
"Sayang, setelah selesai menemui mereka temani aku lagi, ya?" pinta Mario sambil mengekor di belakang Anjani.
"Iya-iya. Kamu kan boboknya sama aku. Pasti kutemani," sahut Anjani sambil memeriksa nomor kamar yang akan mereka tuju. Untungnya rombongan Jogja menginap di hotel yang sama.
"Hm." Mario mengusap wajahnya. Dia punya firasat pertemuan mereka tidak akan berlangsung sebentar.
Begitu sampai di kamar yang dimaksud Ratna, Anjani senang karena kedatangan Ratna tidak seorang diri. Ada Via, Farhan, Baby Zayn, dan Rio, calon suaminya Ratna. Meski baru beberapa kali bertemu, tapi sosok-sosok baik dari Jogja itu sudah dia anggap seperti saudara dekat. Lebih dari itu, Meli dan Azka juga pastinya bergabung seru-seruan bersama.
Begitu baiknya Via-Farhan dan Ratna. Mereka membawa kado pernikahan untuk Mario-Anjani. Sontak saja beragam obrolan menyertai pertemuan mereka di malam itu. Anjani dan Meli antusias sekali menyambut setiap topik obrolan yang mereka buat di sana.
Anjani dan Meli tampak bersuka cita, tapi tidak dengan suami mereka. Azka dan Mario sama-sama kesal, meski itu tak mereka tampakkan secara terang-terangan. Kekesalan itu tercipta lantaran aksi malam bersama sang istri harus tertunda. Em, lebih tepatnya lagi harus batal terjadi.
Sudah larut malam. Firasat Mario benar. Pertemuan malam itu tidak akan berlangsung sebentar. Mario-Anjani kembali ke kamar mereka sambil menenteng dua bungkus kado pernikahan.
"Buka kado bentar, yuk!" ajak Anjani, lantas menguap. Dia menarik pelan lengan Mario agar ikutan duduk di lantai membuka kado.
Malas-malasan Mario ikutan membuka kado pernikahan mereka.
"Duh. Padahal aku maunya main. Istriku ini nggak peka," batin Mario.
Anjani terus-terusan menguap. Dayanya sudah mendekati lima watt. Tak kuat lagi menahan kantuk yang semakin lama semakin berat. Dia membiarkan Mario membongkar bungkusan kado pernikahan meraka.
"Wah, kamu pasti menyukai kado dari Jogja ini, Sayang!" Mario hendak memperlihatkan jam tangan couple pada Anjani, tapi ....
"Loh. Sejak kapan dia tidur di sana? Aduh!" Mario tepuk jidat.
Rupanya Anjani sudah merebahkan diri di ranjang. Anjani terlelap, bahkan sudah menyelimuti tubuhnya.
Mario yang tidak tega jika harus membangunkan sang istri pun lantas merapikan bungkus kado pernikahan mereka. Mario menyimpan jam tangan couple-nya di dekat lampu tidur. Agar besok Anjani bisa langsung melihatnya ketika bangun.
"Mimpi indah, Sayangku. Terima kasih untuk hari ini. Seharian besok kamu harus menemani suamimu ini," lirih Mario lantas berbaring sambil memeluk tubuh ramping Anjani.
***
Pagi menjelang. Sebelum kembali bergabung untuk mengobrol bersama keluarga Azka-Meli dari Jogja, Mario lebih dulu berpesan kepada Anjani. Mario benar-benar ingin seharian itu dia habisnya bersama sang istri. Berduaan dan bermain-main di kamar.
"Ngobrolnya jangan lama-lama, ya. Setelah ini kita buat acara kita sendiri," kata Mario mendahului.
Anjani terkekeh pelan. Dia sedikit paham maksud suaminya. Tidak ingin menolak dan mengabaikan Mario, Anjani pun mengiyakan dengan satu kedipan mata.
Benar saja, Via-Farhan-Ratna-Rio-Zayn rupanya sepakat dengan saran Meli untuk berkunjung ke pantai. Azka tentu saja ikut, meskipun dia sudah curiga bahwa kakak-kakaknya itu sedang mengusili dirinya dengan sang istri.
Mario-Anjani pamit lebih dulu usai melihat mereka bersiap menuju pantai.
"Untunglah aku sudah mengompori Anjani lebih dulu. Kalau tidak, pasti dia minta ikut ke pantai juga." Hati Mario bersorak senang.
Smartphone menjadi perhatian begitu kembali ke kamar. Anjani duduk di tepi ranjang sambil membaca pesan-pesan ucapan selamat dari teman-teman kuliahnya. Tetiba saja sang suami duduk di sampingnya sambil memeluk erat.
"Baca apa, sih? Seru amat!" Mario kepo. Tangannya masih merangkul tubuh sang istri.
"Ucapan selamat dari teman-teman," terang Anjani sambil tetap menatap layar smartphone.
Jemari Mario menutupi layar smartphone milik Anjani. Mau tidak mau Anjani menoleh untuk mengetahui maksud sang suami. Saat menoleh, Anjani langsung mendapat tatapan mesra penuh harap. Semakin lama wajah sang suami semakin mendekat. Terus mendekat. Hampir saja memutus jarak bibir mereka sebelum akhirnya terdengar getar panggilan VC.
