CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Adu Tantangan


__ADS_3

Kuliah tak melulu tentang dosen, mahasiswa, dan tugas-tugasnya. Sepanjang perjalanan menempuh pendidikan di jenjang perkuliahan tentu teriring beragam kisah dengan rasa-rasa yang berbeda. Rasa manis memang paling didamba. Akan tetapi, asin dan pedas terkadang perlu dirasa agar sensasinya membentuk cita rasa yang akan menjadikan kehidupan lebih bermakna.


Empat bulan sudah Anjani hidup di perantauan. Selama itu pula Anjani merasakan banyak perubahan dalam hidupnya. Perubahan itu bukan hanya tentang bertambahnya kemandirian, kuatnya tekad dalam menempuh pendidikan, ataupun pudarnya sikap manja. Kali ini, Anjani pun lebih peka dengan perasaan-perasaan yang terkadang menghantui dirinya.


Sejak pukul 7 pagi hingga pukul 3 sore Anjani setia berada di kampus. Mata kuliah memang hanya satu, tapi ada tugas yang harus diselesaikan saat itu. Tugas paper dari Pak Koko harus dikumpulkan besok pagi. Sebenarnya tugas itu sudah diberikan sejak seminggu yang lalu. Akan tetapi, terkadang godaan aktivitas lain begitu kuat hingga mampu mengesampingkan tugas utama.


"Pusyang nih kepala lama-lama. Ah!" Meli mematahkan cokelat batangan miliknya, kemudian menggigitnya dalam potongan kecil.


"Salah kita juga sih, Mel. Udah tau nggak bisa ngetik cepet, tapi kita malah santai beberapa hari ini."


Anjani tampak fokus dengan laptop di depannya. Sudah dua hari ini dia dan Meli meminjam dua laptop dari rental khusus mahasiswa. Fakta bahwa mereka berdua kurang mahir dalam pengetikan, telah memberi sedikit kendala. Meski sesekali mengeluh, tapi rupanya rasa tanggung jawab mereka jauh lebih besar demi menyelesaikan tugas tepat waktu.


"Ah, Anjani ... aku pengen cepet-cepet liburan ke desamu," kata Meli sedikit merengek.


"Simpan itu untuk nanti, Mel. Sekarang kita selesaikan tugasnya dulu."


"Coba aja ada yang bantuin, pasti seneng. Apalagi yang bantuin Kak Ken atau Kak Mario. Uhui ...!" Meli mulai berkhayal.


Anjani tidak menanggapi khayalan Meli. Dia menatap sahabatnya dengan heran untuk beberapa detik lamanya. Setelah itu, Anjani mengambil potongan cokelat miliknya dan menjejalkan ke mulut Meli. Meli tidak marah, justru dia tertawa karena mengerti bahwa Anjani tidak ingin dia meneruskan khayalannya.


"Tapi kalau diperhatiin lagi, kita udah hampir tiga minggu nggak ngeliat mereka. Teman-teman lain juga mbahas itu tadi. Aku coba tanya Juno tapi jawabannya ngeselin. Kemana ya kira-kira?" tanya Meli pada Anjani.


Untuk ke sekian kali tatapan Anjani beralih dari layar laptop. Dia tidak berniat segera menjawab pertanyaan Meli. Potongan cokelat terakhir miliknya akhirnya raib juga dikunyah. Kini Anjani tampak berpikir, dan kalau dia ingat-ingat lagi perkataan Meli benar adanya.


"Mungkin aja ada tugas penelitian di luar kampus. Mungkin juga beberapa minggu belakangan ini cuma ada tugas online. Bisa aja, kan. Jadwal kuliah angkatan kita kan memang beda sama senior." Anjani menjelaskan dugaannya.


"Nah, nah, nah. Hari ini kamu ngerespon dengan baik pertanyaanku tentang mereka berdua. Rindu ya sama tampang keren mereka?" tanya Meli sambil memainkan kedua alisnya.


"Aku hanya berpikir logis, Meli. Lagian kamu juga ngapain sih mbahas mereka. Udah ayo kerjain lagi."


"Ahaha, ada yang ngambek, nih. Oke lanjut!


Tepat pukul setengah 5 sore, tugas paper untuk mata kuliah yang diampu Pak Koko selesai. Anjani dan Meli tidak lupa menyimpan file tugas di flashdisk. Setelah berkemas, mereka beranjak pulang.


