
"Lu teman gue apa bukan?" tanya Vina.
Anjani sedikit bingung dengan pertanyaan Vina.
"Tentu saja aku adalah temanmu, Vin." Anjani menjawab dengan ramah.
"Bagus. Kalau begitu sekarang lu ikut gue!" ajak Vina.
Vina menggenggam pergelangan tangan Anjani dengan erat. Sikap Vina yang tiba-tiba membuat Anjani semakin terheran.
"Eh? Kita mau kemana, Vin?" tanya Anjani bingung.
"Bawel. Nggak perlu banyak tanya!" tegas Vina.
Vina masih memegang pergelangan tangan Anjani dengan erat. Hal itu membuat Anjani mau tidak mau harus mengikuti langkah Vina hingga sampai di dekat pintu mobil Vina.
"Masuk!" suruh Vina dengan masih memegang pergelangan tangan Anjani dengan erat.
"Loh-loh! Kamu mau nyulik aku atau gimana, ha?" tanya Anjani.
Vina menatap Anjani dengan tatapan heran, tentu tanpa melepas pergelangan tangan Anjani.
"Gila lu! Buat apa coba gue nyulik lu?" tegas Vina.
"Lalu untuk apa maksa aku masuk ke dalam mobilmu, Vin?" kata Anjani sambil berusaha melepas pergelangan tangannya yang dipegang erat oleh Vina. Berhasil, genggaman tangan Vina terlepas.
"Tinggal masuk mobil aja kok repot, sih. Sekalian ntar pulangnya gue anterin. Enak tuh ada AC-nya," kata Vina sembari membuka pintu mobilnya.
"Aku bawa motor, Vina. Mana mungkin aku ninggalin motornya di sini," terang Anjani.
"Gampang. Kalau hilang gue beliin lagi." Begitu mudahnya Vina berkata demikian.
Anjani sungguh terheran dengan sikap dan perkataan Vina. Tidak ada kata lain yang mampu diucapkan selain bacaan istighfar saat itu.
Vina kembali memegang pergelangan tangan Anjani. Pintu mobil bahkan dibuka lebih lebar, dan kembali Vina menyuruh Anjani lekas masuk ke dalam mobilnya.
“Lepasin, Vin. Sakit!” Anjani kembali melepaskan genggaman tangan Vina pada pergelangan tangannya.
Genggaman tangan Vina kembali dapat dilepas oleh Anjani. Bedanya, Anjani lebih tak gentar dari sebelumnya. Anjani tidak takut sama sekali menghadapi sikap Vina yang terkesan agak kasar.
“Katanya lu teman gue. Masa iya masuk mobil teman sediri nggak mau, sih?” Vina sama sekali tidak mengubah nada bicaranya.
“Bukannya nggak mau, Vin. Caramu menyuruhku masuk yang kurang kusukai!” tegas Anjani.
“Oke. Gue tanya sekali lagi. Lu teman gue apa bukan?” tanya Vina dengan ekspresi wajah yang masih tetap sama.
"Iya. Kamu temanku. Bahkan aku sangat ingin berteman baik denganmu, Vin." Anjani kembali menegaskan pertanyaan yang sudah diulang beberapa kali itu.
Vina bersedekap lalu tersenyum penuh arti.
"Nah, kalau gitu cepat masuk!" pinta Vina dan kali ini dengan nada yang lebih baik.
Anjani memang melihat perubahan nada bicara Vina yang lebih baik dari sebelumnya. Permintaan Vina yang menyuruh Anjani untuk masuk ke dalam mobil tidak lagi terdengar kasar. Akan tetapi, kali ini Anjani diherankan dengan senyum Vina yang terlihat penuh arti. Anjani sudah beberapa kali melihat senyum Vina yang seperti itu. Oleh karenanya, Anjani tak lekas masuk ke dalam mobil Vina, meski Vina sudah memintanya masuk dengan nada bicara yang lebih ramah.
