
Detak jarum jam terasa melambat, ketika bertemu tatap dengan sebuah penantian. Seperti halnya Anjani yang saat itu tengah menanti kedatangan Mario dan sekretaris pribadi John, ayah Mario. Masih beberapa jam lagi sebelum pertemuan itu, tapi hati Anjani sudah tak sabar lagi.
Sejak Mario meneleponnya, hati Anjani sudah gelisah. Harap-harap cemas, berusaha meyakinkan diri bahwa tidak ada hal buruk yang akan terjadi. Gagal, hati Anjani masih saja gelisah, hingga dirinya tak lagi fokus mengerjakan suatu hal dengan benar.
"Aw!" seru Anjani seraya memegangi ujung telunjuk kirinya.
Mata pisau menggores ujung jari Anjani, membuat setitik darah tampak di sana. Anjani menekan area sekitar luka, lalu mengucur lukanya dengan air kran. Sungguh, tak terasa pedih sama sekali. Rasa pada luka di ujung jari tak sebanding dengan rasa gelisah yang menguasai dirinya.
Ma menangkap rasa gelisah di hati putrinya. Cabai rawit yang baru saja dipetik bagian tangkainya diletakkan oleh Ma di atas meja dapur. Langkah Ma kemudian membawanya menghampiri Anjani, yang sudah kembali mengiris-iris kentang menjadi irisan tipis. Irisan-irisan kentang itu nantinya akan segera digoreng oleh Ma.
"Kau letakkan saja. Biar Ma yang selesaikan," kata Ma sembari mengambil sebuah kentang yang telah dikupas bersih.
"Biar Anjani yang selesaikan, Ma. Ini mudah kok," pinta Anjani.
"Mudah melukai jari kau, ha?" tanya Ma yang sudah melihat fakta bahwa jari Anjani telah terluka.
"Hehe ... tadi itu pisaunya keseleo, terus kena jari. Biar Anjani selesaikan ya, Ma?" pinta Anjani dengan senyum yang dipaksakan.
Ma mendesah. Putri semata wayangnya itu memang keras kepala. Dilihatnya Anjani yang masih terus lanjut mengiris kentang. Hingga beberapa detik kemudian, jari Anjani kembali tergores mata pisau.
"Aw!" seru Anjani, kemudian meletakkan pisaunya.
Anjani berusaha menunjukkan pada Ma bahwa dirinya baik-baik saja. Anjani bergegas nyengir kuda, menunjukkan deretan gigi-giginya. Meski gigi-gigi itu ditampakkan dalam ekspresi wajah nyengir kuda, tetap tidak mengurangi pesona manis wajahnya.
"Aduh-duh-duh! Sudah-sudah, jangan terlalu kau pikir lagi perkataan Nak Mario saat kau ditelepon tadi. Semua akan baik-baik saja. Nanti kita semua juga akan tahu apa yang dimaksud Nak Mario," jelas Ma seraya mengambil alih pisau dan kentang-kentang.
"Huft. Baik, Ma. Anjani akan mencoba lebih tenang," kata Anjani pada akhirnya.
Anjani tersenyum, kemudian sedikit manja pada Ma di sampingnya. Dipegangnya lengan Ma, lalu menyandarkan kepalanya di pundak Ma. Sikap Anjani yang mendadak manja membuat Ma terkekeh.
"Hehehe. Kalau kau pegangin lengan Ma kau ini, gimana cara Ma iris-iris kentang. Buatkan saja teh hijau buat paman kau, atau kopi juga boleh. Sekalian kau buat juga secangkir, dan minum di depan sana," kata Ma memberi ide bagus agar Anjani terhibur.
"Oke, deh. Sekalian Anjani mau nengokin si Miko di kandang," terang Anjani.
"Ya, bagus. Siapa tahu si Miko siap dimasak pula," goda Ma.
"Haaa? Janganlah, Ma. Miko itu bukan ayam jantan biasa. Rencana, Anjani mau ngasih dasi kupu-kupu di leher si Miko Sabtu ini. Waktu acara pernikahan," jelas Anjani.