"Siapa yang VC?" Anjani langsung melihat layar smartphone. Mengabaikan ekspresi sang suami yang tampak gemas dengan keadaan yang terjadi mulai semalam.
"Alenna." Anjani antusias melihat nama di layar dan langsung menekan icon terima panggilan.
"Assalamu'alaikum pengantin baru. Selamat pagi," sapa Alenna via VC dengan cerianya.
Sebelum Anjani sempat membalas salam sapa Alenna, Mario lebih dulu merebut smartphone-nya.
"Alenna. Bukankah ini sudah jam kerja? Kamu nggak kerja? Meeting sama clien pasti banyak kan? Terus kenapa kamu VC?" Mario memberondong sang adik dengan tanya.
Anjani gemas melihat sikap Mario pada adiknya. Langsung saja dia mendaratkan satu cubitan gemas di perut Mario.
__ADS_1
"Aduh! Sayang, kenapa kamu nyubit aku?" protes Mario.
"Gemes. Siniin ponselnya. Aku mau VCan sama adik ipar. Sayangku tunggu di sini dulu, ya. Nggak boleh ganggu!" ancam Anjani dengan memamerkan senyum manisnya.
Mario mengusap wajahnya. Dia membiarkan Anjani ber-VC ria dengan Alenna. Merebahkan diri di ranjang sambil menunggu sang istri menjadi pilihannya saat itu.
Lima menit berlalu, Mario masih sabar menunggu. Sepuluh menit berlalu, Mario mulai gelisah menunggu. Lima belas menit berlalu, Mario bangkit dan geleng-geleng kepala melihat Anjani masih seru-seruan mengobrol dengan Alenna. Dua puluh menit berlalu, Mario melangkah dan menyela cerita mereka.
"Alenna. Tidakkah kau tau bahwa kami pengantin baru?" tanya Mario.
"Ya tau, dong. Makanya aku niat ganggu! Hihi." Alenna cekikikan, begitu pula dengan Anjani.
Mario menoleh ke arah sang istri.
"Niat ganggu?" Mario meminta penjelasan Anjani.
"Huus. Nggak kok. Pernah lihat dua wanita lagi ngobrol?" tanya Anjani.
"Belum pernah memperhatikan," jawab Mario apa adanya.
"Nah. Emang begini. La-ma. Jadi maklumin ya, Sayang. Aku lanjutkan dulu. Setelah ini baru kita ...." Anjani menggantung kalimatnya. Rasanya malu mau menyebutnya.
"Mario! Pilih aja, deh. Mau pilih mana? Aku VC kalian pagi-pagi kayak gini, atau aku VC kalian malam hari saja?" Alenna membuat pilihan.
"Jangan malam! Silakan lanjutkan obrolan kalian. Aku tinggal dulu."
Mario mengalah. Dia kembali merebahkan tubuhnya sambil mengotak-atik ponsel miliknya.
"Selamat bekerja, ya. Sambung lagi lain waktu. Assalamu'alaikum."
Begitu VC berakhir. Mario langsung bangun. Senyumnya merekah. Disuguhkan untuk istri tercinta.
"Maaf, ya Sayang. Lama nunggu," kata Anjani.
Anjani meletakkan ponselnya di dekat meja lampu tidur. Dia lekas memeluk sang suami yang lebih dulu merentangkan kedua tangannya untuk segera disambut.
"Sayang," panggil Anjani sambil bersandar di dada bidang Mario.
"Hm. Ada yang ingin kamu sampaikan?" Mario tidak melepaskan dekapannya.
"Dulu kukira kamu itu dingin. Selalu memasang wajah cool. Cara jalanmu bahkan menampakkan wibawa. Eh, ternyata kamu manja juga ya?" aku Anjani.
Mario tersenyum. Dia memang tak pernah dimanja sejak kecil. Bahkan kata manja itu sirna sejak ibunya memutuskan untuk berpisah dengan sang ayah. Kini, bermanja-manja dengan sang istri menjadi rutinitas barunya. Sudah lebih dari cukup dan bukan sebagai pengganti apa yang tidak dia dapatkan di masa lalu.
"Inilah diriku. Aku punya cinta kasih untukmu. Kuharap kita bisa menua bersama. Melihat anak-anak kita menikah," tutur lembut Mario.
Anjani membalas pelukan sang suami. Dia tahu kisah masa lalu keluarga Mario. Dia bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan Mario.
"Jadi ... boleh ya? Sebentar saja," pinta Mario.
"Kamu boleh melakukannya kapan pun kamu mau. Selama aku tidak sedang kedatangan tamu. Jadi ... ayo!" Malu-malu Anjani mengiyakan permintaan Mario.
Sinyal hijau menyala. Mario menutus jarak mereka. Baru beberapa detik, dering smartphone kembali berbunyi. Kali ini milik Mario.
"Sayang, angkat dulu teleponnya. Siapa tahu penting," pinta Anjani.
"Duh!" Mario kesal.