Melihat Anjani tak kunjung masuk ke dalam mobilnya, Vina kembali ngedumel tak jelas. Pintu mobil yang dibuka lebar lekas dibanting dan tertutup lagi. Seketika Vina bersedekap dan tepuk jidat.
"Kenapa masih bengong, sih? Kan gue udah minta lu masuk mobil baik-baik. Nih-nih udah senyum lebar dua senti kanan kiri," kata Vina sambil menunjuk bibirnya.
"Astaghfirullah. Begini, Vin. Sekarang coba jelaskan niatanmu. Kamu minta aku masuk mobilmu untuk pergi kemana? Bukannya berburuk sangka, setidaknya kalau tempat tujuannya jelas hatiku jadi tidak was-was," terang Anjani.
Desah nafas Vina terdengar jelas. Vina langsung menyandarkan punggungnya di mobil. Tampak juga matanya terpejam, dan sekali lagi dia menarik nafas dan menghembuskannya dengan jelas.
"Oke. Gue ...." Vina tampak ragu melanjutkan kata-katanya. "Gue ...." Sekali lagi Vina tak melanjutkan kata-katanya.
Anjani dengan sabar menunggu apa yang ingin disampaikan Vina.
"Anu, gue ...." Lagi-lagi kata-kata Vina tidak sampai.
"Iya, kamu kenapa, Vin? Katakan saja. Meskipun aku juniormu, tapi umurku nggak jauh beda kok sama kamu. InsyaAllah aku bisa menjadi pendengar yang baik," kata Anjani ramah, berharap Vina melunak dan segera menyampaikan apa maksudnya.
__ADS_1
"Nah, justru karena gue senior harusnya lu panggil gue kak. Eh tapi jangan deh, ntar gue terkesan tua lagi," sahut Vina sambil menyibak rambutnya.
"Hehe. Oke-oke." Anjani terkekeh agar obrolan mereka semakin renyah. "Jadi, kamu kenapa
tadi?" tanya Anjani.
Anjani mengingatkan Vina tentang apa yang tadi hendak disampaikan padanya.
"Gini aja. Gue tanya lu sekali lagi," kata Vina.
"Mau tanya aku temanmu apa bukan?" tebak Anjani, menduga pertanyaan Vina akan masih tetap sama.
"Ah, bukan!" Kaki Vina berderap layaknya anak kecil yang kesal, membuat Anjani tertawa melihatnya.
Di luar dugaan Anjani. Rupanya di balik sikap jutek, cuek, bahkan kata-kata kasar yang seringkali dilontarkan Vina, ternyata Vina mempunyai sisi kekanakan. Sikap Vina yang demikian tentu saja membuat Anjani semakin ingin mengenal Vina, dan berharap bisa berteman baik dengannya.
"Lalu?" tanya Anjani seraya tersenyum manis pada Vina.
"Lu percaya sama gue nggak? Kalau iya, ayo ikut gue. Masuk mobil gue. Nggak bakalan gue culik lu, deh." Vina terlihat sedang meyakinkan Anjani.
Anjani mencerna baik-baik apa yang dikatakan Vina. Meski Vina sering berkata kasar padanya, tetap saja Anjani tidak tega berekspresi memohon seperti saat itu. Anjani pun akhirnya mengangguk setuju.
"Baiklah. Aku percaya padamu. Ayo!" kata Anjani dan mulai melangkah ke arah pintu mobil Vina.
"Yuhuuu!" seru Vina girang.
Anjani sempat kaget melihat Vina girang. Sungguh seperti bukan Vina yang dikenal.
"Tunggu-tunggu." Vina meminta Anjani menunggu sebentar.
Rupanya Vina menuju juru parkir yang ada di sana. Vina memastikan motor Anjani diawasi betul oleh juru parkir di sana agar Anjani tenang. Vina juga memberikan beberapa lembar unang untuk juru parkir.
Anjani memperhatikan Vina, dan tersenyum senang melihatnya.
