
Momen spesial Meli-Azka segera tiba. Proses lamaran akan segera berlangsung. Malam minggu liburan semester kuliah yang sungguh-sungguh berbeda dari liburan-liburan semester sebelumnya. Malam minggu kali ini penuh romansa bertabur rasa syukur kepada Sang Maha Kuasa.
Meli dan keluarga bersiap menyambut kedatangan Azka dan rombongannya dari Jogja. Pasangan dewasa , Sam-Sarah dan Roni-Fatimah tampak rapi dengan memakai batik sarimbit. Anjani juga tampak rapi dengan gamis modern kombinasi batik. Satu lagi, ada Mario di tengah-tengah mereka yang juga telah rapi mengenakan hem batik.
“Mario, maaf telah mengganggu waktu malam minggumu. Aku benar-benar tidak tahu kalau Paman Sam dan Paman Roni memintamu hadir untuk menyambut tamu.” Anjani masih tidak enak hati atas rencana paman-pamannya.
“Aku senang diminta hadir. Siapa tahu … sebentar lagi aku bisa menyusul keberanian Mas Azka melamar gadis.” Mario tersenyum manis.
“Aamiin,” lirih Anjani sambil menunduk. Ada harapan besar di hatinya.
Meli keluar dari kamarnya. Gamis brukat modern bernuansa islami begitu pas. Meli bukan hanya terlihat lebih anggun, tapi juga terlihat lebih cantik. Anjani dan semua yang ada di rumah itu sampai pangling.
“K-kenapa kalian melihat aku seperti itu? Penampilanku aneh, ya?” tanya Meli dengan nada gugup. Sungguh bukan Meli yang heboh seperti biasanya.
Anjani berjalan mendekat, lalu merangkul sahabatnya itu.
“Kamu cantik, Mel. Gugup, ya?” tanya Anjani.
“Iya, kenapa bisa nggak karuan gini ya rasanya. Jantungku ini sedari tadi berdebar melulu. Huft.” Meli menghela nafas dalam agar lebih rileks.
“Nduk. Sudah siap menyambut Nak Azka?” Fatimah bertanya dengan nada keibuan.
“Insya Allah.” Meli tersenyum dengan jantung yang masih berdebar-debar.
Terdengar mesin mobil dari halaman depan. Paman Sam, Bibi Sarah, Roni, Fatimah, juga Mario sudah berdiri di teras depan rumah untuk menyambut kedatangan tamu spesial dari Jogja. Halaman rumah Roni cukup luas untuk memuat dua mobil yang dikendarai keluarga Azka.
“Assalamu’alaikum,” salam keluarga Azka.
Bu Aisyah , Pak Haris, dan Eyang Probo lebih dulu bersalaman dengan keluarga Meli. Disusul Via dan Ratna yang juga bersalaman. Edi dibantu oleh Pak Nono dan Pak Yudi mengeluarkan hantaran lamaran.
“Dek, ayo masuk!” ajak Farhan pada adiknya, Azka.
“Aku gugup, Mas.” Azka menyeka keringat di dahinya yang sudah keluar sejak perjalanan menuju rumah Meli.
“Yasudah. Kamu diam di luar sini saja,” goda Farhan.
“Ya jangan, Mas. Kan aku yang jadi bintang utamanya malam ini.” Kembali Azka menyeka sedikit keringat di dahinya.
“Ayo, masuk. Bismillaah.” Farhan menarik lengan Azka agar segera masuk. Setelah menghela nafas dalam, Azka pun mengekori Farhan.
Meli dalam kondisi gugup menyambut kedatangan Azka dan Keluarganya. Meli memeluk hangat Bu Aisyah, Via, dan Ratna bergantian.
“Selamat datang di Jember, Bunda.” Meli tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya di depan Bu Aisyah.
“Kamu cantik sekali malam ini. Itu, Azka masih sama kakaknya. Mungkin agak gugup.” Bu Aisyah menunjuk ke arah putra keduanya.
Meli melihat Azka, kemudian tertunduk malu.
“Meli, sudah siap jadi istinya Dek Azka?” tanya Via iseng.
Pipi Meli memerah. Meli hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Setelahnya dia kembali memeluk Via.
“Mel, yang tampan itu siapa?” tanya Ratna sambil menunjuk Mario.
“Itu Kak Mario. Calon suaminya Anjani,” bisik Meli.
“Me-li.” Anjani menyenggol bahu Meli dan memberi isyarat untuk tidak melanjutkan obrolan tentang Mario.
“Sst. Ratna, ingat yang ada di Jogja sana.” Via berbisik, mengedipkan sebelah matanya pada Ratna, lalu berjalan menuju sofa.
