CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Kencan


__ADS_3

Lima pesanan sepatu telah terbungkus rapi. Identitas pemesan juga telah tertempel pada pembungkus warna cokelat. Juno terlihat sedang menelepon layanan antar barang. Sudah beberapa kali dia berlangganan jasa ekspedisi. Menurutnya layanan tersebut menjadi alternatif yang memudahkan pengiriman. Apalagi sudah tersedia layanan jemput barang kiriman di rumah pengirim. Juno pun semakin semangat dalam menjalankan bisnis online produk sepatu keluarga Mario.


Hanya Juno saja yang berkutat dengan bungkusan-bungkusan pesanan pelanggan di lantai dua rumah Mario yang mewah. Biasanya Ken membantu Juno. Akan tetapi, kali ini dia izin untuk berenang dulu di kolam renang rumah Mario. Ken beralasan bahwa dia sudah lama tidak berenang. Ken pun beralasan akan sangat tidak baik menunda keinginan yang sudah lama terpendam. Tentu saja Juno setuju, meskipun tahu Ken hanya beralasan.


"Juno, nggak renang juga? Asyik, lho!" kata Ken sambil mengeringkan rambutnya. Dia baru saja kembali dari berenang.


"Ogah, Mas. Mending bungkusin sepatu bisa dapat bonus tambahan dari Mas Mario. Iya kan, Boy!" ujar Juno.


"Miaauw ...!"


Boy, si kucing jantan berwarna hitam putih. Boy kecil yang ditemukan Mario saat memergoki aksi penguntitan oleh Anjani dan Meli, kini dirawat oleh Mario di rumahnya. Juno-lah yang memberinya nama Boy. Meski diadobsi oleh Mario, tapi Boy begitu dekat dengan Juno, bahkan sering duduk di pangkuannya.


Saat Juno membungkus sepatu pesanan pelanggan, Boy menemaninya. Boy berulang kali mengajak Juno bermain. Sesekali Boy memainkan gulungan kertas juga lem stik. Saat jenuh memainkan barang-barang, Boy tiba-tiba saja melakukan aksi rebahan lucu di dekat kaki Juno. Sontak saja Juno berhenti sejenak dari aktivitasnya dan mulai menggoda Boy yang tingkahnya begitu menggemaskan.


"Hello, Boy. Apakah kamu melihat tuan mudamu yang tampan itu?" tanya Ken pada Boy.


Boy kembali berekspresi menggemaskan. Bola matanya yang bulat memandang Ken tanpa berkedip, hanya ekornya saja yang dikibaskan.


"Aha, aku tahu. Model tatapan seperti ini artinya kamu tidak tau kan tuan muda Mario di mana. Benar? Haha, betapa pintarnya diriku bisa paham bahasa kucing. Coba saja yang saat ini menatapku bukan kucing, tapi cewek yang kutaksir." Ken terus berbicara.


"Berhenti bersikap aneh, Ken. Aku di belakangmu!" kata Mario tiba-tiba.


Mario muncul dengan penampilan santai, tapi tetap rapi seperti biasanya. Dia membawa nampan berisi es melon dan kue pisang keju untuk dua sahabatnya. Ken adalah yang paling pertama bereaksi saat kudapan itu disuguhkan, padahal yang sedari tadi bekerja keras membungkus pesanan sepatu adalah Juno. Mengetahui Ken mencomot kuenya lebih dulu, Juno tidak mau kalah dan langsung mengikutinya. Alhasil, suasana pun berubah seperti arena lomba makan berhadiah.


"Apa benar ada cewek yang sedang kau taksir, Ken?" tanya Mario sambil menggendong si Boy, kucing kecil kesayangannya.


Ken dan Juno kompak berhenti makan setelah mendengar pertanyaan Mario. Bagi mereka itu pertanyaan yang tidak biasa. Jarang-jarang Mario membahas hal yang seperti itu.


"Apa kau penasaran? Akan kuberitahu nanti setelah kau memberi tahu siapa perempuan yang kau taksir, Mario?" Ken bertanya balik. "Oh aku lupa, tuan muda Mario kan tidak pernah jatuh cinta." Ken semakin memancing reaksi Mario.


Mario tersenyum, senyum licik yang biasanya keluar sebelum dia menyerang lawan yang berani menggoda atau mengusiknya. Ken hafal itu, tapi sebagai sahabatnya dia pun tak pernah jera bahkan senang sekali menggodanya, apalagi urusan cinta.


"Juno, kau boleh melanjutkan bisnis sepatu ini bila kau ingin. Tapi ingat, jangan sampai mengesampingkan kuliah. Dan ... Ken. Urusan cinta siapa pun berhak atas pilihannya. Jangan lupa beri makan si Boy. Aku pergi dulu." Mario balik badan dengan senyuman yang masih sama seperti sebelumnya.


