CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Cowok-Cewek Sahabatan?


__ADS_3

Guntur terdengar menggelegar. Kilatan panjang sesekali terlihat di antara awan-awan mendung yang masih tetap pekat. Hujan masih sama derasnya seperti saat mobil Vina tiba di halaman rumah Paman Sam. Mobil mewah itu membawa tamu tak terduga. Tidak hanya Vina sang pemilik mobil mewah yang datang. Ada pula Ken, Juno, bahkan Mario.


Juno turun dari mobil lebih dulu dibanding Mario. Juno sepayung dengan Ken yang saat itu memang ditugasi untuk memayungi seluruh penumpang mobil oleh pemiliknya. Lumayan, payungnya lebar. Sehingga, meski ada dua orang yang berteduh di bawahnya, tetap tidak akan terguyur langsung oleh derasnya hujan.


"Assalamu'alaikum, Anjani." Juno memberi salam saat sampai di teras depan rumah.


"Wa'alaikumsalam," jawab Anjani tanpa melihat Juno. Anjani melihat ke arah lain.


Juno mengikuti arah pandang mata Anjani. Seketika hembusan nafas Juno sengaja diperjelas saat tahu siapa yang dilihat oleh Anjani. Itu adalah Mario. Mario yang sedang berjalan bersama Ken menuju teras rumah.


Senyum Anjani seketika mengembang saat melihat Mario tersenyum padanya. Benar, isi hati tak pernah berdusta bila diri tak mengingkarinya. Anjani tersenyum tulus, sesuai debaran merdu yang saat itu menyelimuti hatinya.


"Anjani, lekas ajak teman kau masuk!" seru Paman Sam yang sudah berdiri di ambang pintu warung.


Anjani lekas menoleh pada Paman Sam dan tersenyum padanya.


"Ayo masuk!" ajak Anjani pada teman-temannya.


Vina masuk lebih dulu dengan melenggang centil. Ken menyusul setelahnya. Juno dan Mario masuk bersamaan ke dalam rumah Paman Sam.


"Sst, biar paman kau ini saja yang buatin minuman. Kau temani saja mereka. Mau kopi atau teh saja?" tanya Paman Sam setengah berbisik pada Anjani.


"Teh hangat saja. Khawatir ada yang nggak suka kopi," jawab Anjani.


"Siplah. Cepat temui mereka!" perintah Paman Sam.


Anjani mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah, menemui teman-temannya di ruang tamu rumahnya. Di ruang tamu, rupanya tidak semua temannya duduk. Hanya Ken yang sudah duduk manis sambil memegang toples berisi kue rengginang. Sedangkan Mario, Juno, dan Vina masih berdiri.


Bukan tanpa sebab Mario, Juno, dan Vina berdiri. Hal itu terjadi karena Vina bersikap kekanakan lagi, dengan merengek minta duduk bersebelahan persis dengan Mario. Vina berdebat dengan Juno, karena Juno lebih dulu mengincar tempat duduk yang dimaksud Vina. Bagaimana dengan Mario? Sama sekali Mario tidak ingin terlibat dalam perdebatan Juno dan Vina. Mario lebih memilih untuk menunggu perselisihan mereda.


"Gue mau duduk di sini! Biar berdua sama Mario!" seru Vina.


"Aku udah ngincar kursi ini lebih dulu, Vin!" Juno tak mau mengalah.


"Ngalah dikit dong sama senior!" seru Vina lagi.


"Idih. Harusnya senior yang ngalah sama juniornya, Vina." Lagi-lagi Juno tak mau mengalah.


Ken bersikap sama seperti Mario. Ken memilih diam dan enggan terlibat dalam adu mulut yang menurutnya sama sekali tidak penting. Ken santai saja melihat perselisihan mulut antara Vina dan Juno sambil tanpa henti mengunyah kue rengginang.


"Pokoknya gue duduk di sini! Yeeee, gue duduk di sini!" seru Vina sambil melangkah cepat menuju tempat duduk yang dimaksud.


"Enak aja. Aku duluan!" Juno menyerobot, dan duduk lebih dulu.


"Ahhh! Juno!" Vina protes. Bibirnya manyun.


"Anjani, boleh aku ambil itu?" tanya Mario sambil menunjuk kursi plastik warna putih di dekat vas bunga tinggi.


"Silakan. Biar kuambilkan," kata Anjani dan bergegas mengambil kursi plastik yang dimaksud Mario.


"Terima kasih, Anjani. Aku duduk di sini saja. Biar Juno dan Vina tidak berebut tempat duduk," jelas Mario.


Anjani terkekeh. Bukan karena penjelasan Mario, melainkan karena melihat ekspresi aneh yang ditunjukkan oleh Vina dan Juno.

__ADS_1


"Lebay!" seru Ken. "Jelas-jelas nih sofa panjang masih banyak yang kosong. Anjani, kamu duduk di sini saja!" Ken menepuk-nepuk sofa di dekatnya, memberi kode pada Anjani untuk duduk di sebelah Ken.


Anjani menggeleng sambil tersenyum.


