
Pukul 06.15, Rumah John.
Keluarga John pagi ini duduk bersama di meja makan yang sama. Baru semalam John tiba dari meninjau pabrik di luar kota. Meski terlihat sedikit lelah, tapi John tak henti-hentinya menampilkan wajah bahagia karena bisa menikmati sarapan bersama keluarga.
Sayur sup lauk ayam goreng kripsi, menjadi santap nikmat yang menemani kebersamaan keluarga John di meja makan. Alenna lahap menyantap ayam goreng krispi dengan tangan kanannya. Mommy Monika yang melihat itu lekas mengambil sepotong ayam goreng krispi lainnya dan diletakkan di piring Alenna.
“Mario, kamu juga harus makan yang banyak agar punya tenaga lebih untuk mengurus ruko barumu.” John menambahkan sepotong ayam krispi lainnya di piring Mario.
“Terima kasih, ayah.” Mario tersenyum sembari berterima kasih pada ayahnya.
“Kamu suka hadiah dari ayahmu?” tanya Mommy Monika, yang dimaksud adalah ruko baru pemberian John.
Mario hanya mengangguk. Sempat ada rasa kesal karena sang ayah memutuskan secara sepihak. Namun, setelah kemarin melihat Anjani begitu antusias ingin segera menerapkan ilmu dari Via dan Ratna, Mario jadi berubah pikiran. Mario berniat akan lebih sungguh-sungguh mengurus ruko sepatunya sembari kuliah.
“Istirahat makan siang nanti jadi ke tempat catering, nggak?” tanya Alenna pada Mario.
“Jadi. Sekalian cek kesiapan dan pelunasan pembayaran. Modelnya nanti dibuat ala prasmanan saja. Sekalian perlengkapannya sewa saja di tempat catering. Biar keluarga Meli bisa fokus menyambut besan,” terang Mario.
“Itu kamu sudah pinter bantuin persiapan nikahnya Meli. Kamu sendiri gimana? Kapan jadinya melamar Anjani lagi? Ayah, Mommy, sama Alenna sudah siap lho ke sana.” John kembali mendesak Mario dengan pertanyaannya.
Mario tersedak. Dia kaget, dan tidak menduga sang ayah akan kembali mendesaknya. Dilihatnya bergantian Mommy Monika dan Alenna yang senyum-senyum lantaran melihat Mario salah tingkah.
“Mario masih menunggu,” jawab Mario singkat.
“Nunggu apa lagi, sih? Kamu sudah punya penghasilan sendiri dari perusahaan dan dari olshopmu. Setelah lulus kuliah pun kamu langsung memimpin kembali anak perusahaan ayah. Secara finansial nggak ada masalah. Ayah lihat pun kalian juga saling cinta,” terang John sesuai fakta yang ada.
“Mario … nunggu siap.” Ada keraguan dari ucapan Mario.
“Jangan lama-lama. Nanti keburu Anjani dilamar yang lain. Anjani itu nggak cuma cantik, ngajinya juga oke. Pasti banyak yang naksir.” Mommy monika mengingatkan Mario.
“Ehem. Betul. Misalnya Juno,” celetuk Alenna.
Mario menoleh. Lekas ditangkap olehnya mimik berbeda dari wajah Alenna. Mario tahu, Alenna masih menyimpan rasa pada Juno. Mario pun tahu, Alenna tidak bisa memaksakan itu karena Juno kembali menaruh hati pada Anjani.
“Kabari ayah kalau kamu sudah siap,” pinta John.
“Insya Allah,” lirih Mario.
Pikiran Mario kembali tertuju pada Anjani. Mario tidak lagi sungkan membuat Anjani baper atau bahkan salah tingkah. Seperti yang dikatakan Paman Li, mood baik tetiba saja menghampiri saat Mario berada di dekat Anjani. Namun, nyali untuk mengajak Anjani menikah, belum saja ada. Mario memiliki banyak pertimbangan, karena tidak ingin pernikahannya batal seperti sebelumnya.
***
Pukul 12.10, Rumah Meli.
