
“Mel, liatin apa sih sampai melongo begitu?” tanya Anjani.
Meli tak merespon pertanyaan Anjani. Dia masih saja melongo sambil terus menatap lurus ke depan.
“Mel,” panggil Anjani sambil menepuk bahu Meli.
“Seriusan nih yang aku lihat? Nggak lagi halu, kan?” tanya Meli tanpa menoleh ke arah Anjani.
Terheran dengan sikap Meli, Anjani pun mengikuti arah pandangan mata Meli.
“Em …. Ternyata.” Anjani akhirnya tahu apa yang membuat Meli sampai melongo. “Nggak lagi halu, kok. Yang kamu lihat bukan prank juga,” imbuhnya.
“Jadi gadis cantik berhijab yang ada di sana itu Vina?” Meli masih meyakinkan dirinya.
“Betul sekali,” jawab Anjani mantap.
“Allahu Akbar. Alhamdulillaah,” ucap Meli pada akhirnya.
“Alhamdulillaah. Yuk, masuk kelas! Jam pertama mata kuliahnya Pak Nizar nih,” ajak Anjani.
“Ayuuuuk!” sahut Meli antusias.
Senin pagi itu, dua muslimah cantik bersemangat menuju ruang kuliah. Anjani dan Meli, mahasiswa yang baru beberapa bulan lalu berhijrah. Sejak saat itu, baik Anjani ataupun Meli sama-sama merasakan perubahan luar biasa dalam hidupnya. Tidak hanya rasa nyaman karena ibadah-ibadah yang dilakukan, tapi juga karena semakin dekatnya hati merema kepada Sang Pencipta.
Hari-hari Anjani tampak lebih berwarna. Satu per satu orang-orang di sekitarnya telah memulai langkah hijrahnya. Vina yang sempat terlibat perseteruan kata dengan Anjani pun telah memulai langkah barunya diawali dengan menutup auratnya. Ya, meskipun tutur kata Vina masih saja belum berubah. Anjani yakin bahwa setiap yang berproses baik akan berujung indah pada akhirnya.
Lebih dalam dari itu, hari-hari Anjani berwarna juga karena hadirnya Mario. Getar merdu seringkali Anjani rasakan saat Mario ada di dekatnya. Getaran itu sungguh berbeda dari yang saat dulu Anjani rasakan, yakni saat Mario-Anjani hendak melangsungkan pernikahan pada waktu itu. Getaran yang kini dirasakan Anjani pada Mario terdengar jauh lebih merdu. Semua itu karena sosok Mario yang dikenal Anjani telah menjadi sosok yang berbeda. Mario yang kini dikenal Anjani adalah Mario yang lebih sering mengenakan sarung dan peci ala santri.
Tidak dapat dipungkiri bahwa Mario-Anjani tampak mata semakin dekat dari hari ke hari. Teman-teman Anjani menjadi saksinya. Mario-Anjani seringkali mengobrol dan membahas tentang ikhtiar ketaatan seorang muslim-muslimah. Tentu saja itu semua tidak mereka lakukan berdua. Selalu ada teman atau pihak ketiga yang menemani obrolan keduanya. Meli dan Ken, merekalah yang seringkali menemani obrolan Mario-Anjani. Mereka berdua juga menjadi saksi atas sikap-sikap yang menyiratkan perasaan cinta antara Mario-Anjani.
***
Beberapa minggu telah berlalu. Paman Sam telah melangsungkan pernikahan seminggu yang lalu dengan seorang janda beranak satu. Pernikahan Paman Sam berlangsung sederhana, dengan kehadiran beberapa tetangga, keluarga mempelai, dan tentu saja teman Paman Sam sesama mantan preman. Ma juga datang dari desa, bahkan Ma yang mengurus semua jamuan untuk para tamu.
Rumah Paman Sam tak lagi sepi. Perempuan yang kini menjadi istri sah Paman Sam telah menetap dan tinggal di rumah Paman Sam bersama seorang putranya. Hari-hari Anjani pun semakin berwarna dan tidak lagi merasa kesepian saat di rumah.
Istri Paman Sam bernama Sarah. Usia Sarah terpaut sepuluh tahun lebih tua dari Anjani. Tubuh Sarah terlihat lebih berisi jika dibandingkan dengan Anjani. Namun, yang paling penting dari itu semua, Sarah adalah seorang muslimah taat. Pakaiannya selalu tertutup dan jilbabnya pun lebar. Sarah juga hafal Alquran juz 30. Hal itu membuat Anjani seperti menemukan teman baru sesama pejuang penghafal Alquran.
