
Berbulan-bulan sudah waktu berlalu sejak saat batalnya acara pernikahan Mario-Anjani. Sesuai prediksi, kasus perselingkuhan John yang sempat tersorot media perlahan surut. Tak lagi ada awak media yang berusaha menerobos kantor untuk berburu berita terkait John dan keluarganya. Selentingan-selentingan yang masih terdengar hanya berasal dari relasi John dan perusahaan, juga dari relasi-relasi baru yang rupanya kepo juga dengan pemberitaan yang sempat viral di media itu.
Urusan keraguan pada relasi baru tidak menjadi masalah yang berarti. Semua teratasi lantaran suatu kecakapan berbicara hingga bujuk ramah dari Paman Li dan Leon. Sesekali Alenna juga membantu. Kecakapan Alenna dalam mengurus bisnis telah berkembang pesat, hingga Leon pun mengakui kinerja bagusnya.
Citra perusahaan John perlahan kembali membaik seiring produk-produk unggulan desain sepatu baru yang seketika laris di pasaran sesaat setelah launching dilakukan. Leon seketika naik daun, mendapat predikat pebisnis muda berbakat.
Alenna yang selalu bersama Leon di setiap acara perusahaan, juga ikut tersorot. Alenna bahkan sempat disangka calon istri Leon. Namun, Alenna lekas menyangkalnya seketika itu juga. Paras dan penampilan kebule-bulean Alenna memang menarik perhatian publik. Tak jarang pula ada rekan bisnis yang bertanya tentang asal-usul dan identitas diri Alenna. Sampai saat ini, status Alenna sebagai anak kandung John masih belum sampai di telinga publik.
“Sukses selalu untuk kerja sama perusahaan kita. Terima kasih. Kalau begitu saya permisi kembali ke kantor dulu, Pak Leon, Nona Alenna,” pamit lelaki paruh baya yang merupakan rekan bisnis Leon dan Alenna.
Leon dan Alenna menjabat tangan rekan bisnisnya. Baik Leon ataupun Alenna sudah terbiasa melakukan pertemuan bisnis di luar kantor seperti siang itu. Melalui strategi yang terencana dengan baik, semua berjalan dan terlalui dengan semestinya.
Alenna melenggang santai keluar dari sebuah rumah makan mewah tempatnya bertemu dengan rekan bisnisnya tadi. Leon mengekor santai di belakangnya setelah membayar tagihan makanan, minuman, serta tempat yang telah dipesan.
Seolah ada yang sedang mengganggu pikiran, tiba-tiba saja Alenna menghentikan langkahnya saat melihat seorang pria membawa buket bunga mawar putih. Ekspresi Alenna tiba-tiba saja berubah, ada kesedihan tergambar di sana.
Langkah Leon sudah membawanya ke parkiran mobil. Ketika melihat Alenna yang masih belum sampai juga, Leon pun berbalik badan. Pertama kali yang ditangkap Leon adalah rona wajah sedih Alenna. Beberapa detik Leon berkacak pinggang sambil memperhatikan Alenna berdiri mematung di tempatnya.
“Kau mau buket mawar putih juga?” tanya Leon yang sudah berdiri di samping Alenna.
Alenna tersenyum, lalu menggeleng tegas.
“No. Mawar putih itu mengingatkanku pada Mario. Dulu Mario sering sekali memberi mawar putih untuk Anjani. Selalu kugoda dulu setiap pagi. Hehe ….” Alenna terkekeh pelan mengingat kenangan itu.
“O. Itu masa lalu. Lagipula Anjani sudah menolak Mario, kan. Sudah, lupakan saja. Nikmati kesuksesan kita saat ini,” sahut Leon dengan entengnya.
Alenna menatap tajam ke arah Leon, kurang suka dengan perkataan yang tadi dilontarkan. Sementara itu Leon menyikapi reaksi yang ditunjukkan Alenna dengan santai. Tangan kanannya dikibas-kibaskan ke arah wajah Alenna, lalu menyuruh Alenna untuk tidak mengambil pusing apa pun juga.
Tidak mempan. Alenna masih bersungut-sungut, bahkan sampai bersedekap sambil memasang wajah jutek kepada Leon.
“Harusnya Mario ada di tengah-tengah kesuksesan perusahaan. Lagipula sebagian besar rencana yang sudah terwujudkan adalah ide-ide Mario sebelum dia mengalihkan jabatannya padamu. Ingat itu!” tegas Alenna.
“Hahaha. Iya-iya. Aku akui itu, dan aku tidak akan melupakannya. Oke maaf. Apa yang bisa aku lakukan sebagai tanda permintaan maaf? Mau kuminta Vina untuk ke kantor lagi supaya bisa ngobrol produk-produk luar negeri? Atau mau kutraktir es jeruk dalam wadah plastik?” Leon menawarkan sambil tersenyum.