“Adit, Mbak Meli ada?” tanya Anjani pada Adit.
“Silakan masuk dulu, Mbak. Itu, Mbak Meli dari pagi ngaca melulu di kamarnya,” jawab Adit.
Anjani tidak langsung menemui Meli di kamarnya. Dia meletakkan sling bag miliknya dan lekas membantu Adit dan Bibi Fatimah memindahkan meja.
“Anjani, Nak Mario bilang kan mau dipasangin backdrop wedding. Kalau dipasang di sebelah sini cukup nggak?” Fatimah menunjuk salah satu sisi tembok yang cukup luas.
“Anjani rasa cukup, kok. Terus meja ini sepertinya bisa digunakan untuk ijab. Nggak terlalu tinggi. Nanti hiasan meja untuk ijab sekalian jadi satu dengan backdrop weddingnya. Nanti Anjani ingatkan Mario soal ini. Ohya, wadah tempat berkatan untuk para tamu undangan apa sudah datang?” tanya Anjani pada Fatimah.
“Nak Mario yang antar ke sini sebentar lagi. Anjani, sebenarnya Bibi nggak enak sama Nak Mario. Apa-apa dia yang ngurusin. Mana Paman sama Bibi nggak boleh bayar apa pun.” Fatimah curhat pada Anjani.
“Bibi Fatimah sama Paman Roni tenang saja. Mario baik kok orangnya. Sama teman-teman yang lain juga sering begitu. InsyaAllah, kembali kebaikan untuk Mario.” Anjani meyakinkan Fatimah untuk tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.
“Aamiin. Bibi doakan deh Nak Mario sama kamu segera menyusul Meli sama Nak Azka.” Fatimah tersenyum pada Anjani.
Mata Anjani mengerjap cepat. Rupanya Bibi Fatimah mulai ikut-ikutan mendoakan dirinya dengan Mario agar segera menyusul kebahagiaan Meli-Azka.
“Anjani ke kamar Meli dulu, ya?” Anjani minta izin.
“Iya. Kalau gitu Bibi tinggal ke Bu RT dulu sekalian pinjam tikar pengajian,” terang Fatimah.
Anjani mengangguk. Langkah kakinya kemudian membawanya menuju kamar Meli. Baru sampai di depan pintu kamar Meli, aroma sedap malam sudah tercium. Anjani sudah bisa merasakan bau-bau pengantin.
Setelah mengetuk pintu kamar Meli dan mendapat izin, Anjani lekas masuk. Aroma bunga sedap malam semakin tercium memenuhi kamar Meli. Anjani bisa melihat segerombol bunga sedap malam di sudut kamar dekat ranjang Meli.
“Mel, lagi dipingit, ya?” Anjani melangkah mendekati Meli yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya.
“Iya, nih.” Meli mempersilakan Anjani untuk duduk.
Meli tidak dizinkan untuk keluar rumah hingga hari pernikahannya tiba. Orangtua Meli masih menganut tradisi jawa yang sering orang kenal dengan tradisi pingitan. Meli tidak paham betul dengan tradisi itu. Akan tetapi, Meli mengambil sisi positifnya. Dengan tidak keluar rumah, Meli jadi lebih punya banyak waktu untuk beribadah sembari lebih memantapkan hatinya untuk Azka. Meli juga lebih bisa fokus untuk mengecek persiapan pernikahannya dengan Azka. Juga, Meli bisa lebih punya banyak waktu untuk merawat dirinya, agar nanti bisa tampil lebih menarik di depan suaminya.
“Waktu kamu hampir menikah sama Kak Mario dulu, dipingit kayak gini juga nggak?” tanya Meli pada Anjani.
“Nggak, tuh. Lagian kan pernikahannya batal beberapa hari sebelum hari H,” jawab Anjani santai.
“Oh, iya juga sih. Hehe, maaf. Jadi ngingetin kamu, deh.” Meli jadi tidak enak hati.
“Nggak apa-apa, Mel.” Anjani tersenyum.
