CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Anjani dan Meli ke Jogja


__ADS_3

Udara pagi yang segar. Ken duduk di teras rumah sembari bersandar pada kursi dengan kaki selonjoran. Ken baru saja olahraga pagi, lari-lari di sekitaran kompleks rumahnya. Peluh masih terlihat. Nafas masih memburu. Namun, rutinitas itu begitu nikmat, karena pasti akan berdampak sehat.


Biasanya Ken ditemani Juno. Pagi itu Ken berolahraga sendirian karena sejak pagi-pagi buta Juno telah pamit untuk pulang ke desa. Juno akan berada di desa selama tiga hari ke depan. Juno bahkan membawa oleh-oleh untuk sang ayah yang merupakan kepala desa di sana. Oleh-olehnya adalah hoodie couple. Ken sama sekali tidak paham dengan jalan pikiran Juno hingga dia membelikan ayahnya hoodie, wana pink pula.


“Juno pasti masih di kereta,” tebak Ken. “Sepi juga rasanya nggak ada tuh anak. Nggak ada yang dijitak kepalanya. Hoho.” Ken bergumam sendirian.


Sebotol air mineral diraihnya. Tiga teguk dan ‘alhamdulillaah’. Tubuh Ken terasa segar. Peluh yang masih tersisa di kening lekas di lap dengan handuk.


Termenung. Itulah yang dilakukan Ken selanjutnya. Sesekali Ken tersenyum. Kadang pula Ken terlihat bingung, hingga menunjukkan gerakan khas ala dirinya, yakni membetulkan letak kaca matanya.


Ken bingung harus melakukan apa untuk mengisi liburannya, karena Ken tidak menyiapkan agenda khusus selain melanjutkan hafalan surat-surat pendek. Sempat terbersit sebuah ide untuk berlibur ke tempat orangtuanya di luar kota. Namun, niatan itu lekas sirna karena orangtua Ken sibuk bekerja dan sedang ada di luar kota lainnya.


Tetiba saja pikiran Ken tertuju pada Mario. Ken menduga-duga bahwa Mario sudah ada di dalam pesawat menuju Jerman. Mendadak ada kenangan-kenangan yang membayang dalam benaknya. Itu adalah kenangan persahabatannya bersama Mario.


“Bro, kenapa kau harus pindah kuliah ke Jerman, sih? Nggak bisa bersaing siapa yang lebih tampan lagi, deh. Huft.” Ken terus berkata-kata sendirian sambil tetap duduk di teras depan.


“Tunggu!” Ken langsung bangkit dari duduknya. Dia teringat sesuatu. “Anjani belum tahu kalau Mario sudah tidak ada di kota ini lagi. Aku harus memberi tahu dia. Jangan sampai hubungan mereka jadi tidak baik-baik saja karena kebodohan Mario yang enggan membuat kata perpisahan. Ya, aku harus jadi pahlawan pemersatu Mario-Anjani.” Ken bersemangat.


Ken memutuskan untuk menemui Anjani di rumahnya. Berbicara langsung akan lebih jelas daripada via telepon. Ken lekas masuk ke dalam rumah dan bersiap-siap.


***


Mario telah rapi dengan memakai celana jeans hitam yang tidak terlalu ketat, juga sneaker putih. Hoodie warna dominan kuning menjadi atasan yang dipilih Mario. Hoodie yang saat itu dipakai Mario adalah hoodie pemberian Ken, yang seharusnya menjadi hadiah perpisahan.


Satu per satu anak tangga dituruni. Mario segera menuju meja makan untuk bergabung sarapan bersama Alenna.


“Alenna, kenapa belum ganti baju?” tanya Mario yang baru saja tiba di meja makan.


“Aku ambil cuti hari ini demi menyambut mama,” jawab Alenna.


“Oh. Leon nggak marah karena kamu kebanyakan cuti?” tanya Mario.


“No problem. Leon sudah jinak,” celetuk Alenna.


“Astaghfirullah,” ucap Mario, tapi setelahnya Mario malah terkekeh dengan celetukan Alenna.


