CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Definisikan Sendiri


__ADS_3

WARNING! Tanpa Filter!


Lewati saja part ini. Jika sudah terlanjur membaca, Yaudah LIKE aja!


💋💋💋💋💋


Cukup lama mobil Mario memutari area kota demi memenuhi keinginan Anjani. Usai dari ruko tadi, Mario-Anjani tidak langsung pulang. Dengan penuh pengertian Mario mengantarkan Anjani mengunjungi bakul-bakul pedagang makanan ringan lantas membeli beberapa makanan.


Mario melirik Anjani di sebelahnya sembari tetap mengemudikan mobilnya memasuki area kompleks perumahan. Tak henti-hentinya senyum di wajah tampan Mario mengembang lantaran melihat tingkah kekanakan Anjani.


"Sayang, apa masih ada yang ingin kau makan?" tanya Mario.


Anjani mengunyah habis cilok daging dimulutnya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Mario.


"Nggak, deh. Sudah mau sampai rumah," jawab Anjani, lantas melahap pisang cokelat.


Mario melepaskan tangan kirinya dari kemudi, lantas mencubit pelan pipi kanan Anjani.


"Sejak kapan kamu jadi seimut ini, hm?" Mario gemas pada sang istri yang sedari tadi terus mengunyah makanannya seorang diri.


"Wajar dong kalau imut. Aku kan masih mahasiswa." Anjani berkedip lucu sambil memandangi Mario.


Mario tertawa pelan. Sejenak dirinya teringat bahwa statusnya juga masih seorang mahasiswa. Hanya saja porsi kehidupan yang dijalani Mario berbeda dari teman-temannya. Amanah sang ayah mengharuskan Mario berpikir lebih dewasa demi membantu anak perusahaan yang sempat kacau karena ulah Leon, dan sekarang pun ada indikasi juga akan diterpa kegelapan hati Daniel. Sepintas ingatan tentang Leon dan Daniel membuat Mario menghela nafas dalam.


"Sayangku sedang memikirkan sesuatu?" tanya Anjani tanpa menghentikan aktivitas makannya.


Mario menggeleng pelan. Mario tidak mau merusak suasana hati Anjani dengan membaginya cerita tentang masalah anak perusahaan.


"Sudah sampai. Sini, biarkan aku merasakannya!" perintah Mario.


Spontan Anjani tersenyum aneh karena baru sadar, sedari tadi dirinya tidak membiarkan Mario mencicipi makanan yang dibelinya. Padahal semua makanan Mariolah yang membelikan. Lekas saja Anjani mendekat sambil menyuapkan pisang cokelat yang dipegangnya.


Senyum Mario mengembang. Ditepisnya pelan pisang cokelat yang disodorkan Anjani. Detik berikutnya tangan Mario bergerak cepat menekan kepala bagian belakang Anjani hingga mendekat ke arahnya. Jarak mereka terkikis dengan manis. Mario pun merasakannya. Lembut, kenyal, dan rasa cokelat.


Debaran jantung Anjani begitu merdu. Dibiarkannya Mario menjelajah di area wajahnya, hidung, pipi, dan kembali ke bibirnya.


"Sayang, apa kau menginginkan sesuatu setelah ini?" bisik Mario.


Masih dalam keadaan mengatur nafas, Anjani mengangguk. Melihat anggukan sang istri, senyum Mario lekas merekah penuh kepercayaan diri. Dalam hati, Mario yakin sang istri menginginkan kemesraan lebih darinya.


"Katakan kalau kau mau malam ini," bisik Mario.


Lagi-lagi Anjani mengangguk.


"Iya, aku mau sekali. Mau makan martabak bareng Mommy malam ini," sahut Anjani dengan santainya.


Tangan kanan Anjani langsung menyuap kembali pisang cokelat dengan santainya. Padahal posisi Mario masih begitu dekat dengannya.


"Duh!" desis Mario.


Mario begitu gemas dengan sikap Anjani. Mumpung masih di dalam mobil, Mario berniat kembali menepis jaraknya. Kurang beberapa senti lagi, eh ada Mommy memergoki aksi Mario-Anjani.


"Ehem!" dehem Mommy dengan kerasnya di dekat kaca mobil sebelah Mario.