“Lagipula dipingit ada baiknya, kok. Kehormatanmu sebagai seorang wanita jadi lebih terjaga, karena tidak bebas dalam berkomunikasi apalagi bergaul dengan siapa pun,” terang Anjani menyampaikan pikirannya.
Meli masih menunjukkan ekspresi tidak paham.
“Contohnya?” tanya Meli.
“Contohnya nih, kemarin kan kita pergi tuh ke rumah Mario. Eh di sana ketemu Dika. Pakek acara nembak kamu segala. Tapi kalau kamu terjaga di rumah aja, kecil banget kemungkinan terjadi kayak kemaren. Komunikasi dan pergaulanmu sama orang lain terbatasi. Nggak bakal baper karena nggak ada orang lain yang nembak kamu lagi.” Anjani sedikit menggoda Meli.
Meli terkekeh. “Bener juga, sih. Hihi. Aku jadi bisa lebih fokus ngecek persiapan yang kurang. Kadang bisa chattingan juga sih sama Mas Azka.” Meli senyum-senyum lagi saat menyebut nama Azka.
“Hayooo. Ngobrolin apa sama Mas Azka, kok bisa sampek senyum-senyum gini? Jangan-jangan,” canda Anjani.
“Eit-eit-eit. Nggak ngomongin yang jorok-jorok, kok. Cuma bahas persiapan nikah aja.” Meli tegas mengklarifikasi.
__ADS_1
“Hihi. Iya-iya, percaya.” Anjani terkekeh melihat ekspresi Meli yang heboh sendiri.
Anjani lekas menuju ke dekat cermin. Ada gaun pernikahan nuansa islami tergantung rapi di dekat sana. Warna putih bersih. Desain sederhana tapi terlihat anggun. Ada sedikit bagian yang menonjolkan kombinasi brukat, furing, dan beberapa manik.
Langkah Meli ceria mendekat. Dia berdiri persis di dekat gaun pengantin yang akan dikenakan olehnya. Senyum Meli merekah. Pipinya merona, kemerahan karena bahagia.
“Cantik,” ucap Anjani.
“Makasih. Aku memang cantik kok,” sahut Meli.
“Gaunnya yang cantik, Mel.” Anjani terkekeh.
Meli menggelembungkan pipinya karena sudah salah sangka dengan pujian Anjani.
“Kamu juga cantik, kok. Cocok banget bersanding dengan Mas Azka yang tampan kayak artis itu. Hihi.” Anjani memuji Meli.
“Tapi … Kenapa ya Mas Azka yang tampannya sebelas dua belas kayak Kak Mario itu mau sama aku yang agak konyol ini? Ehm, di Jogja sana kan pasti banyak cewek yang lebih cantik dan lebih feminim dari aku.” Meli bertanya-tanya.
“Memangnya kamu rela Mas Azka pilih yang lain?” tanya Anjani.
“Ya nggak rela, dong. Hatiku udah klik sama hatinya Mas Azka. Aku yakin Mas Azka juga udah klik sama aku.” Meli tampak malu-malu.
Anjani menangkap perasaan cinta yang dalam dari Meli untuk Azka.
“Sungguh takdir Allah itu indah, ya. Tidak pernah disangka-sangka ternyata jodohmu orang Jogja,” tutur Anjani, ikut bahagia.
“Iyap. Aku bersyukur bisa berjodoh dengan Mas Azka. Solih, rajin sholat, dan lagi sikapnya hampir-hampir mirip kayak aku. Mudah-mudahan aja anak-anakku nanti nggak konyol juga. Hihi. Mau bikin anak berapa sama Mas Azka, ya?” Meli berangan-angan.
“Eeeeeeh. Bisa-bisanya kamu ngomongin itu di depan single kayak aku, ya.” Anjani protes.
Meli tidak dapat menahan tawanya melihat aksi protes dari Anjani.
“Makanya cepetan nikah sama Kak Mario. Kalian berdua itu saling cinta, tapi nggak ada yang maju-maju. Gemeeees!” Meli kembali heboh.
“Ehm, sebenarnya ….” Anjani ragu-ragu memulai kata-katanya.