"Apa sih maksudnya?! Hei, Mario. Mau pergi kemana?" tanya Ken sedikit berteriak.


Mario berhenti, menoleh ke belakang, lalu memberi jawaban yang sukses membuat Ken dan Juno terkejut. "KENCAN," kata Mario, kemudian dia pun berlalu pergi.


***


Alun-alun kota tidak begitu ramai. Mungkin karena tadi hujan sempat turun membasahi bumi, sehingga tidak banyak orang yang keluar rumah. Di tengah lapangan alun-alun kota terlihat beberapa remaja tengah asik berlatih seni bela diri. Masih di tempat yang sama, di sisi lain lapangan alun-alun kota juga terlihat beberapa keluarga yang sedang bermain dengan putri kecil mereka.


Anjani dan Meli sudah sepuluh menit duduk di salah satu gazebo mini di pinggiran alun-alun kota. Mereka berdua berpenampilan santai sambil membawa tas ukuran sedang yang muat untuk beberapa buku yang dibawa. Meli terlihat senang melihat aktivitas orang-orang di alun-alun kota. Anjani pun mulanya demikian, tapi kini dia terlihat melamun sambil memandang setangkai mawar putih di tangannya.

__ADS_1


Lima menit kemudian yang ditunggu-tunggu datang. Meli yang pertama kali melihatnya dan langsung berdiri menghampirinya. Anjani sempat tersenyum melihat kehadirannya, tapi dia memilih untuk tidak melakukan hal yang sama seperti Meli.


Sedari tadi Anjani dan Meli menunggu kehadiran Mario. Hari itu adalah kali pertama mereka melakukan tutor sesuai kesepakatan. Mario benar-benar menentukan waktu dan tempatnya. Tidak hanya itu, Mario juga meminta agar Anjani membawakan setangkai mawar putih. Sedikit aneh menurut Anjani, tapi tetap saja dia menyanggupinya.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu," kata Mario begitu sampai di gazebo.


"Sama sekali tidak apa-apa, Kak Mario. Kami justru sangat sangat sangat sangat sangat sangaaaat senang Kak Mario bersedia membantu kami yang haus akan ilmu ini." Meli lebay.


"Mario, ini bunga yang kau minta," kata Anjani sambil menyerahkan setangkai mawar putih.


Mario tersenyum. Senyum itu sukses membuat Meli menutup mulutnya dan sedikit histeris. Banyak yang mengidolakan Mario karena ketampanannya, tapi jarang sekali yang melihat Mario berhias senyum di wajahnya. Sungguh momen yang langka di kalangan penggemar Mario. Namun, senyum itu kini seolah terumbar begitu saja di hadapan Anjani dan Meli.


"Mawar putih itu bukan untukku, Anjani. Akan ada beberapa soal yang harus kalian jawab di akhir tutor. Siapa yang menjawab benar paling banyak, dia berhak memiliki mawar putih itu." Mario menjelaskan setelah mengambil posisi duduk tepat di seberang Anjani dan Meli.


"Tapi kan kita yang beli? Trus dibalikin ke kita lagi gitu?" tanya Meli polos.


"Selanjutnya aku yang akan menyediakan bunganya. Juga ... pada tutor paling akhir, yang berhasil mengumpulkan mawar putih paling banyak boleh mengajukan satu pertanyaan apa pun tentang kehidupan pribadiku. Bukankah itu yang kalian mau?" kata Mario dengan mempertahankan senyum di wajahnya.


Tanpa dikomando, Meli langsung mengacungkan dua jempol tanda setuju. Anjani lagi-lagi hanya tersenyum sekilas, kemudian bergegas mengeluarkan buku-buku materi. Tidak terdengar ada penolakan dari Anjani, itu artinya dia tidak keberatan dengan ide Mario. Anjani terpikir alasan Mario mengadakan kompetisi. Semua itu tentu saja untuk memacu semangat belajar dan agar lebih seru pastinya.


"Anjani, dilihat dari senyummu yang setengah dipaksakan itu, kuharap kau tidak kikuk karena mendapat kesempatan emas berada di dekatku." Mario sedikit menggoda Anjani. Entah kenapa belakangan ini dia senang sekali memancing emosi Anjani.


"Pentingnya manajemen strategi. Em, bukan buku ini, tapi yang satunya. Mel, coba lihat bukumu yang itu!" kata Anjani serius. Dia sama sekali tidak menanggapi ucapan Mario yang terakhir. Dia justru mengalihkan topik dengan langsung membuka buku dan seakan memberi kode pada Mario untuk segera memulai tutor.