Tentu saja Mario-Anjani terkaget-kaget dan lekas memperbaiki posisi duduk mereka. Mario lebih kaget lagi begitu menyadari kaca mobil di sebelahnya sedikit terbuka.


"Pantes nggak turun-turun dari mobil, ya. Mario, pastikan kau menutup akses pandang agar orang lain tidak melihat kemesraan kalian," tegur Mommy.


"Em ... apa Mommy tadi lihat, waktu Anjani sama Mario ...." Anjani tidak melanjutkan karena tangan Mario langsung membungkam mulutnya.


Mommy geleng-geleng kepala.


"Anjani, setelah ashar bantu Mommy lagi belajar ngaji, ya?" pinta Mommy dengan lembut dan senyuman merekah.


Anjani menurunkan tangan Mario perlahan agar dapat menjawab keinginan Mommy Monika.

__ADS_1


"Iya, Mom."


Usai menjawab, Anjani keluar mobil lebih dulu. Wajahnya memerah karena masih malu sehabis dipergoki Mommy Monika.


"Mom, maaf. Barusan Mario ...." Sejujurnya Mario pun malu karena dipergoki.


"Sst. Sudah. Lain kali lihat tempat, dan pastikan pintu maupun jendela tertutup rapat. Paham?" nasihat Mommy.


Mario mengangguk sambil tersenyum canggung. Lantas, dia menyusul langkah Anjani menuju kamar. Di kamar, Anjani terkejut dengan pemandangan kamarnya yang sungguh berbeda.


"Kenapa banyak sekali mawar putih?" Anjani mengedarkan pandang ke seluruh bagian kamar.


Mario menutup pintu kamar. Dihampirinya sang istri, lantas mendekap tubuhnya dari belakang.


"Bukankah mengingatkan pada masa-masa dulu saat cinta kita masih sama-sama terpendam?" bisik Mario.


"Benar. Sekarang, aku sungguh bersyukur karena cinta kita bisa tersatukan dalam ikatan pernikahan."


Anjani balik badan lantas menatap mesra manik mata Mario. Spontan saja Mario membalas tatapan Anjani yang mulai terasa jadi candu baginya. Diusapnya pelan pipi Anjani, lantas mengecup keningnya dengan lembut. Kecupan demi kecupan terus menjalar hingga ke bagian leher Anjani. Hingga kemudian ....


Tok-tok-tok


"Anjani, Sayang!" panggil Mommy Monika.


Mario-Anjani terperanjat. Mario tepuk jidat. Sementara Anjani cepat-cepat membenahi jilbabnya, lalu keluar menemui Mommy Monika.


"Iya, Mom. Ada apa?" tanya Anjani begitu membukakan pintu kamar. Mario juga menyusul langkahnya kemudian.


"Bisa bantu Mommy pilih gaun untuk persiapan pernikahan Rangga-Alenna? Mommy sudah pilih butik yang cocok. Nanti setelah belajar ngaji, kamu ikut Mommy pergi ya?" pinta Mommy Monika.


Anjani tak langsung menjawab. Dia melihat Mario sambil tersenyum penuh harap. Anjani sadar, dia bisa pergi jika Mario mengizinkan. Kini Anjani mencoba merayu Mario lewat tatapan matanya.


"Baiklah. Kamu boleh pergi, tapi tidak lebih dari jam delapan malam harus sudah pulang." Mario mengingatkan.


Mommy Monika langsung tertawa ringan. Mommy tahu bahwa anak dan menantunya itu sudah berencana merangkai malam indah berdua saja. Terlihat jelas dari wangi mawar dan beberapa buket bunga yang tidak sengaja dilihat saat Anjani membuka pintu tadi.


Anjani menurut. Dia lekas bebersih diri. Begitu selesai sholat ashar, Anjani membantu Mommy belajar mengaji. Selepas empat puluh menit, Anjani dan Mommy Monika pun pergi menuju butik.


***


Pukul 8.15 malam. Mario duduk di sofa ruang tamu menunggu kedatangan Anjani dan Mommy Monika. Selama istri dan mommynya pergi, Mario bahkan berhasil menyelesaikan tugas-tugas kuliah, membantu mengecek perkembangan ruko dan olshop sepatu, bahkan mengecek email-email yang dikirimkan Paman Li dan ayahnya.


"Kemana saja mereka pergi?" gumam Mario. Jemari tangannya masih lincah membalas pesan yang dikirim Paman Li beberapa menit lalu.