“Sebenarnya apa? Lanjutin dong. Jangan bikin aku kepo!” pinta Meli sambil bersedekap.
“Sebenarnya sih aku iyes aja kalau Mario tiba-tiba melamarku lagi. Tapi … ah. Mana mungkin. Buktinya sampai sekarang Mario nggak ngajakin aku nikah lagi, tuh! Ya, aku biarin aja deh.” Anjani sok cuek.
“Tunggu-tunggu!” pinta Meli.
Meli berlarian kecil menuju meja belajar. Lekas diambilnya smartphone yang tergeletak di sana. Jemari tangan Meli lincah mencari penanda recorder. Klik. Alat perekam suara siap.
“Coba ulangi kata-katamu yang barusan, Anjani. Nanti kutunjukkan sama Kak Mario sebagai bukti kalau kamu juga ingin cepet-cepet dilamar.” Meli mendekatkan smartphone miliknya ke arah Anjani.
“Aaaaa. Nggak mau!” Anjani menolak permintaan Meli. Dia mundur beberapa langkah.
“Ayolah, Anjani!” desak Meli.
Di saat Meli dan Anjani saling desak dan saling tolak, terdengar seruan Adit dari arah pintu depan rumah.
“Mbaaaak. Ada Kak Mario ganteng di depan, nih!” seru Adit.
“Alhamdulillaah. Ada Kak Mario datang. Harus gercep!” Meli berlarian kecil menuju depan meninggalkan Anjani.
“Meli!” Anjani mencoba mencegah tapi tidak bisa.
Mario tidak datang sendirian. Dia datang bersama Alenna. Mario dan Alenna menurunkan beberapa tumpuk wadah berkatan untuk tamu undangan. Meli yang hendak menyampaikan kode dari Anjani pun lekas beralih fokus. Meli membantu Mario dan Alenna. Hal yang sama dilakukan juga oleh Anjani.
“I-ini bagus banget, Kak.” Meli melihat-lihat wadah berkatan yang dibawa Alenna dan Mario.
“Meli, waktu pertama aku datang ke Indonesia, kan kamu yang nolongin aku sehabis aku dirampok. Kamu beliin aku es jeruk, ngasih aku baju ganti bersih, ngasih aku tempat berteduh di sini. Yang aku bawa sekarang ini bener-bener nggak ada apa-apanya,” terang Alenna sembari mengenang kebaikan Meli padanya.
Meli terharu. Sungguh dirinya tidak mengharapkan balasan apa pun karena sudah menolong Alenna waktu itu. Kini, Meli bisa merasakan bahwa buah dari kebaikan itu sungguh manis rasanya.
“Mommy sama Ayah juga berterima kasih atas itu, Mel. And now, aku sama Mario dengan senang hati akan membantu semua keperluan pernikahanmu,” imbuh Alenna.
Meli semakin dibuat terharu dengan penuturan Alenna. Refleks saja Meli mendekat dan memeluk si bule cantik Alenna.
“Aku benar-benar merasa satu per satu kemudahan dan kebaikan datang kepadaku,” tutur Meli.
“Ini berkah orang yang mau menikah,” sahut Anjani.
Mario melihat Anjani. Senyum Anjani membuat dada Mario berdebar. Seketika dia teringat desakan keluarganya untuk segera melamar Anjani lagi.
“Kak Mario, wadah-wadah berkatan ini biar Adit saja yang naruh di belakang.” Meli memberi kode pada Adit.
Lamunan Mario buyar. Dia segera membantu Adit memindahkan semua wadah berkatan menuju dapur.
Alenna menerangkan gambaran hidangan untuk tamu undangan. Meski tamu undangan tidak banyak, tapi tetap saja Alenna dan Mario memilih konsep makan prasmanan agar para tamu undangan bisa leluasa memilih makanan yang diinginkan. Untuk berkatan tamu undangan, dibuat seperti pada umumnya. Ada nasi dan kue. Isian berkatan tamu undangan juga sudah dipesankan di tempat yang berbeda oleh Alenna.
