CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Cinta dan Rasa Kecewa


__ADS_3

Jalanan kota malam itu sedikit lebih bercahaya, dengan lampu warna-warni menghiasi tepian jalan raya. Nuansa baru, karena lampu-lampu terang itu baru terpasang beberapa hari lalu. Bukan lantaran ada pawai atau perayaan tertentu, sehingga lampu-lampu itu menghiasi jalanan kota. Semua demi penampilan dan nuansa baru di kota itu, agar lebih banyak yang terpikat dengan keindahan dan hiruk-pikuk di dalamnya.


Cafe Bro-Sis, cafe yang sering menjadi tempat nongkrong muda-mudi khususnya para mahasiswa, mengikuti nuansa baru yang menghiasi jalanan kota. Saat ini di bagian depan cafe Bro-Sis terpasang lampu kerlap-kerlip, menghiasi sebuah hiasan dari kayu berbentuk hati seukuran tinggi manusia. Cocok sekali dijadikan tempat untuk berfoto, mengambil kenangan manis bersama teman atau gebetan, dan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang di sekitar, khususnya para pelanggan cafe Bro-Sis.


Di tengah warna-warni lampu yang indah, rupanya ada hati seorang gadis yang sedang dilanda rasa gelisah. Segelas jus jeruk yang terhidang sejak empat puluh lima menit lalu bahkan sama sekali tidak disentuhnya, dan mungkin sudah samar rasa dingin esnya. Gadis yang sedang gundah itu adalah Berlian.


Berlian malam itu memakai setelan baju yang lebih sederhana dari yang biasa dia pakai. Warna outfit yang dipilih pun tidak mencolok. Meski demikian, Berlian tetap saja terlihat modis dan cantik. Berlian yang sering memakai riasan wajah lumayan lengkap, malam itu hanya memakai bedak dan goresan lipstik tipis warna peach.


“Huft.” Berlian mendesah.


“Apa kau sedang mengerjaiku malam ini? Betapa bodohnya aku mau-maunya menunggumu, duduk sendiri di cafe ini hampir satu jam!” gumam Berlian sambil menatap layar smartphone miliknya.


Berlian menunggu kedatangan Juno, tapi yang ditunggu tidak lekas menampakkan batang hidungnya. Beberapa menit lalu Berlian sudah mencoba mengirim pesan singkat, tapi belum juga dibaca sampai sekarang. Panggilan telepon pun juga sempat dilakukan. Namun, panggilan itu hanya bersambut dengan dering yang tak kunjung mendapat jawaban suara dari seberang.


Satu jam lebih lima belas menit telah berlalu. Juno yang sedari tadi ditunggu tetap tak kunjung datang, dan sama sekali tidak memberi kabar kalaupun berhalangan.


Lagi-lagi Berlian mendesah, sedikit meluapkan rasa kecewanya lewat hembusan nafas yang sedikit menyesakkan. Segelas jus jeruk yang sedari tadi dianggurkan, kini diraihnya dan isinya segera tandas dalam beberapa kali tegukan. Berlian lalu meletakkan gelas yang telah habis isinya itu, lalu mengusap mulutnya dengan punggung tangannya. Setelah itu Berlian menggenggam erat smartphone miliknya, dan meluncurkan kata-kata geram atas rasa kecewanya.


“Ck. Janji palsu!” ujar Berlian, lalu beranjak dari kursinya.


Berlian bergegas menuju meja kasir untuk membayar segelas jus jeruk yang telah dipesannya. Usai membayar, Berlian pun melangkahkan kaki menuju pintu keluar cafe. Baru dua langkah kaki Berlian meninggalkan pintu keluar cafe, sudah tersuguh pemandangan yang semakin membuncahkan rasa kecewa di hatinya. Tidak hanya rasa kecewa saja, rasa cemburu juga tiba-tiba bertahta di dada Berlian.


Bagaimana rasa kecewa dan cemburu itu tidak meledak seketika, saat Berlian melihat Juno berhenti di hadapannya, tapi sambil bergandengan tangan dengan Alenna. Ya, Juno datang ke cafe bersama Alenna. Terlebih lagi, Alenna menggenggam tangan Juno erat sambil menorehkan senyum di wajahnya.


“Berlian. Aku ….” Kata-kata Juno langsung disela oleh Berlian.


“Apa ini yang kamu maksud dengan bicara baik-baik, Jun?” tanya Berlian dengan nada serius.


“Berlian, dengarkan dulu. Aku ….” Lagi-lagi kata-kata Juno disela oleh Berlian.


