
Warung kopi bilik bambu beratap jerami, menjadi tempat tujuan Anjani, Ken, dan Dika, saat sebelumya berpapasan dengan Juno dan Meli. Warung kopi yang begitu terlihat sederhana, tapi terlihat bersih dengan tatanan rapi. Tersedia tiga meja panjang lengkap dengan piring-piring berisi pisang goreng, ketela goreng, dan donat gula yang juga dijual di sana.
Juno memesan tiga cangkir kopi susu untuk dirinya, Ken, dan Dika. Untuk Meli, Juno memesankan secangkir teh hangat. Selesai menyebutkan pesanan teman-temannya, Juno duduk di sebelah Anjani. Hanya Anjani yang belum memesan minuman.
"Hei, mau pesan apa?" tanya Juno pada Anjani.
"Kopi hitam tanpa gula," jawab Anjani.
"Eh, yakin?" tanya Juno memastikan.
"Iya," jawab Anjani dengan singkat.
Juno sedikit terheran melihat perubahan sikap Anjani. Semenjak kembali dari main air di sungai, Anjani tidak banyak bercanda seperti biasanya. Alih-alih ikut mengobrol, Juno malah sering memergoki Anjani melamun.
Melangkah mendekat ke pemilik warung, Juno menyebutkan pesanan Anjani. Akan tetapi, tidak persis seperti yang Anjani katakan. Juno berbisik di telinga pemilik warung agar menambahkan sesendok gula ke dalam kopi hitam pesanan Anjani.
Selesai dengan pesanannya, Juno duduk di bangku tempat Ken, Dika, dan Meli berkumpul. Anjani duduk di bangku yang terpisah, dan Juno tidak ingin mengganggunya.
Topik baru tentang kepulangan Mario dan perubahan sikap Anjani pun segera diangkat menjadi bahan perbincangan. Bukan obrolan lepas dengan nada bicara yang wajar, melainkan dibuat sedikit berbisik agar tidak banyak yang mendengar.
"Ada apa dengan dia?" tanya Juno sambil memberi kode mata menunjuk ke arah Anjani yang terdiam di bangku sebelah.
"Entahlah, tiba-tiba jadi begitu. Mungkin dia kesal karena Mario dijemput Alenna untuk pulang," jelas Ken sambil mengunyah pisang goreng.
"Alenna? Dia di sini?" tanya Meli dengan nada keras.
Buk!
Anjani mendadak mengepalkan tangan kanannya, lalu memukul meja. Setelah memukul meja, Anjani mengambil pisang goreng, ketela goreng, dan donat gula kemudian memakannya secara bergantian. Meli, Juno, Ken, dan Dika seolah merasakan rasa kesal Anjani yang dilampiaskan pada makanan-makanan itu.
"Ups, Anjani yang seperti itu terlihat sedikit menakutkan," kata Meli dengan nada sedikit berbisik.
"Aku jadi ingin bertemu langsung dengan bule itu. Apa benar dia secantik yang di foto waktu itu?" tanya Juno.
"Cantiknya kelewatan, Jun. Benar-benar cantik," tutur Dika menanggapi pertanyaan Juno.
"Uwu, jadi makin penasaran, nih!" ujar Juno.
Meli kesal mendengar obrolan Juno dan Dika yang terus-terusan membahas kecantikan Alenna. Padahal Meli ingin membahas sebuah cara agar membuat Anjani kembali ceria, dan meyakinkan bahwa liburannya akan tetap seru meski tidak ada Mario.
"Kak Ken, sebenarnya Alenna itu ada hubungan apa dengan Kak Mario?" tanya Meli.
Sama seperti saat Dika bertanya di sungai tadi, saat Meli bertanya tentang hubungan Alenna dan Mario, Ken hanya mengangkat bahu sebagai jawabannya. Ken tidak ingin membahas hal itu lebih jauh, dan tidak ada niatan untuk memberi tahu teman-temannya.
