
Duduk bertiga di meja makan. Anjani, Mario, dan Mommy Monika tampak menikmati menu yang terhidang. Ketiganya diliputi perasaan senang. Mario-Anjani yang begitu menikmati intim berdua semalam, dan Mommy Monika yang akan pergi ke luar kota bersama teman untuk hunting souvenir pernikahan.
“Mario, jaga Anjani, ya. Mommy pergi sampai besok malam. Sekalian menginap di rumah salah satu teman lama. Sudah izin ayah kalian juga, kok.” Mommy Monika memberi tahu anak dan menantunya.
“Baik, Mom. Begitu urusan souvenir beres, Anjani bisa membantu persiapan yang lain. Oya, kapan keluarga Rangga akan memulai proses lamarannya? Apakah langsung lamar nikah saja?” tanya Mario.
“Seminggu sebelum hari H keluarga Nak Rangga akan kemari. Mommy juga sering telponan sama Bu Anis, kok. Ibunya Rangga. Insya Allah kami sudah semakin akrab. Siap besanan. Hihi.” Wajah Mommy Monika tampak cerah. “Makanya, Senin ini ayah kalian akan menemui Alenna di Jakarta. Ayah sendiri yang akan meminta Alenna untuk pulang dua minggu lagi. Sembari bersiap untuk pernikahan. Untuk pekerjaan di Jakarta ayahmu sementara memercayakan kepada manajernya langsung,” terang Mommy Monika panjang lebar.
Mario mengangguk-angguk. Dia paham dengan pemikiran yang dibuat oleh mommy dan ayahnya. Namun, semalam Mario menerima kabar dari Paman Li, bahwa Alenna pagi ini akan pulang diam-diam menggunakan penerbangan pagi. Mario hanya memberi tahu Anjani soal ini. Tidak dengan mommy dan ayahnya. Jika mommy dan ayahnya tahu Alenna pulang diam-diam, tidak bisa dibayangkan betapa terkejutnya mereka.
“Oya, ehem!” dehem Mommy sebelum melanjutkan kata-katanya. “Anjani, Mario, sebenarnya mommy dan ayah sudah ingin menimang cucu, lho. Jadi, jangan tunda kehamilan, ya. Biar nanti mommy yang bantu merawat buah hati kalian.” Tatapan Mommy Monika penuh harap. Bergantian dia memandang Mario dan Anjani.
Malu-malu Anjani tersenyum. Dia melirik Mario sambil tetap mengunyah makanannya. Mario juga tersenyum. Ditatapnya bola mata Anjani sejenak, lantas meyakinkan Mommy Monika bahwa mereka memang tidak berniat menunda kehamilan.
“Insya Allah kami tidak ada niatan seperti itu, Mom. Semoga saja keinginan mommy dan ayah segera terwujud. Doakan Anjani agar selalu sehat dan selalu bersedia saat Mario meminta jatah.”
Kalimat penutup Mario membuat Anjani tersedak karena kaget. Mario jadi kebingungan mengambil air minum untuk sang istri. Sementara Mommy Monika sudah tidak bisa menahan tawanya lagi.
“Dasar. Usil! Filter katanya selalu lupa diaktifkan!” gumam Anjani yang rupanya didengar oleh Mario.
Mario senyum-senyum. Berhasil menggoda sang istri menjadi kesenangan tersendiri baginya. Abaikan saja Mommy Monika yang sudah terlalu sering memergoki kemesraan mereka. Nyatanya, Mommy Monika juga berharap agar Anjani segera mengandung buah hati mereka.
***
Tepat selesai makan, Mommy Monika dijemput dua temannya, ibu-ibu sosialita. Usai berpamitan pada Mario-Anjani, Mommy Monika pun berangkat ke luar kota.
“Sayang, sebaiknya kamu siap-siap. Pukul delapan kita ke bandara. Bersiap memberi kejutan untuk Alenna.”
“Oke. Sebaiknya hubungi Mas Rangga dulu. Atau minta tolong sopir saja untuk menjemputnya. Jadi kita ke bandaranya bisa barengan,” saran Anjani.
“Ide bagus. Jadi kita tidak perlu putar arah.” Mario setuju.
Pukul delapan kurang sepuluh menit, Rangga sudah datang di rumah mewah keluarga Mario. Rangga tampak rapi dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans-nya. Ekspresi Rangga tampak gugup. Wajar saja karena dia akan bertemu calon istrinya. Siapa sih yang tidak senang bertemu dengan sang pujaan?
