CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Mari Bersaing!


__ADS_3

Warung Paman Sam siang itu tidak begitu ramai seperti saat pagi. Setelah melayani satu pembeli dan memastikan tidak ada pembeli lain yang mengantri, Paman Sam mengambil smartphone yang sedari tadi diletakkan di samping timbangan. Jempol tangan Paman Sam mulai mengetik pesan, kemudian mengirimkan pesan itu pada kakaknya di desa, yang tidak lain adalah ibu dari Anjani, Ma.


Usai mengirim pesan, terlihat ada dua pembeli lagi datang ke warung. Paman Sam gesit dan ramah melayani pembelinya. Selesai dengan para pembelinya, Paman Sam segera melihat smartphone miliknya lagi. Tertulis di layar 1 panggilan tak terjawab dari kakaknya. Cepat-cepat Paman Sam meneleponnya balik.


"Halo, Kak. Sudah baca pesan adik kau ini? Gimana menurut kau tentang Anjani?" tanya Paman Sam via telepon.


"Kalau aku setuju-setuju saja. Malah Anjani sudah mau kunikahkan sejak lulus SMA, yang akhirnya malah kabur ke kota. Tak mau lagi aku main jodoh-jodohin, deh. Mending Anjani pilih sendiri. Meski tak jadi sama Juno anak Pak Kades juga tak apalah. Kalau sudah sama-sama suka segera jadikan, takut kalau terlalu lama bisa ada fitnah," jelas Ma panjang lebar via telepon.


Rupanya Anjani mendengar. Kebetulan juga Paman Sam terbiasa menghidupkan loudspeaker panggilan telepon. Diam-diam Anjani mengendap dan bersembunyi di balik tumpukan karung beras sambil menguping pembicaraan Paman Sam dan Ma di desa via telepon. Anjani benar-benar penasaran saat itu.


"Begitu menurut kau, Kak? Tapi Anjani masih kuliah? Harus sarjana dia," kata Paman Sam melanjutkan obrolannya dengan Ma.


"Ya apa salahnya, Sam. Anjani bisa dapat gelar sekaligus suami, dan aku bisa dapat cucu. Hehehe," jawab Ma terkekeh.


"Hem, tetiba aku jadi ragu kalau Anjani menikah muda," jelas Paman Sam.


"Hei, Sam! Tak ingat kau, ya? Bukankah kau dulu malah menikah saat masih SMA, he? Pakai acara kabur sama do'i segala. Tak ingat kau siapa yang dulu berjuang agar pernikahan itu jadi? Kacau kali kau dulunya sampai jadi preman di kota." Ma mengungkit masa lalu Paman Sam.


"Ya-ya, itu sudah masa lalu, Kak. Malu kali aku, jangan dibahas lagi. Sekarang aku sudah jadi baik. Hehe. Oke kalau memang begitu. Aku sudah siap menyambut lelaki yang akan datang malam ini," jawab Paman Sam.


"Nah, kuserahkan pada kau. Pastikan calon Anjani lelaki baik-baik dan bukan preman macam kau dulu," imbuh Ma.


"Iya-iya," sahut Paman Sam.


"Oh ya, siapa memang yang mau meminta Anjani buat jadi istrinya? Siapa namanya? " tanya Ma.


"Mana kutahu! Anjani tak bilang sama aku, Kak. Nanti malam saja kutanyakan sambil ketemu langsung. Sudah ya kalau begitu teleponnya aku tutup, nih?" tanya Paman Sam.


"Ya. Salam buat putriku tersayang!" seru Ma, kemudian menutup teleponnya.


Tut-tut-tut.


"Hem, baiklah. Masak apa ya buat nanti malam?" gumam Paman Sam setelah sambungan telepon tertutup.


Tepat sekali, setelahnya ada pembeli datang ke warung Paman Sam. Anjani memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mengendap-endap dan masuk lagi ke kamarnya. Anjani bergegas menuju kamar dan meloncat-loncat karena girang.