Alenna berpikir sejenak, menimbang, memikirkan tawaran menarik dari Leon. Sejak pertemuan pertamanya dengan Vina saat itu, Alenna selalu merasa nyaman mengobrol dengannya. Apalagi Vina tahu banyak tentang produk-produk luar negeri, dan memiliki ketertarikan yang sama dengannya. Saat Leon memberi tawaran akan mengundang Vina ke kantor, tentu menggelitik hati Alenna untuk mengiyakan. Namun, di satu sisi es jeruk dalam wadah plastik menjadi pilihan yang sama sekali belum pernah dilewatkan untuk dipilih.
Dua pilihan yang diberikan oleh Leon rupanya tidak dipilih semua. Alenna memiliki ide lain untuk membebaskan dirinya sejenak dari rutinitas pekerjaan kantor.
“Aku izin pulang kantor sekarang, ya. Sudah tidak ada pertemuan lagi, kan?” pinta Alenna.
“Oke. Tidak masalah. Silakan, kuizinkan.” Leon berbaik hati mengizinkan.
Alenna girang. Dirinya sudah menyiapkan agenda untuk bertemu Mario juga kekasihnya, Juno. Alenna bergegas menuju mobilnya.
“Alenna. Kalau bertemu Mario tolong sampaikan salam rindu dari Vina. Sampaikan juga kalau Vina sangat ingin menemuinya,” kata Leon sesaat sebelum Alenna masuk ke mobilnya.
“Oke. Nanti kusampaikan,” jawab Alenna lalu menutup pintu mobilnya.
Di dalam mobil. Alenna memacu mobilnya menuju rumah Ken. Alenna tahu Mario dan Juno sedang ada di sana. Sembari menyetir, Alenna menghidupkan saluran radio, guna menemani perjalanannya. Lagu-lagu pop versi akustik terdengar nyaman di telinga. Alenna tersenyum, dan tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang aneh di hatinya.
Karir oke. Kekasih juga oke. Banyak hal yang sudah oke. Tapi … kenapa seperti masih banyak sekali ruang kosong di hatiku, ya? Aneh, batin Alenna.
***
Kertas-kertas tertata tak beraturan di atas meja. Dua buku materi kuliah terbuka dan dibiarkan tergeletak begitu saja di samping bolpoin hitam. Meja teras yang sebelumnya terlihat lebar, kini hanya menyisakan sedikit saja ruang. Kertas dan buku di atas meja itu milik Ken. Sementara pemiliknya terlihat masih asik menyelesaikan teka-teki silang pada aplikasi yang baru saja ter-install di smartphone-nya.
Di seberang kursi yang diduduki Ken, Mario duduk santai sembari tetap menulis, menyelesaikan tugas kuliahnya. Lima belas menit berlalu, Mario telah selesai dengan tugasnya. Bolpoin dan kertas milik Mario pun juga sudah selesai dirapikan. Mario mengecek smartphone dan membalas beberapa pesan singkat yang masuk. Hingga Mario telah selesai dengan semuanya, Ken masih saja asik dengan teka-teki silang yang dikerjakannya.
“Aku mendengar sesuatu. Tugasmu sedang meneriakimu, Ken. Tidakkah kau berniat untuk menyelesaikannya?” tanya Mario pada akhirnya.
“Santai. Lagipula Pak Nizar akan memaklumi andai aku terlambat mengumpulkannya,” ucap Ken tanpa memalingkan pandangannya dari layar smartphone-nya.
“Sedang membahas Pak Nizar, ya Mas?” tanya Juno, tiba-tiba muncul sambil membawa nampan berisi tiga gelas jus mangga.
__ADS_1
“Ya, seperti yang kau dengar, Jun.” Mario membenarkan.
Memang, hubungan pertemanan Mario dan Juno semakin membaik seiring berlalunya waktu. Tidak ada satu pun di antara keduanya yang berani membahas lagi kebodohan di toko bunga Kak Lisa beberapa bulan lalu. Hubungan pertemanan yang semakin membaik itu juga didukung atas bujukan dan nasihat dari Alenna yang tiada henti-hentinya meminta pada Mario untuk berbaikan dengan Juno. Wajar saja, mengingat Alenna adalah kekasih Juno dan sangat berharap agar kakaknya itu bisa berteman baik dengan kekasihnya itu.
“Pak Nizar semakin banyak penggemarnya di kampus. Cara ngajarnya memang asik, nggak bikin bosen. Ramah juga sama siapa pun. Pantas saja jika banyak yang mengidolakannya,” imbuh Juno, lalu menyeruput jus mangga bagiannya.
