
Cuaca memang terik, tapi tidak lagi terasa menyengat. Semua itu lantaran pepohonan dan semak-semak hijau yang tumbuh lebat, menyuplai oksigen hingga menciptakan kesejukan di sekitar. Angin yang berhembus siang itu turut menambah kesejukan. Setiap insan yang menghirup aroma bersih nan menyejukkan di tempat itu, pastilah juga senang karena bisa menikmati suguhan alam.
Ayunan pohon kersen, begitulah warga desa menyebutnya. Tempat yang dimaksud bukanlah arena bermain yang memiliki banyak ayunan. Tempat yang terkenal dengan sebutan ayunan pohon kersen hanyalah sebuah tanah lapang. Pohon kersen yang tumbuh hanya sepohon dan telah tumbuh di sana bertahun-tahun lamanya, dengan satu ayunan menggantung. Ayunan yang terpasang pada pohon kersen memiliki tali-tali pegangan yang terlihat kokoh, dengan dudukan terbuat dari ban mobil bekas.
Semak-semak dan rumput liar menjadi pagar alami yang mengelilingi tepian tanah lapang. Bunga rumput liar berwarna kuning yang tumbuh di sana tidak hanya menyumbang keindahan, tapi juga menjadi media kreasi. Bunga runput liar oleh anak-anak kecil yang bermain di sana sering dipetik dan muncullah ide-ide kreasi bandana dari bunga rumput liar.
"Sepi," ujar Ken sesampainya di ayunan pohon kersen.
Ayunan pohon kersen siang itu memang tampak sepi. Mungkin para orangtua menyuruh anak-anak mereka untuk tidur siang. Jadi, tidak ada yang bermain di sana.
"Benar, Mas. Kalau sore biasanya ada yang main bola," jelas Juno.
"Terus kita ngapain di sini? Main ayunan?" tanya Dika.
"Kita makan. Ayo, aku lapar!" sahut Meli.
Anjani dibantu Meli menggelar tikar yang sempat dibawa dari rumah. Baskom-baskom berisi makanan ditata di atasnya. Suasana saat itu persis acara piknik dan makan-makan. Cocok sekali diadakan untuk melengkapi acara liburan.
"Eh, Mel. Minumnya lupa nggak dibawa. Duh!" ujar Anjani begitu menyadari ada yang kurang.
"Ehehe ... iya, nih. Aku cuma ingat sama sambal. Gimana, dong?" tanya Meli.
"Tunggu di sini, aku pulang ambil minum dulu buat kalian. Ingat, jangan mulai makan siangnya tanpa aku!" tegas Juno mengingatkan.
Juno pamit pulang untuk mengambil minuman. Sembari menunggu, Meli memilih bermain ayunan. Ken mengajak Dika untuk memanjat pohon kersen dan berburu buahnya yang berwarna merah, bahkan perburuan dijadikan kompetisi dengan hasil terbanyak yang jadi pemenangnya.
"Nggak ikut manjat?" tanya Anjani pada Mario yang tetap duduk di tikar.
"Jika aku bergabung, sudah jelas siapa yang keluar sebagai pemenang." Mario berkata sambil memakan kersen yang baru saja dilemparkan Ken dari atas pohon.
"Oke-oke. Tak perlu cari alasan lain. Bilang saja kamu takut ketinggian. Ngaku, deh!" ujar Anjani.
Anjani mulai melontarkan kata ejekan, bahkan memaksa Mario untuk jujur dan tidak mencari-cari alasan. Sebenarnya Anjani masih sedikit kesal atas prank lumpur sawah.
Mendengar penuturan Anjani, Mario memutar pandang. Mario tidak lagi memperhatikan Ken dan Dika yang asyik berburu kersen warna merah. Kini, pandangan Mario tertuju pada Anjani. Sebuah senyuman terukir di wajahnya yang tampan.
Anjani mulai terbiasa melihat senyum itu. Kini Anjani mencoba agar tidak terhipnotis karenanya. Anjani bersedekap, kemudian tersenyum dan balas menatap Mario.
"Baiklah, aku mengaku!" ujar Mario kemudian.
"Mengakui bahwa tadi hanya sekedar alasan," kata Anjani mempertegas.
"Benar, tadi hanya salah satu alasan. Sebenarnya, aku enggan meninggalkanmu sendirian duduk di sini. Aku takut kamu merindukan wajah tampanku, Anjani." Mario berkata dengan segenap pesona dirinya.