"Ah, rasanya seperti mimpi saja," kata Anjani sambil berdiri di depan cermin.


Anjani memang bahagia. Siapa yang tidak bahagia saat merasakan cinta. Rasa yang membuncah dalam hati membuat Anjani tidak bisa mengendalikan senyumannya. Berulang kali Anjani senyum-senyum sendiri.


Rasa yang membuncah dalam dada Anjani mendadak samar, lantaran Anjani teringat satu hal. Ada satu kejujuran yang belum tersampaikan, yaitu tentang ayah Anjani, tentang kondisi keluarganya yang tidak lagi utuh.


"Mario sudah jujur tentang kondisi keluarganya. Harusnya aku juga," gumam Anjani.


Mendadak rasa gelisah kini singgah di hati. Anjani menebak-nebak ekspresi yang akan ditunjukkan Mario saat tahu tentang kondisi keluarga Anjani. Mario akan menerima semua dan memaklumi, seperti kondisi ayah-ibu Mario, dan Anjani yakin itu. Hanya saja saat semua belum sempat tercurah, membuat suatu beban yang kurang nyaman dirasa.


"Aku harus menemui Mario sore ini, sebelum dia ke rumah menemui paman," kata Anjani mantap.

__ADS_1


***


Sementara itu di perusahaan


Mario memeriksa beberapa dokumen laporan yang baru saja dikirimkan karyawannya. Beberapa dokumen merupakan laporan prosentase minat pasar terhadap produk sepatu keluaran perusahaannya. Dokumen lain merupakan laporan persiapan peluncuran produk sepatu desain terbaru. Mario memeriksa semua dokumen laporan dengan seksama, meneliti, sekaligus memberi garis bawah untuk tindak lanjutnya.


Usai berkutat dengan dokumen-dokumen, Mario memberikan hasil evaluasinya kepada sekretarisnya sekaligus memberi perintah tindak lanjut yang harus dilakukan oleh karyawan terkait. Sekretaris Mario dan Leon tidak lain adalah Alenna.


"Sudah paham?" tanya Mario usai menjelaskan apa-apa saja yang harus dilakukan oleh Alenna.


"Siap, Bos. Eh, by the way dari tadi kenapa senyum-senyum terus? Langka, nih. Senang ya karena dapat restu dari ayah buat nikah? Cie," goda Alenna.


Mario rupanya tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Mario tersenyum mendengar penuturan Alenna, bahkan sampai mengacungkan jempol kanannya.


"Pajak nikahnya es jeruk wadah plastik seminggu, ya. Kalau nggak mau nanti biar aku palak Anjani," canda Alenna.


"Itu bisa diatur. Sekarang lanjutkan pekerjaanmu," kata Mario, lalu melangkah menuju ruangannya kembali.


Leon sedari tadi rupanya menguping pembicaraan Mario dan Alenna. Saat tahu Mario kembali ke ruangan, Leon cepat-cepat kembali ke mejanya sambil berlagak sibuk memeriksa dokumen.


"Mario, semua dokumen sudah selesai kamu periksa?" tanya Leon.


"Hm," jawab Mario singkat.


"Good job. Kalau begitu kita adakan pertemuan malam ini," imbuh Leon.


"Acara?" tanya Leon memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.


Leon beranjak dari kursi, kemudian berjalan perlahan menuju meja kerja Mario. Persis di depan meja Mario, Leon bersedekap sambil mendekatkan wajah mengucapkan sesuatu pada Mario.


"Mau kencan, ya?" tanya Leon.


Mario hanya melirik Leon sekilas, lalu kembali melihat-lihat beberapa tumpuk kertas yang merupakan tugas kuliahnya. Mario memang pandai mengatur waktu antara pekerjaan kantor dan tugas kuliahnya.


"Hei, jawab dong!" seru Leon kemudian terkekeh pelan.


"Apa masalahmu, Leon?" tanya Mario.


"Oh, santai Mario. Cobalah memasang ekspresi wajah lebih ramah terhadapku," pinta Leon sambil kembali berdiri tegak tapi tetap bersedekap.