“Eh, tapi kenapa belum menikah, ya?” tanya Ken yang tiba-tiba saja meletakkan smartphone-nya, seolah tertarik dengan perbincangan tentang Pak Nizar.
Juno memberi kode agar Ken tidak membahas-bahas lagi tentang menikah, pernikahan, atau sejenisnya. Pembahasan itu khawatir akan menyinggung Mario, mengingat Mario juga sempat gagal menikah sebelum ini.
“Ups. Tidak-tidak, maksudku Pak Nizar memang masih muda, jadi pantas saja kalau belum menikah,” terang Ken kemudian.
Percuma. Awalnya Ken berusaha meralat pertanyaannya sesuai kode dari Juno. Namun, pernyataan barunya malah tetap menyinggung tentang menikah dan masa muda. Ken jadi kikuk sendiri. Sahabat baiknya sendiri pun di usianya yang masih muda itu juga sempat gagal menikah.
Duh, jadi serba salah! batin Ken sembari berdehem dan memperbaiki posisi kacamatanya.
Mario tidak bodoh. Cukup mudah baginya untuk menangkap alasan kekikukan Ken saat itu.
“Jangan ditahan, Ken. Katakan saja,” tutur Mario sembari tersenyum.
“Setiap orang hidup dengan membawa kisahnya masing-masing sesuai yang telah ditakdirkan. Menikah itu bukan hanya tentang kesiapan, usia yang matang, atau bahkan mungkin terdesak karena permintaan seseorang. Ada garis takdir yang membersamai diri. Tidak perlu risau. Akan tiba masanya. Percayakan semua pada Sang Pemilik Takdir," jelas Mario.
"Eh?"
"Ha?"
Juno berhenti meminum jus mangganya. Ken melongo. Baik Juno ataupun Ken sedikit terkejut dengan penuturan Mario yang tidak biasa-biasanya berkata seperti itu.
Senyum Mario merekah melihat ekspresi kedua sahabatnya. Mario menikmati rona heran di wajah sahabat-sahabatnya itu sembari meminum jus mangga bagiannya.
Ken yang biasanya asal ceplas-ceplos dalam berkata, seketika saat itu sungkan hendak melontarkan kalimat tanggapan. Pada akhirnya, Ken hanya mampu menyeletuk biasa saja.
"Ehem, mendadak alim, nih!" celetuk Ken.
Lagi-lagi senyum Mario merekah. Kembali jus mangga diseruput sembari mengacungkan jempol pada Juno.
"Gara-gara Anjani, ya?" tanya Ken asal.
"Tidak juga. Mungkin Anjani hanya perantara. Hati ini sudah terlalu lama kosong. Aku sudah terlalu haus dengan rasa cinta yang sebenarnya. Rasa cinta pada Sang Pencipta," tutur Mario, seolah tidak ada beban saat mengatakannya.
"Ah, jadi merinding gini, deh!" ujar Juno.
Ken melempar Juno dengan bola kertas.
"Lebay!" seru Ken.
Setelahnya obrolan kembali renyah. Ken mendadak kembali bersemangat mengerjakan tugas kuliah dari Pak Nizar. Sembari menunggu Ken selesai dengan tugasnya, Mario dan Juno mengobrol ringan. Obrolan yang dibuat lebih banyak tentang perkuliahan, khususnya tentang Pak Nizar.
***
Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda.
Anjani duduk sendirian di bangku panjang dekat salah satu gazebo kampus. Tatapan mata Anjani tertuju pada segerombolan pot berisi tanaman hias. Salah satunya ada tanaman mawar, dan sedang mekar. Kebetulan juga mawar yang sedang merekah indah itu adalah mawar putih. Melihatnya membuat Anjani sedikit melambung mengingat masa lalu.
Mario, aku rindu. Kapan kita bisa saling melepas ego dan kembali bisa saling mengobrol seperti dulu? batin Anjani.
Mawar putih terus saja ditatap Anjani dari jauh, dari tempatnya duduk saat itu. Duduk terdiam tanpa terlihat sering mengedipkan mata, tentu saja membuat beberapa teman mahasiswa bertanya-tanya. Di mata mereka Anjani terlihat sedang melamun dengan tatapan mata kosong. Meski terlihat demikian, tidak ada satu pun yang menegur Anjani. Kecuali ... satu, yakni Pak Nizar yang kebetulan sedang lewat saat itu.
"Permisi," sapa Pak Nizar ramah.
Anjani terkaget-kaget. Sungguh, terlihat kaget berlebihan di hadapan Pak Nizar.
"Maaf-maaf, saya mengagetkan, ya." Pak Nizar meminta maaf.
__ADS_1
Permintaan maaf dari Pak Nizar justru membuat Anjani tidak enak hati. Pak Nizar tidak salah, Anjanilah yang tidak seharusnya berekspresi berlebihan seperti tadi.