"Makanya kamu cepetan lulus trus balik ke perusahaan. Biar Leon punya partner ribut, nggak aku melulu yang diajakin ribut." Alenna menggerutu di sela aktivitas menyantap nasi goreng.


"Nggak mau!" tolak Mario.


"Why?" Alenna bertanya-tanya.


"Aku mau mendirikan perusahaanku sendiri," jawab Mario dengan optimis.


"Its oke. Terdengar bagus. Wujudkan itu sesegera mungkin. Nanti aku minta ayah agar aku dipindahin aja ke perusahaanmu," sahut Alenna.


"Hm. Yakin? Ntar kangen diajakin ribut sama Leon," goda Mario.


"Tidak akan!" seru Alenna dengan cepat. "I think enough, Mario. Jangan bahas Leon lagi. Tuh cepetan makan nasi gorengmu. Em, telur mata sapinya buat aku, ya?" tanya Alenna.


Awalnya Alenna bertanya pada Mario apakah telur mata sapi di piring nasi goreng bagian Mario boleh dia ambil. Belum juga Mario mengiyakan, Alenna sudah memindahkan telur mata sapi di piring nasi goreng bagian Mario ke piringnya.


"Eh-eh-eh!" protes Mario saat melihat Alenna memindahkan telur mata sapi bagiannya.


"Harus ikhlash kalau nggak ingin aku sakit perut," celetuk Alenna.


"Hehe. Iya-iya." Pada akhirnya Mario merelakan telur mata sapi bagiannya.


Sejenak suasana meja makan pagi itu begitu renyah. Kakak beradik beda ibu itu terlihat akrab selayaknya saudara kandung.


“Mau ikut jemput mama? Pasti mama senang lihat kamu.” Mario menawari Alenna untuk ikut bersamanya.


“Uhuk-uhuk!” Alenna tersedak.


Beberapa teguk air lekas berpindah melewati kerongkongan. Alenna mengusap bibirnya. Dia juga mengambil tissue dan mengelap sedikit air yang tumpah di bagian ujung jilbab yang sedang dipakainya.


"Sebelum makan sudah baca basmallah?" tanya Mario.


"Sudah," jawab Alenna singkat, lalu kembali meneguk air.


"Terus tersedak karena apa?" tanya Mario lagi.


"Bukan apa-apa," kata Alenna. "Sepertinya kamu belum tahu mama seperti apa," imbuhnya.

__ADS_1


"Memangnya seperti apa?" Mendadak Mario ingin tahu.


"Mama itu .... Ah, lihat sendiri aja deh, ntar. Cepet habisin nasi gorengmu, terus berangkat ke bandara jemput mama!" saran Alenna.


"Okey."


Beberapa menit setelahnya tidak ada obrolan yang serius. Begitu selesai sarapan, Alenna membantu bibi juru masak merapikan meja makan. Sementara Mario melajukan mobilnya menuju bandara.


***


Motor Ken memasuki sebuah gang rumah warga. Gang yang dia lewati tidak terlalu sempit juga tidak terlalu lebar. Cukup untuk dua motor bersalipan jalan. Dua ratus meter setelah motor Ken memasuki gang, sampailah Ken di rumah Paman Sam.


Terlihat beberapa pembeli yang sedang mengantri tersenyum dan melambaikan tangannya pada Ken. Itu terjadi karena wajah Ken memang tampan. Hanya saja Ken berkacamata.


Ken membalas senyum yang ditujukan padanya. Usai memarkir motornya, Ken melangkah mendekati warung sambil mengucap salam.


"Assalamu'alaikum," salam Ken.


"Wa'alaikumsalam. Mas Ganteng ini mau belanja juga?" tanya seorang ibu-ibu dengan genit.


"Tidak, Bu. Saya mau ketemu sama teman saya," jawab Ken.


"Oh. Udah punya calon belum? Di rumah, ibu punya anak gadis masih perawan. Mau ya saya jodohkan dengan anak saya?" Ibu-ibu yang tengah mengantri itu semakin menggoda Ken, bahkan menawari Ken untuk dijodohkan dengan anak gadisnya.


