CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Pelukan


__ADS_3

Tawa bocah-bocah desa yang asyik bermain air sungai terdengar renyah, seolah tidak tersimpan beban pada dirinya. Melihat canda dan keceriaan itu membuat Anjani tetiba ingin kembali ke masa anak-anak. Masa indah beberapa tahun silam saat dirinya masih senang bermain bersama teman-teman seumuran pun kembali mengusik ingatan. Tentu saja indah, dan mustahil untuk terulang kedua kalinya.


Puas memperhatikan bocah-bocah desa, Anjani berjalan mendekat ke tempat Mario, Ken, dan Dika yang tengah asyik duduk di tepian sungai, dengan kaki tercelup ke air. Anjani sengaja memilih duduk di dekat Mario, di sisi sebelah kiri dekat sebuah batu yang ukurannya lumayan besar.


Beberapa menit berlalu tanpa obrolan. Anjani, Mario, Ken, dan Dika sama-sama fokus memandangi alam sekitar. Senyum yang tertoreh menandakan bahwa Anjani dan teman-temannya begitu menikmatinya. Memandangi suguhan alam di sekitar aliran sungai jernih sudah cukup membuat hati Ken dan Dika terhibur, sedikit melupakan kejadian beberapa saat lalu yang mengakibatkan smartphone mereka ikut basah-basahan. Sementara Mario, dia merasa bahwa keinginan masa kecilnya untuk bermain air di sungai telah terbayar hari itu.


"Ah, percuma juga mikirin smartphone basah. Yuk, nyemplung lagi!" ajak Ken pada teman-temannya.


Jebur!


Ken kembali bermain air sungai. Akan tetapi, kali ini dia memilih untuk bergabung bersama bocah-bocah desa. Ajakan Ken untuk kembali bermain air disambut baik oleh Dika. Tanpa menunggu lama, Dika bergegas mendekat ke tempat Ken dan bocah-bocah desa, kemudian larut dalam canda tawa.


"Kamu nggak ikut?" tanya Anjani pada Mario.


"Tidak," jawab Mario singkat tanpa menoleh.


Diam-diam Anjani mencuri pandang wajah Mario. Seutas senyum tampak menghiasi wajah tampannya. Anjani mencoba memandang ke arah yang sama seperti Mario. Rupanya Mario sedang memperhatikan ikan-ikan kecil yang berenang di sekitar bebatuan, tidak jauh dari tempatmya duduk.


"Jadi ... waktu kamu kecil dulu memang tidak pernah diizinkan main di sungai? Em, sampai dibuatkan kolam renang seperti kata Kak Ken? Benarkah itu?" tanya Anjani.


Anjani sengaja kembali membuka obrolan. Rasanya akan krik-krik-krik bila hanya duduk diam tanpa mengobrol.


"Kamu percaya cerita yang dikatakan Ken?" tanya Mario balik. Kini dia mulai melupakan ikan-ikan yang berenang dan mulai melihat ke arah lawan bicaranya.


Anjani tersenyum dan berkata, "Tentu saja percaya karena Kak Ken adalah sahabat baikmu. Jadi, dia tidak mungkin berbohong."


"Itu benar, dan cerita Ken juga sama benarnya," jelas Mario sambil tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu puas-puasin saja main air di sini. Hihi. Tuh, diajak Kak Ken sama Dika main air di sana. Gabung, gih! Biar smartphone-mu aku pegangin," kata Anjani sambil mengulurkan tangan kanannya, kode bahwa dia siap dititipi smartphone Mario.


Beberapa detik berlalu, uluran tangan Anjani hanya bersambut angin. Tak kunjung menerima smartphone Mario, uluran tangan itu pun Anjani tarik kembali. Anjani seketika mengusap-usap tengkuknya, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Semua itu demi mengusir rasa malu karena uluran tangan yang tak bersambut.


"Baiklah," kata Anjani kemudian.


Kini, Anjani tidak memaksakan diri untuk menjalankan misinya. Pikiran positif akhirnya dipilih agar tidak menambah beban pikiran. Anjani seketika mendengungkan dugaan-dugaan baik pada dirinya.


Mungkin Mario punya alasan tersendiri. Aku harus menghormati privasinya. Ya, itu lebih baik. Positive thinking! batin Anjani.


Anjani memutuskan untuk diam, dan tidak lagi mencoba membuka obrolan dengan Mario. Lagipula, Mario juga terlihat sangat asyik menikmati suguhan alam. Anjani mengikuti sikap yang sama seperti Mario, memandang ke sembarang arah sembari menikmati suguhan-suguhan indah. Sungai jernih, ikan-ikan kecil berenang ke sana-sini, tawa renyah bocah-bocah, juga canda tawa dari Ken dan Dika, semua itu tidak luput dari perhatian Anjani.