"Aku ...." Anjani melangkah mengambil kursi plastik yang sama seperti Mario. "Duduk di sini saja," imbuhnya sambil meletakkan kursi itu dengan jarak dua meter dari tempat Mario.


"Ya sudah. Sudah beres kan masalah tempat duduk?" tanya Ken sambil tetap memegang toples isi rengginang.


"Anjani, kamu kelihatan cantik sore ini. Bros di jilbabmu juga cantik," kata Juno tiba-tiba.


Mario, Ken, dan Vina kompak melihat ke arah Juno yang senyum-senyum penuh arti pada Anjani. Juno sengaja mengatakan itu di depan teman-temannya, terutama karena ada Mario di sana.


"Ngomong apa sih kamu, Jun." Anjani sedikit risih karena terus diperhatikan oleh Juno.


"Jaga pandangan, woiii!" seru Ken sambil melempar rengginang ke arah Juno.


"Mas Ken iri aja, sih! Biasanya juga gitu pas ada Berlian. Iya kan? Hayo, jangan bilang nggak!" Juno membalas kata-kata Ken.


"Ehem. Ya gitu, deh." Ken tak bisa membalas. Dia memilih kembali memakan rengginang dalam toples.


Anjani hanya tersenyum melihat sikap temannya. Anjani sempat melihat ke arah Vina yang sedari tadi memegangi keningnya. Berlagak pusing mendengar perdebatan Ken dan Juno. Anjani juga melirik ke arah Mario, ingin melihat ekspresinya. Sama saja, Mario tampak tersenyum sambil melihat teman-temannya.


"Em, ngomong-ngomong ada perlu apa nih? Jarang-jarang banget main ke sini rame-rame," tanya Anjani.


"Ah, itu tuh! Kamu sih ngasih kabarnya tadi dadakan. Udah mirip tahu bulat aja yang digoreng dadakan. Kan gue udah cantik. Pakai gamis baru, hijab baru, cuma buat datang ngaji sore ini. Eh, ternyata batal!" Vina protes pada Anjani.


"Hehe. Maaf, tadi aku malah asyik teleponan sama Berlian dan Alenna. Jadi ngabarin kamu terlambat. Maaf," kata Anjani.


Bibir Vina manyun, tapi tetap mengangguk-angguk sebagai tanda memaafkan Anjani.


Ken mengacung lebih dulu, artinya dialah yang akan menjelaskan. Juno dan Mario mengangguk-angguk saat Ken bersedia menjelaskan.


"Ceritanya gini, Anjani. Tuh-tuh, si Vina yang bawel tuh, tiba-tiba nyariin Mario di rumahku. Ya, memang Mario ada di rumahku sih tadi. Eh, terus pamer-pamer baju baru, penampilan baru. Norak nggak sih. Kayak anak kecil!" ejek Ken, sengaja.


"Yeee, tapi gue emang cantik kan? Tadi aja Anjani bilang gue cantik pakai hijab. Awas aja lu bilang gue jelek, Ken!" seru Vina.


"Iya, lu cantik!" seru Ken setengah hati demi memuaskan Vina.


"Good!" Vina tersenyum manis pada Ken, dan mengacungkan jempolnya.


Anjani masih belum paham dengan apa yang dijelaskan oleh Ken. Anjani masih belum menangkap alasan yang sebenarnya, hingga membawa mereka semua bertamu dalam kondisi hujan deras seperti saat itu. Yang sedari tadi Anjani berhasil tangkap hanyalah adu mulut, antara Juno dan Vina yang berebut kursi, juga Juno dan Ken yang membahas masalah kebiasaan pada pujaan hati.


Mario menangkap kebingungan di wajah Anjani. Didahului dengan senyum ramah yang menghiasi wajah tampannya, Mario memanggil nama Anjani.


"Anjani," panggil Mario.


Anjani menoleh dan membalas senyum Mario. Anjani tahu bahwa Mariolah yang akan memperjelas semua.


"Kami ke sini dalam rangka silaturrahmi. Terutama Vina yang sangat ingin tahu kamu tinggal di mana. Jadi, tadi Vina mengajak kami semua untuk bertamu ke rumahmu." Mario menjelaskan dengan runtutan kata yang baik dan mudah sekali dipahami.


Anjani tersenyum sambil mengangguk-angguk. Kini, Anjani pun tahu alasan mereka semua datang bertamu, yakni untuk silaturrahmi.


"Vina bukan ngajak, tapi maksa!" celetuk Juno dan langsung dipelototi oleh Vina.

__ADS_1


"Setuju. Kusaranin pakai map nggak mau. Maunya rame-rame ke rumahmu. Udah kayak iring-iringan pengantin aja." Ken ada di pihak Juno.


"Ih, kan gue takut nyasar. Gimana nih, Mario? Masa iya gue dipojokin gini. Mau silaturahmi doang malah dapat protes." Vina mencari pembelaan dari Mario.


Mario hanya tersenyum, tanpa memberi pembelaan. Hal itu membuat Vina semakin memajukan bibirnya.