"Sst. Jeng Lis ini emang nggak bisa liat cogan," celetuk ibu-ibu lain yang mengantri.


"Nak Ken, ya?" tanya Sarah yang baru selesai melayani pelanggan di antrian terdepan.


"Iya benar. Saya Ken, mau ketemu Anjani sebentar. Boleh?" Ken meminta izin pada Sarah yang sudah sah menjadi istri Paman Sam.


"Boleh-boleh saja, tapi Anjani sedang liburan bareng Meli ke Jogja," jawab Sarah dengan ramah.


"Jogja?" Ken kaget karena sebelumnya sama sekali tidak tahu bahwa Anjani dan Meli punya rencana liburan ke Jogja. "Kalau begitu saya pamit pulang, deh. Nanti biar saya hubungi Anjani. Assalamu'alaikum," pamit Ken.


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati Nak Ken," kata Sarah.


Ken mengangguk sembari tersenyum ramah. Ken lekas kembali menuju motornya. Ada rasa kecewa lantaran misinya tidak terlaksana.


"Gagal deh jadi pahlawan!" gerutu Ken. "Eh, tapi kenapa Anjani sama Meli kemarin nggak nyinggung soal liburan ke Jogja, ya? Biasanya si Meli suka bilang-bilang kalau punya rencana." Ken mencoba berpikir, tapi tidak tahu jawabannya.


Siang hari telah terlewati dengan hadirnya keceriaan bersama teman-teman di pusat perbelanjaan. Sore harinya, Anjani duduk santai di teras depan rumahnya sambil menunggu Renal datang dari mengaji di mushollah.


Belum lama Anjani duduk di teras depan rumah, tiba-tiba saja ada Meli datang ke rumahnya. Anjani lekas mengecek smartphone barangkali Meli tadi menghubunginya lebih dulu. Akan tetapi, tidak ada pesan sama sekali dari Meli.


"Tumben nggak ngabari dulu. Apa ada yang penting, ya?" Anjani bertanya-tanya.


"Anjani-Anjani-Anjani!" seru Meli sambil berlarian kecil.


"Assalamu'alaikum, Meli."


"Oh. Hehe. Wa'alaikumsalam. Anjani-Anjani, ada yang penting, nih!" Meli lekas jongkok di depan Anjani.


"Eit. Duduk sini, lho. Pelan-pelan jelaskan. Ada apa, Mel?" tanya Anjani.


Meli tetap tak mau berdiri dari jongkoknya. Dia menatap Anjani dengan penuh harap.


"Besok ikut aku, ya? Harus mau. Meli tidak menerima penolakan, karena penolakan itu menyakitkan!" Meli penuh drama.


"Hm? Ikut kemana, Mel?" tanya Anjani.


"Jogja," jawab Meli dengan cepat.


"Jogja?" Anjani memastikan.


Meli mantap mengangguk. Sementara itu, Anjani tidak habis pikir kenapa Meli bisa membuat rencana ke Jogja mendadak sekali.


"Kok dadakan, sih? Memang di sana mau ngapain? Jember-Jogja jauh, lho." Anjani ingin tahu penjelasan Meli lebih lanjut.


"Liburan. Belajar Olshop dari pakarnya, Via dan Ratna. Terus ...."


"Terus ketemu Mas Azka, iya kan?" tebak Anjani.


"Hehe. Sebenarnya aku diundang Bunda Aisyah buat ke sana. Bundanya Mas Azka. Em, aku ngerasa bahwa kesempatan ini nggak boleh disia-siain. Ya siapa tahu aja ada lanjutan kisah Meli dan Azka. Hihi. Aamiin." Meli malah meng-aamiin-i doanya sendiri.

__ADS_1


"Mau, ya?" Meli memohon, wajahnya pun dibuat penuh harap.


Anjani tampak berpikir. Sebenarnya Anjani tidak punya rencana khusus selama liburan. Melihat Meli dengan ekspresi seperti itu membuat Anjani tidak tega jika menolak ajakannya.


"Em. Oke, deh. Aku mau," kata Anjani pada akhirnya.


"Alhamdulillaah," seru Meli lantang.