Panggilan suara itu ternyata dari Rangga. Begitu diangkat Rangga langsung meminta maaf karena sudah mengganggu waktu Bosnya. Rangga memberi kabar bahwa kunci ruko hilang. Sekarang ini di depan ruko ada Dika, Ken, dan dua karyawati yang menunggu.
"Aku akan ke sana. Sepertinya aku menyimpan kunci cadangannya," terang Mario. Suaranya kembali berwibawa. Beda jauh saat sedang bermanja dengan sang istri.
"Ada apa?" tanya Anjani begitu telepon mati.
"Rangga kehilangan kunci ruko. Dan ... seperinya aku lupa meletakkan kunci cadangannya. Em, kamu siap-siap. Ikut aku ke juru kunci. Setelah itu ke ruko," terang Mario.
__ADS_1
"Siap. Aku ganti baju dulu!" Anjani berlarian kecil mengambil baju ganti.
"Harusnya kuliburkan saja rukonya," gerutu Mario.
***
Juru kunci sudah berhasil membuka ruko. Mario lekas memesan kunci baru dan langsung membayarnya. Saat Mario sedang mengobrol dengan juru kunci, Anjani ikut yang lain masuk ruko. Ikut membantu menyiapkan segala keperluan untuk buka toko hari itu.
"Anjani, maaf jadi ganggu waktu kalian berdua, deh." Rangga meninta maaf.
"Santai aja, Bro. Kalau Anjani sih oke-oke aja. Beda lagi sama suaminya." Ken malah membuat Rangga khawatir.
"Kalian ini ngapain, sih. Ayo kerja!" celetuk Dika.
Anjani terkekeh pelan. Dia melihat mereka langsung berada di posisinya. Anjani juga sempat menyapa dan mengobrol bersama dua karyawati baru di ruko itu. Hingga kemudian Mario datang.
"Sayang. Aku tunggu di atas," kata Mario lantas menuju lantai dua ruko.
"Uuuh. Bos sweet banget sama istrinya," puji dua karyawati baru dengan kompak.
Anjani menyusul Mario. Mario sedang menunggunya di sofa. Anjani menyejajari duduknya.
"Ada apa?" tanya Anjani.
"Sayang. Mulai hari ini ruko ini milikmu. Kamu kelola. Aku akan fokus menyelesaikan kuliah biar bisa lulus lebih cepat. Ayah membutuhkanku di perusahaan. Ditambah lagi, aku harus sering tukar ide dengan pimpinan baru anak perusahaan, agar nantinya saat aku resmi menggantikan posisinya tidak ada canggung," terang Mario.
"Aku mendukung apa pun rencana baik suamiku. Akan kuurus ruko ini sembari kuliah. Percayakan padaku. Aku sayang kamu." Anjani menggenggam tangan Mario.
"Aku juga sayang kamu. Oya, malam ini malam terakhir kita menginap di hotel. Besok sampai seminggu ke depan kita tinggal di rumah Paman Sam. Baru setelahnya kamu akan menetap di rumahku sebagai Nyonya Mario. Jadi ..." Mario menggantung kata-katanya.
"Jadi apa?" Anjani ingin tahu.
"Malam ini kamu milikku. Seminggu ke depan kita tidak akan bisa melakukannya di rumah Paman Sam," terang Mario blak-blakan.
"Hihihi. Kamu nafsu sekali, sih!" Anjani mencubit perut Mario.
"Biarin. Sama istri sendiri kan nggak apa-apa," kilah Mario.
Malu-malu Anjani mengiyakan ajakan itu. Mario lekas bersemangat dan berniat memeluk Anjani. Namun, urung karena ada Ken naik ke lantai dua.
"Ehem. Tempat kerja!" kode Ken.
"Ken, ke sini kau!" perintah Mario.
"Waduh!" Ken tepuk jidat.
Anjani membiarkan Ken dan Mario di lantai atas. Dia memilih untuk mulai membantu sang suami mengurus ruko.
***
Malam hari tiba. Mario-Anjani kembali memadu kasih. Saling menyatukan diri. Menikmati malam yang menjadi rutinitas pengantin baru. Mario-Anjani terus beradu hingga puncak pun berhasil mereka tuju.
"Terima kasih istriku," tutur lembut Mario usai puncak mereka.
"Sama-sama, Sayang. Pasti Meli dan Mas Azka saat ini juga sedang memadu kasih seperti kita malam ini," tutur lembut Anjani.
"Iya. Tentu saja mereka akan melakukannya sama seperti kita malam ini. Mereka masih pengantin baru sama seperti kita," terang Mario sambil mendekap tubuh Anjani.
Tidak. Yang terjadi pada Azka-Meli tidak sama seperti yang dipikirkan Mario-Anjani. Kakak-kakaknya sudah berhasil mengusilinya. Bahkan keponakannya sendiri pun ikut-ikutan juga. Ups. Masa iya, sih? Atau justru sebaliknya? Azka malah memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya? Ikuti Azka-Meli di novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung kami yaa.
Bersambung ...
Mau udahan belum sesi pengantin barunya ??? Atau mau balik ke mode serius lagi??? Like. Komentari.😉
__ADS_1