“Eit, aku tahu kamu pasti mau bilang tidak enak hati. Tidak perlu. Akulah yang harus berterima kasih atas kebaikanmu, Meli Sayang.” Alenna menghentikan Meli yang hendak berterima kasih.
“Anjani cepet nyusul, ya. Tunjukan pesonamu di depan kakakku.” Alenna antusias.
Anjani tepuk jidat. Permintaan Alenna untuk menunjukkan pesona dirinya pada Mario sungguh tak ingin dia lakukan. Anjani lebih suka semua berjalan secara alami.
“Lagi bahas apa kalian?” tanya Mario yang baru kembali dari dapur.
“Lagi bahas kamulah. Cepetan ajak Anjani nikah. Mommy sama ayah sudah nggak sabar, tuh!” Alenna justru mempertegas semuanya saat itu.
Sudah bisa ditebak bagaimana ekspresi Anjani saat itu.
Maluuuuu. Batin Anjani.
Meli sebagai sahabat yang baik, dia terkekeh tapi mendukung dengan segenap jiwa raga. Sedangkan Mario, dia mati gaya. Kebingungan harus bersikap apa. Pada akhirnya Mario kembali membahas persiapan pernikahan Meli.
__ADS_1
“Meli, make up pengantin sudah siap?” tanya Mario.
“Make up pengantin? Hehe. Meli make up sendiri aja, Kak. Nanti ada Anjani yang bantuin,” terang Meli yang sama sekali tidak menghubungi jasa make up pengantin.
“Anjani yang bantu? No! Aku tidak yakin. Setahuku Anjani tidak pernah memakai riasan wajah.” Mario meragukan Anjnai.
“He? Apa? Kamu meragukan kemampuanku, ya?” Tiba-tiba saja Anjani terpancing.
“Aduh! Sudah ah, jangan ribut deh kalian. Gini nih kalau udah salting.” Alenna melerai.
Alenna tidak habis pikir melihat Mario-Anjani yang tiba-tiba saja keluar dari karakternya. Sementara Meli, sedari tadi terus-terusan menjadi penonton dan terkekeh saat ada adegan yang menurutnya lucu.
“Meli. Perkenalkan. Miss Alenna, make up pengantin di hari bahagiamu,” kata Mario.
“Taraaaa.” Alenna berpose saat diperkenalkan.
Anjani dan Meli saling lirik. Mereka berdua tidak menyangka bahwa Alenna ditunjuk Mario untuk menjadi tukang make up pengantin.
“Aku cuma bantu make up kamu aja , kok. Yang lain make up sendiri, ya. Hehe.” Alenna meluruskan niatnya.
“Uuuuh. Kamu baik banget, sih.” Bukan memeluk, Meli justru mencubit gemas pipi Alenna.
“Aw-aw-aw!” Alenna pasrah saja pipinya jadi korban pencubitan.
“Terus-terus apa lagi yang harus disiapin?” tanya Anjani.
Baik Meli, Alenna, dan Mario sama-sama meneliti apa lagi yang kurang. Meli menyebutkan bahwa semua pengurusan dokumen dan surat untuk penerbitan buku nikah sudah selesai ditangani ayahnya yang kenal dekat dengan Pak RT.
Mario mendata satu per satu persiapan yang sudah dilakukan. Undangan, jamuan, berkatan, backdrop wedding, baju pengantin, bahkan baju yang dipesan Mommy Monika untuk dipakai Mario-Anjani juga disebutkan.
“Loh, Mommy kok masih nyuruh kita pakek baju yang dipesan itu?” Anjani terheran, padahal dirinya sudah berusaha membujuk Mommy Monika untuk membatalkan.
“Bukan baju adat jawa, kok. Cuma gamis batik. Ntar couple-an sama Mario. Hihi. Pakai aja, Anjani. Nanti Mommy kecewa loh kalau nggak dipakai,” pinta Alenna.
Mario tidak bisa berkata-kata. Mario pasrah saja dan menerima jika Anjani tetap tidak mau memakainya. Namun, rupanya Anjani bersedia memakai baju yang sama dengan Mario. Betapa girang hati Mario saat mendengar kesediaan Anjani, meski tidak ditunjukkan secara terang-terangan.