“Apa ini yang kamu maksud dengan bicara baik-baik, ha? Membuatku menunggu tanpa memberi kabar? Begitu datang langsung pamer kemesraan, ha?” seru Berlian dengan keras, dengan tatapan mata yang penuh kekecewaan.


Juno terdiam, sementara senyum Alenna di sebelahnya seketika memudar saat melihat ekspresi Berlian. Saat itu Berlian seolah meluapkan rasa kecewanya langsung di hadapan Juno, membuat Juno sempat tak bisa berkata-kata.


“Kumohon, dengarkan du ….” Untuk ke sekian kalinya, kata-kata Juno disela oleh Berlian.


“Cukup, Juno. Alenna, apakah kau dan Juno jadian?” tanya Berlian sambil melihat ke arah Alenna.


“I-iya,” jawab Alenna sedikit terbata, karena tak menduga bahwa Berlian akan langsung bertanya seperti itu.


Berlian terkekeh pelan mendengar jawaban Alenna, tapi dengan ekspresi wajah yang mencerminkan hati yang sedang terluka.


“Wow. Mulai kapan?” tanya Berlian lagi kepada Alenna.


Alenna sempat melirik sekilas ke arah Juno, berharap Juno akan membantunya menjawab pertanyaan Berlian. Akan tetapi, Juno hanya menunduk, seolah memasrahkan jawabannya pada Alenna.


“Em. Baru satu jam lalu,” jawab Alenna pada akhirnya.


“Wow-wow-wow. Selama satu jam aku menunggu di sini karena janji temu yang kau buat saat di kampus tadi, Jun. Rupanya kau malah meresmikan hubungan spesial di tempat lain dengan Alenna. Harusnya kau tidak perlu membuat janji temu malam ini, kalau ujung-ujungnya hanya mau pamer kemesraan bersama Alenna di depanku. Lagipula kau juga sudah menolak perasaanku waktu itu. Hah, bodohnya aku karena sempat berharap lebih setelah itu!” ujar Berlian panjang lebar.


“Maaf,” kata Juno sambil tetap menunduk, tak berani melihat mata Berlian, meski sebenarnya dia bisa merasakan betapa terlukanya hati Berlian.


Bulir bening itu pun terjatuh membasahi pipi. Tangis pelan lama-lama menjelma isakan. Pedih itu terluapkan. Rasa kecewa, cemburu, dan kegelisan hati yang sedari tadi membeku segera mencair, larut bersama bulir bening yang terus mengalir.


Juno seketika tak lagi menunduk, melainkan melihat bingung ke arah Berlian yang sedang menangis. Sementara itu, Alenna terlihat semakin bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Alenna merasa bersalah pada Berlian, tapi di satu sisi hatinya tidak bisa berdusta tentang perasaannya pada Juno.


Alenna buru-buru melepaskan genggaman tangannya dengan Juno. Sesaat kemudian Alenna maju perlahan, berusaha mendekati Berlian. Alenna bermaksud menenangkan hati Berlian. Belum juga sampai kaki Alenna di dekat Berlian, tiba-tiba Berlian memberi isyarat agar Alenna berhenti mendekatinya. Alenna pun seketika berhenti, dan mundur lagi.


Seutas senyum tiba-tiba terlukis di wajah Berlian. Kedua tangan Berlian kini sibuk mengusap air matanya. Sekali lagi Berlian tersenyum, dengan senyuman yang lebih merekah dari sebelumnya. Sikap Berlian yang seperti itu pun membuat Juno dan Alenna terheran.


“Lupakan Berlian yang pernah dibodohi oleh perasaan. Juno, kita berteman,” kata Berlian sambil mengulurkan tangan kanannya.


Juno menatap ragu dengan uluran tangan Berlian, hingga Juno pun tak kunjung memberikan balasan uluran tangan yang sama seperti niatan Berlian. Sementara itu, Melihat Juno yang tak kunjung menyambut uluran tangannya, Berlian pun maju dan langsung mendekatkan uluran tangannya di depan Juno. Barulah Juno menyambut jabat tangan Berlian, meski terlihat ada keraguan di sana.

__ADS_1


“Maaf, dan … terima kasih,” kata Berlian lalu melepaskan jabatan tangannya.


Berlian melihat ke arah Alenna, lalu melayangkan senyum padanya. Setelah melihat Alenna membalas senyumnya, Berlian pun melangkah pergi menuju parkiran. Berlian bergegas menutup pintu mobilnya setelah sempat memandang sekali lagi ke arah Juno dan Alenna. Puas, Berlian pun masuk mobil dan langsung melajukan mobilnya.


