
Sejak pagi buta Paman Sam sudah berteriak-teriak agar Anjani bangun dan bersiap. Jatah makan si Miko, Paman Sam yang menyiapkan. Paman Sam juga sudah memasak dan telah terhidang sarapan untuk Anjani, tumis sawi campur sosis. Dua cangkir teh hangat juga sudah terhidang di meja makan.
Tidak jauh dari meja makan, terlihat koper ukuran sedang dan tas ransel milik Anjani. Koper dan ransel tertata rapi di lantai dan akan dibawa Anjani hari ini. Koper itu hanya memuat beberapa baju saja, sisanya adalah oleh-oleh untuk Ma. Tas ransel yang dibawa Anjani juga tidak terlalu besar karena isinya juga tidak terlalu banyak. Melihat itu semua, Anjani telah siap liburan ke desanya.
Selesai dengan urusan sarapan, Paman Sam menyuruh Anjani untuk bergegas. Sementara Anjani mengambil koper dan ranselnya, Paman Sam menyiapkan motor yang akan dipakai untuk mengantarkan Anjani ke stasiun kota.
"Aku titip kasih makan si Miko, ya Paman!" teriak Anjani dari dalam rumah.
"Tenang saja kau. Ayo, cepat berangkat!" ujar Paman Sam menyuruh bergegas.
Paman Sam berangkat mengantar Anjani ke stasiun kereta api. Langsung berkumpul di depan stasiun adalah bagian dari rencana yang telah disepakati. Tidak ada acara susul menyusul teman. Masing-masing berangkat sendiri menuju stasiun kereta api. Boleh diantar, ataupun membawa motor sendiri. Bagi yang membawa motor sendiri, motor bisa dititipkan di salah satu tempat penitipan di sana. Dan ... setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit dengan kecepatan sedang, Anjani sampai juga di stasiun.
Sesampainya di area depan stasiun kereta api, motor Paman Sam melaju pelan. Anjani tengok kanan-kiri demi mencari keberadaan temannya. Tak lama kemudian, ketemu. Teman-teman Anjani berkumpul di dekat salah satu pohon yang ada tempat duduknya. Hanya Meli yang tampak duduk di sana, sementara Juno, Dika, dan Ken berdiri dengan tas ransel di punggung masing-masing.
"Hai," sapa Meli begitu motor Paman Sam mendekat.
"Kalau begitu aku tinggal dulu, ya. Sampaikan salam paman kau ini pada Ma kau yang sangat kurindukan." Paman Sam berpesan.
"Siap, Paman!" jawab Anjani. Dia bersemangat dan tidak lupa menyuruh Paman Sam berkendara hati-hati saat pulang.
Sesaat setelah Paman Sam pergi, Anjani mulai menepikan koper miliknya, dan menyapa satu per satu teman-temannya. Ada Meli, Juno, Dika, dan Ken. Anjani tidak melihat Mario. Sebelum Anjani sempat bertanya, Ken sudah menjelaskannya lebih dulu. Ada kemungkinan Mario sedikit terlambat karena masih harus menemui ayahnya.
"Tapi Mario jadi ikut, kan?" tanya Anjani.
"Ya ... semoga saja dia beneran ikut." Ken menjawab sesuai kemungkinan dan kondisi yang ada.
Mendengar itu membuat Anjani sedikit lesu. Dia kemudian duduk di dekat Meli yang sedang asyik menikmati keripik kentang. Anjani mengambil segenggam keripik yang ditawarkan Meli. Lumayan, kriuk-kriuk keripik membuat pikiran Anjani teralihkan.
Lima menit kemudian, sebuah mobil mewah berhenti persis di depan mereka. Sopir mobil mewah tersebut lebih dulu keluar, tampak gagah dengan setelan jas dan kaca mata hitam. Rupanya sopir itu membukakan pintu untuk Mario. Ya, Mario telah tiba.
Sedikit aneh, pintu mobil yang telah dibukakan oleh sopir cepat-cepat ditutup lagi setelah Mario keluar. Mario juga sedikit berbisik kepada sopir mobil mewah itu. Begitu selesai, sopir bergegas kembali ke bangku kemudi dan melaju pergi.
Ken yang lebih dulu menyambut kedatangan Mario. Dia menyadari bahwa Mario tadi tidak datang sendiri.
"Jadi ikut, kan?" tanya Ken.
"Tentu," jawab Mario singkat.
"Ayo, Mas. Lebih baik kita segera masuk ke stasiun," Juno mengingatkan.