“Terus, apa lagi yang kurang?” tanya Anjani setelah bersedia memakai baju yang sama dengan Mario.
“Kamar pengantin yang mana?” tanya Mario.
“Ka-kamar pengantin? Mau diapain, Kak?” tanya Meli polos dan sedikit malu-malu.
“Dihias bunga,” jawab Mario singkat.
“Biar aku yang menghubungi Berlian untuk bunga yang dibutuhkan. Pengantin tinggal menikmati malam pertamanya aja berdua.” Alenna mengedipkan sebelah matanya.
Meli tampak malu-malu saat Alenna menyebut malam pertama. Meli belum terpikir bagaimana dia melewati malam pertamanya bersama Azka saat sudah sah nanti.
“Hayooo. Kok diem?” goda Anjani sambil menyenggol bahu Meli.
Tiba-tiba saja Meli senyum-senyum sendiri. Hawa-hawa pengantin baru sudah bisa dia rasakan.
“Ada satu yang kurang,” kata Mario, hingga sukses memancing perhatian Alenna, Meli, dan Anjani untuk memperhatikan dirinya.
“Apa lagi?” tanya Anjani.
“Fotografer,” jawab Mario.
Sungguh Meli tidak kepikiran sampai sejauh itu. Yang ada di pikirannya adalah sebuah acara pernikahan yang biasa-biasa saja yang penting sah. Akan tetapi, Meli memiliki teman-teman yang baik hingga menyiapkan segala sesuatunya dengan lebih.
“Cekrak-cekrek pakai HP aja deh, Kak. Nggak perlu pakai fotografer professional,” pinta Meli.
Mario mengangguk. Dia memang tidak akan menyewa jasa fotografer professional. Mario justru akan meminta salah satu temannya untuk membantu mengabadikan momen bahagia Meli-Azka.
“Teman kita yang bisa mengoperasikan kamera DSLR, ada Dika dan Ken. Kamu mau pilih si …” Kata-kata Mario langsung disela Meli.
“Kak Ken saja,” sahut Meli.
Meli tidak ingin Dika yang mengabadikan momen indah di hari pernikahannya dengan Azka. Meli khawatir, bukannya momen SAH yang diabadikan, malah wajah cantik Meli nanti yang di-shoot Dika. Meli tidak ingin itu terjadi. Antisipasi.
“Baiklah. Nanti aku minta Ken melakukannya,” kata Mario.
“Mahar siap?” tanya Anjani.
“InsyaAllah Mas Azka siap,” jawab Meli mantap.
“Mas Azka sekalian suruh latihan ijab kabul, Mel. Biar nanti sekali ucap langsung SAH,” kata Anjani setengah menggoda Meli.
Meli kembali tersipu malu. Membayangkan prosesi ijab kabul Sabtu nanti membuatnya senyum-senyum sendiri.
“Eh, Anjani. Ma datang, kan?” tanya Meli yang tiba-tiba teringat dengan Ma.
“InsyaAllah datang, kok. Sudah aku beri tahu. Kenapa?” tanya Anjani.
“Itu tuh, Kak Mario katanya mau minta restu Ma buat melamarmu.” Meli mengada-ada, tapi itu bagian dari misinya.
Anjani salah tingkah karena penuturan Meli. Sempat dilihatnya Mario yang berdiri di samping Alenna. Di luar dugaan, Mario justru asik tertawa karena candaan Meli. Ternyata Anjani saja yang salah tingkah.
“Sudaah, deh. Cepetan nyusul. Otewe SAH!” seru Alenna.
Bersambung ….
Seperti apa ya persiapan Azka di Jogja? Mahar yang diberikan pada Meli apa, ya? Cari tahu yuk di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR Karya Kak Cahyanti. Dukung Kolaborasi kami, ya. Terima kasih buat kakak-kakak yang sudah vote, like, dan meninggalkan jejak komentarnya. Barakallah.😊
Meli-Azka, Otewe SAH.
__ADS_1