat mengetahui kecanggihan pintu rahasia itu, kini mendadak kesal. Ken garuk-garuk kepala dan berulang kali membetulkan letak kacamatanya.


"Dinosaurus memburu Mario." Kata yang diucapkan Ken sudah ngelantur.


Silakan coba lagi.


"Aaaaaa!" seru Ken kesal.


Ken hampir saja menyerah. Dirinya pun sudah terduduk di lantai sambil mengusap peluh yang Ken sendiri tidak tahu kapan peluh itu muncul.


Kembali Ken menarik nafas panjang. Ken mencoba mengingat kembali kata-kata Mario saat di telepon tadi.


"Tiga kata, dan kata Mario aku sudah tahu sejak menemukan tombol di lukisan. Lukisan tadi ...." Ken tampak berpikir. "Mawar putih?" Ken menemukan ide untuk mencobanya.


"Ehem. Bismillaah," kata Ken lalu menyebutkan kata sandinya.

__ADS_1


"Lukisan mawar putih," ucap Ken menyebutkan kata sandinya.


Hampir benar. Silakan coba lagi.


"Yuhuuu! Hampir benar!" sorak Ken lebay, padahal belum berhasil.


"Hadiah mawar putih."


Hampir benar. Silakan coba lagi.


"Mawar putih cantik."


Hampir benar. Silakan coba lagi.


"Mawar putih beraksi."


Hampir benar. Silakan coba lagi.


"Aaaaa!" seru Ken sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ken mulai kesal, tapi sama sekali tak menyurutkan semangatnya karena kata sandi yang ditebaknya hampir benar.


"Mawar putih berduri."


Hampir benar. Silakan coba lagi.


"Cinta mawar putih. Mawar putih kesepian. Mawar putih gila. Mawar putih menyebalkan. Mawar putih aaaah. Mawar putih Anjani."


Silakan masuk!


"What?"


Ken melongo. Sama sekali Ken tak menduga bahwa kata sandi untuk masuk ke dalam perpustakaan rahasia adalah 'Mawar Putih Anjani'.


"Pantas saja nggak mau nyebutin kata sandinya. Ternyata ada nama Anjani." Ken ngedumel sendiri sambil mengusap peluh di keningnya.


Langkah Ken mantap membawanya masuk ke dalam perpustakaan yang ternyata menakjubkan. Rak-rak buku ditata rapi dengan membentuk setengah lingkaran. Ada pula tempat baca yang nyaman, disertai bunga hias terpajang. Aroma parfum ruangan juga semerbak dan seketika membuat rileks pikiran.


"Wow!" Ken lagi-lagi dibuat takjub.


"Selamat datang, Ken." Mario tersenyum menyambut sahabatnya itu.


"Apa ini rahasia semua nilai A di setiap mata kuliah yang kau tempuh? Ruangan ini keren, Bro. Sayang sekali pemiliknya menyebalkan!" tutur Ken sambil menekan kata 'menyebalkan'.


Mario mengangkat sebelah alisnya.


"Menyebalkan?" tanya Mario. "Aku rasa setelah menghabiskan segelas jus melon dan camilan ini predikat menyebalkan itu akan luntur," kata Mario sambil menunjuk ke arah nampan.


"Wow. Gimana caranya ini ada di sini? Kan pintunya tertutup?" Ken kepo.


"Ada pintu lagi di sebelah sana, terhubung ke dapur. Hanya aku yang punya akses ke sana." Mario mantap menjelaskan. Dia menikmati ekspresi kesal di wajah Ken.


Ken tidak menanggapi penjelasan Mario. Segelas jus melon segera diincar dan dihabiskan. Cemilan yang terhidang pun tak luput dari incaran.


"Ini bukumu. Makasih. Ohya. Sejak kapan ada ruangan ini?" Kekepoan Ken berlanjut.


"Sejak aku kecil, dan sengaja dirahasiakan." Mario menjelaskan lagi.


"Oh. Pantas baru sekarang aku tahu. Btw, kalau udah ada fasilitas selengkap ini, lalu buat apa kamu pergi, Mario?" tanya Ken.


"Aku tetap harus pergi," kata Mario serius.


"Jadi lusa ini?" Ken bertanya lagi dan lekas mendapat anggukan dari Mario.


Sejenak obrolan di antara mereka terhenti. Ken sibuk dengan pikirannya, begitu pula dengan Mario.


"Yakin nggak bakal rindu Anjani?" tanya Ken ingin tahu.


Mario seketika tersenyum. Senyum yang sulit diartikan, tapi terpancar perasaan tulus dari hatinya.


"Kutitipkan rasa rinduku pada Sang Pemilik Rindu. Doa pun kulangitkan agar Sang Pemilik Hati menjagakan hatinya untukku," kata Mario tulus.


"Cie. Dalam sekali maknanya. Jadi, ceritanya besok kau mau membuat kenangan manis, nih. Kenapa harus di pusat perbelanjaan? Pakai ajak banyak teman lagi." Di balik kata-kata itu, Ken sebenarnya ingin tahu.


"Aku ingin menikmati kebersaman dengan kalian. Khususnya, Anjani. Jadi, besok jangan sampai absen, ya." Mario menepuk-nepuk bahu Ken.


"Siap! Siapa sih yang bakal absen kalau ditraktir belanja. Haha. Good luck, Bro!" Ken meminta tos, dan lekas disambut baik oleh Mario.


"Thanks."


Bersambung ....


***


Yang kesel baca adegan Ken dan kata sandi silakan acungkan tangan 🙋😁. Masih kepo dengan lanjutan ceritanya? Benarkah Mario akan segera pergi meninggalkan kota itu? Kebayang nggak sih ekspresi Anjani andai itu terjadi?


Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Vote, like, dan komentarnya selalu author tunggu, ya. See You. 😉


Kepo-in juga sosok Azka yang membuat pipi Meli merah merona di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti.

__ADS_1



😳😳😳😳😳😳😳😳😳😳😳😳😳😳


__ADS_2