__ADS_1
Kedatangan Mario melengkapi formasi. Semua bersiap untuk masa liburan yang sudah dinanti-nanti. Mungkin Anjani dan Juno sudah terbiasa dengan kehidupan desa, tapi bagi Meli, Dika, Ken, bahkan Mario itu akan menjadi suatu petualangan yang pasti akan menyimpan banyak kenangan indah.
"Sst, Anjani. Hanya aku yang salah dengar, atau tadi memang ada suara Alenna di dalam mobil Mario, ya?" tanya Meli setengah berbisik pada Anjani.
"Aku nggak denger, tuh. Mungkin kamu aja yang lagi kangen dia. Hayo, ngaku!" ujar Anjani.
"Haha, mungkin iya. Alenna itu meski berisik tapi ngangenin juga," sahut Meli menanggapi perkataan Anjani.
Di dalam mobil mewah yang dinaiki Mario tadi memang ada Alenna. Itulah alasan Mario cepat-cepat menutup pintu mobil yang dibukakan sopirnya. Awalnya Mario menolak keinginan Alenna untuk ikut mengantarnya ke stasiun, tapi ayahnya malah mendukung permintaan Alenna. Alhasil, Alenna ikut mengantar Mario dengan perjanjian tidak boleh berisik atau menyapa siapa pun. Saat di mobil tadi sebenarnya Alenna melihat Meli dan Anjani, dan memaksa keluar untuk menyapa. Akan tetapi, Mario bergegas mengingatkan Alenna tentang kesepakatan untuk tidak berisik dan menyapa siapa pun. Alenna pun menurut.
Apakah Mario menyembunyikan sesuatu? Ya, tentu saja. Mario memang menyembunyikan sesuatu, bukan hanya kepada teman-temannya tapi kepada semua orang yang mengenalnya. Hanya Ken satu-satunya yang sempat tahu sekilas tentang rahasia Mario. Selebihnya, tidak ada lagi yang tahu.
Tut-tut .... Jes-jes-jes
Kereta api berangkat. Semua hati bersemangat. Tiada hal yang dinanti lagi kecuali petualangan dan pengalaman saat di desa nanti. Lima belas menit pertama masih terdengar celoteh dari teman-teman Anjani. Setelah itu, tidak ada celotehan lagi. Dika tertidur di sebelah tempat duduk Juno. Dika beralasan bahwa semalam tidak bisa terlelap karena terlalu bersemangat. Juno di sebelahnya sibuk merekam aksi tidur Dika. Sesekali Juno tertawa sendiri karena melihat ekspresi lucu dari Dika.
Meli yang duduk di sebelah Anjani juga mulai terkantuk-kantuk. Beberapa menit kemudian, Meli pun tertidur. Mungkin Meli tertidur karena kekenyangan setelah menghabiskan keripik kentang sekantong penuh. Sadar bahwa tidak ada yang diajak mengobrol, perlahan Anjani menengok ke belakang. Terlihat Ken juga tertidur di samping tempat duduk Mario. Mungkin teman-teman Anjani terlalu bersemangat menantikan hari ini, hingga semalam tidak bisa terlelap. Alhasil, saat kereta melaju pun mereka tertidur, termasuk Mario.
Mario terpejam dengan tangan bersedekap. Anjani mengamati wajah itu. Benar-benar tampan seperti yang dibilang oleh para penggemarnya di kampus. Terus memperhatikan, Anjani pun dapat melihat betapa wajah Mario benar-benar didamba siapa saja, karena tidak ada satu pun jerawat atau bahkan bekas jerawat yang mengganggu wajah tampannya. Terlalu larut memperhatikan, Anjani pun tersenyum. Lehernya bahkan tidak terasa pegal meski telah lama menengok ke belakang. Senyum Anjani terus melebar, hingga kemudian dia tertawa tertahan.
Masih tetap memperhatikan, tiba-tiba Anjani dikejutkan. Mendadak di wajah Mario terukir senyuman meski kedua matanya masih terpejam.
Apa dia sedang bermimpi indah? batin Anjani.
Anjani tersentak kaget. Tepat saat Mario membuka matanya, kedua mata mereka saling bertemu tatap untuk beberapa saat. Begitu Mario berdehem untuk kedua kalinya, barulah Anjani tersadar dan cepat-cepat menghadap ke depan.
Sejak kepergok memperhatikan Mario, Anjani tidak berani lagi menengok ke belakang. Dia berusaha mengendalikan diri agar tidak salah tingkah. Untungnya Mario tidak berniat membahasnya, sehingga Anjani ... aman.
