CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Cepetan Nikah


__ADS_3

Berdua saja di dalam mobil Mario menjadi suatu kekhawatiran tersendiri bagi Anjani. Berulang kali Anjani melihat Mario merintih. Wajah Mario penuh lebam. Ditambah luka di sudut bibir bagian kiri akibat tonjokan.


"Mario, kamu baik-baik saja?" tanya Anjani yang duduk di samping kemudi.


Mario menoleh dengan tampang memelas. Sungguh bukan Mario yang cool seperti biasanya. Jelas sekali Mario sedang mencuri perhatian Anjani.


"Tentu saja aku tidak sedang baik-baik saja, Anjani. Wajah tampanku terluka," kata Mario sambil tetap mengemudi.


"Ish, di saat seperti ini masih saja pede tingkat tinggi." Anjani tidak meladeni, dia menoleh ke arah jendela.


Mario tersenyum. Gelagat Mario yang ingin caper pada Anjani ternyata begitu mudah diketahui.


"Sebaiknya obati dulu lukamu. Baru ke tempat Mas Rangga," saran Anjani.


"Baiklah kalau Tuan Putriku ingin melihat wajah tampanku kembali. Kita ke rumahku," kata Mario cepat dan memutar arah tujuan.


"Loh, kenapa ke rumahmu? Ke dokter saja." Anjani kebingungan.


"Aku ingin kamu yang mengobati lukaku," sahut Mario sambil fokus memperhatikan jalan.


"Nggak mau! Minta Mommy Monika saja yang mengobati," tolak Anjani dengan tegas.


"Kenapa? Kamu tidak ingin dekat-dekat aku ya? Karena wajah jelek ini?" tanya Mario.


Meli memang tidak pernah menyarankan untuk menjaga jarak dengan Mario. Tapi aku sadar, dekat-dekat dengan Mario justru lebih berbahaya daripada Mas Rangga. Bisa-bisa aku dimakan. Pikir Anjani.


"Anjani, kenapa diam?" tanya Mario.


"Ti-tidak apa-apa." Mendadak saja Anjani gugup. "Biar aku bantu Mommy Monika mengobati lukamu," imbuh Anjani tanpa berani melihat wajah Mario.


Mario tersenyum lalu membiarkan Anjani dengan pemikirannya. Tak lama kemudian Maio-Anjani sampai. Di rumah mewah itu tidak ada John ataupun Alenna. Mereka berdua sibuk mengurusi bisnis kantor masing-masing. Hanya dijumpai Mommy Monika di rumah itu yang langsung terkaget melihat kondisi Mario.


"Mom, pelan-pelan." Mario kesakitan saat Mommy Monika mengobatinya.


"Ini sudah super pelan. Ayo sambil ceritakan, kenapa bisa sampai bonyok seperti ini?" Mommy Monika ingin mendengar penjelasan Mario.


Anjani tidak membantu menjawab sama sekali. Sedari tadi dia hanya membantu memegangi kotak obat. Anjani membiarkan Mario yang menjelaskan sendiri apa yang sudah terjadi.


"Mommy sungguh ingin tahu? Tapi ini memalukan," kata Mario.


"Ceritakan saja. Mommy ingin tahu," sahut Mommy Monika sambil tetap mengobati luka Mario.


Sebelum bercerita, Mario melirik ke arah Anjani. Seutas senyum muncul kemudian.


"Sebenarnya tadi Anjani menciumku, Mom." Mario mulai melancarkan ide jahilnya.


Anjani sedikit terbelalak. Sungguh dia tidak menduga bahwa bagian ciumanlah yang dipilih Mario untuk diceritakan pada Mommy Monika.


"Wow. Amazing! Di kening, di pipi, atau di bibir?" Mommy Monika meminta penjelasan lebih.


Mario hanya memberi isyarat sebagai jawabannya. Mario menunjuk bibirnya.


"Eh? Jadi, Anjani menciummu sampai luka seperti ini?" Kali ini Mommy Monika terkejut.


"Ti-tidak. Bukan begitu." Anjani berusaha meluruskan, tapi kata-kata Anjani disela Mario.


"Anjani tadi juga nembak Mario, Mom." Mario tambah semangat menggoda Anjani.


"Really? Menyatakan cinta? Seperti itu?" Mommy Monika malah tersenyum gembira.


Mario mengangguk. Berulang kali dia melirik Anjani sambil tersenyum dalam hati. Sementara Anjani, ekspresinya sudah tidak dapat dijelaskan lagi. Antara malu, bingung, kaget, tapi juga senang sih.


"Terserah saja deh," lirih Anjani. Dia pasrah.