Ma tertawa lepas mendengar ide putrinya.
"Ngakak Ma kau, nih. Sudah-sudah, cepat buat minum dan ke depan sana!" perintah Ma, disusul tawa yang lebih pelan.
Anjani tersenyum pada akhirnya. Diraihnya dua cangkir, dan mulailah dia menyeduh kopi untuknya dan Paman Sam.
***
Di kantor.
Mario, Alenna, dan Leon berada dalam ruangan kerja. Ketiganya masih terdiam setelah perdebatan panjang yang baru saja dilakukan, meski sama sekali tak bertemu titik penyelesaian.
"Jadi, apa yang harus dilakukan?" tanya Alenna.
"Ini memang masalah keluarga kalian, tapi tetap saja bisa berimbas pada citra perusahaan. Apalagi Pak John berperan besar dalam kepemilikan perusahaan ini," jelas Leon sambil bersedekap.
"Ah, bikin pusing aja, deh. Kenapa juga media pasang berita lebay banget. Dilebih-lebihkan, nih!" protes Alenna sambil melihat salah satu berita di layar komputer.
Brak!
Mario menggebrak meja. Sedari tadi Mario mencoba menahan emosinya, tapi akhirnya gagal juga. Ekspresi Mario tak karuan saat itu. Pikirannya kacau memikirkan banyak hal, khususnya kelangsungan pernikahannya dengan Anjani.
__ADS_1
Alenna dan Leon seketika terdiam sambil tetap mengamati ekspresi Mario. Saat Mario sudah mulai bisa mengendalikan emosinya, barulah Alenna berani mendekat dan mencoba menenangkan.
"Mario, tenangkan dirimu!" ujar Alenna yang mulai gelisah melihat kakaknya itu.
Mario tidak menanggapi kata-kata Alenna. Mario masih mencoba berpikir jernih. Alenna yang melihat itu pun hanya bisa kembali terdiam, dan tetap menunggu sampai Mario lebih tenang.
"Alenna lebih baik kau kembali ke luar negeri hari ini juga," saran Mario tiba-tiba.
"What? No! Ini kesalahan yang dibuat ayah. Aku tidak bisa lari begitu saja, Mario. Apalagi harus meninggalkan Juno. Lagipula apa salahnya jika identitasku diketahui publik, sih?" Alenna mendengus kesal.
"Akan lebih rumit lagi, identitas mamamu juga akan diburu. Scandal masa lalu yang sempat mereda akan kembali memanas bersamaan dengan aib baru ayah yang terumbar ke publik," jelas Mario. "Ah, ayah!" Emosi Mario kembali memuncak.
"Tenangkan dirimu, Mario!" seru Leon saat melihat emosi Mario membara.
Mario belum pernah terlihat seemosi saat itu. Mario yang dikenal orang adalah sosok yang tenang dalam menghadapi permasalahan. Namun, predikat di mata orang tidak berlaku pada diri Mario saat itu.
"Kita akan pikirkan cara agar masalah ini tidak berlarut dan mencoreng citra perusahaan, juga agar pernikahanmu tetap dilaksanakan," hibur Leon, meski dirinya juga tidak yakin.
"Jelas-jelas media juga menyinggung rencana pernikahan anak John. Itu aku, Leon. Baca komentar-komentar di bawahnya, kan? Banyak yang menduga bahwa aku pun nantinya akan melakukan hal yang sama seperti ayahku. Se-ling-kuh!" seru Mario, seolah tak lagi bisa berpikir jernih.
"Tapi, ada yang aneh. Kenapa publik bisa segera tahu rencana pernikahan itu dengan rinci dan mengaitkannya dengan berita ayah? Apa mungkin ada orang dalam yang membeberkan banyak informasi pribadi ke awak media, semacam mata-mata?" imbuh Mario.
Mario melihat ke arah Alenna dan Leon. Alenna hanya mengangkat bahu. Sementara Leon langsung mengalihkan pandang dan mengusap kepala bagian belakang dengan tangan kanannya.