Wajah itu, tatapan mata itu, senyuman itu, dan kata-kata manis itu, pasti membuat siapa pun meleleh, andai tidak ada embel-embel tawa di belakangnya. Ya, Mario tertawa hingga menampakkan deretan giginya yang putih. Jelas-jelas dia ingin membuat gara-gara dengan Anjani, hingga membuatnya salah tingkah seperti biasanya. Akan tetapi, sampai tawa itu mereda, Anjani tidak menunjukkan ekspresi lain selain tetap bersedekap sambil menatap aneh ke arah Mario.
Mario berdehem pelan. Dia kemudian kembali dalam sikap normalnya, dingin dan penuh pesona.
__ADS_1
"Apa?" tanya Mario, karena melihat Anjani yang masih bersedekap dan terus menatapnya.
Anjani tidak menjawab. Dia terus menatap Mario sambil bersedekap. Sesaat kemudian dia tersenyum pada Mario, hingga membuat Mario berdehem sekali lagi.
"I-i-i .... Nih muka lama-lama nyebelin, deh!" ujar Anjani sambil mencubit pipi kiri Mario.
Anjani tidak memiliki alasan kenapa dia bisa seberani itu. Dia bahkan menyentuh pipi Mario dan mencubitnya dengan gemas. Saat itu yang ada di pikiran Anjani hanya gemas dan ingin segera mencubit Mario.
Aneh, Mario seperti rela dirinya mendapat cubitan dari Anjani. Dia bahkan berusaha tersenyum di tengah cubitan itu.
Deg!
Eh, kenapa tiba-tiba jadi aneh gini rasanya, ya? batin Anjani.
"Maaf," tutur Anjani singkat lalu menghentikan cubitan di pipi Mario.
"Kau boleh mencubitku lagi jika kau mau, Anjani."
Jangan terjebak Anjani. Ingat, itu tipuan! batin Anjani.
Posisi Anjani saat itu terselamatkan oleh sebuah teriakan. Anjani mendengar suara teriakan minta tolong, dan dia seperti mengenal suara itu.
"Tolong!"
Rupanya bukan hanya Anjani yang mendengarnya. Teman-teman Anjani juga mendengar teriakan itu. Meli berhenti main ayunan dan mendekat ke arah Anjani. Ken dan Dika bahkan berhenti bersaing dan langsung turun dari pohon kersen.
"Itu Juno!" ujar Meli sambil menuding ke arah Juno yang tengah berlari mendekat.
Anjani dan teman-temannya heran melihat Juno yang berlarian sambil membawa air minum. Aneh, Juno berteriak minta tolong tapi teman-temannya tidak melihat ada yang sedang mengejar Juno ataupun melihat sesuatu yang gawat.
"Tolong, ha ... ha ...." Juno berusaha mengatur nafas saat sampai di ayunan pohon kersen, tempat teman-temannya berkumpul.
Meli tidak sabar dan langsung bertanya 'ada apa', tapi Juno seperti belum bisa menjawab dan masih berusaha mengatur nafasnya. Peka, Anjani menuangkan sedikit air ke gelas yang juga dibawa Juno, kemudian menyuruh Juno untuk meminumnya.
"Jelaskan pelan-pelan! Ada apa?" tanya Mario.
"Aku dikejar itu, tuh!" ujar Juno sambil menunjuk ke belakang.
Semua mata melihat ke arah yang ditunjuk Juno. Terlihat seorang wanita berambut sebahu sedang santai berjalan mendekat. Dari jauh, senyumnya tampak manis. Cara berjalannya anggun, mirip model. Satu lagi yang membuat terperangah, penampilan wanita itu terlalu sexy dengan pakaian warna mencolok.
"Wow, sexy!" ujar Dika tanpa sadar.
"Uhuy!" Ken ikut-ikutan.
Mendengar dua temannya berkata demikian, Juno langsung menjitak pelan kepala Ken dan Dika.
"Jangan ketipu! Lihat lagi yang benar!" tegas Juno pada Ken dan Dika.
__ADS_1
Semua masih tidak paham maksud Juno. Hingga wanita cantik nan sexy tadi mendekat dan menyapa Juno dan Anjani, barulah mereka semua paham. Rupanya wanita itu bukan wanita asli, alias wanita jadi-jadian.