"Eh, tapi aku harus izin Paman Sam dulu," sahut Anjani.


"Sudah diizinkan. Cepat kalian berangkat dan jangan lupa oleh-olehnya. Hehe." Paman Sam tiba-tiba saja ikut dalam obrolan.


"Paman dengar?" Anjani kepo karena tiba-tiba saja Paman Sam mengizinkan.


"Ups. Iya. Kagak sengaja. Hehe." Paman Sam terkekeh. "Ohya, Roni dan Fatimah sudah tahu?" Paman Sam bertanya tentang orangtua Meli.


"Sudah. Mereka malah seneng kalau aku nggak mager terus di rumah," jawab Meli sambil cengar-cengir.


"Kalau begitu biaya tiket kereta PP, uang saku, dan untuk beli oleh-oleh semua dari paman kau yang ganteng ini. Oleh-olehnya kalian garis bawahi, ya. Ja-ngan Lu-pa!" Paman Sam berbaik hati.


"Horeee!" seru Anjani dan Meli bersamaan.


[Flashback Off]


Ken memutuskan untuk segera pulang dari rumah Anjani. Begitu Ken hendak menstarter motornya, tiba-tiba satu panggilan suara masuk. Itu dari Mario. Ken dengan gesit mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, Bro." Ken bersemangat mengucap salam via telepon.


"Wa'alaikumsalam. Posisi?" tanya Mario.


"Rumah Anjani," jawab Ken singkat.


"Ha? Sedang apa kau di sana, Ken?" tanya Mario.


"Mau merebut cinta Anjani darimu," jawab Ken asal.


"Serius atau hanya prank?" tanya Mario lagi, semakin ingin tahu.


"Kepo, kan? Suruh putar balik pesawatmu kalau kau ingin tahu," kata Ken sambil menahan tawa.


"Sudah," kata Mario.


"Ha? Sudah apa?" tanya Ken.


"Sudah putar balik. Kutunggu kau di rumahku setelah dhuhur. Assalamu'alaikum. Tut-tut-tut." Mario mengakhiri panggilannya.


Ken menatap aneh ke arah layar smartphone-nya. Niat hati Ken ingin membuat Mario kepo atas kunjungannya di rumah Anjani. Sekarang justru Kenlah yang dibuat kepo dengan undangan Mario untuk hadir di rumahnya.


"Nih anak serius? Mana bisa seenak jidat nyuruh pilot putar balik pesawat?" Ken masih bertanya-tanya.


"Kenapa belum pulang, Mas Ganteng?" tanya ibu-ibu yang tadi menggoda Ken.


"Eh? I-ini mau pulang, Bu. Permisi," kata Ken, kemudian lekas menstrater motornya.


Ken pulang dengan membawa tanda tanya besar. Tanda tanya di benaknya itu tentang undangan Mario untuk ke rumahnya, juga tentang liburan Anjani dan Meli yang tidak dia ketahui sebelumnya.


Bersambung ....


***


Eit. Bagaimana liburan Anjani dan Meli di Jogja? Benarkah di sana mereka berdua hanya sekedar liburan? Atau justru ada sebuah kisah baru antara Meli dan Azka di Jogja? Cek sekarang juga kisah Meli, Azka, dan Anjani di Jogja dalam novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti. Dijamin, baca ceritanya bisa bikin berdebar dan senyum-senyum sendirian 😁 Dukung karya kami dengan cara like dan tinggalkan jejak komentar kalian.



Nantikan lanjutan cerita Cinta Strata 1. Terima kasih sudah membaca karya receh saya ini. Berikan komentar positif kalian. Jika ada kekurangan dalam cerita mohon masukannya dengan bahasa yang tidak menyudutkan. InsyaAllah setiap author sudah berusaha maksimal untuk menyuguhkan sebuah karya bagi reader semua. 😊


And .... Dukungan kalian sungguh sangat berarti untuk saya, lho., agar saya semakin bersemangat dalam melanjutkan ceritanya. Danke shön and See You All. 😉


Vote Vote Vote


Like Like Like


Rate5 Rate5 Rate5

__ADS_1


🌷


__ADS_2