
Sinar mentari telah menghangatkan seisi bumi. Burung-burung pun bersiul merdu menemani aktivitas pagi. Penduduk desa telah berada di sawah dan ladang-ladang mereka, menanam, mengairi, dan merawat tanaman-tanaman di sana. Sungguh rutinitas yang tidak membosankan dengan suguhan alam yang selalu indah dipandang sekaligus menyejukkan.
Pagi itu tidak hanya menyuguhkan kedamaian, melainkan juga kehebohan di rumah Ma saat Ken, Dika, dan Juno tiba di sana. Ken dan Dika tiba-tiba mengubah rencana kepulangan. Bukan jadwalnya yang berubah, melainkan kendaraan pulang yang digunakan. Ken dan Dika ingin merasakan naik bus dari desa ke kota, meski mereka sadar jarak dan waktu tempuhnya akan lebih lama.
Perdebatan kecil sempat terjadi antara Anjani dan Meli yang setuju naik kereta juga Ken dan Dika yang lebih setuju naik bus. Juno dan Ma yang juga ada di sana tidak menjadi penengah perdebatan yang sedang berlangsung. Baik Juno ataupun Ma lebih memilih menyiapkan oleh-oleh yang akan dibawa ke kota daripada ikut bersuara.
"Sudah selesai diskusinya?" tanya Juno setelah tidak mendengar perdebatan lagi di sana.
"Belum," jawab Anjani, Meli, Ken, dan Dika bersamaan.
"Hei Anjani, bukankah kau juga akan membawa ayam? Mana mungkin ayamnya mau diajak naik kereta. Sudah, naik bus saja, nanti kau duduk di bangku paling belakang sambil pegang ayam," kata Ma.
Dukungan pertama muncul di kubu Ken dan Dika, membuat mereka berdua bersemangat. Ken dan Dika bahkan mendekat ke tempat Ma, kemudian membantu menata oleh-oleh yang akan dibawa ke kota.
"Anjani, Meli, naik bus saja, deh. Nanti kalau ada apa-apa tinggal telepon aku," terang Juno.
Dukungan kedua datang dari Juno. Ken dan Dika semakin bersemangat, bahkan juga mendekat ke tempat Juno berdiri kemudian memijat-mijat bahunya.
Dua dukungan tambahan untuk Ken dan Dika, membuat Anjani dan Meli kalah suara. Dengan sedikit terpaksa, Anjani dan Meli pun bersedia kembali ke kota dengan mengendarai bus.
Tiga puluh menit kemudian dihabiskan untuk menyiapkan barang-barang. Anjani, Meli, Ken, dan Dika juga telah berpakaian rapi. Oleh-oleh dari Ma dan ayah Juno diletakkan di satu tempat, dan akan dibawa oleh Dika. Ken akan bertugas mengawal teman-temannya, sekaligus menjadi juru bayar kendaraan. Meski Anjani dan Meli kalah suara, tapi mereka berdua tetap akan menjadi teman perempuan yang diistimewakan, tinggal duduk manis sambil menikmati perjalanan.
"Sudah siap?" tanya Anjani pada teman-temannya.
"Eh, tunggu sebentar, Anjani. Smartphone mereka yang habis ikutan main air belum diberikan, tuh!" ujar Meli mengingatkan.
"Oh iya, hampir saja lupa. Sebentar, kuambil dulu di kamar. Sudah beres semua, kok. Tunggu!" ujar Anjani kemudian berlarian kecil menuju kamarnya.
Anjani kembali dengan membawa tiga buah smartphone milik Juno, Ken, dan Dika. Semua smartphone telah berfungsi normal, setelah di-service oleh temannya. Baru tadi malam smartphone itu diberikan kepada Anjani. Sebenarnya mau diberikan pada Juno, tapi saat itu tidak ketemu. Jadilah, Anjani yang membawa smartphone milik teman-temannya. Untung juga Meli mengingatkan, kalau tidak mungkin bisa tertinggal.
"Sudah tak ada yang tertinggal lagi?" tanya Ma.
"Tidak ada," jawab Anjani, kemudian diikuti gelengan kepala oleh yang lain.
Satu per satu pamit pada Ma, berterima kasih dan mengucapkan harapan untuk bisa bertemu kembali. Anjani yang paling terakhir berpamitan. Dia memeluk Ma dengan sangat erat, kemudian mencium kedua pipi Ma. Janji akan lebih semangat kuliah dan harapan-harapan lainnya tidak lupa pula dituturkan. Tidak ada air mata ataupun kesedihan, karena perpisahan saat itu hanyalah sementara, sebelum akhirnya nanti akan bertemu dan bersua lebih lama.
