CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Titik Terang


__ADS_3

Cuaca memang mudah berubah. Pagi mendung, siangnya cerah. Sore hari kembali mendung, disusul gerimis manja. Rintik-rintik hujan awalnya datang dengan jeda. Lama-lama semakin deras juga. Bumi dibuatnya basah. Bangunan, tumbuhan, jalanan, hingga manusia yang enggan berteduh pun telah merasakan guyurannya.


Anjani masih bertahan di emperan salah satu toko yang kebetulan tutup. Dia berteduh dari hujan sejak lima belas menit lalu. Saat berangkat tadi memang gerimis, tapi Anjani tetap memaksakan diri untuk berangkat karena sudah berjanji pada Meli. Akibat nekat berangkat, dia pun terjebak hujan saat baru sampai seperempat jalan.


Lima menit kemudian hujan mereda. Ada celah bagi Anjani untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Meli. Anjani penuh kehati-hatian saat berkendara karena jalanan masih licin. Terlihat pula jalanan berlubang yang dipenuhi air hujan. Anjani tidak mau mengambil resiko itu, sehingga waspada menjadi pilihan penting baginya.


Rumah Meli tidak jauh lagi, tapi tiba-tiba hujan turun lagi. Anjani tidak menemukan tempat untuk menepi. Motor terus dilajukan sambil tengok kanan-kiri. Tetap tidak ada, Anjani pun memutuskan untuk terus melajukan motornya. Basah memang iya, tapi akhirnya Anjani sampai juga.


"OMG! Meli Tralala Trilili .... Ada wanita asing plus mencurigakan di depan, nih! Cepat ke sini, Meli!" teriak Alenna saat melihat Anjani berdiri persis di depan pintu masuk rumah Meli.


Anjani memilih diam, tidak berkomentar. Kondisi tubuhnya yang basah kuyub dan sedikit merasa kedinginan membuatnya enggan menanggapi teriakan bule cantik di depannya.


Mendengar teriakan Alenna, Meli bergegas menghampirinya. Alangkah terkejutnya dia saat tahu bahwa yang dimaksud dengan wanita asing plus mencurigakan tidak lain adalah sahabat baiknya, Anjani. Ekspresi Meli seketika datar, dia tidak terburu-buru berkomentar.


"Aduh Meli lama sekali, sih. Kalau nyawaku terancam bagaimana? Sini-sini. Lihat, tuh! Penampilannya kacau, basah sampai ke seluruh tubuhnya. Aku tahu aku tahu, pasti dia habis kecebur kolam. Hahaha ...!" Alenna tertawa.


"Alenna cantik, bukan kolam tapi hujan!" sahut Meli sambil membuat senyum yang sedikit dipaksakan. Meli langsung mencubit kedua pipi Alenna. "Nih mulut lama-lama pahit juga, ya! Wanita di depanmu ini sahabat baikku. Namanya Anjani. Ayo, minta maaf!" tegas Meli kemudian melepas cubitannya.


"Ups. Hehe .... I'm sorry, Anjani. Nice to meet you. Sini-sini tanganmu. Kita berjabat tangan dulu, ya. Hehe ... hehe ... hehe." Alenna meminta maaf dengan ucapan dan ekspresi yang sedikit aneh.


"Oke. Salam kenal. Eh, Mel. Pinjam bajumu, ya!" ujar Anjani.


"Wah-wah. Aku pinjam bajunya Meli. Kamu ikut-ikutan pinjam bajunya Meli. Lama-lama kasihan Meli, dong. Tenang Meli. Nanti kalau aku sudah berhasil pulang akan kubelikan baju bagus-bagus yang banyak. Sekarang kamu ajak temanmu ganti baju, biar aku yang buatkan minuman hangat. Tunggu, ya Anjani sayang!" ujar Alenna.


Meli hendak menghentikan Alenna dengan maksud mengambil alih pembuatan minuman hangat. Namun, Alenna cepat-cepat melangkahkan kaki menuju dapur. Meli tidak sempat lagi mencegahnya.


"Biar, deh. Yuk, masuk. Ganti baju dulu biar nggak dingin. Kamu boleh pakai baju pemberian Kak Lisa waktu itu." Meli mempersilakan.


Selama Anjani berganti pakaian kering, dari arah dapur terdengar bunyi-bunyian. Ada bunyi panci jatuh, gelas pecah, dan terakhir teriakan 'panas'. Semua itu adalah ulah Alenna. Untung saja orangtua Meli pamit menginap di rumah saudaranya sejak siang tadi, jadi tidak banyak orang yang akan protes terhadap sikap Alenna. Meli segera mengambil alih, dan menyuruh Alenna untuk duduk manis di ruang tamu sambil menunggu Anjani.

__ADS_1


"Kita harus bantuin Alenna segera sebelum berangkat liburan," ujar Meli saat semua sudah berkumpul lagi di ruang tamu rumahnya.