__ADS_1
"Mungkin Mas Mario punya rahasia pribadi dan tidak ingin diketahui orang lain termasuk Mas Ken," duga Juno.
Ken menjentikkan jari sesaat setelah Juno selesai dengan dugaannya. Itu artinya, Ken setuju dengan Juno. Ken seketika juga meminta tos dengan Juno, sebagai tanda bahwa dia sepemikiran. Selesai dengan tos, Ken mengalihkan pembicaraan dengan harapan agar teman-temannya tidak membahas Mario dan Alenna lagi. Tepat sekali, minuman yang saat itu datang bisa dijadikan topik baru.
"Wah, ini sih porsi jumbo!" ujar Meli.
Bukan hanya Meli, ada Ken dan Dika yang juga terperangah melihat minuman pesanan mereka. Kopi susu pesanan Juno, Ken, dan Dika terhidang di gelas bening berukuran sedang, begitu pula kopi hitam pesanan Anjani. Sementara teh hangat pesanan Meli justru terhidang di sebuah gelas berukuran besar, seperti dua porsi yang dijadikan satu.
"Ayo, minum dulu!" ujar Juno mempersilakan teman-temannya.
Juno membawa kopi susu miliknya untuk diminum di bangku Anjani, demi menemani sekaligus menghiburnya. Begitu dia duduk di samping Anjani, barulah dia sadar sesuatu.
"Loh, kopimu tumpah? Kok isinya nggak ada?" tanya Juno heran.
"Sudah habis," jawab Anjani singkat, lalu memakan donat gula.
"Tunggu-tunggu-tunggu. Kemana perginya semua pisang dan ketela goreng di piring-piring? Kenapa tinggal donat gulanya saja ini? Bukankah tadi isinya masih penuh?" tanya Juno kembali terheran.
"Habis kumakan. Kamu yang traktir, kan?" tanya Anjani.
"I-iya, sih. Haha .... Lanjutkan-lanjutkan! Aku senang melihatmu banyak makan seperti ini. By the way, aku kembali duduk di sana, ya? Kamu lanjutkan makan donat gulanya. Da!" ujar Juno.
Juno kembali bergabung bersama Meli, Ken, dan Dika. Tidak lupa pula Juno membawa kopi susu miliknya. Saat kembali duduk di sebelah Ken, Juno merasa teman-temannya sedang menertawakan dirinya.
"Hei, kenapa tertawa sampai seperti itu?" tanya Juno.
Juno tersenyum, kemudian menyeruput kopi susunya. Juno benar-benar tidak masalah jika Anjani juga menghabiskan kopi susu miliknya. Lagi pula kekesalan Anjani hanya dilampiaskan lewat makanan dan minuman, jadi Juno tidak khawatir Anjani akan kelaparan.
Juno kemudian pamit sebentar memesankan secangkir kopi lagi untuk Anjani, tapi kali ini kopi dengan rasa yang normal. Tidak terlalu pahit dan tidak terlalu manis. Juno juga berbaik hati mengantarkan kopi itu ke meja Anjani.
"Kali ini tenangkan hatimu dan nikmati kopi ini," tutur Juno sembari tersenyum.
Anjani bisa merasakan ketulusan dari kata-kata Juno. Senyum Juno seolah bisa menyentuh dan melunakkan hatinya. Anjani menghargai itu. Akan sangat tidak baik bila Anjani mengabaikan kebaikan Juno.
"Terima kasih. Akan kunikmati kopinya," tutur Anjani sambil tersenyum.
"Nah, gitu dong senyum. Jadi, mau gabung duduk di sana?" tanya Juno.
"Sebentar lagi. Kuhabiskan dulu donat gulanya," jelas Anjani.
Juno mengangguk, kemudian kembali bergabung dengan teman-temannya lebih dulu. Yang terpenting, hatinya sudah lega karena bisa melihat Anjani tersenyum.
"Jangan-jangan Alenna itu perempuan yang mau dijodohkan dengan Kak Mario. Ah, yakin deh aku. Pantas saja Anjani kesal," kata Meli sesaat setelah Juno bergabung lagi dalam obrolan.