"Hei, Bunga Busuk. Iya kamu, Anjani. Ayo, kita selesaikan urusan kita di sini!" kata si wanita palsu.
"Maaf, aku tidak mengenalmu." Anjani mencoba berterus terang. Dia memang tidak kenal.
"Ehah! Kenalkan, namaku Dewi Cantika Abadi. Aku ini calon istri dari Kangmas Juno."
"Woi-woi. Fitnah itu!" protes Juno. Dia sedari tadi bersembunyi di balik Mario.
Si wanita palsu langsung mendekat ke arah Juno sambil melenggak-lenggokkan tubuhnya. Cepat-cepat Juno menghindar dan kini dia bersembunyi di balik Ken dan Dika.
"Tunggu-tunggu. Aku merasa tidak pernah membuat masalah denganmu. Lalu, apa salahku?" tanya Anjani.
"Kau harus disingkirkan karena sudah berani menerima perjodohan dengan Kangmas Juno-ku!" tegas si wanita palsu.
"Ah, nggak update banget, sih. Perjodohannya batal sejak enam bulan lalu." Anjani menjelaskan fakta yang ada.
"Uwu, benarkah itu? Kalau begitu aku tidak jadi menghempaskan dirimu. Yee!" Si wanita palsu histeris senang.
Semua yang ada di sana kini sadar bahwa wanita palsu itu adalah penggemar berat Juno. Aksi balas dendamnya pada Anjani seketika batal. Kini dia melonjak-lonjak kegirangan.
Semua yang ada di sana tertawa, kecuali Juno. Juno merasa kehidupannya belum aman. Dia bahkan menarik-narik kemeja Ken, dan berharap akan mendapat bantuan darinya. Namun, Ken tidak peka dan malah semakin tertawa.
"Wahai wanita ajaib yang saat ini ada di hadapanku. Apakah tidak ada pilihan lain sehingga kau yang rupawan ini berhenti mengejar sahabat baikku, Kangmas Juno-mu?" tanya Mario dengan menampakkan wibawanya.
"Hei, ganteng. Aku senang dipuji seperti itu. Ada-ada. Aku relakan Kangmas Juno-ku untuk ditukar dengan itu!"
Si wanita palsu menunjuk ke arah kersen-kersen yang dibawa Ken dan Dika. Yang sedari tadi membawa kersen tidak cukup peka untuk menangkap permintaan itu. Juno yang sudah paham langsung merebut kersen-kersen di tangan Ken dan Dika, kemudian bergegas memberikannya pada si wanita palsu.
"Ye-ye-ye! Akhirnya bisa makan kersen sebanyak ini. Makasih, karena dari dulu aku nggak pernah bisa naik pohon itu. Oke, sudah tidak ada hutang di antara kita. Bye-bye, Juno! Bye, Anjani! Bye semuanya!"
Wanita palsu itu pun bergegas pergi meninggalkan Juno, Anjani, dan teman-temannya. Semua mata masih asyik memperhatikan kepergian si wanita palsu. Hingga terdengar hembusan nafas lega dari Juno, barulah semua tertawa.
"Mas Mario, ada apa dengan wajah itu?" tanya Juno karena mendapat lirikan penuh arti dari Mario.
"Kukira ada tawaran lain yang lebih tinggi untuk menukarmu. Ternyata hanya kersen, he!" ujar Mario berniat menjahili Juno.
Ternyata ucapan Mario mengundang tawa Meli, Ken, dan Dika. Bahkan, Anjani juga ikut-ikutan tertawa.
"Juno, lain kali nawar aja. Kalau perlu pabrik sepatu Mario bisa dikorbankan!" sahut Anjani ikut menimpali.
"Ada apa dengan pabrik sepatu ayahku, Anjani? Apa kau ingin jadi menantunya?" tanya Mario kembali mencari gara-gara.
"Aku tidak dengar. Aku tidak dengar yang barusan. Yuk, semua! Kita makan!" teriak Anjani kemudian. Dia mengalihkan pembicaraan agar tidak terjebak dan meladeni perkataan Mario.
Suasana baru menyelimuti kebersamaan siang itu. Acara makan-makan pun berlangsung, dengan canda menyertainya. Anjani senang, bukan hanya karena keakraban yang terjalin bersama teman-temannya, melainkan juga karena teman-teman Anjani menyukai masakan Ma. Sayur lodeh, gorengan tempe, ikan asin, dan sambal bajak, sungguh nikmat.
__ADS_1
***