
Motor Paman Sam melaju dengan kecepatan sedang. Anjani yang mengemudikan. Meli duduk di boncengan motor sambil melantunkan lagu pop yang sedang hits saat itu. Awalnya perjalanan sangat lancar. Namun, saat tempat tujuan sudah tinggal beberapa meter di depan, mendadak Anjani terjebak kemacetan. Kendaraan sempat mengular. Tak kurang dari lima menit, lalu lintas kembali lancar.
Anjani kembali mengemudikan motor dengan perlahan, mengikuti arus yang mulai lancar. Belum lama motor melaju, Meli tiba-tiba berseru agar Anjani segera menepikan motornya. Meski tidak paham dengan maksud Meli, tapi Anjani langsung sigap menepikan motornya.
"Ada apa sih, Mel?" tanya Anjani setelah motor benar-benar berhenti.
"Itu, tuh. Itu Dika lagi mungutin cokelat!" tunjuk Meli pada sosok Dika yang tak jauh dari tempat Anjani dan Meli berhenti.
"Gawat, nih!" ucap Anjani setengah tidak percaya dengan apa yang dilihat olehnya.
Kembali melajukan motor, Anjani dan Meli bergegas menghampiri Dika yang masih sibuk memungut potongan-potongan cokelat yang berserakan di jalan. Tanpa dikomando Anjani dan Meli langsung membantu Dika. Satu per satu potongan-potongan cokelat yang berserakan telah kembali terkumpulkan.
"Udah kotor semua nih," tutur Meli.
"Maaf, ya. Aku beneran nggak sengaja. Tadi kotaknya udah kubungkus rapat. Eh, ada pengemudi ngawur bawa muatan bambu. Aku panik, pas ngehindar malah kotaknya jatuh. Apesnya lagi, pas jatuh kotaknya langsung disambut motor lain. Yah ... jadi begini. Seperti yang kalian lihat," jelas Dika.
Dika tampak lesu sambil memegang sekotak cokelat yang isinya sudah banyak yang kotor dan sebagian lagi kehilangan bentuknya. Sebenarnya Dika tidak enak pada Anjani yang telah memesan cokelat-cokelat itu. Meski kata maaf sudah tersampaikan, tapi tetap saja masih ada rasa kurang enak di hatinya.
"Udah, nggak perlu dipikirin, Dika. Nggak perlu ganti rugi juga. Mending kita langsung ke toko Kak Lisa. Yuk!" ajak Anjani.
"Serius, nih? Juno gimana?" tanya Dika memastikan.
"Ah, biarin aja. Lagian Juno nggak tau cokelat ini, kok. Udah, yuk!" ajak Anjani lagi.
Cokelat-cokelat yang telah jatuh di jalanan bukan sebuah masalah yang akan merusak pertemanan. Akan ada jalan penuh kedamaian bila setiap hati dipenuhi pemahaman. Itulah yang terjadi pada Anjani, Meli, dan Dika saat itu. Tidak masalah cokelat-cokelat itu urung dimakan bersama, yang penting rantai pertemanan tetap terjalin indah.
Anjani dan Meli siap di atas motor, begitu pula dengan Dika. Kali ini lokasi yang dituju adalah toko bunga Kak Lisa. Sebelumnya Meli telah menghubungi via telepon untuk memesan satu buket bunga mawar putih lengkap dengan hiasan dan pesan yang menyertai.
__ADS_1
Sepuluh menit berlalu, dua motor menepi. Setelah motor terparkir rapi, Anjani, Meli, dan Dika menuju pintu masuk toko bunga Kak Lisa. Dari depan terlihat sepi, tak ada pembeli. Namun, saat kaki tinggal beberapa langkah lagi menuju pintu masuk toko, tiba-tiba saja mereka terkejut karena melihat sosok cantik yang sangat dikenal.
Gadis cantik yang baru saja membuka pintu toko bunga Kak Lisa dari dalam adalah Berlian. Anjani, Meli, dan Dika berhenti melangkah dan memilih diam. Begitu pula dengan Berlian, setelah membuka pintu dia pun terdiam. Kini, mereka semua tengah berdiri di depan toko bunga Kak Lisa. Ada jarak berdiri sekitar dua meter antara Anjani dan Berlian.