“Bagaimana ini?” tanya Alenna setelah melihat mobil Alenna pergi.


“Semua akan baik-baik saja,” jawab Juno tanpa melihat ke arah Alenna.


Flashback on


Mobil putih Alenna melaju kencang menyusuri jalanan yang penuh lampu warna-warni. Mobil itu baru saja dari rumah Ken, dan langsung berbalik arah tujuan.


Sebenarnya tadi sore, sepulang jam kerja kantor, Alenna menyempatkan diri ke rumah Ken untuk bertemu Juno. Namun, Juno tak ada di sana. Alenna sempat kecewa, tapi lagi-lagi berujar akan kembali mencoba bertemu Juno malam hari.


Malamnya, Alenna benar-benar kembali ke rumah Ken, tapi rupanya Juno telah pergi. Begitu diberi tahu Ken bahwa Juno akan bertemu Berlian di cafe Bro-Sis, Alenna langsung mengejar Juno, berharap bahwa dirinya akan memiliki kesempatan lebih dulu untuk berbicara dengan Juno.


Keinginan Alenna terwujud. Alenna bisa mengejar Juno, sebelum Juno sampai di cafe Bro-Sis. Alenna sempat nekat dengan meng-klakson keras dan menghadang motor Juno tepat di depannya. Dan … motor Juno pun berhenti.


“Woi, gila!” seru Juno yang masih belum tahu bahwa mobil yang menghadangnya adalah mobil Alenna.


“Juno,” sapa Alenna, setelah lebih dulu membetulkan posisi mobilnya agar tidak terlalu melintang di jalan.


“Alenna?” kata Juno yang masih belum percaya bahwa mobil yang menghadangnya adalah Alenna.


Nafas si bule cantik Alenna terlihat jelas, membuat Juno sedikit khawatir tentang Alenna. Juno mengira Alenna sedang tidak enak badan saat itu. Padahal, Alenna sedang berusaha keras menata hati sekaligus memberanikan diri untuk mengungkapkan segala rasa cintanya pada Juno.


“Alenna, ada apa denganmu? Apa kamu sedang tidak enak badan?” tanya Juno ragu-ragu.


Alenna menggeleng tegas.


“Hem? Lalu?” tanya Juno lagi.


“Juno ….” Alenna belum melanjutkan kata-katanya.


“Iya, Alenna. Ada ap … pa.” Juno kaget.


“Alenna, ada apa ini sebenarnya?” tanya Juno yang kini menyerah untuk berusaha melepas pelukan Alenna.


“I love you,” kata Alenna cepat sambil tetap memeluk Juno.


“Ha?” kata Juno kaget, tak percaya.


Seketika Juno pun kembali berusaha melepas pelukan Alenna. Juno ingin melihat raut wajah Alenna, sedang bercanda saat mengatakan kata-kata cinta tadi, atau justru serius.


Pelukan itu pun dilepaskan oleh Alenna. Kini, Juno dapat melihat jelas ekspresi wajah Alenna.


“Apa kamu bilang tadi?” tanya Juno basa-basi, sekaligus memastikan bahwa yang dia dengar tadi tidak salah.


“I love you – I love you – I love you. Juno, I love you. Sejak pertama kali melihatmu, hingga detik ini, dan akan selalu cinta sampai kapan pun itu.” Alenna menegaskan pada Juno.


Juno tidak menyangka akan mendapat pengakuan cinta dari si bule cantik Alenna. Ada sedikit rasa yang berbeda di hati Juno saat Alenna mengungkapkan perasaan cintanya. Entah perasaan apa itu. Yang jelas, saat itu Juno bisa melihat rona merah di wajah Alenna, deru nafas Alenna pun terdengar merdu di telinga Juno, hingga sikap malu-malu Alenna setelah ungkapan cintanya pun berhasil mencuri perhatian Juno.


Ada apa denganku? Bukankah hatiku masih dimiliki Anjani? Lalu, kenapa saat ini hatiku seolah terpikat dengan ungkapan cinta Alenna? Batin Juno.


“Juno, I love you.” Alenna kembali menegaskan, tapi dengan nada yang lebih indah.


Bedanya, setelah penegasan itu Alenna tertunduk malu dan langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Entah mengapa saat itu Juno malah menikmati pemandangan di depannya. Juno melangkah mendekat, lalu melepas tangan Alenna agar tidak menutupi kedua wajahnya.