"Salam untuk Sam, ya. Ingat, meski akhirnya kau merasakan yang namanya jatuh cinta, jangan sampai lalai pada tugas-tugas kuliah," jelas Ma.
"Ah, Ma. Kenapa bilang seperti itu, sih?" protes Anjani, karena Ma berkata seperti itu di depan teman-temannya.
"Sudah-sudah. Jaga diri baik-baik di sana. Ada Ma yang selalu mendoakan kebaikanmu dari sini," tutur Ma dengan tulus, membuat Anjani tidak bisa membalas dengan kata-kata yang lebih baik lagi.
__ADS_1
Usai salam perpisahan, Anjani, Meli, Ken, dan Dika diantar oleh Juno hingga ke perbatasan desa. Sampai di sana, Ken sedikit membuat ulah karena ketakutannya dengan kuda. Sedikit paksaan dari Juno, akhirnya Ken bersedia naik delman dengan tenang sambil membawa ayam milik Anjani.
"Sampai jumpa minggu depan, teman-teman. Jangan rindu padaku. Da-da!" teriak Juno sesaat setelah delman-delman berjalan.
***
Empat puluh menit berlalu di atas delman. Suasana desa mulai tergantikan dengan hiruk-pikuk terminal. Bus-bus dengan beragam jurusan terparkir rapi sambil menunggu penumpang. Tidak ketinggalan pula ada petugas yang menyebutkan nama kota tujuan demi memudahkan penumpang yang kebingungan.
Bus jurusan kota ternyata baru saja berangkat sekitar sepuluh menit lalu. Anjani dan teman-temannya terpaksa harus menunggu bus selanjutnya. Duduk di kursi tunggu menjadi pilihan baik bagi semua, agar punggung tidak terasa pegal karena barang bawaan.
Saat duduk menunggu bus, seorang lelaki berpakaian preman terlihat menggoda Anjani. Lelaki itu pun tidak sungkan-sungkan mencolek pipi kiri Anjani. Rupanya tidak peduli meski itu di keramaian, aksi seperti itu bisa saja terjadi saat ada kesempatan. Ya, itu karena Anjani duduk terpisah dengan teman-teman lainnya, karena kursi kosong terbatas. Lelaki usil tadi mengira Anjani sendirian, kemudian mendekat dan mengambil kesempatan untuk menggoda.
Anjani memang tidak seperti wanita biasa. Saat diperlakukan seperti itu, Anjani langsung melotot dan memaki-maki lelaki tadi. Tidak berhenti di sana, Anjani juga menyiramkan air mineral ke wajah lelaki itu, sebagai balasan karena sudah berani menyentuh pipinya.
Lelaki berpakaian preman hendak membalas perlakuan Anjani, tapi Ken dan Dika buru-buru menghampiri dan ikut memaki-maki. Bala bantuan datang, sang lelaki kurang ajar itu pun mundur ketakutan.
"Huh, dasar. Beraninya cuma sama wanita," protes Anjani dengan nada kesal.
"Segera naik, yuk!" ajak Meli begitu melihat bus yang mereka tunggu akhirnya datang.
Bus yang datang itu pun penuh sesak. Hanya tersisa dua kursi penumpang. Ken dan Dika mengajukan diri untuk berdiri sambil menunggu penumpang dengan tujuan dekat turun dari bus. Anjani sempat bertanya lagi untuk meyakinkan, tapi Ken dan Dika tetap pada pendirian. Meli membujuk Anjani untuk mengiyakan, agar mereka semua segera bisa sampai di tempat tujuan. Alhasil, mereka berempat pun naik bus setelah meletakkan barang bawaan di bagasi bus, kecuali ayam milik Anjani yang tetap dibawa bersama pemiliknya.
Meli lebih dulu duduk di sebelah penumpang wanita paruh baya yang mengenakan masker dan kipas portable. Hanya tersisa satu bangku lagi untuk Anjani, dan hanya itu satu-satunya. Anjani duduk di sebelah lelaki berkacamata hitam yang sedang tertidur pulas dengan tangan bersedekap dan wajah menghadap ke arah jendela.
Masih sekitar dua setengah jam lagi sampai bus tiba di terminal tujuan. Cukup lama, tapi itu semua telah menjadi kesepakatan. Anjani dan teman-teman lainnya tidak bisa saling mengobrol, karena tempat duduk mereka berjauhan. Bisa saja mereka berganti tempat duduk, tapi harus menunggu kursi penumpang sedikit lebih longgar.