__ADS_1


Mario terkekeh. Namun, justru mendapat cubitan dari Mommy Monika karena Mario banyak gerak.


"Sudah. Wajah tampanmu akan segera membaik." Mommy Monika meletakkan peralatan ke kotak obat. "Saran Mommy, jangan ditunda lagi. Cepetan nikah." Mommy Monika memberi kode mata ke arah Anjani.


Anjani salah tingkah. Bingung harus merespon apa. Sadar dengan kebingungan Anjani, Mommy Monika mendekat dan langsung memeluk Anjani.


"Anjani, Mommy sungguh ingin segera melihatmu menikah dengan Mario. Semoga kamu tidak menolaknya, ya." Bisik Mommy Monika di telinga Anjani.


Sedikit terkejut Anjani mendengar bisikan itu. Namun, ada perasaan bahagia mendengar kata-kata Mommy Monika. Tanpa diminta pun, Anjani tidak akan menolak Mario.


"Insya Allah, Mom. Anjani bersedia," tutur lembut Anjani.


Mommy Monika melepas pelukannya. Dia puas dan senang mendengar jawaban Anjani. Kemudian Mommy Monika pamit meninggalkan Mario-Anjani berdua di ruang tamu.


"Apa yang dibisikkan Mommy barusan?" tanya Mario, menyelidik.


"Rahasia," jawab Anjani singkat.


Mario tersenyum. Dia tidak ingin memperpanjang pertanyaannya. Dia bisa langsung bertanya sendiri kepada Mommy Monika nanti.


"Sekarang kita ke tempat Mas Rangga." Anjani mengambil sling bag dan berjalan lebih dulu meninggalkan Mario.


"Eh-eh. Bantuin aku jalan, dong." Mario pura-pura kesakitan.


"Seingatku Mas Rangga tidak melukai kakimu. Jalan sendiri!" tegas Anjani.


"Au, tega sekali kamu." Mario memelas.


"Biarin. Siapa suruh melebih-lebihkan cerita di depan Momny." Anjani masih kesal dengan kejahilan Mario.


"Aku tidak melebih-lebihkan. Bukankah tadi kamu memang mencium bibirku, lalu menyatakan cinta padaku." Mario mengungkitnya tanpa dosa.


Pipi Anjani bersemu. Sejujurnya dia masih malu dengan sikap gilanya.


"Oke. Aku pulang!" Anjani kesal.


Langkah Anjani tiba-tiba dihentikan. Anjani baru sadar bahwa motornya masih ada di ruko. Anjani dengan mudahnya tadi menyetujui ajakan Mario untuk naik mobilnya. Anjani berpikir, menimbang, lalu mengambil keputusan.


"Ayo ke tempat Mas Rangga saja," kata Anjani singkat tanpa menoleh pada Mario.


Mario tersenyum menang. Dia melangkah perlahan, mengekori Anjani menuju mobilnya.


Mobil kembali melaju. Baru berhenti ketika sampai di klinik tempat Ken membawa Rangga mengobati lukanya. Saat Mario-Anjani tiba, Ken sudah menunggu di parkiran.


"Sudah jinak, Bro?" celetuk Ken.


Mario tidak menjawab, justru Anjani yang menjawabnya.


"Sudah, Kak." Senyum Anjani merekah. Dia paham betul Ken sedang mengajak Mario bercanda. Hanya saja Mario terlalu gengsi untuk memulai menanggapi setelah kesalahpahaman yang terjadi.


"Kalau Anjani jadi pawangnya, aku percaya deh Mario bakal jinak." Kembali Ken menimpali. "Eh, tunggu. Ada yang mau disampaikan oleh Tuan Muda Muka Bonyok ini?" canda Ken.


"Jangan seperti itu, Ken. Aku minta maaf padamu, sekaligus berterima kasih sudah membawa Rangga ke sini."


Ken menjabat uluran tangan Mario, lantas memeluk sahabatnya itu dengan erat.


"Kalian berdua cepetan nikah, ya. Biar nggak ada yang bonyok lagi," canda Ken lagi.


"Ken, kau adalah saksi bagaimana cara Anjani menggodaku tadi." Mario kembali mengungkit.


"Ouh, maksudmu saat Anjani menci- eh," kata-kata Ken disela Anjani.


"Kak, antar aku menemui Mas Rangga. Di sebelah mana?" tanya Anjani mengalihkan topik. Dia melirik tajam ke arah Mario. Yang dilirik justru senyum-senyum.