Hampir sampai di gerbang utama kampus, Anjani melihat Berlian. Tampak Berlian sedang berdebat dengan seorang lelaki. Demi melihat itu, Anjani menarik tangan Meli untuk ikut bersembunyi di balik pot besar berisi tanaman yang lumayan rimbun. Cocok sebagai tempat untuk bersembunyi.


Saat diperhatikan dari tempatnya bersembunyi, Anjani yakin sekali bahwa lelaki yang sedang berdebat dengan Berlian adalah lelaki yang fotonya dijadikan wallpaper di smartphone Berlian. Ya, Anjani sangat yakin dengan hal itu.


Bruak!


Lelaki tadi menutup pintu mobilnya dengan keras sesaat setelah Berlian menyebut kata putus. Berlian masih berdiri di sana meskipun mobil lelaki tadi sudah berlalu.


"Anjani, kita baru aja liat adegan pemutusan ikatan cinta. Berlian putus sama pacarnya. Haruskah kita ke sana dan menghibur dia?" tanya Meli sambil berbisik.

__ADS_1


"Sst, pelankan lagi suaramu, Mel. Kita bisa ketahuan!" Anjani mengingatkan Meli. Namun peringatan itu sepertinya terlambat karena tanpa disadari oleh Anjani dan Meli, Berlian sudah berdiri di dekat tempat mereka bersembunyi.


"Keluar kalian. Dasar tukang nguping!" kata Berlian kasar.


Anjani dan Meli keluar dengan wajah tanpa dosa. Mereka berdua saling tertawa kecil dan sedikit mendekat ke tempat Berlian berdiri.


"Hm, itu tadi .... Maaf, kita berdua nggak sengaja ngeliat. Maaf!" kata Anjani kemudian.


Berlian tidak menanggapi permintaan maaf dari Anjani. Dari yang semula berdiri biasa, kini Berlian mulai melipat kedua tangannya. Wajahnya masih menunjukkan emosi yang sama. Sepertinya tidak ada tanda-tanda akan mereda.


"Berlian, yang sabar ya. Kamu pasti sedih ya baru aja putus dari cowokmu." Meli memberanikan diri menghibur Berlian.


"Hahaha, siapa juga yang sedih. Tampang cantik kayak gini mudah banget buat cari gebetan baru. Otak gue juga encer. Paket lengkap buat seorang putri. Enggak kayak kalian, udah cupu nggak modis pula." Berlian menyombongkan diri sekaligus kembali berkata kasar.


Mendengar itu membuat Meli emosi. Cepat-cepat Anjani menahan lengan Meli sebelum terjadi hal lain yang tidak diharapkan. Berbeda dengan Berlian, dia semakin menunjukkan sikap sombongnya.


"Gue tantang kalian berdua, di antara kita siapa yang paling cepat dapat gebetan. Waktunya sampai akhir semester ini. Berani nggak?" Berlian menantang Anjani dan Meli.


"Oke, siapa takut." Meli mengiyakan tanpa berpikir panjang.


Anjani kaget mendengar ucapan Meli. Dia memandang sahabatnya seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dalam situasi tersebut Anjani tidak bisa berdebat dengan Meli, apalagi di depan Berlian. Pada akhirnya Anjani pun melontarkan sebuah tantangan.


"Bagus-bagusan nilai. Akhir semester ini. Gimana? Berani?" Anjani terbawa suasana kompetisi.


"Oke, deal. Gebetan plus nilai bagus semester ini. Kuharap kalian berdua nggak akan menyerah di tengah kompetisi. Bye!" Setelah berkata demikian, Berlian balik badan dan menuju mobilnya.


Anjani tidak merespon rengekan Meli. Sejujurnya dia juga tidak menyangka bisa memberi tantangan untuk Berlian.


"Udah, Mel. Soal gebetan jangan terlalu dianggap serius. Yang penting nilai kita jangan sampai kalah sama Berlian. Oke?" Anjani berusaha menenangkan hati sahabatnya, meskipun dia sendiri juga kepikiran.


Akankah Anjani dan Meli berhasil unggul dalam tantangan yang diberikan? Dan ... bagaimana cara Anjani mengakali tantangan mendapat pacar?


