CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Perasaan Yang Tersampaikan


__ADS_3

Aroma telur dan ikan pindang tercium jelas. Mario merasakan lengket di area wajah. Sungguh tidak nyaman. Kedua mata Mario masih terpejam, sembari tetap berdiri mematung.


“Aduh-duh-duh. Nak Mario, Ma sungguh tak sengaja.” Ma merasa bersalah.


Mario berusaha tersenyum. Meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja setelah wajahnya menjadi landasan wadah berisi ikan pindang dan adonan telur dadar.


“Mas Joko. Gara-gara kau ni!” Tangan Ma yang memegang centong nasi teracung pada suami yang telah lama meninggalkannya.


“Bu-bukan salahku. Kau saja yang tidak kira-kira.” Joko, ayah Anjani itu membela dirinya.


Merasa akan terjadi keributan, Mario membuka kedua matanya, berniat mendamaikan keduanya.


“Ma, apa ada tisu?” tanya Mario lebih dulu.


“Maaf, Nak. Tidak ada tisu. Pakai serbet (lap kain) saja, ya. Eh, tapi ini bekas lap panci. Gimana pula, nih. Tunggu-tunggu di sini.” Ma berlarian menuju dapur.


“Nak Mario, apakah istriku akan kembali menerimaku?” tanya Joko ragu-ragu.


“Insya Allah, Ayah Mertua.” Mario telah membuat panggilan khusus untuk ayah kandung Anjani.


“Hah. Bismillaah. Aku yakin kehadiran calon mantuku ini menjadi penghubung jalanku kembali bersatu dengan keluargaku.” Joko meyakinkan dirinya sendiri.


Mario tersenyum. Sejak pukul tujuh pagi tadi dia tiba di desa tempat Ma tinggal. Mumpung Sabtu, kuliah libur, Mario memanfaatkannya untuk berikhtiar menyatukan keluarga Anjani.


Sejauh ini Mario sukses menjalankan pendekatan kepada ayah kandung Anjani. Joko, ayah kandung Anjani itu sudah tahu perasaan Mario pada putrinya. Mario bahkan diizinkan memanggilnya dengan sebutan ayah mertua.


Setibanya di desa, reaksi Ma sungguh di luar dugaan. Saat melihat wajah sang suami yang telah lama meninggalkannya, Ma memaki-makinya. Amarah terlihat jelas. Puncaknya, wadah berisi adonan telur dadar dan ikan pindang meluncur, tapi justru mendarat di wajah tampan Mario.


“Nak Mario. Ini, bersihkan pakai ini dulu. Setelah ini lebih baik Nak Mario cuci muka dulu biar bau amisnya tak menyengat pula. Ma minta maaf, ya Nak.” Ma masih tidak enak hati.


“Terima kasih, Ma. Ini bukan masalah.” Mario mulai membersihkan wajahnya dengan lap.


Sembari menunggu Mario, Ma menatap tajam ke arah suaminya. Seolah ada dendam yang hendak dibalaskan. Tatapan dingin dan mengancam itu membuat Joko bergidik ngeri. Nyalinya menciut.


Mario menyadarinya. Diperhatikannya mimik wajah Ma dan Joko bergantian. Mario geleng-geleng kepala.


“Ma, ayah mertua ke sini ingin menyampaikan permintaan maafnya. Niat beliau baik, ingin kembali bersatu dengan keluarga yang masih begitu dicintainya.” Mario menjelaskan dengan nada menenangkan.


“Kalau cinta keluarga kenapa pula harus mendua. Ninggalin Anjani yang jelas-jelas butuh kasih sayang seorang ayah.” Curhat Ma tiba-tiba dengan nada kesal. “Nak Mario, kenapa pula panggil lelaki busuk ini dengan sebutan ayah mertua? Tak pantas sama sekali.” Ma kembali melirik tajam ke arah Joko.


“Selalu ada kesempatan kedua. Mario begitu yakin dengan kekuatan cinta keluarga ini.” Mario tersenyum. “Mario permisi basuh muka dulu, ya.” Mario pamit, sengaja meninggalkan Ma dan Joko berdua.


Terdiam. Tiada kata terlontar. Ma dan Joko sama-sama bungkam. Dalam diam mereka, keduanya larut dalam pemikiran-pemikiran. Ma mulai mencerna kata-kata Mario.


Kasian pula Anjani, lama tak merasakan kasih sayang ayahnya. Kalau aku memaafkan, apa putriku itu akan mau menerima kehadiran ayahnya lagi? Pikir Ma. Galau.


Joko mengumpulkan nyalinya untuk memulai obrolan. Kemarin dia sudah berlatih bersama Mario untuk meminta maaf pada istrinya. Namun, begitu tahu amarah sang istri yang telah lama ditinggalkannya, Joko kembali berkecil hati.