Anjani sabar menunggu sambil menyenandungkan lagu dengan lirih. Sesekali dia juga memandang bangunan-bangunan di luar bus dari kaca jendela. Berulang kali dia bernyanyi lirih dan melihat ke arah kaca jendela. Lama-lama dia merasa bosan juga. Hingga akhirnya, dia pun iseng mengintip lelaki berkacamata hitam yang tertidur pulas di sebelahnya.
Anjani mencoba melihat lebih dekat lagi, memperhatikan penampilan lelaki yang sedari tadi tidur, tidak bergerak, dan hanya terdengar suara dengkuran halus.
"Pulas banget tidurnya. Nggak takut dicopet apa, ya?" tutur Anjani dengan lirih.
Deg!
Jantung Anjani berdebar kencang karena kaget. Tiba-tiba saja lelaki berkacamata hitam yang tadi tertidur pulas itu bangun kemudian dengan cepat menarik kepala Anjani mendekat ke arahnya.
Dagu Anjani dalam genggaman tangan kiri lelaki berkacamata hitam. Dengan kondisi debaran jantung yang masih belum bisa dikondisikan, Anjani hanya bisa terdiam sambil menatap kacamata hitam lelaki tadi.
Anjani diam tak berkedip dengan posisi yang masih tetap sama. Sesaat kemudian lelaki tadi membuka kacamata hitamnya, menampakkan iris mata kecokelatan. Dengan jarak tidak lebih dari dua puluh sentimeter, Anjani bisa melihat jelas betapa tampan wajah lelaki di depannya itu.
Tangan kiri lelaki tadi masih menahan dagu Anjani. Kali ini, giliran tangan kanannya yang mendekat dan mengelus pelan pipi Anjani.
__ADS_1
"Kamu manis," tutur lelaki tadi sembari tersenyum, hingga menampakkan lesung pipitnya.
Anjani baru tersadar sesaat setelah jemari lelaki itu mengelus pipinya. Cepat-cepat Anjani menepis tangan lelaki itu.
"Eh, jangan asal sentuh!" protes Anjani sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Bukankah kamu suka?" tanya lelaki itu sambil tersenyum untuk kedua kalinya.
Anjani tidak menghiraukan. Sebelumnya dia salah karena tidak cepat-cepat memberontak, dan justru terpesona dengan tatapan mata lelaki di sebelahnya. Akan tetapi, kali ini dia sadar dan memilih tetap diam.
Beruntung, ada satu penumpang turun. Itu penumpang yang tadi duduk di dekat Meli. Kesempatan yang bagus bagi Anjani untuk berpindah tempat duduk. Sesaat sebelum Anjani beranjak dari tempat duduknya, ayam betina yang sedari tadi ditutupi dengan sehelai kain oleh Anjani, tiba-tiba saja mengeluarkan kepalanya dan mematuk lengan lelaki tadi dengan paruhnya.
"Aw, galak juga ternyata!" protes lelaki tadi sambil mengusap-usap lengannya yang baru saja dipatuk ayam.
"Rasain!" seru Anjani sambil mulai berpindah tempat duduk.
"Hei, kenalkan. Namaku Leon. Sampai ketemu lagi, Manis!" ujar lelaki tadi.
Anjani tetap tidak menghiraukan. Dia fokus berjalan ke samping tempat duduk Meli sambil berpegangan pada kursi-kursi penumpang.
"Ye, akhirnya kamu duduk di sini. Eh, kenapa kamu kelihatan kesal begitu?" tanya Meli.
"Aku oke. Keluarkan camilanmu, Mel. Mendadak aku lapar," pinta Anjani.
"Oke-oke," jawab Meli.
Camilan yang sempat dibawa dari desa tadi mulai dimakan, sekaligus menemani sisa perjalanan. Kriuk-kriuk keripik pisang telah mengusir rasa bosan, hingga akhirnya mereka tiba di terminal.
"Bye semua. Sampai jumpa!" seru Ken.
"Da," sahut Dika.
"Yuk, kita naik bentor saja pulangnya!" ajak Meli.
"Oke. Eh, oleh-olehmu jangan lupa," tutur Anjani mengingatkan.
Liburan di desa telah usai. Semua wajah terlihat bergembira, dan pulang ke rumah masing-masing dengan oleh-oleh di tangannya.
Saat bentor mulai berjalan, Anjani tidak sengaja melihat lelaki berkacamata hitam yang tadi duduk di sebelahnya. Lelaki itu dijemput sebuah mobil mewah.
Siapa dia sebenarnya? batin Anjani.
__ADS_1
***