Obrolan mereka terjeda. Paman Sam datang membawa cangkir-cangkir teh dalam nampan besar. Tidak hanya teh yang disuguhkan. Ada pula beberapa toples kue lainnya yang juga dihidangkan oleh Paman Sam.


"Ini yang cantik siapa namanya?" tanya Paman Sam sambil melihat ke arah Vina.


"Saya Vina, Om. Cewek tercantik di kampus," kata Vina tanpa sungkan, dan langsung mendapat seruan kata 'huuuu' dari Juno dan Ken.


"Haha. Baru kali ini ada yang panggil Om. Hehe. Kenalkan, Om Sam." Paman Sam menanggapi dengan ramah. "Kalian semua selamat mengobrol dan silakan dimakan. Paman tinggal ke dalam warung dulu," pamit Paman Sam.


Obrolan basa-basi lainnya pun dimulai. Dengan 'lu gue' ala Vina, dengan ceplas-ceplos tanpa sungkan ala Ken, dan dengan kehebohan Juno yang selalu menanggapi setiap perkataan Ken dan Vina, selalu ada saja bahan obrolan di sana. Dibanding canda tawa, adu mulutlah yang lebih sering tercipta. Tentu saja adu mulut terjadi di antara Vina, Ken, dan Juno, tanpa Anjani dan Mario yang terlibat di dalamnya.


Anjani dan Mario punya kesibukan sendiri. Sikap yang seharusnya tak ditunjukkan, karena hanya akan semakin menambah kembang bermekaran yang memenuhi taman hati. Anjani dan Mario diam-diam saling memperhatikan. Curi-curi pandang, dengan secangkir teh dalam genggaman.


"Sahabat macam apa lu, Ken. Masa iya dari tadi mojokin gue!" seru Vina yang tengah terjebak adu mulut dalam topik bahasan baru.


Ken berlagak cuek dengan protes Vina kala itu. Akan tetapi, kata-kata Ken selanjutnya sukses memancing reaksi semua yang ada di ruangan itu.


"By the way, kalau ngomongin tentang sahabatan nih. Apa iya kita ini lagi sahabatan?" tanya Ken tiba-tiba.


"Cowok-cewek sahabatan? No. Gue sih berpikir bahwa persahabatan kita ini hanya kedok. Buktinya kita sama-sama jadi baper sendiri. Ehem, kalau gue sih jelas nggak mau sahabatan doang sama Mario," kata Vina tanpa sungkan.


Anjani melihat Vina memperhatikan Mario sambil berkedip centil. Saat itu Anjani tidak terlalu mempedulikan sikap Vina pada Mario. Anjani justru tertarik dengan kata-kata Vina.


Pikiran Anjani berputar, mengingat kembali definisi persahabatan. Jika dipikir-pikir lagi definisi itu akan sesuai hanya untuk kelompok sesama cewek dan sesama cowok. Seperti halnya jalinan persahabatannya dengan Meli, Berlian, dan Alenna. Namun, definisi itu akan sulit didefinisikan kembali jika ada cowok masuk dalam lingkup jalinan persahabatan cewek. Hal yang melanda justru rasa baper, bahkan berujung rasa cinta. Ya, meskipun itu tidak melulu selalu terjadi. Akan tetapi, yang terjadi pada kelompok pertemanan Anjani sudah terbukti terjadi.


Cowok cewek sahabatan? Sepertinya yang dikatakan Vina benar. Aku dan Mario bahkan hampir saja melangsungkan pernikahan. Lalu, Kak Ken dan Berlian. Juno, Alenna, dan aku. Dan lagi ... Meli. Batin Anjani.


"Menurutku sih nggak masalah. Selama kita bisa profesional. Kuliah ya kuliah. Teman ya teman. Cinta ya cinta. Ikuti saja jalan ceritanya," kata Juno santai sambil memegang cangkir tehnya.


"Heleeeh. Pakai bawa-bawa profesional segala," celetuk Ken.


"Heeem, mulai lagi. Tapi asyik juga sih ngebahas tentang sahabatan cowok-cewek. Baper-baper, deh!" seru Vina.


Ken, Juno, dan Vina masih asyik mengobrol. Sementara Anjani masih memikirkan tentang persahabatan yang selama ini terjalin antara dirinya dengan Mario.


Ya. Ini bukanlah jalinan persahabatan, melainkan jalinan kisah cinta Mario-Anjani. Batin Anjani sambil diam-diam melihat ke arah Mario.


Bukan hanya Anjani yang saat itu memikirkan perkataan Vina tentang persahabatan cowok-cewek yang membuat baper. Mario juga memikirkannya. Meski Mario-Anjani tak mengobrol secara langsung, tapi keduanya memiliki pemikiran yang sama.


Anjani, andai aku pergi jauh untuk beberapa waktu, apakah hatimu masih tetap untukku? Batin Mario.


Bersambung ....


***


Mario hendak pergi jauh? Kemana? Benarkah itu? Jika benar, bagaimana dengan Anjani?


Nantikan lanjutan cerita Cinta Strata 1. Vote, like, dan komentari agar author makin semangat melanjutkan ceritanya, ya. Terima kasih sudah membaca. See You 😉

__ADS_1


***


__ADS_2