***


Malam telah tiba. Cuaca cerah membuat bintang di atas sana berkerlip indah. Sosok bulan juga patut menjadi perhatian, bulat sempurna memancarkan sinar. Sungguh lukisan langit malam yang memesona, dan waktu yang tepat untuk saling bercengkerama.


Malam itu Juno dan Ken menginap di rumah Mario. Tidak ada acara khusus tentang itu. Sudah menjadi kebiasaan sendiri bagi mereka bertiga untuk saling menginap di rumahnya.


"Mas Ken, dicariin teman-teman angkatanku, tuh." Juno membuka topik.


"Serius, aku doang yang ditanyain? Wah, kemajuan nih!" Ken bangga karena merasa hanya dirinya yang ditanyakan.


"Ya enggaklah, Mas. Sudah pasti nama Mas Mario yang disebut duluan."

__ADS_1


"Ah, lagi-lagi kalah sama Mario. Mantap, bro. Kau memang idola kampus."


"Hm."


Mario tetap minim kata-kata. Dia lebih suka menyimak obrolan antara Ken dan Juno. Sesekali Mario akan buka suara menjadi penengah saat obrolan yang ada mulai memanas dan tak bertemu ujungnya. Mario memang memegang peran bijaksana dalam persahabatan mereka.


Juno pernah bertanya pada Ken, apakah Mario bisa bercanda seperti yang sering dilakukan olehnya. Ken justru memberi saran pada Juno agar membuktikannya sendiri. Hingga kini Juno masih tetap dalam rasa penasarannya.


"Mas Mario, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Juno.


"Katakan," kata Mario.


"Mas Mario pernah bercanda nggak? Atau Mas Mario ini termasuk orang yang suka dengan keseriusan?" tanya Juno lagi.


Ken mengacungkan dua jempolnya saat mendengar Juno mengajukan pertanyaan. Sejujurnya Ken juga menunggu reaksi seperti apa yang akan ditunjukkan oleh Mario.


Masih dalam posisi duduknya, Mario menampakkan sedikit senyumnya. Lebih mirip senyuman licik. "Juno, apakah kau berniat mengetahui sisi lain dari diriku? Atau justru kau ingin daftar menjadi salah satu penggemarku?" tanya Mario kemudian.


"Ahahaha. Jawab itu, Juno!" Kata Ken sambil tertawa. Ken benar-benar tak menduga bahwa reaksi seperti itulah yang akan ditunjukkan Mario atas pertanyaan Juno.


"Ah, nggak jadi penasaran, deh. Ujung-ujungnya aku lagi yang dikerjain. Oh ya, Mas. Liburan semester ini ikut gengku, yuk! Kita punya rencana ke desa. Ntar kutunjukin juga rumahnya Anjani. Gimana?" Juno antusias mengajak seniornya.


Ken yang pertama kali menanggapi ajakan Juno. Dia antusias mendengar kata liburan. "Setuju. Ikut aja, bro! Lagipula proyek dari dosen sudah kita selesaikan minggu ini, kan." Ken membujuk Mario agar ikut liburan ke desa.


"Ken, apa kau punya niatan lain?" tanya Mario.


"Ya apalagi kalau bukan liburan, Mario." Ken menegaskan.


Mario tidak langsung menjawab. Dia melihat satu per satu wajah dua sahabatnya. Juno menunjukkan wajah penuh harap. Kedua tangannya bahkan tanpa sadar mengepal. Sementara Ken tak henti-hentinya melontarkan kata 'ayo ikut'.


"Kalian ingin tau jawabanku?" tanya Mario.


Mendengar pertanyaan Mario membuat Ken dan Juno semakin gemas. Tentu saja sejak tadi mereka berdua menunggu jawaban Mario.


"Tidak!" kata Mario kemudian.


"Tidak akan menolak?" Ken memastikan.


"Tidak tertarik untuk ikut." Mario menegaskan jawabannya.


"Ah! Sayang sekali, Mario. Juno, masih ada waktu untuk membujuk dia. Kau tenang saja, kita akan ikut denganmu." Ken mantap berbicara.


Akankah Ken dan Juno berhasil membujuk Mario untuk ikut berlibur ke desa tempat asal Juno dan Anjani?

__ADS_1


***


❤like, vote, dan jejak komentarnya ya. Dukungan kalian sangat berarti untuk author. See You. ❤


__ADS_2