Sebuah senyum telah menghiasi wajah Anjani. Kesejukan dan kedamaian yang didapat di sana telah menjalar dan memberi rasa nyaman. Anjani seolah berada di waktu yang tepat, tempat yang tepat, juga bersama orang-orang yang tepat.


Inginku terus berada dalam posisi ternyaman. Namun, akankah itu bisa diwujudkan? batin Anjani.


"Rasa nyaman itu memang didambakan oleh siapa pun, Anjani. Bukan hanya kamu, aku pun juga menginginkannya. Bahkan Ken dan Dika yang saat ini terlihat senang bergurau di sana, pasti mereka juga menginginkan hal itu," jelas Mario.

__ADS_1


Deg!


"Eh, kamu dukun ya? Kok bisa tahu isi pikiranku?" tanya Anjani spontan. Dia sempat kaget karena Mario bisa membahas topik serupa dengan yang sedang dia pikirkan saat itu.


"Benarkah isi pikiran kita sama?" tanya Mario sambil menatap mata Anjani yang duduk persis di sebelahnya. Bahkan, Mario mengubah posisi duduknya agar bisa lebih leluasa melihat Anjani.


"Jangan-jangan kita ...." Mario belum melanjutkan kata-katanya. Dia masih menatap mata Anjani sambil tersenyum.


Jodoh. Apakah yang ingin kau katakan 'jangan-jangan kita jodoh'? batin Anjani.


Anjani juga menatap mata Mario. Bahkan, hatinya sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui lanjutan dari kata-kata Mario.


Drrt .... Drrt .... Drrt ....


Tatapan mata itu seketika buyar, karena smartphone Mario tiba-tiba bergetar.


"Siapa yang telepon?" tanya Anjani.


"Bukan siapa-siapa," jawab Mario dengan nada santainya. Dia membiarkan smartphone-nya terus bergetar, tanpa bermaksud mengangkat panggilan dari seseorang.


Drrt .... Drrt .... Drrt ....


Smartphone Mario lagi-lagi bergetar, dan Mario lagi-lagi mengabaikan panggilan masuk itu. Melihat itu, Anjani kembali tersulut untuk bisa tahu siapa yang menelepon Mario. Anjani berusaha mengintip nama yang tertera di layar smartphone Mario. Akan tetapi, gagal karena Mario cepat-cepat mematikan smartphone miliknya.


Anjani tidak kuasa memendam rasa ingin tahunya. Akan tetapi, bukan memaksa Mario untuk memberi tahu nama orang yang berusaha menghubungi, dia justru memberi saran baik agar Mario tidak terus-terusan mengabaikan telepon itu.


"Bukan siapa-siapa, dan ini juga bukan urusanmu, Anjani," terang Mario.


"Oke, terserah!" ujar Anjani kesal.


Anjani berdiri, kemudian menjauh dari tempat Mario duduk. Akan menjadi pilihan baik jika Anjani membiarkan Mario sendiri lebih dulu. Itu juga akan baik bagi dirinya agar tidak terjebak dalam rasa ingin tahu yang berlebihan.


Kini Anjani bergabung bersama bocah-bocah desa, Ken, juga Dika. Anjani asyik bermain ciprat-cipratan air sungai bersama yang lain. Akan tetapi, Anjani tidak sepenuhnya menikmati permainan air sungai itu. Sesekali Anjani juga curi-curi pandang, melihat ke arah Mario yang kembali asyik menikmati alam.


Lima menit berlalu, semua masih berada di posisi yang sama. Sampai tiba-tiba terdengar suara sapaan kencang dari seorang wanita yang memanggil nama Mario.


"Mario ...!" teriak seorang wanita.


Teriakan itu mengundang semua mata untuk segera melihat sosok wanita yang baru saja memanggil nama Mario. Anjani juga demikian, dia bergegas balik badan untuk melihat siapa yang memanggil nama Mario dengan begitu kencang.


"Alenna," tutur Anjani lirih.


Wanita yang baru saja berteriak memanggil nama Mario adalah Alenna. Anjani langsung terlihat senang karena bisa kembali melihat wajah si bule cantik Alenna. Niat untuk segera mendekat dan menyapa Alenna segera terbersit di hati Anjani. Akan tetapi, seketika niat itu urung karena Anjani melihat Alenna berlarian mendekat ke arah Mario, sambil merentangkan kedua tangannya seolah hendak berniat memeluk Mario.