"Pasti butuh waktu lama karena Alenna sama sekali tidak ingat alamat rumah tujuan. Atau mungkin ...." Perkataan Anjani tidak dilanjutkan.


"Apa-apa? Ungkapkan saja, Anjani. Jangan ditahan. Menahan sesuatu itu bikin beban. Lama-lama badan kurus. Ih, nggak bisa bayangin lagi, deh!" ujar Alenna menyela.


Sebelum Alenna mengatakan hal-hal tidak penting lebih panjang lagi, Meli segera menyodorkan secangkir teh pada Alenna. Tentu saja Meli tidak lupa untuk memaksa Alenna segera meminum teh hangat bagiannya agar tidak berisik lagi.


Anehnya, Alenna selalu menurut saat sudah ditegur Meli. Mungkin efek samping keajaiban es jeruk dalam wadah plastik masih tersisa dalam dirinya.


"Mel, kita perlu bantuan lagi. Grup chat kita berempat. Iya, coba kamu ceritakan di sana, Mel. Sambil cari solusi. Kita nggak mungkin keluar dalam kondisi hujan begini, kan." Anjani mengungkapkan pemikirannya.


"Setuju. Sebaiknya kamu ikut nimbrung juga di grup chat. Biar mereka lebih percaya," ujar Meli.


Meli bergegas mengirim pesan di grup chat berupa cerita singkat tentang Alenna. Dika menanggapi dengan cepat. Satu menit berselang, Juno pun ikut dalam pembahasan.


***


Iseng-iseng Ken menengok ke dalam kamar Juno. Kebetulan pintu kamarnya sedikit terbuka. Ken menangkap wajah serius Juno yang sedang sibuk di depan layar smartphone miliknya.


"Woi! Serius banget, sih!" seru Ken sambil melangkah masuk kamar Juno.


"Eh, sudah pulang, Mas. Ini Anjani sama Meli lagi butuh bantuan. Mereka nemu cewek yang lupa jalan pulang. Aneh nggak, sih?" tanya Juno.


"Nemu? Kayak barang aja, Jun. Ada fotonya nggak? Kalau cantik bakal kujadiin gebetan. Minta fotonya, gih!" pinta Ken.


"Oke," jawab Juno.


Juno terus menyimak obrolan di grup chat. Sambil menunggu Meli mengirim foto, Juno sedikit membahas persiapan liburan ke desanya. Tak lupa juga Juno menyampaikan kesediaannya untuk membantu perempuan yang dimaksud Anjani dan Meli. Walau bagaimanapun, Juno berharap jadwal liburannya tidak mundur.

__ADS_1


"Fotonya sudah?" tanya Ken.


"Kalau urusan cewek aja ingin segera. Ah, Mas Ken ini. Tunggu saja, Mas!" ujar Juno.


Ken menunggu. Agar tidak bosan, dia membolak-balik majalah yang baru saja dibeli oleh Juno. Tentu saja halaman majalah yang dia cari adalah bagian teka-teki silang berhadiah. Saat tiga kolom selesai terjawab, barulah Juno memanggilnya.


"Uwow, kalau ini sih kelewat cantik. Coba lihat sini, Mas Ken!" ujar Juno.


"Sebentar, aku tanya dulu. Cantik mana sama Anjani, he?" tanya Ken sambil memainkan kedua alisnya. Dia bermaksud menggoda Juno.


"Ya cantik cewek di foto ini, Mas. Bule cantik!" ujar Juno.


Reaksi Juno mengundang rasa penasaran pada diri Ken. Dia menduga-duga seperti apa sosok wanita yang membuat Juno mengesampingkan Anjani.


"What? Ini kan Alenna!" ujar Ken.


Ken tidak menyangka pencariannya akan dipermudah. Tadi siang dia bolak-balik di area bandara hanya untuk mencari Alenna. Kini tanpa dicari pun berita tentang Alenna datang dengan sendirinya.


"Siapa itu Alenna sampai Mas Mario mencarinya?" tanya Juno sesaat setelah Ken sedikit menceritakan pencariannya di bandara bersama Mario.


"Tentang siapa Alenna, Mario yang lebih tahu. Sekarang, aku harus ke rumah Mario lagi. Mau ikut?" tanya Ken pada Juno.


"Nggak, deh!" jawab Juno.


"Oke, aku berangkat sendiri. Sampaikan rasa terima kasih seorang Ken pada Anjani dan Meli, ya. Aku pamit undur diri. Da!" ujar Ken mendramatisir.


Juno tidak berniat untuk ingin tahu lebih jauh, karena dia sadar itu bukan urusannya. Yang terpenting Juno sudah memberi kabar pada Anjani dan Meli bahwa ada titik terang tentang rumah Alenna, dan Ken akan mengusahakan kepulangannya. Juno menyuruh Anjani dan Meli untuk tetap tenang sambil menunggu kabar selanjutnya dari Ken.


***

__ADS_1


__ADS_2