"Tidak-tidak, Pak. Saya yang seharusnya minta maaf. Maafkan saya, Pak." Anjani berdiri dan membungkukkan badan seraya beberapa kali mengucap maaf.
"Hehe, sudah-sudah. Sama-sama. Saya boleh duduk sebentar di sini?" tanya Pak Nizar.
"Duduk di sini? Oh, tentu saja boleh, Pak. Silakan duduk, Pak!" sahut Anjani.
Anjani jadi terlihat salah tingkah saat itu. Semua akibat lamunannya tentang Mario dan mawar putihnya. Dirinya jadi tidak fokus, hingga terkaget berlebihan saat Pak Nizar menyapanya.
Anjani ikut duduk di bangku yang sama dengan Pak Nizar, sambil tetap menjaga kesopanan kepada dosennya itu. Beberapa mahasiswa yang lewat melihat ke arah Anjani dan Pak Nizar. Beberapa histeris tertahan, merasa iri dengan Anjani yang bisa duduk sebangku dengan Pak Nizar, sang dosen idola.
"Tadi terlihat jelas kamu sedang melamun sendirian. Sedang banyak pikiran, ya?" tanya Pak Nizar.
Anjani tersenyum manis, lalu mengangguk membenarkan.
"Saya tidak akan tanya apa yang sedang mengganggu pikiranmu. Hanya saja saya berharap kamu tidak membiarkan hati dan pikiranmu kosong, hingga melamun seperti tadi. Saat kosong, segera saja ingat Dia. Sebut saja nama-Nya!" nasihat Pak Nizar.
"Dia?" tanya Anjani yang kurang paham. Anjani sempat mengira bahwa yang dimaksud Pak Nizar adalah nama Mario.
"Iya, Dia. Sang Pemilik Kehidupan, Sang Pemberi Kemudahan. Penciptamu," jelas Pak Nizar.
Mata Anjani mengerjap. Dirinya mulai memahami yang dimaksud oleh Pak Nizar. Diam-diam, dan perlahan ... ada rasa yang mengusik hatinya. Rasa yang telah lama tidak dirasakan, mirip sebuah kerinduan.
"Setiap masalah selalu bersanding dengan penyelesaian. Biarkan Dia menjadi yang pertama kali kamu bagi cerita dan keluh kesahmu. Curhat saja pada-Nya," lanjut Pak Nizar menasihati.
Kembali, ada rasa tak biasa dalam hati Anjani. Anjani sadar, bahwa ruang hatinya masih penuh dengan kekosongan. Saat itu terasa begitu jelas, dan Anjani benar-benar merasakan dan menyadarinya.
Iya. Aku telah lama jauh dari-Nya, batin Anjani.
Anjani menunduk, lalu mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Setelahnya Anjani mengangkat kepala, dan melihat ke arah Pak Nizar.
"Terima kasih atas nasihatnya, Pak. Saya telah menyadari sesuatu," kata Anjani seraya tersenyum.
"Sama-sama. Kamu salah satu mahasiswa di kelas saya, kan? Boleh tahu namanya?" tanya Pak Nizar.
Anjani mengangguk. "Nama saya Anjani," jawab Anjani.
"Baik. Anjani, saya permisi dulu, ya. Semoga urusanmu dimudahkan," kata Pak Nizar, kemudian beranjak dan pergi meninggalkan Anjani.
Anjani memperhatikan langkah mantap Pak Nizar pergi menjauh. Senyumnya terus merekah. Ada perasaan baru telah singgah di hatinya. Perasaan yang seharusnya ada sejak dulu, yakni rasa cinta nomor satu.
"Hm ... Anjani bikin iri, deh!" seru Meli yang tiba-tiba mendekat.
"Mulai, deh." Berlian protes pada sikap Meli.
"Eh, Berlian. Nyesek nggak, sih? Kita berdua ngumpulin tugasnya Pak Nizar langsung ke mejanya, biar bisa ngobrol juga. Eh, ternyata Pak Nizar malah di sini ngobrol sama Anjani," keluh Meli.
"Udah, ah. Terserah katamu saja," jawab Berlian, santai menanggapi.
"Ah, besok mau akting sedih aja di depan Pak Nizar, deh. Biar dapat nasihat juga," kata Meli.
Berlian mencubit gemas pipi Meli. "Modus kau!" seru Berlian.
"Sudah-sudah. Yuk, pulang!" ajak Anjani.
Berlian dan Meli setuju. Mereka bertiga pun melangkah bersama menuju parkiran, pulang menggunakan mobil milik Berlian.
Bersambung ....
***
Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Semoga pula pembaca sekalian tetap suka dengan jalan ceritanya meski author menambahkan genre baru 😊 See You ✨
__ADS_1