Vin, kamu punya sisi baik yang tidak banyak orang tahu. Aku yakin bisa berteman baik denganmu. Aku harap kamu pun bisa berteman denganku, dan tak lagi berselisih denganku hanya karena hati Mario, batin Anjani.
***
Beberapa menit setelahnya, mobil Vina menepi dan mulai memasuki area parkir sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Anjani segera menerka-nerka maksud Vina, dan lekas tersenyum setelahnya.
"Kita mau belanja?" tanya Anjani.
"Ya, bisa lu liat sendiri sekarang. Gue nggak nyulik lu, kan?" Vina berkata sambil melihat ke arah spion mobilnya.
"Hehe. Iya-iya."
Mobil Vina terparkir rapi. Sabuk pengaman dilepas dan keduanya pun turun dari mobil.
Anjani mengekor di belakang Vina. Bola mata Anjani lekas dimanjakan dengan aneka macam barang-barang menarik yang dijual di sana. Anjani terus mengekori Vina, hingga sampailah dia di bagian busana muslim wanita.
"Bantu gue," kata Vina singkat.
"Eh?" Anjani belum paham juga.
"Bantu gue pilih baju buat ngaji ntar sore, Anjani. Katanya gue harus pakai kayak lu," jelas Vina.
Seketika mata Anjani berbinar. Hatinya mendadak senang.
"Masya Allah. Vin, aku seneng banget dengarnya. Oke aku dengan senang hati akan membantu," kata Anjani antusias.
Samar-samar, Vina tersenyum diam-diam. Ada gengsi yang masih menguasai diri untuk sekedar mengaku bahwa hatinya senang karena Anjani mau membantunya memilih baju muslimah.
"Oke. Lets go!" seru Vina.
Anjani antusias membantu Vina memilih setelan gamis dengan warna yang dipilih Vina. Tak tanggung-tanggung, Vina meminta tolong pada Anjani untuk membantunya memilih tujuh varian yang berbeda. Anjani tak menyia-nyiakan kesempatan itu, mumpung Vina dalam mode niatan baik.
"Coba lihat model yang ini. Mau yang polos apa yang bermotif?" tanya Anjani sembari menunjukkan dua gamis yang ada di tangannya.
"Hidup gue udah bermotif. Yang polos aja," kata Vina.
__ADS_1
"Sip. Pilihan bagus. Yang ini cocok juga dipakai untuk kuliah," terang Anjani.
Kembali Anjani menelusuri gantungan-gantungan baju. Tak lupa pula membuat perbandingan agar Vina bisa memilih. Dan ... selesai. Tujuh model gamis yang berbeda telah terpilih. Vina sama sekali tidak mempermasalahkan total harganya.
Anjani menunggu Vina menyerahkan gamis-gamis yang selesai dipilih kepada pramuniaga di sana. Sembari menunggu Vina, Anjani melihat-lihat gamis-gamis lain yang ada di sana. Pandangan mata Anjani lekas tertuju pada gamis yang dipajang di sebuah manekin. Gamis wana pink soft dengan model yang elegan. Cocok sekali digunakan di sebuah acara. Gamis yang dipajang itu pun sudah satu set dengan hijab panjang.
"Lu suka?" tanya Vina yang ternyata sudah berdiri di samping Anjani.
Tanpa menoleh, Anjani pun mengangguk sambil tersenyum.
"Oke. Mbak, tolong bungkus yang ini juga, ya." Vina berseru pada pramuniaga yang berjaga di sana.
"Loh-loh. Nggak, Vin. Aku nggak mau beli itu, kok." Anjani lekas meminta Vina membatalkan pesanannya.
"Tenang. Gue bayarin," kata Vina santai.
"Tapi harganya mahal, Vin." Anjani berusaha menolak. Tak enak hati karena memang harga gamisnya lumayan.
"Lu pikir Vina nggak ada cukup duit, ha? Udah, lu wajib nerima!" tegas Vina.