“Hei, jangan dilepas! Aku malu, nih!” seru Alenna.


Juno terkekeh melihat ekspresi Alenna saat itu.

__ADS_1


“Kamu malu?” tanya Juno sambil tersenyum.


Alenna menurunkan telapak tangan yang menutupi wajahnya. Sambil tetap malu-malu, Alenna mencoba menatap bola mata Juno, tersenyum, lalu manggut-manggut.


“Iya,” jawab Alenna singkat, lalu kembali menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Juno pun kembali terkekeh melihat tingkah Alenna. Tangan Alenna yang menutupi wajah cantik kebule-buleannya itu pun kembali diturunkan oleh Juno. Namun, kali ini Juno tidak melepaskan kedua tangan Alenna, melainkan menggenggamnya.


Bola mata Juno menatap Alenna dengan penuh makna. Tatapan mata itu bersambut dengan tatapan mata yang sama. Untuk sesaat, Juno dan Alenna saling tatap.


“I love you, too. Alenna. Si bule cantikku,” kata Juno sambil tersenyum.


Iya. Ini yang terbaik. Hati Anjani bukan lagi milikku, batin Juno.


“Really?” tanya Alenna antusias.


“Yes, of course!” sahut Juno.


“Ohyeee. And now, mari kita mulai berbincang agar lebih mengenal,” pinta Alenna.


“Oke. Kita ke alun-alun kota, yuk!” saran Juno.


“Ayo!” Alenna antusias sekali.


Juno dan Alenna pun pergi bersama ke alun-alun kota. Janji temu yang telah dibuat Juno pada Berlian mendadak terlupakan. Di tengah rasa bahagia yang saat itu Juno dan Alenna rasakan, ada kegelisahan hati yang mengharapkan pertemuan, yakni Berlian.


Flashback off


Tok-tok-tok


Terdengar pintu rumah Paman Sam diketuk. Kebetulan Paman Sam sedang keluar dengan teman sesama mantan preman, sekaligus meminta mereka untuk hadir di acara pernikahan Anjani nanti. Jadi, hanya Anjani yang ada di rumah saat itu. Kebetulan juga Anjani sedang menerima telepon dari Mario, kekasih yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


“Aku dengar ada yang ketuk pintu,” kata Mario via telepon.


“Iya. Mungkin ada tamu. Tapi, siapa yang bertamu malam-malam begini?” tanya Anjani.


“Coba kamu temui dulu. Siapa tahu penting,” saran Mario.


“Baiklah. Kalau begitu teleponnya kumatikan dulu, ya?” kata Anjani.


“Oke. Aku akan hadir di mimpimu malam ini,” ujar Mario.


“Hehe. Aku tunggu. Da,” pamit Anjani sekaligus menutup teleponnya.


Anjani kemudian bergegas menuju pintu depan rumah. Pintu tidak langsung dibuka, tapi Anjani mengintipnya lebih dulu lewat lubang kecil di pintu itu.


“Berlian?” kata Anjani lirih.


Mengetahui yang datang ke rumahnya adalah Berlian, Anjani bergegas membukakan pintu untuknya. Anjani sempat terkejut melihat bekas tangisan di wajah Berlian. Anjani segera bisa menangkap bahwa hati Berlian sedang kalut.


“Hei, kamu kenapa?” tanya Anjani.


“Anjani, mulai detik ini aku akan fokus kuliah hingga berhasil menjadi sarjana.” Berlian tiba-tiba saja berkata seperti itu.


“Eh? Em …. Oke. Sepertinya ada banyak cerita yang akan kamu bagi denganku malam ini. Ayo, masuk dulu!” ajak Anjani.


“Anjani, apa aku boleh menginap di sini malam ini?” tanya Berlian.


“Boleh, dong. Kamu boleh berbagi cerita apa pun malam ini. Tapi … sebelum itu, ayo kita minum cokelat panas dulu. Aku buatkan. Tunggu di sini dulu, ya!” ujar Anjani.


Berlian malam itu menginap di rumah Anjani. Mengalirlah semua cerita, perasaannya saat itu, dan lain-lainnya tentang Juno. Anjani menanggapinya dengan sabar dan sebisa mungkin menghibur hati Berlian. Usai sesi berbagi cerita dan menguatkan hati, Anjani pun menyuruh Berlian untuk tidur.


Juno …. Akhirnya ada hati yang kau pilih, batin Anjani.

__ADS_1


***


Terima kasih sudah membaca novel saya. Nantikan lanjutan ceritanya, ya 😊✨.


__ADS_2