CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Cinta Buta?


__ADS_3

Kantin fakultas ekomoni begitu ramai siang itu. Mahasiswa-mahasiswa terlihat menikmati menu makan siang di sana. Menu makanannya beragam, mulai dari soto, mie ayam, nasi goreng, bakso, lontong, nasi bungkus, hingga jajanan ringan tersedia di sana. Ada juga tiga booth khusus di sisi kanan kantin untuk mahasiswa jurusan ekonomi yang sedang menempuh mata kuliah belajar wirausaha.


Anjani membawa nampan berisi semangkuk mie ayam dan segelas es jeruk. Begitu keluar dari antrian, dia celingukan mencari keberadaan Meli. Bangku-bangku di dalam kantin sudah terisi penuh, dan Anjani sama sekali tidak menemukan sosok Meli di sana. Selang beberapa detik, Anjani melihat Meli melambaikan tangan ke arahnya. Rupanya Meli memilih bangku paling ujung di luar kantin.


Anjani bergegas menuju tempat duduk Meli untuk bergabung. Akan tetapi, Anjani tidak sengaja menginjak kaki seseorang saat sedang berjalan. Ceroboh, itulah yang saat itu ada di pikiran Anjani tentang dirinya. Cepat-cepat dia meminta maaf ke orang tersebut. Lagi-lagi, takdir menggariskan kejadian itu terjadi dan Anjani tetap harus melewati. Nah, kaki yang tadi dia injak adalah kaki Berlian.


Prasangka buruk akan terjadi cekcok untuk kesekian kalinya sempat melintas di pikiran Anjani. Namun, dugaan itu hanya sebatas dugaan semata. Nyatanya yang terjadi justru di luar dugaannya.


"Berlian, maaf aku tidak sengaja," kata Anjani meminta maaf.


"Pergi sana!" kata Berlian dengan nada biasa dan tidak menunjukkan emosi lainnya.


Berlian tidak berkata kasar seperti biasanya. Sebenarnya itu baik, tapi justru aneh bagi Anjani. Berlian seperti memikirkan sesuatu. Mungkin ada hubungannya dengan foto lelaki di wallpaper smartphone miliknya. Ya, Anjani tidak sengaja melihat itu sebelum beranjak meninggalkan Berlian.


Siapa lelaki itu? batin Anjani.


"Kok belum dimakan, Mel?" tanya Anjani sesampainya di tempat Meli. Sepertinya Meli tidak menyaksikan saat Anjani menginjak kaki Berlian tadi.


Meli masih sibuk dengan tulisannya dan tidak menjawab pertanyaan Anjani. Sekilas Anjani mengintip tulisan Meli. Itu jelas bukan review materi kuliah pagi tadi. Tulisan itu juga bukan curhatan hati Meli. Tulisan itu terlihat seperti list. Dan .... Tulisan Meli sampai di list nomor lima.


"Mel, nulis apa, sih?" tanya Anjani. Kali ini dia mengambil bolpoin yang dibuat menulis oleh Meli, tentu untuk mendapat perhatian dari sahabatnya itu, sekaligus mendapat jawaban darinya.


"Hihihi ...." Meli tidak marah saat Anjani mengambil bolpoin miliknya, justru dia tertawa. "Itu adalah daftar pertanyaan yang akan kutanyakan pada Juno Sabtu besok. Ikutan bikin, yuk!" ajak Meli kemudian.


"Kamu beneran percaya sama Juno, Mel? Ya, mungkin aja Juno mengatasnamakan Kak Ken ataupun Kak Mario cuma buat pancingan aja biar Sabtu bisa ngafe bareng di sana." Anjani menjelaskan dugaannya sambil mulai menuangkan saos kecap ke dalam mangkuk mie ayamnya.


"Ayolah Anjani, mereka itu senior idola mahasiswi di sini. Bahkan, gengnya Berlian punya forum khusus untuk membahas cogan kampus kita. Udah pinter, keren, tampan pula. Siapa coba yang nggak penasaran sama kehidupan mereka. Meskipun itu cuma pancingan, aku tetep bakalan kepo-in mereka lewat Juno. Eh, emang kamu nggak kepo juga apa?" Meli tanya balik.


"Ya iya, sih. Tapi kan udah terbukti kehidupan mereka biasa aja, bahkan Kak Mario kerja sambilan jadi sales sepatu." Anjani menanggapi.

__ADS_1


"Mana coba buktinya? Nggak ada kan? Udah, kita kepo-in aja bareng-bareng." Kali ini Meli sampai memainkan kedua alisnya demi membujuk Anjani.