“Bos, benarkah hari ini aku tidak boleh ke ruko?” tanya Rangga kepada Anjani.
“Aduh Mas Rangga, sudah kubilang jangan panggil aku bos. Anjani saja, ya. Dan … Mas Rangga memang tidak perlu ke ruko hari ini dan besok. Mario sendiri yang meminta. Fokus saja berbincang pernikahan dengan Alenna,” saran Anjani.
Rangga tersenyum kikuk. Saat nama Alenna disebut, jantung Rangga berdebar dan kegugupannya kembali datang. Perasaan yang sempat singgah untuk Anjani benar-benar telah terhapuskan. Kini di hati Rangga hanya terfokus pada adik Mario. Cinta barunya, dan akan segera bertautan dengan IKATAN CINTA ALENNA.
Sesampainya di bandara, Anjani memilih untuk menunggu di dekat mobil. Mario dan Ranggalah yang menghampiri Alenna di dalam sana.
“Assalamu’aialkum, Mel.” Rupanya Anjani berniat melakukan VC dengan Meli.
“Wa’alaikumsalam. Anjaniiiii!” Meli terlihat heboh dengan tangan belepotan terigu.
__ADS_1
“Hei, sepertinya kamu lagi sibuk,” tebak Anjani.
“Nggak juga, sih. Cuma lagi bikin donat. Ini berduaan aja sama Mas Azka di rumah ayah.” Meli terlampau jujur.
“Eheeem. Yang berduaan aja niyee! Btw, tumben bikin donat? Mau ada acara?” Anjani kepo.
“He’em. Buat lamaran. Si Ratna mau dilamar sama Rio. Hihi. Bakalan segera nyusul kebahagiaan kita.” Meli tampak girang.
“Alhamdulillaah. Ikut senang dengarnya. Semoga di acara pernikahan Ratna-Rio, aku dan Mario bisa datang. Em, kalau diundang, sih. Hihi.”
“Tenang. Pasti diundang, kok.”
Obrolan Via VC terjeda karena Azka memanggil Meli.
“Mel. Aku sudahi deh, ya. Kamu lanjutin bikin donatnya.” Anjani pamit.
“Oke-oke, deh. Kalau kangen tinggal VC lagi aja, ya!” Meli pede sekali mengatakannya.
“Sip deh. Oya, Mel. Aku titip satu pesan, ya!”
“Apaan tuh?” Meli ingin segera tahu.
“Yang mesra sama Mas Azka. Da-da. Assalamu’alaikum!”
Sebelum sempat melihat ekspresi Meli karena pesannya, Anjani buru-buru mengakhiri VC-nya. Anjani sampai menahan tawa membayangkan Meli heboh sendiri di Jogja sana.
Anjani sama sekali tidak tahu bahwa Ranti baru tadi pagi mengubah penampilannya hingga seperti itu. Alennalah yang sedikit memaksa Ranti untuk mengubah penampilannya agar lebih tertutup. Juga, Anjani tidak tahu, bahwa Juno, teman sejak SMA yang pernah menaruh hati padanya, telah melewati menit-menit penyatuan raga bersama Ranti. Tidak ada yang tahu pula, bahwa Alenna dan Ranti datang untuk meminta pertanggungjawaban pada Juno.
“Sayang, ayo segera masuk mobil. Alenna dan Ranti biar menginap di rumah.” Mario memberi tahu.
“Oke, Ayo!” Anjani menurut dan langsung menyusul Alenna dan Ranti masuk mobil.
***
Makan bersama di meja makan dilakukan. Anjani bisa menangkap kebahagiaan Alenna ataupun Rangga, meski keduanya sama-sama masih malu-malu untuk memulai obrolan di antara mereka.
“Sayang, ayo kita berangkat!” ajak Mario usai makan.
Anjani mengangguk. “Mas Rangga, Ranti, kami pamit dulu ya. Jangan sungkan di sini, Anggap rumah sendiri,” ujar Anjani.
“Siap, Bos!” sahut Rangga, sedangkan Ranti hanya mengangguk lantas tersenyum.
Mario-Anjani berjalan menuju mobil, berniat pergi ke ruko.
“Em, apa tidak apa-apa meninggalkan mereka di sini bertiga?” Anjani khawatir.
__ADS_1
“Tenang saja. Yang penting tidak berdua. Alenna sudah banyak berubah. Dia tidak akan bertindak mesum lagi pada Rangga.” Mario membukakan pintu mobil untuk Anjani. “Silakan masuk Tuan Putri. Jangan terlalu banyak pikiran, ya. Siapa tahu di dalam perutmu sudah ada calon buah hati kita,” imbuh Mario.