***


Di balik semak-semak alun-alun kota, dua sosok terlihat mengendap-endap. Berpindah dari satu semak ke semak lainnya. Mereka adalah Ken dan Juno. Sejak Mario berkata akan pergi untuk kencan, Ken dan Juno langsung berinisiatif mengikutinya secara diam-diam. Bagai mata-mata profesional, sebuah teropong binocular tak lupa dibawa demi melengkapi aksi mereka berdua.


"Dua perempuan dan setangkai bunga," kata Ken sambil mengamati dari teropong.


"Hah? Mas Mario mungkin bukan kencan, tapi jumpa fans. Masa iya kencan sama dua cewek sekaligus. Siapa dua cewek itu, Mas?" Juno yang belum kebagian mengamati dari teropong terlihat penasaran.


"Definisi kencan menurut Mario memang berbeda dari yang kita pikirkan, Jun. Ayo, kita bergerak ke arah sana agar bisa melihat wajah cewek-cewek itu!" ajak Ken.


Juno mengikuti Ken. Mereka berdua kembali mengendap-endap. Sampai di posisi yang pas, Ken kembali menggunakan teropongnya. Dan ....


"What?" Ken refleks berdiri, kemudian kembali bersembunyi.


"Cewek-cewek yang bersama Mario ternyata adalah bungamu dan sahabatnya," ujar Ken kemudian.


Juno kaget. Dia merebut teropong yang sedari tadi digunakan Ken. Jelas sekali wajah Anjani dan Meli tergambar melalui teropong itu. Akan tetapi, ekspresi Juno lebih terkendali. Dia tidak kesal, apalagi cemburu.


"Tumben sekali, Jun. Biasanya heboh kalau ada hubungannya sama Anjani. Ada apa, bro?" tanya Ken merasa aneh.

__ADS_1


"Seperti kata Mas Mario tadi, 'Urusan cinta siapa pun berhak atas pilihannya'. Kalau Mas Mario pada akhirnya memilih pilihan yang sama seperti pilihanku, maka aku tidak akan keberatan untuk bersaing."


"Terdengar bijak, Jun. Jadi, apa kau masih ingin mengajak Mario liburan ke desamu?" tanya Ken yang semakin penasaran.


"Tentu saja, Mas. Ayo, kita lancarkan misi agar Mas Mario bisa ikut seru-seruan bareng di desaku. Bagiku, urusan cinta nggak akan pernah memutuskan persahabatan. Biar takdir nanti yang menjawabnya, Mas." Juno kembali berkata bijak.


Tiba-tiba saja Ken memegang dada kirinya. Dia juga terlihat menunduk dan memejamkan mata. Sesaat kemudian, dia terjatuh di rerumputan. Melihat Ken yang tiba-tiba seperti itu membuat Juno panik.


"Loh, Mas Ken. Sadar, Mas!" Juno menepuk-nepuk pelan pipi Ken.


"Uhuk-uhuk. Juno, sebaiknya kita pulang saja. Aku sungguhan nggak kuat denger kata-kata bijak secara mendadak. Uhuk-uhuk."


"Hah .... Kirain ada apa, Mas. Ayo pulang. Karena sudah drama di depanku, traktir bakso dua porsi hari ini."


"Tiga porsi juga kubeliin, Jun. Tapi pakek duwitmu. Haha."


***


Tiba-tiba saja Mario berhenti menjelaskan. Hal itu membuat Anjani dan Meli bertanya-tanya.


"Ada apa?" tanya Anjani.


"Apa ada sesuatu yang menarik di sana?" tanya Meli sambil ikut melihat ke arah yang sama seperti Mario.


Mario menyadari kehadiran Ken dan Juno. Dia tidak ingin membahas hal tersebut di sela tutor.


"Anjani, tutor selanjutnya Minggu pagi di rumahmu."


"Di ... di rumahku? Yakin?" tanya Anjani. Dia tidak menyangka Mario akan meminta demikian.


"Sesuai kesepakatan, waktu dan tempat aku yang menentukan."


"Sudah, Anjani. Setuju aja!" bujuk Meli.


Anjani sedikit khawatir. Dia khawatir dengan reaksi tak terduga dari Paman Sam nantinya. Namun, kesepakatan tetaplah kesepakatan. Dia pun tidak bisa melewatkan satu kesempatan pun agar bisa unggul di tantangan yang dia sepakati dengan Berlian.


Anjani menarik nafas, "Baiklah."


***


Tunggu lanjutannya ya, readers 😉


❤like ❤

__ADS_1


__ADS_2