__ADS_1


Ken mengantar Anjani dan Mario. Rupanya Rangga sudah selesai diobati dan sedang duduk di bangku tunggu. Ken gerak cepat. Dia meninggalkan Mario-Anjani, dan segera mengurus biaya pengobatan Rangga.


Muka Rangga tak karuan. Lebamnya lebih parah dari Mario. Rangga terdiam, tidak membuka suara lebih dulu.


"Mas Rangga sudah lebih baik?" tanya Anjani.


Rangga mengangguk. "Alhamdulillaah," jawabnya.


Anjani melirik Mario. Dia memberi isyarat agar Mario lekas meminta maaf.


"Ehm, Rangga. Aku minta maaf," kata Mario.


"Iya," jawab Rangga singkat.


"Mas Rangga ikhlash maafin Mario. Kok nadanya gitu sih?" tanya Anjani.


Dalam hati Mario kesal. Dia tidak suka nada bicara yang digunakan Anjani pada Rangga. Ah, lagi-lagi Mario cemburu. Emang Mario-Anjani harus segera nikah, nih.


"Insya Allah. Lagipula aku tahu kok Bos nggak berniat jahat padaku. Bos hanya cemburu. Iya kan, Bos?" Kini Rangga bertanya. Nada bicaranya sudah lebih baik.


Mario mengusap tengkuknya. Yang dikatakan Rangga benar adanya.


"Aku sungguh minta maaf," kata Mario kemudian.


"Siap, Bos. Yang penting jangan pecat aku. Kalau Bos memecatku, aku justru akan merebut Anjani dari Bos." Tantang Rangga. "Hehe, bercanda. Serius amat sih," imbuhnya.


Mario tidak jadi jengkel. Tawanya meluncur. Dia menjabat tangan Rangga lalu memeluknya. Beberapa kali kata-kata maaf masih meluncur dari mulut Mario. Berulang kali pula Rangga mengucapkan bahwa dia baik-baik saja.


Begitu Ken kembali, suasana sudah lebih renyah. Yang terjadi kemudian adalah canda tawa dan obrolan ringan lainnya.


"Bos, izin menginap di ruko, ya? Aku tidak bisa pulang ke rumah dengan kondisi begini. Takut membuat khawatir," jelas Rangga.


"Silakan. Aku akan menyiapkan makanan dan keperluanmu sampai kau sembuh. Walau bagaimanapun, ini ulahku. Kesalahanku. Biar aku bertanggung jawab," terang Mario bersungguh-sungguh.


Rangga jadi tidak enak hati. Rangga tahu kalau Mario super sibuk. Sekarang, Mario malah harus bertanggung jawab pada dirinya.


Seolah tahu pikiran Rangga, Mario lekas menenangkan.


"Jangan khawatir. Kalaupun aku sibuk, akan kusuruh Alenna mengantarkan makanan dan keperluanmu." Mario tersenyum.


"Alenna? Adik bos yang bule itu, ya? Yang menyambutku saat pertama kali datang di ruko?" tanya Rangga memastikan.


"Iya betul. Yang cantik dan berhijab itu," sahut Anjani.


Rangga tersenyum lalu mengangguk.


"Sudah cukup ya basa-basinya. Aku juga mau rebahan nih. Rangga, yuk kuantar ke ruko!" ajak Ken.


"Biar aku saja yang mengantarnya. Ken, kamu bisa pulang. Terima kasih banyak untuk hari ini," kata Mario.


Ken mengangguk. Dia membiarkan Mario mengurus sisanya. Lagipula Ken berniat mampir lebih dulu ke tempat Juno sebelum dia pulang ke rumahnya.


"Mario. Anjani," panggil Ken sebelum dia beranjak pulang.


"Iya, Kak?" Anjani menanggapi panggilan Ken.


"Satu pesanku. Cepetan nikah!" seru Ken, lalu meninggalkan mereka semua.


Anjani seketika bungkam. Mario justru tersenyum tanpa sungkan. Sedangkan Rangga, ah dia sudah bodoh amat dengan Bosnya. Rangga memilih menjaga wajahnya agar tidak bonyok lagi.


Bersambung ....


Maaf ya baru bisa update. Semoga suka dengan ceritanya. Nantikan episode selanjutnya. Eit, Meli sedang bersama suaminya, Azka. Mereka sedang ada di Jogja. Kepoin yuk di novel kece Kak Cahyanti. SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung karya kami, ya. Vote, like, fav, dan tinggalkan jejak komentarnya. See You. Barakallah. 😉

__ADS_1



Disampaikan terima kasih kepada kakak-lakak reader dan teman-teman author yang selalu mendukung novel ini. 🌷😊


__ADS_2