Sekian detik posisi itu dipertahankan. Hanya saling tatap dan tidak ada obrolan. Hembusan angin bahkan sampai terdengar suaranya di telinga.
"Anjani," ucap Berlian.
Berlian belum melanjutkan ucapannya setelah menyebut nama Anjani. Jemari tangan kanan Berlian tiba-tiba saja terangkat perlahan.
Pergerakan tangan Berlian meskipun pelan tapi sukses membuat Meli panik. Meli takut Berlian tidak bisa menahan diri dan memilih untuk menampar Anjani. Merasakan hal yang sama, kini Dika juga ikut-ikutan panik seperti Meli.
Sesaat kemudian tangan Berlian sudah terangkat lebih tinggi. Gerakan itu kemudian berhenti, menyisakan posisi tangan yang masih setengah tinggi.
"Aw!" teriak Meli.
"Maaf," tutur Berlian, kemudian dia bergegas pergi.
Anjani, Meli, dan Dika terheran dengan kata maaf yang baru saja diucapkan Berlian. Bagi mereka kata ajaib yang baru saja diucapkan Berlian benar-benar mengejutkan.
"Hei, Berlian. Apa yang kau katakan tadi?" tanya Meli setengah berteriak.
"Aku tidak berminat untuk mengulang kata-kataku. Bye!" sahut Berlian tanpa menoleh.
"Sst, nggak perlu jahil, Mel. Udah bagus Berlian bilang maaf. Besok-besok pasti kita bisa berteman baik dengan dia. Harus yakin!" ujar Anjani penuh keyakinan.
"Yuk, masuk! Takut Juno nunggu lama di cafe." Dika mengingatkan.
__ADS_1
Anjani, Meli, dan Dika bergegas masuk ke dalam toko bunga. Sebuah senyum ramah telah menyambut mereka dari dalam. Sepertinya Kak Lisa telah menonton adegan Berlian tadi dari balik kaca toko.
Kak Lisa langsung menghampiri Anjani. Dia memeluknya, sesaat kemudian melepas, lalu beralih menggenggam kedua tangan Anjani dengan wajah bahagia.
"Terima kasih. Berteman baiklah dengan Berlian, ya. Aku percaya pada kalian." Ucapan Kak Lisa terdengar tulus, hingga matanya terlihat berkaca-kaca. "Maaf, kakak terlalu senang dengan perubahan sikap Berlian. Jadi mellow gini," imbuh Kak Lisa sambil mengusap ujung matanya yang mulai basah.
Suasana haru tidak berlangsung lama. Selesai menyalurkan kegembiraan hatinya, Kak Lisa bergegas mengambilkan buket bunga mawar putih yang telah dipesan oleh Meli. Kak Lisa menolak bayaran atas buket bunga itu. Dia beralasan bahwa rasa bahagianya saat itu tidak bisa dibayar dengan apa pun. Alhasil, buket bunga mawar putih menjadi sebuah bonus.
"Ye .... Terima kasih, Kak Lisa." Meli berterima kasih mewakili teman-temannya.
Kak Lisa tersenyum manis, dan menepuk-nepuk pelan pipi Meli. Dia pun mengambil dua tangkai bunga mawar putih dari keranjang lalu memberikan masing-masing untuk Meli dan Dika. Lagi-lagi bunga yang diberikan Kak Lisa adalah hadiah.
"Wah, Kak Lisa memang terbaik," ujar Dika sambil menerima bunga dari Kak Lisa.
"Maaf, hanya ini yang bisa kakak berikan untuk kalian. Kalian anak baik. Dan ... lelaki yang bernama Juno itu pasti senang menerima bunga dari kalian," tutur Kak Lisa.
"Bukan dari kami, Kak. Tapi dari Anjani. Hihi, biar tambah sweet," sahut Meli.
"Sst, apa sih, Mel!" protes Anjani.
"Eheem .... Sebaiknya kita pergi ke tempat Juno," kata Dika mengingatkan. Dia sadar tidak bisa terlalu lama karena takut Juno sudah menunggu lama.
Satu buket bunga dan dua tangkai bunga mawar putih pemberian Kak Lisa telah aman di tangan Meli. Anjani siap mengemudi, begitu pula dengan Dika.
"Cafe Bro-Sis, kami datang!" ujar Meli.
***
__ADS_1