Dering penanda panggilan terdengar lirih. Bukan dari Anjani, melainkan dari Paman Li. Bergegas Mario menerima panggilan itu dengan didahului salam dan berbalas kabar.


"Mohon maaf, Tuan Muda. Amanda sudah memberi kabar pada saya terkait transferan dana ke rekening pribadi Daniel. Tim khusus sudah digerakkan, tinggal menunggu waktu sampai Daniel terpojok. Tuan Mario bisa tetap mendekatinya, karena sampai saat ini Daniel tidak menyadari kalau ada tim pengintai yang mengawasinya di luar perusahaan," terang Paman Li panjang lebar.


"Baik, Paman. Oya, apa Alenna baik di Jakarta?" tanya Mario.


"Insya Allah. Tapi posisi saya sekarang ada di Surabaya. Nona Alenna bersikukuh menyuruh saya menengok keluarga saya. Maaf, Tuan. Meski saya senang bisa bertemu dengan keluarga, tapi saya mengira ada sesuatu yang direncanakan Nona Alenna. Karena saya khawatir, jadi saya suruh beberapa bodyguard untuk menjaga Nona Alenna di Jakarta. Tapi ..." Kata-kata Paman Li terjeda.


"Apa Alenna berniat pulang ke Jember diam-diam?" tebak Mario.


"Benar sekali, Tuan. Laporan terakhir yang saya terima, Nona Alenna sudah memesan dua tiket pesawat untuk penerbangan Sabtu pagi." Paman Li tidak menutup-nutupi.


Mario terdiam. Dia tidak kaget. Sikap Alenna sudah sangat dia hafal. Dugaan Mario mengarah kuat bahwa Alenna akan bertemu Rangga, membahas pernikahan mereka. Tapi, benarkah tujuan Alenna diam-diam ke Jember untuk bertemu Rangga sesuai prediksi Mario? Atau ... untuk menegur Juno yang sudah berani bermain cinta dengan Ranti?


"Besok aku juga akan diam-diam menyambut Alenna di bandara. Terima kasih atas infonya, Paman." Mario tersenyum. Dia bahkan berencana mengajak Rangga. (Selengkapnya di novel Ikatan Cinta Alenna)


"Oya, Tuan. Maaf. Saya harus menyampaikan ini. Mata-mata memberi info bahwa Daniel beberapa kali menyebut nama Nona Anjani. Dugaan kuat Daniel memiliki ketertarikan khusus pada Nona Anjani. Mengingat juga Daniel sudah lama pisah ranjang dengan istrinya. Sebaiknya Tuan Mario waspada juga," pesan Paman Li.


Dari semua kabar yang dibawa Paman Li, kabar terakhir inilah yang membuat Mario geram. Tangannya bahkan sampai mengepal. Lekas tersadar, Mario pun meredam emosinya. Kembali Mario berterima kasih pada Paman Li sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.


"Sepertinya istriku terlalu memesona hingga banyak yang mengaguminya. Untung saja akulah orang beruntung yang berhasil menikahinya," gumam Mario seraya menyandarkan kepala di sofa.

__ADS_1


Pukul 8.30 malam, akhirnya yang ditunggu pun datang. Anjani lekas meminta maaf atas keterlambatannya karena harus antri lama menunggu pesanan martabak.


"Mario, Anjani. Makan saja martabaknya di kamar. Mommy mau istirahat dulu, ya." Mommy Monika pamit.


Anjani tersenyum sambil menenteng bungkusan martabak.


"Mau makan ini sambil nonton TV berdua?" tawar Anjani.


"Kata orang, kalau makan di depan TV kurang nikmat. Lagipula kamu pasti capek seharian ini. Duduk-duduk di sofa kamar aja, yuk. Sambil makan, sambil santai." Mario beralasan.


"Baiklah. Ayo!" Anjani menggandeng lengan Mario menuju kamar.


***


Mario mempersilakan Anjani mandi dan berganti baju. Sementara Anjani sibuk di dalam sana, Mario menghabiskan martabaknya seorang diri. Bersih tak tersisa. Sengaja, agar nanti Anjani tidak berlama-lama dengan martabaknya.


"Ouuh. Kok dihabisin, sih!" protes Anjani yang baru saja selesai mandi.