"Iya-iya! Oke. Udah, makan tuh!" kata Anjani kemudian.


"Iyes!"


Anak kuliah tidak lepas dari rutinitas perkuliahan. Sejak OSPEK berakhir, pengajaran oleh dosen di setiap mata kuliah aktif dilakukan. Seperti siang itu, setelah selesai makan siang di kantin, Anjani dan Meli bergegas mengikuti kelas berikutnya.


***


Di waktu yang sama saat Anjani dan Meli tadi makan siang


Beberapa meter dari kantin berdiri tiga gazebo berukuran sedang. Dua gazebo telah terisi oleh beberapa mahasiswa. Di salah satu gazebo, Ken sibuk mengeluarkan kotak bekal makan siang dari tas ranselnya. Persis di sebelahnya, Mario duduk santai sambil melihat ke arah kantin.


"Hari ini sandwich isi sosis keju. Mantap. Nih, buatmu satu." Ken membaginya dengan Mario.


"Hai, bro!" kata Ken sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Mario.


"Hm." Lagi-lagi hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Mario. Akan tetapi, kali ini Mario mulai memperhatikan Ken.


"Ahaha, aku tau sekarang. Rupanya yang kau lihat dari tadi itu Anjani. Ahay, ada apakah ini? Ini seperti bukan Mario yang kukenal." Ken bertanya-tanya.


"Singkirkan pikiran anehmu itu, Ken!" kata Mario bernada santai, lalu mengunyah sandwich miliknya.


Jawaban Mario membuat Ken tidak puas. Berhenti sejenak dari aktivitas mengunyah sandwich, Ken bertopang dagu sambil memperhatikan gerak-gerik sahabatnya, Mario. Diperlakukan demikian membuat Mario risih. Seketika dia mengambil botol air mineral dingin milik Ken dan menempelkannya tepat di depan wajah Ken.


"Dingin! Ah, Mario!" Ken kesal.


"Perhatikan saja sandwich-mu, Ken. Habiskan!" kata Mario kemudian.

__ADS_1


Ken menurut, tapi sebuah tanda tanya masih mengusik pikirannya. Berulang kali dia melihat ke arah tempat duduk Anjani dan Meli, kemudian melirik ke arah Mario di sebelahnya.


"Ehem, bro. Tidakkah kau pikir Anjani itu sedikit berbeda?" tanya Ken pada akhirnya.


"Begini. Kau tau sendiri kan, seorang Juno yang keren dan tampan itu pernah menaruh hati pada Anjani, bahkan sejak di desanya. Coba pikir, deh. Apa coba yang menarik dari Anjani. Penampilannya begitu sederhana, bahkan dandan pun nggak pernah." Ken mulai mengungkapkan pemikirannya.


Argumen Ken sukses membuat Mario mengalihkan perhatiannya. Mario kini benar-benar memperhatikan Ken. Bahkan, dia berhenti mengunyah sandwich-nya.


"Ken, apakah kau pernah jatuh cinta?" tanya Mario.


"Hei, jelas-jelas kau sudah tau. Tentu saja pernah, waktu SMA dulu." Ken menjawab dengan bangga meskipun pada kenyataannya perasaan Ken saat itu tidak terbalas.


"Apa cewek yang kau taksir adalah cewek paling cantik di sekolah?" tanya Mario lagi.


"Tentu saja bukan. Ahaha, oke-oke. Aku paham arah pembicaraan ini. Cinta memang buta." Ken mengaku kalah.


"Sama sekali tidak buta, Ken. Cinta melihat dengan caranya."


Mendengar itu Ken benar-benar tersudut. Seringkali Ken kalah saat adu argumen dengan sahabatnya itu. Enggan melanjutkan, Ken kembali fokus dengan sandwich-nya. Saat sandwich di genggamannya habis, dia pun teringat sesuatu.


"Sabtu luangkan waktu memenuhi undangan Juno, ya. Pukul 9 di cafe Bro-Sis. Kau tidak lupa, kan?" tanya Ken


"Tentu, tapi sepulang dari kantor ayahku. Kau berangkat saja duluan."


Fix, Mario dan Ken akan memenuhi undangan Juno. Hei ... tunggu! Apakah pertemuan Sabtu nanti sudah diatur oleh Juno? Akankah Anjani dan teman-temannya akan bertemu Mario di sana?


***


❤like, vote, dan jejak komentarnya, ya readers. See You. ❤

__ADS_1


__ADS_2