Pemandangan di luar jendela mulai menarik perhatian. Kereta api sedang melintas di area lahan hijau yang menyejukkan mata. Awalnya terlihat deretan pohon jati. Pohon-pohon itu lekas digantikan oleh hamparan tanaman tebu. Beberapa menit Anjani menyaksikan tebu-tebu itu, setelah itu pemandangan berganti lagi. Kini dari kaca jendela terlihat hamparan sawah yang sangat luas. Terlihat pula beberapa petani yang duduk di pematang sawah. Suasana itu sekaligus mengingatkan Anjani tentang desanya.
"Ma, aku pulang," tutur Anjani lirih sambil tersenyum.
Dua jam berlalu, kereta pun sampai di stasiun tujuan. Meli yang saat itu sudah bangun langsung berteriak-teriak di dalam gerbong kereta.
"Woi! Juno, Dika, cepat bangun! Sudah sampai, nih!" teriak Meli tidak ada lembut-lembutnya. "Kak Ken, Kak Mario, ayo turun!" ujar Meli dengan nada lembut, tidak seperti pada Juno dan Dika.
"Hu ... giliran sama senior aja lembut. Dasar Meli!" protes Dika.
Meli melengos saat Dika protes. Dia kemudian mengikuti langkah Anjani untuk turun.
__ADS_1
"Eh, ini serius hanya beberapa orang saja yang turun di stasiun ini?" tanya Dika terheran karena melihat kondisi stasiun yang sedikit sepi.
"Tepat sekali," jawab Juno sambil menjentikkan jari.
"Jadi, apakah kita sudah sampai? Atau masih harus naik bus atau mungkin taxi?" tanya Ken.
"Taxi mana ada di sini, Mas." Juno menjawab pertanyaan Ken, kemudian memberi kode pada teman-temannya untuk mengikuti langkahnya keluar dari stasiun.
"Wow, amazing!" tutur Ken tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Bukan hanya Ken yang takjub, Dika juga. Mario yang berdiri tepat di samping Ken bahkan tersenyum mendapati apa yang dilihat di depannya.
Saat sudah keluar dari area stasiun, di seberang jalan sana pemandangan menakjubkan telah menanti mereka. Hamparan sawah luas di sisi kanan yang ditangkap pertama kali. Benar-benar hijau yang menyejukkan. Tak kalah menarik, di sisi kiri tampak beberapa delman berjajar. Kuda-kuda tampak gagah dan ramah, sementara sang kusir asyik bercanda dengan teman-teman sesama kusir.
"Serius kita mau naik itu?" tanya Ken setelah Juno dan Anjani menyuruh teman-temannya untuk bersiap naik delman.
"Kenapa, Ken? Takut?" tanya Mario setengah menggoda.
Bukan tanpa maksud Mario berkata seperti itu. Dia memiliki alasan menggoda Ken. Ken pernah memiliki pengalaman buruk ditendang kuda tepat di pantatnya saat kegiatan studi wisata masa sekolah menengah dulu. Mario adalah saksi hidup, dan dia sering menggoda Ken saat harus berhubungan dengan kuda.
"Iya, aku takut!" ujar Ken terus terang.
Mulanya semua terdiam mendengar Ken berkata demikian, tapi tiba-tiba mereka kompak tertawa.
"Mas Ken, jangan bercanda! Ayo, ikut naik!" ajak Juno.
"Tidak mau!" tolak Ken. Dia tidak berpindah dari posisinya.
"Ayo, Mas Ken! Malu tuh dilihat sama yang cewek. Masa cowok keren gini takut sama kuda, sih!" ujar Juno.
"Tetap tidak mau. Tuh, tuh! Yang di sana itu ojek, kan? Ah, lebih baik aku naik itu aja!" jawab Ken sambil mulai melangkah ke arah yang berbeda.
Juno dan Dika bergerak cepat. Mereka menyusul langkah Ken dan dengan cepat memegangi lengannya. Juno memegang lengan kiri, dan Dika memegang lengan kanan. Mereka berdua kompak menyeret Ken menuju delman.
"Semuanya, ayo kita naik delman. Ye!" ujar Juno sedikit berteriak karena semangat.
"No ...!" teriak Ken, meski teriakannya jelas diabaikan.
***
__ADS_1
❤❤❤❤❤💌❤❤❤❤❤
Hai pembaca setia novel Cinta Strata 1, semoga selalu suka dan terhibur dengan ceritanya 😊. Dukung author dengan cara like, click fav, dan vote sebanyak-banyaknya. Author juga sangat mengharapkan kritik dan saran dari semuanya, boleh disampaikan di kolom komentar. Happy Reading 💕