Pipi Ratna memerah. Ratna tahu siapa yang dimaksud Via. Setelahnya dia menyusul Via duduk di sofa.
Meli semakin berdebar saat Azka mulai memasuki rumahnya. Azka melihat Meli sambil tersenyum. Meli pun membalas senyuman penuh arti itu. Setelahnya Meli tertunduk karena merasakan pipinya yang semakin merona.
__ADS_1
Mario dibantu Anjani mondar-mandir membawa masuk seserahan lamaran. Kotak-kotak hantaran berisi mukena premium, skincare dan kosmetik, tas, sepatu, perhiasan, gamis pesta satu set, juga kue-kue basah beberapa jenis. Semua kotak hantaran terlihat cantik dengan hiasan dan pernak-pernik khas seserahan lamaran.
Eyang Probo duduk bersebelahan dengan Pak Haris dan Bu Asiyah. Via dan Farhan duduk bersebelahan di sofa lainnya. Edi duduk di sofa tersendiri bersama Pak Nono dan Pak Yudi. Ratna memilih duduk bersama Anjani dan Bibi Sarah. Dengan tertunduk malu-malu, Meli duduk di sebelah sang ibu.
Loh? Bagaimana dengan Azka? Ah, Azka sedari masuk rumah Meli langsung diajak duduk di sebelah Roni dan Paman Sam. Roni benar-benar menyukai sosok Azka yang akan segera menjadi menantunya. Roni dan Fatimah bahkan masih menganggap Azka sebagai artis Jogja.
Sesi pengakraban antara keluarga Meli dan keluarga Azka pun dimulai. Obrolan seputar Jember-Jogja menjadi topik seru dan menghangatkan kebersamaan mereka. Kegugupan Meli-Azka lama-lama memudar lantaran keharmonisan dan keceriaan yang tercipta di ruangan itu.
Tidak perlu waktu lama hingga mereka semua bisa saling mengenal. Sampailah pada momen spesial. Eyang Probo menoleh pada Pak Haris dan lekas mendapat anggukan. Eyang Probo meminta Pak Haris untuk mengutarakan niat baik mereka secara resmi. Pak Haris memulainya dengan melihat sang istri. Bu Aisyah lekas tersenyum menanggapi.
“Bismillaah. Kami ucapkan terima kasih banyak atas sambutan dan jamuan yang telah disiapkan oleh Pak Roni sekeluarga.” Pak Haris memulai kata-katanya.
Sempat ada jeda. Pak Haris menyempatkan diri melihat putranya yang sedang gugup karena obrolan yang mendadak berubah resmi. Pak Haris yakin dalam hati Azka membuncah rasa syukur dan kebahagiaan, meski tampak luar ada rasa khawatir yang jelas.
“Kedatangan kami ke sini insyaAllah membawa niatan baik, yakni melamar Nak Meli untuk putra kedua kami, Azka.” Pak Haris tersenyum.
Roni melihat ke arah Paman Sam. Paman Sam yang peka langsung mengerti bahwa Roni tak pandai merangkai kata untuk urusan semacam ini. Alhasil, Paman Samlah yang menjadi juru bicara.
“Terima kasih kembali kami ucapkan untuk Pak Haris sekeluarga. Ada baiknya kita sama-sama tanya kembali kesediaan putra-putri kita. Benar-benar yakin atau detik ini malah berubah pikiran.” Paman Sam mengusulkan.
Paman Sam teringat saat proses lamaran Mario-Anjani dulu. Paman Sam juga menanyakan hal yang sama atas kesediaan calon pasangan.
Eyang Probo mengangguk setuju. Demikian pula dengan Pak Haris dan Bu Aisyah. Via tersenyum manis melihat Farhan lalu kompak mengangguk. Disusul anggukan yang sama oleh Roni, Fatimah, Mario-Anjani, Ratna, Bibi Sarah, Edi, bahkan Pak Nono dan Pak Yudi. Mereka semua mengangguk setuju, kecuali Azka dan Meli yang tampak tertunduk malu-malu.
“Nak Azka, apakah Nak Azka sudah yakin dan mantap hatinya untuk memperistri Meli?” tanya Paman Sam.
“Siap, yakin sekali!” Azka ngegas menjawab pertanyaan Paman Sam.
“Eh-eh. Yang baik jawabnya, Ka.” Kode Bu Aisyah, sang bunda.
Semua yang ada di ruangan itu terkekeh melihat sikap Azka yang gugup saat menjawab pertanyaan Paman Sam.
Roni menepuk-nepuk pelan bahu Azka, menyuruhnya agar lebih santai. Azka pun nyengir lalu mengangguk-angguk. Azka bahkan sempat curi-curi pandang melihat Meli. Gadis yang akan segera menjadi istrinya itu tampak tersenyum sambil tertunduk malu-malu.