Tok-tok-tok
"Permisi, Pak John ingin bertemu Anda, Mario. Pak Leon, dan Nona Alenna minta tolong bisa keluar dari ruangan sebentar," pinta sekretaris ayah Mario, Paman Li.
Leon memahami perintah tersebut. Leon pun segera keluar dari ruangan itu.
Alenna menyusul langkah Leon. Saat di ambang pintu ruangan, barulah Alenna melihat John, ayah kandungnya. Alenna melihat John berdiri terdiam sambil bersiap bertemu Mario. Sadar diperhatikan Alenna, John pun melihat ke arah Alenna sekilas, lalu bergegas masuk ke dalam ruangan.
Mario mengambil posisi berdiri di dekat kaca jendela. Sengaja tidak melihat ke arah John.
Melihat putranya bersikap demikian, John memilih duduk di sofa dalam ruangan itu. John menyandarkan punggungnya, dan mencoba untuk rileks.
"Mario, kau marah?" tanya John.
"Iya," jawab Mario singkat.
"Ayah minta maaf. Ayah ... tidak menduga media berhasil menyorot beritanya," kata John.
Mario seketika berbalik badan, dan kini melihat ke arah ayahnya yang masih duduk santai di sofa.
"Jadi ayah mengakui bahwa berita itu benar?" tanya Mario.
John seketika manggut-manggut santai, membenarkan perkataan Mario.
"Jadi benar ayah selingkuh lagi?" tanya Mario dengan serius.
John menghembuskan nafas dalam, lalu kembali mengangguk membenarkan.
"Ayah tidak ingat? Dulu ayah sampai bercerai dengan ibu karena ketahuan selingkuh hingga punya anak, Alenna. Sekarang lagi?" Mario terlihat emosi.
John tidak menjawab, dan hanya melihat ke arah vas bunga di meja. John sadar, Mario sulit menerima kenyataan. Dulu saat perselingkuhan pertama John terbongkar, Mario juga menunjukkan sikap yang sama seperti saat ini.
"Tidakkah ayah berpikir bagaimana perasaan mama Alenna saat ini? Pasti sama seperti perasaan ibu dulu saat tahu ayah selingkuh," jelas Mario, meluapkan semuanya.
"Ya, ayah sadar ayah salah. Ayah minta maaf, Mario. Ayah berani jamin, kali ini tidak ada anak yang lahir. Ayah baru beberapa minggu saja menjalin hubungan dengan wanita itu, dan tidak sampai tidur dengannya," terang John santai.
__ADS_1
"Ck. Ringan sekali ayah berkata seperti itu. Ini aib keluarga dan sekarang media sedang panas membicarakannya. Di tiga perusahaan ayah lainnya bahkan sudah banyak wartawan. Tinggal menunggu waktu kantor ini juga akan didatangi. Ayah bodoh jika mengganggap semua akan baik-baik saja!" ujar Mario.
John terlihat kurang suka dengan perkataan Mario. John tidak lagi menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Bola mata John bahkan memandang lekat ke manik mata Mario.
Tok-tok-tok
Perseteruan yang sempat terjadi terputus oleh ketukan pintu. Paman Li pun masuk dan memberi tahu bahwa saat itu di halaman depan kantor ada beberapa wartawan yang antusias mengikuti berita panas yang sedang diberitakan beberapa media.
"Apa?" seru John tak percaya.
"Paman Li, bagaimana menurut Anda sekarang?" tanya Mario pada sekretaris ayahnya.
"Tuan Mario, tadi saya sempat membahas ini dengan Pak John. Melihat kondisi dan kasus yang sama seperti beberapa tahun lalu, besar kemungkinan berita ini akan mereda dengan sendirinya. Kami berdua pun juga membahas tentang pernikahan Tuan Mario dengan Nona Anjani, Sabtu ini. Jika pernikahan itu tetap dilangsungkan, akan berdampak pula pada kenyamanan acara, terutama kenyamanan keluarga Anjani." Paman Li menjelaskan.