Mario menyunggingkan senyum sambil melihat ke arah Leon. "Apa maumu, Pak Leon?" tanya Mario dengan nada dibuat ramah.


"Nah, seperti itu, dong. Mauku cuma satu. Kamu jauhi Anjani, karena aku menyukainya!" tegas Leon.


"Ck. Tidak perlu repot-repot menyukai Anjani. Aku akan segera menikahinya," jelas Mario percaya diri.


"Itu dia. Karena masih segera, maka aku masih punya kesempatan untuk mendekatinya. Mari bersaing!" tegas Leon kemudian balik badan.

__ADS_1


Brak!


Mario menggebrak meja kerjanya. Namun, itu tidak berarti apa-apa bagi Leon. Hubungan Mario dan Leon memang kurang baik, meski orangtua mereka adalah sahabat dekat. Semua karena karakter mereka yang seolah bertolak belakang dan selalu saja ada beda paham semenjak ayah mereka memperkenalkan mereka berdua. Meski demikian, masalah pribadi tak pernah disangkut-pautkan dalam urusan kerja. Baik Leon ataupun Mario sama-sama bisa profesional. Itulah alasan anak perusahaan yang mereka pimpin berkembang pesat.


***


Sore pun tiba. Anjani menyempatkan diri menemui Mario di kantornya. Anjani tidak masuk ke dalam gedung bertingkat itu. Menunggu di parkiran menjadi pilihan terbaik baginya.


"Maaf membuatmu menunggu," sapa Mario yang baru sampai di parkiran.


"Tidak apa-apa. Maaf juga karena mengganggumu," kata Anjani sedikit malu-malu, karena belum terbiasa bertatap-tatapan dengan Mario.


Mario tersenyum, lalu mencubit gemas pipi kanan Anjani.


"Ada apa?" tanya Mario sambil tersenyum.


"Em, aku .... Aku itu. Aku-aku ...." Anjani terbata, karena bingung mau menjelaskan darimana.


"Hei, katakan saja. Jangan ragu," pinta Mario menenangkan hati Anjani.


"Aku ingin kamu tahu tentang ayahku. Dia ...." Kata-kata Anjani terputus karena jari telunjuk Mario terarah ke bibir Anjani.


"Sst. Tidak perlu dijelaskan, Anjani. Aku tidak ingin sore ini melihat air matamu jatuh karena menceritakan masa lalu," tutur Mario dengan nada menenangkan.


Seketika bola mata Anjani berbinar. Sempat akan mengeluarkan air mata, tapi urung karena tatapan Mario di hadapannya. Anjani tersenyum, lalu mengangguk pelan.


"Tidak perlu diceritakan lagi, karena aku sudah tahu," terang Mario sambil mengusap pelan pipi Anjani lantaran air mata yang sempat tertunda akhirnya jatuh juga membasahi pipinya.


"Tahu dari mana?" tanya Anjani dengan nada serak. Anjani memang telah menahannya sejak sebelum bertemu Mario di kantornya.


"Aku tahu dari Ma," jelas Mario.


"Ma? Ke-kenapa bisa? Kapan tahunya?" tanya Anjani beruntun karena kaget sekaligus penasaran.


"Aku ceritakan nanti-nanti, ya. Aku suka melihat ekspresi wajahmu yang penasaran seperti ini. Hehe." Mario tertawa pelan.


Anjani ikut terkekeh pelan. Meski Anjani tidak menjelaskan apa pun, tapi dirinya lega karena sudah memberanikan diri berterus terang dan mencoba membahas tentang ayahnya. Ya, meskipun ternyata Mario sudah tahu lebih dulu dari Ma.


"Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu," pamit Anjani sambil tersenyum malu-malu.


"Aku akan datang malam ini. Hati-hati," kata Mario.


Anjani mengangguk, tersenyum, melambaikan tangan, lalu pulang.


***


Nantikan lanjutannya, ya. Beri kritik saran buat author juga, dong. Vote juga boleh 😊💕 Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2