Bu Aisyah dan Pak Haris kompak tersenyum melihat putranya. Eyang Probo bahkan mengacungkan jempolnya.
“Sekarang giliran putri kami. Meli, apakah kamu bersedia menjadi istri Nak Azka? Susah senang bersama?” tanya Paman Sam pada Meli.
Sungguh jika boleh berteriak, maka Meli akan melakukannya. Bukan teriakan keluh kesah, melainkan teriakan bahagia. Hati Meli berbunga-bunga, bahkan ingin segera mengatakan bahwa dia bersedia menjadi istri Azka. Namun, kata-kata ‘yes I do’ itu sulit sekali meluncur lantaran rasa gugup yang menggelayuti dirinya.
Azka memperhatihan sikap gugup Meli. Ingin sekali rasanya Azka menghampiri Meli dan menenangkan dirinya. Namun, saat itu Azka harus bersabar menunggu jawaban Meli.
Satu detik. Dua, tiga, empat, lima, dan enam detik berlalu dalam keheningan. Barulah di detik ketujuh jawaban Meli memecah keheningan itu. Akan tetapi, itu bukanlah jawaban kata, melainkan sebuah anggukan yang bisa ditangkap jelas oleh semua yang ada di ruangan itu termasuk Azka. Anggukan itu adalah anggukan khas seorang gadis saat menerima lamaran lelaki yang didambakan.
“Alhamdulillaah,” ucap Azka dengan lantang.
“Sst, Dek.” Farhan mengisyaratkan pada adiknya itu untuk tidak salah tingkah berlebihan. Namun, Azka malah menggoda sang kakak dengan mengacuhkan perkataannya. Untungnya ada Via di sebelah Farhan. Sebagai istri yang baik, Via lekas tersenyum pada suaminya dan mengisyaratkan untuk tidak mulai menggoda balik adiknya itu.
“Alhamdulillaah. Kami sekeluarga menyambut baik niatan Pak Haris sekeluarga untuk melamar putri kami, Meli. Insya Allah mereka berdua mampu saling berkomitmen membangun rumah tangga meski masih sama-sama berikhtiar menyelesaikan kuliah.” Paman Sam menepuk-nepuk bahu Azka di sebelahnya.
“Alhamdulillaah.” Semua yang ada di ruangan itu kompak berucap syukur, termasuk Meli-Azka.
Momen selanjutnya semakin spesial. Sebagai tanda pengikat, Bu Aisyah memakaikan cincin untuk Meli. Bu Aisyah sebagai bundanya Azka mewakili sang putra menyematkan cincin itu di jari Meli. Melihat senyum bahagia Meli, Bu Aisyah lekas memeluknya erat.
“Bunda, kenapa bukan Azka yang memakaikan cincinnya?” Bisik Azka begitu sang bunda hendak kembali.
“Sst. Belum halal.” Bu Aisyah gemas dengan putranya itu.
Bu Aisyah yakin putranya sudah paham betul. Kemungkinan besar Azka sedang menggoda sang bunda. Mencari-cari topik untuk mengurangi rasa gugupnya.
“Ayo-ayo silakan dimakan kuenya. Yang ini suwar-suwir. Yang itu Prol Tape. Nah, kalau yang satu ini donat buatannya Meli.” Fatimah mempersilakan.
“Wah, cocok banget ini. Nanti istriku bisa main masak-masakan sama bunda,” celetuk Azka dan langsung mendahului semua orang mencicipi kue donat buatan Meli.
__ADS_1
Semua yang ada di ruangan itu terkekeh melihat sikap Azka. Sosok Azka yang periang lekas dikagumi Roni dan Fatimah. Menurut mereka sikap Azka tidak kaku. Di mata Roni dan Fatimah, sosok Azka bukan hanya tampan. Mereka berdua yakin bahwa putri mereka akan bahagia hidup bersamanya.
Sembari menikmati hidangan, obrolan dilanjutkan seputar rencana pernikahan. Kedua keluarga sama-sama sepakat untuk sesegera mungkin melangsungkan pernikahan putra-putri mereka dengan sederhana, yang penting SAH. Setelah melalui beberapa usulan dan pertimbangan, akhirnya kedua keluarga sepakat. Pernikahan Meli-Azka akan berlangsung minggu depan. Sungguh waktu yang singkat. Akan tetapi, waktu itu sudah cukup digunakan untuk mengurus surat-surat dan dokumen yang diperlukan untuk melangsungkan pernikahan.