"Maksud Paman Li pernikahanku dengan Anjani harus dibatalkan?" tanya Mario.
"Bukan dibatalkan. Lebih tepatnya ditunda sampai semua berita teredam," lanjut Paman Li.
"Berapa lama?" tanya Mario kemudian.
"Bisa beberapa bulan, atau bahkan beberapa tahun. Kita lihat saja nanti," terang Paman Li.
Mario mencerna kata-kata Paman Li. Situasi dan kondisi saat itu dipahami betul oleh Mario. Meski enggan, Mario tetap harus memikirkan banyak hal, terutama tentang Anjani dan keluarganya.
Hembusan nafas Mario terdengar dalam saat itu. Perlahan emosinya bisa dikendalikan. Mario memilih duduk di meja kerjanya, lalu meminum air mineral beberapa teguk.
"Mario, tunda pernikahanmu demi kebaikan semua. Cukuplah keluarga kita dan perusahan yang terlibat. Jangan sampai calon istrimu dan keluarganya ikut terseret juga hingga hidupnya tak nyaman." John yang sedari tadi diam akhirnya ikut bicara.
Tak ada jawaban dari Mario. Pandangan Mario tertuju pada layar smartphone miliknya. Ada foto Anjani di sana. Untuk sesaat hati Mario gelisah. Tak lama setelah itu pikirannya berputar, kembali mencerna kata-kata Paman Li.
Anjani, maafkan aku! batin Mario.
"Oh ya. Satu lagi. Mulai besok sampai kasus ini mereda, kamu fokus kuliah saja. Tidak perlu datang ke kantor!" ujar John sambil kembali duduk bersandar di sofa.
"Apa? Kenapa? Bagaimana dengan perusahaan?" tanya Mario kaget.
"Biar perusahaan Leon yang urus. Ada Alenna juga yang akan membantunya. Ingat, publik masih tahu bahwa kau adalah putra semata wayangku. Kalau kau masih ada di sekitaran perusahaan, besar kemungkinan mereka akan menyeretmu dalam berita. Sudah, menurut saja kau!" ujar John.
Lagi-lagi Mario memperlihatkan ekspresi tidak suka dengan keputusan sepihak ayahnya. Ayah Mario memang seperti itu. Meski sudah terbiasa menghadapinya, tetap saja Mario seringkali tak bisa mengendalikan diri bila pemikiran mereka bertentangan.
"Tuan, ini demi kebaikan Tuan Mario juga." Paman Li mendukung keputusan ayah Mario.
"Ck. Bagaimana dengan kerja sama terkait penempatan mahasiswa magang? Apa perlu ditunda juga?" tanya Mario.
"Tidak perlu, Tuan. Saya yakin kasus ini tidak akan berdampak pada kerja sama dengan kampus. Kalau berdampak pada kerja sama dengan mitra lain mungkin iya. Tapi saya dan tim akan membantu mengurus semua itu. Tuan tidak perlu khawatir," terang Paman Li.
Mario kembali terdiam. Kembali mencoba tenang sambil mencerna kata-kata Paman Li.
"Paman Li, sekarang juga kita ke rumah Anjani. Security di depan akan membantu menghalau wartawan-wartawan itu untuk mendekatiku. Dan .... Biarkan saja ayahku di sini. Biar dia merenungi kesalahannya," ujar Mario sambil melirik ke arah John.
John hanya tersenyum sekilas saat mendengar Mario berkata seperti itu. John seolah menerima apa pun kata-kata Mario yang jelas-jelas menyalahkannya.
"Ayo, kita pergi!" ajak Mario.
"Baik, Tuan."
Mario dan Paman Li bergegas keluar dari ruangan itu. Mario sempat melirik sekilas ke arah Leon dan Alenna yang sedari tadi menunggu di luar ruangan. Setelahnya, Mario pun pergi bersama Paman Li menuju rumah Anjani.
***
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan episode selanjutnya, ya 😊✨. Krisan buat authornya juga boleh, lho. See You. ❤