Di balik kata-kata Vina yang seringkali asal ceplos saja tanpa memikirkan akan menyinggung atau tidak, Anjani bisa menangkap satu titik kebaikan. Saat itu Vina berniat baik, maka akan sangat tidak baik jika Anjani menolaknya.
"Baiklah. Terima kasih," kata Anjani seraya tersenyum.
"Ya, sama-sama."
Anjani benar-benar tak menduga. Akhir pekannya akan sangat berbeda, dengan aktivitas yang tak terduga. Anjani senang atas kemajuan langkahnya untuk bisa memulai niatan berteman baik dengan Vina. Anjani juga senang karena Vina akan hadir di kelompok ngaji dengan memakai gamis yang baru saja dibeli.
***
"Thanks," kata Vina singkat sesampainya di depan warung mie ayam tempat motor Anjani diparkirkan.
"Sama-sama. Terima kasih juga untuk bajunya, dan sampai ketemu di tempat ngaji." Anjani tersenyum begitu ramah.
"Oke. Em ...." Ada yang hendak disampaikan Vina lagi.
"Iya, Vin?" tanya Anjani.
"A-a-as-assalamu'alaikum," kata Vina lalu cepat-cepat masuk ke dalam mobilnya.
Anjani tersenyum. "Wa'alaikumsalam," jawab Anjani.
Anjani masih berdiri sambil melihat kepergian mobil Vina. Begitu mobil Vina tak terlihat lagi, Anjani lekas menuju motornya dan berterima kasih pada juru parkir di sana. Anjani meletakkan paper bag berisi gamis pemberian Vina di bagian depan motor.
"Tunggu sampai kamu tahu tentang kebaikan Vina hari ini, Mel. Kamu pasti langsung heboh tak percaya. Hehe," kata Anjani sembari tertawa ringan membayangkan ekspresi Meli.
Anjani duduk di atas motornya. Saat hendak mengambil helm, tetiba saja Anjani teringat smartphone yang terabaikan sedari Vina mengajaknya tadi.
Banyak pesan singkat masuk. Anjani membaca pesan teratas lebih dulu, dan itu adalah pesan dari Leon.
"Eh? Leon kok bisa tahu aku baru aja sama Vina di mall?" Anjani bertanya-tanya.
Jemari Anjani sudah berniat mengetik pesan balasan untuk Leon. Namun, Anjani tampak ragu. Setelah menimbang-nimbang, pada akhirnya pesan singkat dari Leon itu pun diabaikan.
"Wow. Meli kirim pesan rupanya." Anjani tampak antusias membaca pesan singkat dari Meli.
Saat Anjani selesai makan mie ayam bersama Mario, Juno, Ken, Dika, Berlian, dan Vina tadi, rupanya Meli mengirim pesan singkat untuk Anjani. Rupanya Meli mengirim pesan singkat yang membuat Anjani begitu penasaran dengan sebuah nama yang disebutkan Meli.
Di sampingku ada pangeran tampan yang pesonanya melewati Juno, bahkan Kak Mario. Kepo, kan? Namanya, Azka. Bunyi pesan singkat dari Meli.
"Azka?" Anjani jelas-jelas kepo.
Anjani memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut, karena Anjani menduga bahwa Meli pasti sedang bersenang-senang dengan sosok pangeran yang dijumpainya di Jogja. Pangeran Azka. Sebagai balasan pesan, Anjani hanya mengirimkan beberapa emoticon saja, kemudian melajukan motornya menuju rumah.
😳💃
Bersambung ....
Apakah niatan dan kebaikan Vina hari itu benar-benar tulus? Lalu bagaimana cara Leon bisa tahu Anjani ke mall bersama Vina? Mungkinkah Leon dan Vina sedang merencanakan sesuatu? Nantikan lanjutan cerita Cinta Strata 1.
__ADS_1
Kepo dengan sosok Azka? Temukan jawabannya pada novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti. Jangan lupa like dan tinggalkan komentar di sana juga, ya. 😉