Anak lelaki Sarah bernama Renal. Usianya sepuluh tahun, dan sedang menempuh pendidikan di bangku kelas empat SD. Renal anak yang sopan dan taat beribadah. Renal pun juga sedang dalam proses ikhtiar menghafal Alquran. Jadilah Anjani semakin bersyukur lantaran kehidupannya dikelilingi oleh orang-orang baik dan sama-sama mencintai Alquran.
“Nduk, besok kamu jadi pergi ke acara pernikahan dosenmu?” tanya Sarah pada Anjani.
‘Nduk’, yang merupakan panggilan kesayangan anak perempuan didapatkan Anjani semenjak Sarah menjadi istri Paman Sam. Anjani senang dengan panggilan itu. Anjani seperti sedang berada di dekat Ma. Sementara itu, Anjani memanggil Sarah dengan sebutan Bibi, agar serasi dengan panggilan yang ditujukan untuk Paman Sam.
“InsyaAllah jadi. Besok ada Meli yang menjemput Anjani,” terang Anjani sembari membantu Sarah mengupas bawang putih siang itu.
“Jangan lupa hadiah untuk dosenmu dibawa, ya. Nanti bibi bantu bungkuskan yang cantik.” Sarah menawari bantuan.
“Alhamdulillaah. Hehe, terima kasih. Renal juga bantuin Mbak, ya?” tanya Anjani pada Renal. Anjani mendapat panggilan ‘Mbak’ oleh Renal.
“Siap, Mbak. Nanti Renal yang masangin pitanya aja deh,” kata Renal.
“Sip!” Anjani mengiyakan sembari mengacungkan jempolnya pada Renal.
“Asyik betul obrolan kalian, ya. Hehe. Pasti lagi ngomongin paman kau yang ganteng ini,” tebak Paman Sam yang baru saja masuk rumah.
“Ah, Paman Sam PeDe betul. Hihi.” Anjani terkekeh.
“Oya, Anjani. Mulai besok bibi kau yang solihah ini akan membantu paman kau ini mengelola warung di rumah. Untuk warung yang ada di pasar sana, bibi kau sudah mempekerjakan orang untuk mengelolanya. Jadi, hari-hari kau bakal tambah seru. Bisa hafalan Alquran bareng,” jelas Paman Sam.
“Alhamdulillaah,” ucap Anjani penuh syukur atas kabar baik yang diterima.
“Oya, mumpung ingat. Liburan semester ini kau pulang kampung tak? Ma kau telepon tadi pagi,” tanya Paman Sam.
“InsyaAllah Anjani pulang ke desa selama beberapa hari. Nanti Anjani telepon Ma langsung aja deh, Paman. Sekalian mau sambung ayat via telepon. Ma juga sedang berusaha hafalan surat pendek di desa, lho. Ada mentor khusus. Bang Romli,” kata Anjani lalu terkekeh.
“Romli yang duda itu? Wah, bisa-bisa terjadi adegan cinta lokasi nantinya itu. Haha. Kakakku pinter betul pilih mentornya.” Tawa Paman Sam seketika pecah.
“Sama-sama berdoa saja untuk yang terbaik,” sahut Sarah seraya tersenyum.
Anjani setuju dengan Sarah. Anjani juga setuju dengan pemikiran Paman Sam. Diam-diam Anjani juga mendoakan Ma agar bisa bertemu dengan sosok baru yang bisa. mencintainya dengan tulus.
__ADS_1
***
Hari pernikahan Pak Nizar dan Mbak Bida telah tiba. Kedua mempelai yang sedang berbahagia itu menggelar resepsi pernikahan di sebuah gedung. Pak Nizar terlihat tampan memesona dengan setelan jas pengantin. Mbak Bida yang jadi ratu sehari pun terlihat anggun dengan gaun pengantinnya.
Anjani dan teman-teman yang tergabung dalam kelompok mengaji diundang oleh Pak Nizar dan Mbak Bida. Anjani, Mario, Meli, Juno, Ken, Berlian, Dika, dan Alenna datang ke acara resepsi yang digelar hari Minggu siang itu. Masing-masing dari mereka membawa hadiah untuk dosen mereka, Pak Nizar.
“Meli, jilbab aku udah bener nggak, sih?” tanya Berlian pada Meli.
“Sini-sini aku lihat!” Alenna mendekat dan membantu Berlian membetulkan jilbabnya.
“Udah. Kalian semua udah pada cantik, kok.” Meli memuji teman-temannya.