Hidangan yang disiapkan keluarga Meli pun keluar. Fatimah dan Bibi Sarah membuat soto ayam bertabur koya. Semua tampak menikmati hidangan, kecuali Mario dan Anjani. Anjani tidak ikut makan bersama karena harus bolak-balik ke dapur untuk mengambilkan segala sesuatu yang kurang. Sementara Mario, dia terlihat asyik dengan smartphone miliknya.
“Kok nggak ikut makan?” tanya Anjani.
“Sebentar lagi, ya.” Mario menjawab ramah tanpa memalingkan pandangan matanya dari smartphone.
“Kamu lagi ngerekam?” Anjani memastikan apa yang dia lihat.
“Iya. Beberapa foto, dan ada penggalan video. Aku yakin momen seperti ini tidak akan pernah terlupakan bagi mereka berdua. Seperti saat aku melamarmu dulu.” Mario mengalihkan pandangannya dari smartphone. Mario tersenyum melihat Anjani.
Khawatir salah tingkah, Anjani pun lekas menunduk.
“Em, aku mau ke dapur sebentar.” Anjani balik badan. Dia menyembunyikan senyuman dan debaran jantungnya dari Mario.
Sudah mendekati pukul sembilan malam. Lamaran keluarga Azka sudah diterima dengan baik oleh keluarga Meli. Segala hal yang terkait dengan pernikahan juga sudah selesai dibicarakan. Dua keluarga terlihat bahagia dan diselimuti rasa syukur atas segala kemudahan dan kelancaran niat baik mereka.
Azka dan keluarganya pamit pulang. Fatimah dan Roni membawakan bungkusan dalam jumlah cukup banyak untuk Azka dan keluarganya. Bungkusan itu berisi suwar-suwir dan prol tape, untuk oleh-oleh mereka.
Terakhir kali sebelum Azka naik ke mobil, dia menyempatkan diri untuk berbicara dengan Meli.
“Kita menikah minggu depan,” kata Azka sambil tersenyum.
Meli mengangguk sambil tersenyum. “Aku menunggumu, dan … hati-hati di jalan,” kata Meli.
“Aku pamit dulu. Assalamu’alaikum,” pamit Azka.
“Wa’alaikumsalam.” Meli tersenyum lalu melambaikan tangannya.
Dua mobil yang membawa Azka dan keluarganya pun berlalu dari rumah Meli. Roni, Fatimah, Paman Sam, Bibi Sarah, bahkan Mario-Anjani masih berdiri di halaman rumah sampai dua mobil itu tak terlihat lagi.
“Alhamdulillaah,” seru Meli dengan ceria.
“Ah, kalau gini berani heboh, deh.” Anjani gemas dengan sikap sahabatnya itu.
“Uuuuh.” Meli mencubit pipi Anjani dengan gemas. Dia lega.
“Hehe. Lega, ya?” tanya Anjani.
“Tentu saja. Eh, Kak Mario harus bantuin Anjani mempersiapkan pernikahanku.” Meli langsung menodong Mario agar membantunya.
“Siap. Aku bantu mengurus undangan dan dekorasi ruangan untuk berfoto, ya. “ Mario sigap menyebutkan apa-apa yang bisa dia lakukan.
Meli girang. Dia lekas menyenggol Anjani sesaat setelah Mario berkata bersedia membantunya.
“Kak, undangannya nggak banyak kok. Jadi nggak perlu mewah-mewah, ya.” Meli antisipasi khawatir Mario memilihkan yang mewah, karena Mario terbiasa dengan kehidupan serba ada.
Mario sudah mengerti, karena tadi Mario ada di tengah-tengah keluarga Meli dan Azka saat mereka membahas tentang acara pernikahan yang disepakati secara sederhana.
“Meli, serahkan itu pada kami. Kamu fokus saja menata hatimu agar saat SAH kamu tidak gugup atau bahkan salah tingkah.” Anjani memainkan kedua alisnya, menggoda Meli.
“Insya Allah. Doakan agar berjalan lancar sampai hari H, ya.” Meli kembali memeluk Anjani.
Anjani membalas pelukan sahabatnya itu. Sementara Mario memperhatikan kebahagiaan Anjani dan Meli, diam-diam dia berdoa dalam hati agar sesegera mungkin bisa menyusul kebahagiaan Meli-Azka.
Bersambung ...
Bagaimana proses persiapan yang dilakukan Azka untuk menikah dengan Meli? Siapa yang akan membantu dalam waktu sesingkat itu? Cari tahu jawabannya dengan membaca novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti. Dukung kolaborasi kami. Terima kasih buat kakak-kakak semua yang sudah vote, like, dan meninggalkan jejak komentarnya. See You. Barakallah 😊
__ADS_1