Anjani tersenyum malu-malu. Dia menyukai perlakukan hangat sang suami. Sungguh perhatian dan sangat peduli. Membuat Anjani pun turut menghaturkan doa dalam hati.
“Semoga rumah tangga kami terjaga hingga kami sama-sama menua. Semoga pula buah hati melengkapi kebahagiaan kami dengan segera. Aamiin,” doa Anjani.
Mobil melaju menuju ruko. Canda tawa Mario-Anjani seolah mengikis lamanya jarak tempuh. Membuat mereka cepat sampai di tempat yang dituju.
Mario-Anjani menyapa karyawan-karyawan mereka. Dua karyawati, Ken, dan Dika. Biasanya ada Meli dan Rangga. Namun, saat ini Meli sedang di Jogja, sementara Rangga di rumah Mario bersama Alenna dan temannya.
“Kak Mario, penjualan via olshop meningkat dua puluh persen dibanding bulan lalu. Complain pelanggan juga sudah tidak diketemukan lagi,” terang DIka yang akhir-akhir ini membantu Anjani mengamati perkembangan bisnis sepatu.
“Alhamdulillaah. Aku semakin tidak ragu untuk menaikkan gaji kalian bulan depan,” ungkap Mario.
“Yuuhuuu. Naik gaji, Bro? Murah hati sekali sahabatku ini,” puji Ken yang baru saja bergabung dan langsung mendengar kata kenaikan gaji.
“Fokus juga pada kuliahmu, Ken. Ingat, semester depan kita berdua harus berhasil menyelesaikan skripsi!” Mario mengingatkan.
“Loh, Kak Ken sama Kak Mario sudah mau skripsi aja.” Dika kaget.
“Yoi, Bro. Mario memaksaku mengikuti ritme kuliahnya. Akhirnya kami dipercaya menyelesaikan sisa mata kuliah berbarengan dengan skripsinya. Doakan lancar, Dik!” terang Ken.
Dika mengacungkan jempolnya. Mendadak dia termotivasi untuk lebih giat kuliah sembari tetap membantu Mario-Anjani mengembangkan bisnis sepatu mereka.
“Tinggal satu semester lagi. Semangat untuk kalian berdua, ya. Tatap masa depan cerah kalian!” Anjani ikut mendukung semangat Ken dan suaminya.
Mario langsung tersenyum dan mengusap pelan pipi Anjani. Anjani yang sadar tempat pun langsung memelototi Mario, tapi justru mendapat cubitan gemas di hidungnya.
“Aaah. Balik kerja lagi yuk, Dik. Percuma juga ngasih tau Mario. Yang ada malah kita yang dibuat baper lihat mereka!” Ken balik badan, diikuti langkah Dika yang terlihat cuek-cuek saja melihat sikap Mario-Anjani.
Tidak berlama-lama di ruko, Mario pamit hendak menemui Amanda di anak perusahaan. Ada yang harus dibahas bersamanya, juga dengan tim yang sudah dibentuk Paman Li untuk memata-matai Daniel.
Baru tiga puluh menit lalu Mario pergi meninggalkan ruko, Anjani sudah kedatangan tamu di rukonya. Yang datang adalah pimpinan anak perusahaan, yang beberapa waktu lalu datang ke rumahnya mengantarkan kado pernikahan. Ya, Daniel orangnya.
“Pak Daniel mencari suamiku?” tanya Anjani. Tidak mungkin juga Daniel membeli sepatu sementara dirinya bekerja dan membawahi perusahaan dan pabrik sepatu.
“Oh tidak, kok. Aku ada perlu denganmu. Bisa ikut sebentar denganku? Ada yang ingin aku bicarakan,” terang Daniel.
Anjani tampak berpikir. Mario sudah berpesan agar dirinya tidak dekat-dekat dengan lelaki yang tidak dikenalnya dengan baik, termasuk dengan Daniel. Namun, Anjani sendiri penasaran dengan apa yang akan dibicarakan Daniel.
“Baiklah. Ayo” Anjani bersedia ikut.
Dalam hati Daniel menyeringai. Dia bersiap melancarkan aksinya. Menculik Anjani, lantas membuat penyatuan dengannya.
Bersambung ….
__ADS_1
Ikuti kelanjutannya. Hayuuk kepoin juga kemesraan Meli dan Azka di Jogja. Cap cus kunjungi novel Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung karya kami, like dan tinggalkan jejak komentar kalian. Terima kasih sudah mampir dan membaca. 😉