“Kadonya, Mel.” Anjani mengingatkan Meli, karena hadiah yang dibawa Meli masih menggantung di motornya.
Meli lekas mengambil bungkusan cantik yang berisi hadiah pernikahan untuk Pak Nizar.
"Sayang banget Vina nggak bisa hadir. Kan nggak ada yang bisa kuajak ribut," celetuk Meli.
"Astaghfirullah, Mel." Anjani mencubit pelan lengan Meli dan lekas mendapat cengiran darinya.
Anjani siang itu memakai gamis cantik hadiah dari Vina. Hadiah karena Anjani sudah menemani Vina berbelanja gamis dan hijab kala itu. Anjani terlihat anggun memakai gamis itu. Senyum ayu di wajahnya membuat penampilan Anjani semakin memesona.
“MasyaAllah. Para bidadari cantik sudah datang lebih dulu rupanya,” puji Juno yang baru saja datang.
“Heh, Juno. Bidadari-nya sudah jadi istri Pak Nizar. Noh, di dalam!” celetuk Meli.
“Iya-iya tau. Bawel!” protes Juno pada Meli.
“Nunggu apa, sih? Ayo cepat masuk! Biar bisa menikmati hidangan,” kata Dika yang kala itu terlihat rapi dengan baju batik.
Meli memperhatikan Dika sekilas. Ya, getar itu masih saja ada saat Dika ada di dekatnya. Akan tetapi, di saat yang sama tatkala Meli merasakan getaran itu, wajah Azka pun terbayang di benaknya.
“Em …. Sebaiknya kita tunggu Kak Ken, dan Kak Mario tentunya. Iya kan, Anjani?” Meli meminta persetujuan Anjani.
Anjani mengangguk, setuju dengan saran Meli. Lagipula mereka diundang bersama. Akan terlihat baik pula jika mereka datang bersama-sama.
Lima menit kemudian, yang dinanti pun datang. Mario datang bersama Ken mengendarai mobil milik Mario. Dua sosok tampan itu pun terlihat rapi dengan baju batik yang dikenakan. Rambut yang ditata rapi semakin membuat penampilan mereka berdua cemerlang.
“Meli, boleh aku titip yang satu ini di motormu?” izin Mario sambil menunjukkan satu hadiah yang berukuran lebih kecil dibanding hadiah satunya.
“Ya tentu boleh dong, Kak. Eh, tapi yakin nih nggak bakal hilang?” tanya Meli.
Mario menggeleng pelan sembari tersenyum lalu melihat ke arah Anjani. Sadar Mario menatap ke arahnya, Anjani pun lekas menunduk karena khawatir jadi salah tingkah.
“Kenapa nggak diletakkan di dalam mobilmu aja, sih?” Ken heran.
“Hm.” Jawaban khas Mario muncul lagi. Ayo kita masuk!” ajak Mario kemudian.
Anjani, Mario, Ken, Berlian, Dika, Meli, Juno, dan Alenna masuk ke dalam gedung tempat resepsi pernikahan Pak Nizar dan Mbak Bida. Aura bahagia kedua mempelai menular pada tamu undangan. Semua yang ada di dalam gedung terlihat bahagia. Ada yang asik menyantap hidangan prasmanan. Ada yang antri berfoto dengan pengantin. Ada pula yang menyumbangkan suara merdunya untuk menghibur acara pernikahan Pak Nizar dan Mbak Bida.
Anjani dan teman-temannya juga melakukan sesi foto dengan pengantin. Banyak gaya yang mereka lakukan, gaya formal, gaya bebas, candid, bahkan gaya anggun sopan santun. Usai berfoto mereka pun menikmati hidangan prasmanan yang tersuguh.
***
"Wih, aku dapat souvenir juga ternyata!" seru Juno.
"Norak, lu!" celetuk Alenna.
"Ehem. Emang aku dari desa. Maklumin kalau norak," kata Juno datar.
"Em, sorry." Alenna tidak enak hati. Padahal niatannya hanya untuk bercanda, tapi Juno malah menyikapinya dengan serius.
"It's oke. Nggak papa. Em, hati-hati di jalan kalau pulang," kata Juno tiba-tiba sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Thanks," jawab Alenna singkat, lalu mengangguk.