__ADS_1
"Maksudmu Anjani cemburu?" tanya Ken setengah berbisik.
"He? Memangnya Anjani naksir Mas Mario?" tanya Juno ikut penasaran.
"Ya mungkin saja. Tuh, buktinya reaksinya sampai kayak gitu!" ujar Dika ikut menanggapi.
"Sst-sst. Itu semua belum pasti. Bisa saja Anjani cuma kesal karena acara liburannya sedikit tidak sesuai rencana. Iya, kan?" Meli mengutarakan dugaan lainnya.
"Benar," sahut Anjani.
Rupanya Anjani sudah beranjak dari tempat duduknya, dan mulai bergabung dengan teman-teman yang lain. Anjani juga mendengar dugaan yang sempat diutarakan oleh Meli, bahkan membenarkan.
"Tidak perlu membahas Mario dan Alenna lagi. Sekarang, ayo kita makan donat gulanya!" ajak Anjani yang sudah lebih dulu mengambil donat gula di piring yang ada di depan Dika.
"Anjani, kamu lapar atau doyan?" tanya Ken sambil ikutan mengambil donat gula.
"Lebih tepatnya mumpung ada yang bayar. Boleh kan, Jun?" tanya Anjani sambil tersenyum manis.
"Ahaha, silakan! Aku senang jika teman-temanku nyaman menikmati liburan. Yuk, habiskan!" ujar Juno.
Meski Juno harus merogoh kocek lebih, tapi dia begitu menikmati. Untung saja harga kue-kue di desanya tidak semahal harga kue di kota. Alhasil, meski Juno dan teman-temannya menghabiskan banyak kue, tapi total tagihannya tidak sampai seratus ribu rupiah.
***
Tiga puluh menit berlalu, Anjani, Meli, Juno, Ken, dan Dika berpisah. Ken dan Dika ikut ke rumah Juno, sementara Meli ikut ke rumah Anjani. Mereka semua akan beristirahat, sebelum nanti sore dan besok kembali bersama-sama menikmati liburan di desa.
Saat perjalanan pulang ke rumah, Anjani dan Meli sibuk membahas hal-hal seru yang bisa ditemukan di desa. Keceriaan tentu saja mengiringi obrolan di antara keduanya. Hingga saat mereka melewati pohon belimbing, Anjani kembali terdiam.
Pohon belimbing itu mengingatkan Anjani pada Mario. Anjani juga ingat keakraban malam itu bersama Mario, melukis senyum bulan sabit. Malam ini Anjani akan kembali mempraktikkannya, apakah cara itu akan berhasil membuatnya tersenyum dengan suasana hati yang seperti itu.
"Sst, kok melamun lagi, sih?" tanya Meli hingga mengagetkan Anjani.
"Nggak kok," jawab Anjani.
"Anjani, kamu naksir Kak Mario, ya?" tanya Meli kemudian.
Anjani tiba-tiba berhenti melangkah karena kaget mendengar Meli bertanya seperti itu. Cepat-cepat Anjani menggeleng sekaligus menepis dugaan Meli.
"Yaudah, kalau nggak naksir berarti sikapmu harus biasa saja, Anjani. Kalau masih seperti itu nanti bukan hanya aku yang menduga-duga, Kak Ken, Dika, bahkan Juno pun bisa saja berpikir demikian. Sudah, sekarang nggak ada acara melamun-melamun lagi. Oke?" ujar Meli sambil mengedipkan matanya.
Anjani menyetujui perkataan Meli, "Oke, Mel."
Sebenarnya Anjani tidak terlalu paham dengan apa yang dirasakan oleh hatinya. Tiba-tiba saja tadi Anjani merasa kesal saat melihat Alenna memeluk Mario.
__ADS_1
Apa ini yang dinamakan cemburu? Kalau iya, apakah itu artinya aku telah menyimpan rasa untuk Mario? batin Anjani.
***