Beberapa detik kemudian, Alenna terpeleset saat jaraknya tinggal tiga meter saja dari tempat Mario. Kaki Alenna terperosok ke air sungai. Tidak begitu dalam, dan Alenna juga tidak sampai terjatuh ke dalam air sungainya. Hanya kaki sebelah kanan saja yang basah sampai setinggi pergelangan kaki. Akan tetapi, reaksi yang ditunjukkan Alenna sungguh berbeda. Membuat Anjani, Ken, Dika, bahkan Mario pun terheran-heran dibuatnya.

__ADS_1


"Hiyaaa! Kakiku basah. Sepatu mahalku basah. Aduh, jahil banget sih air sungainya!" seru Alenna.


Anjani, Ken, dan Dika masih memperhatikan dari jauh. Mereka tidak mendekat ke arah Mario. Sementara itu, Mario terlihat mulai mendekat ke arah Alenna, dan membantu agar kaki Alenna keluar dari air sungai.


"Kenapa kamu di sini, sih?" tanya Mario setengah berbisik pada Alenna.


"Hayo-hayo-hayo. Aku paling nggak suka kalau melihat tanda akan dimarahi. Aku kangen!" ujar Alenna dengan teriak-teriak. Setelah itu, Alenna segera memeluk erat tubuh Mario.


Anjani kaget melihat adegan itu. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa si bule cantik Alenna memeluk Mario. Hati dan pikirannya mendadak dipenuhi banyak pertanyaan tentang hubungan Alenna dengan Mario.


Mario tidak menolak pelukan dari Alenna, karena dia tahu Alenna akan semakin memeluknya erat jika menolaknya. Selepas pelukan itu, Alenna bergegas menggandeng lengan Mario dan mengajak untuk segera mengikutinya. Lagi-lagi, Mario tidak menolak ajakan itu.


Anjani terus menyaksikan adegan antara Alenna dan Mario. Dia benar-benar sudah kehilangan kata-kata. Saat ini rasa dalam hatinya campur aduk, tapi rasa kesal yang paling mendominasi.


"Eh-eh, mau kemana mereka? Main pergi gitu aja, sih. Nggak nyapa, nggak pamit. Dikira kita patung di sini," protes Ken.


Alenna dan Mario pergi tanpa pamit. Alenna hanya sempat melambaikan tangan sebentar ke arah Anjani dan Ken. Hanya lambaian tangan biasa tanpa kata-kata. Setelah itu Alenna kembali mengajak Mario untuk ikut bersamanya. Lagi-lagi Mario tidak protes dengan sikap Alenna.


Ken mengambil langkah cepat mencoba mendekat ke arah Mario dan Alenna.


"Hei, tunggu!" seru Ken.


"Stop! Jangan mengganggu!" protes Alenna. Protes itu seketika langsung membuat langkah Ken terhenti.


"Ken, aku pulang. Jangan menyusulku. Sampaikan permintaan maafku pada yang lain. Permisi!" ujar Mario.


Ken tidak bisa mencegah Mario dan Alenna. Sebenarnya Ken juga penasaran kenapa Mario bisa sampai disusul ke desa oleh Alenna. Akan tetapi, Ken tidak punya kesempatan untuk bertanya. Ken hanya bisa terdiam sambil melihat Mario dan Alenna pergi.


"Biarkan saja mereka," tutur Dika yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Ken.


"Anjani, apa kau terkejut?" tanya Ken. Dia menangkap ekspresi tidak biasa pada wajah Anjani.


"Wow, aku terkejut! Benar-benar terkejut," jelas Anjani dengan ekspresi datar.


"Ah, jadi penasaran sama si bule cantik itu! Siapanya Kak Mario, sih?" tanya Dika.


Ken hanya mengangkat bahunya, sebagai tanda bahwa dia kurang begitu tahu. Sebenarnya Ken tahu sedikit tentang Alenna, tapi dia tidak berniat untuk membahasnya apalagi memberitahukan pada teman-teman yang lain.


"Tidak perlu dibahas lagi, Dika. Itu privasi mereka. Yang jelas, jangan sampai acara liburan kita kacau hanya karena mereka. Saat Juno dan Meli bertanya, bilang saja Mario pulang karena mendadak ada urusan. Lupakan dan jangan dibahas lagi. Nikmati saja liburan di desa ini," jelas Anjani.


Anjani spontan berkata demikian. Dia tidak ingin menambah rasa kesal yang sedari tadi menguasai hatinya. Memilih diam, tidak membahas lebih lanjut, lalu melupakan menjadi pilihan tepat menurutnya saat itu. Meski sebenarnya dia memiliki berjuta tanya tentang Mario dan Alenna, sebisa mungkin dia berusaha mengabaikannya.


"Ayo, kita susul Meli dan Juno saja!" ajak Anjani. Ken dan Dika memilih setuju dan ikut bersama Anjani.


***

__ADS_1


__ADS_2