Mario menyunggingkan senyum tanpa dosa. Tangannya menepuk pelan sofa, memberi isyarat pada Anjani untuk segera duduk bersamanya.


"Apa kamu lapar? Maaf, tadi tidak menemanimu makan malam." Anjani duduk dan langsung menyandarkan kepalanya di bahu Mario.


Mario melingkarkan tangannya. Membuat Anjani semakin nyaman bersandar di bahunya.


"Sudah tidak lagi. Apa kamu tadi sempat makan malam bersama Mommy?" Mario khawatir istrinya itu belum makan malam.


"Sudah, kok."


Anjani mengeratkan pelukannya sambil tetap bersandar. Di luaran sana hujan mulai turun. Membuat hawa dingin menyeruak masuk begitu saja. Mario pun membalas pelukan Anjani. Dihempaskannya jauh-jauh beban di pundak untuk sejenak.


"Oh iya. Lupa!" Anjani melepas pelukannya dan langsung duduk tegak. "Aku kan tadi mau tanya sama Meli nama pusat oleh-oleh bakpia di Jogja. Mau chat bentar, deh!" Anjani bersiap mengambil smartphone tapi lebih dulu dicegah Mario.


"Ini sudah malam, Sayang. Jangan ganggu mereka. Pastilah mereka sedang menikmati malam berdua seperti kita saat ini. Meli dan Mas Azka juga masih pengantin baru, sama seperti kita. Jadi ..." Mario menarik pelan tubuh Anjani hingga duduk di pangkuannya. "Mari kita nikmati malam kita," bisik Mario.


Satu kecupan mendarat di pipi kanan Anjani. Berlanjut di pipi kiri, di bibir, lantas berulang di leher Anjani.


Masih tetap duduk di sofa, Mario-Anjani memulai permainan mereka. Sementara Anjani menjambak pelan rambut Mario kala ciuman panas mereka berlangsung, tangan Mario mulai menanggalkan pakaian Anjani hingga dirinya memiliki akses penuh di area depan yang indah nan menantang. Mario menyapunya berulang, lantas meremasnya perlahan. Desahan Anjani benar-benar sudah tak terbendung lagi.


Di tengah hujan yang turun dengan derasnya, Mario-Anjani saling memadu kasih di atas sofa. Sama-sama berbalas kenikmatan hingga penyatuan keduanya berakhir dalam puncak yang memuaskan.


"Kamu lelah?" tanya Mario seraya membenahi anak rambut Anjani.


"Iya. Kita sih main di sofa," gumam Anjani sambil membenamkan wajahnya di leher Mario.


Mario tersenyum. Senyumnya semakin mengembang saat merasakan kecupan lembut Anjani di lehernya. Anjani juga menyapukan tangannya di dada bidang Mario.


"Aku tau kamu menginginkannya lagi, Sayang."


Tanpa aba-aba Mario lekas membopong tubuh Anjani dan membaringkannya di ranjang. Semerbak mawar semakin menguar. Harum, memanjakan. Mendukung penyatuan cinta kasih Mario-Anjani. Permainan diulang, Mario-Anjani pun larut dalam deru nafas dan desahan.


"Mau lagi?" tanya Mario.


"Sudah dua kali," lirih Anjani sambil mengusap peluhnya.


"Tidak apa-apa. Siapa tau nanti buah hati kita kembar," goda Mario sambil menarik pelan lengan Anjani hingga tubuh mereka kembali tak berjarak.


Anjani menatap mesra manik mata Mario. Sejurus, diyakinkannya sang suami agar lekas bersuci. Satu anggukan dicukupkan. Mario-Anjani pun masuk ke dalam kamar mandi. Berniat mandi bersama, tapi nyatanya kembali bermain di dalam sana.


"Aaa ... hemm ... "


"Aku tau kamu menyukainya," bisik Mario tanpa menghentikan permainannya.


Anjani keenakan karena begitu dimanja. Semakin lama mereka berdua semakin bergairah. Desah dan deru nafas memburu di bawah pancuran air. Basah-basah berdua. Mencapai puncak kenikmatan bersama. Berdua melewati malam, tanpa gangguan.


Bersambung ...

__ADS_1


Ikuti juga kebersamaan Meli dan Azka di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung karya kami 😉 Terima kasih sudah mampir dan membaca.



__ADS_2