“M-ma-maaf.” Satu kata berhasil meluncur dari mulut Joko dengan terbata.


Ma mendongak. Tatapan matanya melembut. Tidak garang seperti tadi.


“Coba kau ulangi dengan betul!” perintah Ma.


“Maaf,” kata Joko dengan tegas, serius, dan tidak lagi terbata. “Maafkan kebodohanku. Maafkan aku yang telah menyia-nyiakan cinta keluarga ini. Maafkan aku yang telah membuatmu menangis di hari itu. Maafkan aku yang telah membuatmu merawat putri kita sendirian.”


Ada jeda. Dada Joko sesak, matanya berkaca-kaca. Dia sungguh menyesal. Tak ingin terlihat terlalu rapuh di depan wanitanya, kepala Joko tertunduk. “Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf.” Kata-kata itu terus meluncur tanpa henti.


Hati Ma tersentuh. Ma bisa merasakan penyesalan suaminya. Ma bahkan tahu bahwa hati sang suami sedang menangis pilu sembari mengucapkan kata maaf itu. Melihatnya membuat Ma menitihkan air mata. Tak lagi dapat dibendung. Tangis Ma pecah.


Joko mendongakkan kepalanya. Kini dia bisa melihat jelas wanitanya menangis sesenggukan. Ingin sekali Joko mendekat, menyandarkan kepala wanitanya di dada bidangnya. Memberinya rasa nyaman dan menenangkan hatinya. Namun, apalah daya. Kehadirannya masih belum diterima.


“Aku sungguh minta maaf.” Sekali lagi Joko mengucap maaf, dengan serius, juga tulus.


“Mas Joko. Apa kau masih menyayangi Anjani, anak kita?” tanya Ma saat sudah bisa mengendalikan tangisnya.


“Iya. Aku menyayangi putri kita. Bahkan beberapa minggu terakhir ini aku terus mencari keberadaannya, untuk meminta maaf. Hampir rasanya aku putus asa, hingga Nak Mario datang membawa harapan. Aku bersyukur Anjani bisa dicintai oleh lelaki baik seperti Nak Mario.” Joko larut dalam curhat dan rasa syukurnya karena bisa bertemu Mario.


Ma mengangguk-angguk setuju. Ma juga merasakan ketulusan cinta Mario pada putrinya.


“Lalu, apa kau masih mencintai istri yang telah kau duakan ini?” tanya Ma lagi.


“Tentu saja. Aku mencintaimu istriku. Aku sungguh minta maaf atas kejadian di masa lalu. Izinkan aku untuk kembali membahagiakanmu. Menua bersamamu.” Ketulusan terpancar dari setiap kata-kata Joko.

__ADS_1


Air mata Ma kembali mengalir deras. Dia tersentuh. Masa lalu memang pahit. Ma mencoba berdamai tapi tidak pernah mencoba mengobati luka masa lalunya. Kini, lelaki yang membuatnya terluka kembali dan menawarkan cinta, juga membawa obat hati. Jauh di dalam hati, Ma juga masih mencintainya. Ma bahkan pernah berangan agar keluarganya kembali utuh seperti sedia kala. Ada Anjani, dirinya, dan sang suami. Rupanya, angan-angan itu mulai terwujud perlahan hari ini.


“Mas. Aku memaafkanmu,” kata Ma.


Mata Joko membulat. Perlahan senyumnya merekah. Binar matanya yang sendu berganti rasa syukur dan bahagia.


“Su-sungguh?” Joko seolah sedang bermimpi.


“Iya. Aku memaafkanmu,” terang Ma meyakinkan.


Joko seketika berdiri. Melangkah menghampiri Ma. Didekapnya tubuh Ma penuh cinta. Ma membalas pelukan suaminya dengan mesra. Hati keduanya sama-sama diselimuti cinta.


“Terima kasih, Sayang.” Joko mencium kening Ma.


“Bolehkah kita mesra seperti ini?” tanya Ma.


“Kenapa? Bukankah aku tidak pernah menceraikanmu?” Joko tersenyum.


“Hem. Mas, aku ingin memperbarui pernikahan kita, karena sudah sekian tahun lamanya diri ini seperti janda. Ayo kita ke penghulu setelah meyakinkan Anjani tentang keluarga ini,” pinta Ma.


“Tentu saja, Sayang. Aku ingin putri kita memaafkanku. Aku sungguh ingin melihatnya tumbuh semakin dewasa dengan Nak Mario dan cucu-cucu kita nanti.”


“Aku mencintaimu, Mas.” Ma kembali memeluk suaminya.


“Aku juga mencintaimu. Tidak peduli sudah seberapa tua umur kita. Aku benar-benar mencintaimu, dan tak akan pernah sungkan untuk terus mengungkapkan cinta ini.”