Obrolan biasa, tapi terkesan tidak biasa. Juno dan Alenna memang sempat menjalin hubungan spesial sebelum akhirnya berakhir. Obrolan usai acara resepsi pernikahan Pak Nizar itu pun termasuk obrolan yang jauh lebih baik dari sebelumnya, karena sebelum-sebelumnya Juno dan Alenna tidak pernah mengobrol sepanjang itu sejak mereka memutuskan untuk menyudahi hubungan asmara yang sudah terjalin di antara mereka.
Anjani, Meli, dan Berlian memperhatikan Juno dan Alenna.
"Gemes liat mereka berdua," kata Meli setengah berbisik.
__ADS_1
"Udah, ah. Itu urusan mereka. Em, aku pulang dulu ya." Berlian pamit.
"Oke, hati-hati di jalan." Anjani menanggapi dengan baik saat Berlian pamit pulang.
Dika tadi sudah pulang lebih dulu. Disusul Juno, Alenna, dan Berlian. Anjani dan Meli tidak segera pulang karena ada barang titipan Mario di motor Meli. Mereka berdua sedang menunggu pemiliknya.
"Nah, akhirnya Kak Ken sama Kak Mario kelar juga ngobrolnya," kata Meli antusias.
Anjani memperhatikan Mario dan Ken berjalan mendekat.
"Kita berdua pamit pulang dulu ya," pamit Ken.
"Eh, ini dibawa juga, Kak!" seru Meli sambil menunjuk ke arah hadiah yang dititipkan Mario tadi.
Mario tersenyum kemudian melangkah mengambil hadiah yang dititipkan di motor Meli. Sejenak Mario terdiam sambil memandangi kado yang dibawanya. Langkah Mario kemudian membawanya mendekat ke tempat Anjani yang sedang berdiri.
"Ini hadiah dariku untukmu," kata Mario sembari menyerahkan hadiah itu.
"Eh?" Anjani bingung, terkejut, karena yang dilakukan Mario begitu tiba-tiba.
"Terimalah," kata Mario.
Anjani mulanya ragu. Namun, dirinya memutuskan untuk menerima hadiah dari Mario itu.
"Terima kasih, Mario." Anjani tersenyum tulus.
"Sama-sama, Anjani. Tetaplah istiqomah dalam kebaikan," kata Mario kemudian.
"Insya Allah," jawab Anjani sembari tetap tersenyum.
Meli senyum-senyum sendiri saat melihat adegan Mario-Anjani di depannya itu. Menurutnya apa yang dilakukan Mario sungguh romantis, dan bikin baper. Meli bahkan penasaran dengan kelanjutan kisah cinta Mario-Anjani di jenjang Strata 1.
***
Di dalam mobil Mario.
Mario mengemudikan mobilnya perlahan. Sedangkan Ken duduk di sebelahnya sembari melihat aneh ke arah Mario.
"Ada apa, Ken. Katakan saja apa yang kau ingin katakan," kata Mario seolah mengerti bahwa ada sesuatu yang ingin disampaikan Ken.
"Bro. Kenapa harus ngasih harapan besar pada Anjani?" tanya Ken.
Mario tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Mario terdiam beberapa saat.
"Kau sudah tahu alasanku melakukannya," kata Mario kemudian.
"Hanya agar Anjani terus memikirkan kenangan manis yang kau buat saat nanti kau pergi?" Ken meminta penegasan, tapi Mario tak menjawabnya.
"Menurutku akan tidak adil bagi Anjani. Jelas dia akan terjebak dalam perasaan rindu nantinya," kata Ken sambil memandang ke luar kaca mobil di sampingnya.
Beberapa saat tak ada obrolan yang terjadi. Mario fokus mengemudikan mobilnya dengan tenang.
"Huft." Terdengar hembusan nafas Ken. "Oke, apa keputusanmu sudah bulat?" tanya Ken kemudian.
Mario mengangguk. "InsyaAllah. Ayah dan Alenna pun mendukung keputusanku," kata Mario. "Doakan saja yang terbaik, Ken."
Sebagai sahabat, Ken menghormati keputusan Mario. Ken juga akan mendukungnya.
"Good luck!" kata Ken sembari menepuk bahu Mario.
Mario menoleh dan tersenyum pada Ken. "Thanks."
Bersambung ....
***
Seriusan Mario akan pergi, nih? Bener nggak, sih? Kemana? Bagaimana dengan Anjani nantinya jika itu benar?
***
Nantikan lanjutan cerita Cinta Strata 1. Dukung author selalu agar lebih semangat dalam berkarya. Vote, like, dan komentarnya selalu author tunggu juga, ya. Terima kasih sudah membaca, dan semoga selalu suka dengan jalan ceritanya. See You. 😳
__ADS_1