Mario terharu menyaksikan kemesraan calon mertuanya, ayah dan ibu Anjani. Sebenarnya Mario sudah selesai membersihkan wajahnya sejak tadi. Dia memilih memperhatikan dari balik gorden. Membiarkan ayah dan ibu Anjani menyelesaikan masalahnya sendiri. Mario hanyalah perantara. Dia bersyukur telah menyelesaikan satu misinya. Selanjutnya Mario berniat mengatur pertemuan Ma, Joko dan Anjani. Kembali berikhtiar untuk benar-benar menyatukan keluarga Anjani.


***


Di kota.


Meli riang melangkah menemui Anjani di rumahnya. Riasan wajah tipis menghiasi wajah cantiknya. Sejak menjadi istri Azka, Meli rajin merawat dirinya. Hingga saat pertemuaannya dengan sang suami nanti tiba, Meli berharap bisa membuat senang hati Azka dengan penampilannya.


“Meli, ayo duduk.” Anjani menyambut sambil membawa dua gelas minuman. Meli sudah memberi tahu kalau mau datang pagi itu.


“Langsung kuminum, nih. Eh, cemilannya mana?” Meli celingak-celinguk.


“Eh, aku ambilkan dulu.” Anjani beranjak, tapi langsung dicegah.


Sebenarnya Anjani sudah tahu kalau Meli sedang bercanda. Anjani sengaja menggoda Meli balik. Satu cubitan gemas lekas mendarat di hidung Meli.


“Iya, terusin. Biar makin mancung hidungku. Haha.” Meli terkekeh.


“Eh, kamu beneran ke Jogja hari ini?” tanya Anjani, menyambung obrolan di telepon tadi.


“Iya, mau njenguk eyang. Eyang lagi sakit,” jelas Meli.


“Cuma jenguk Eyang Probo saja? Nggak ketemu sama suamimu?” tanya Anjani lagi.


“Ya ketemulah. Mas Azka yang memintaku ke sana.” Meli tersenyum ceria saat menyebut nama suaminya.


Anjani seketika mengimbangi senyum Meli. Kedua alisnya dimainkan. Dia berniat menggoda Meli.


“Ehem. Sepertinya kalian berdua sudah punya niatan mau membuatnya di Jogja, ya?” goda Anjani.


“Membuat apa?” tanya Meli polos.


“Membuat anak,” terang Anjani tanpa basa-basi.


Meli melongo. Seketika Meli salah tingkah. Pipinya merona.


“Eng-enggak. Aku sama Mas Azka di Jogja cuma mau jenguk eyang, kok. Sama kangen-kangenan juga. Kan sudah lama nggak ketemu Mas Azka dan keluarganya.” Pipi Meli masih merona.


“Terus kalau Mas Azka tiba-tiba memintamu bagaimana? Masa kamu mau nolak pakai alasan cuma mau jenguk Eyang Probo sama kangen-kangenan juga?” Anjani semakin semangat menggoda sahabatnya yang polos itu.


“Em, ya itu sih terserah Mas Aza. Aaaaa, Anjani. Kok jadi bahas ini sih. Aku maluuuuu!” Meli menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Anjani terkekeh. Dia sudah berhasil menggoda sahabatnya.


“Ya sudah. Hati-hati di jalan, ya. Naik pesawat, kan?” tanya Anjani.


“Iya, naik pesawat. Eh Anjani, jangan lupa untuk menjaga jarak dengan Kak Rangga. Aku tidak bisa bersamamu. Semoga saja Kak Mario segera mewujudkan niatannya. Jadi kamu biar nggak ditaksir banyak cowok lagi,” terang Meli.

__ADS_1


“Tenang saja, Mel. Yasudah, mending kamu tidak berlama-lama di sini biar bisa bersiap dan menyiapkan hati, pikiran, dan tubuhmu untuk suamimu.” Nasihat Anjani.


Pipi Meli kembali merona. Daripada lebih salah tingkah, Meli memutuskan untuk menurut dan kembali pulang ke rumahnya.


***


Usai sholat dhuhur, Anjani kembali membantu Rangga dan Ken packing orderan sepatu via olshop. Toko ditutup, karena orderan membludak dan tenaga jaga toko berkurang. Meli ke Jogja, Dika izin karena kedatangan orangtuanya di kosnya, sedangkan Mario beralasan ada urusan di luar kota.


“Kak Ken, yang dipegang itu benar size 40?” tanya Anjani mengecek.


“Betul. Bukankah tadi kau sudah bertanya?” Ken terheran. Anjani terlihat kurang fokus.


“Maaf, ya Kak. Hehe.” Anjani jujur kalau kurang fokus.


“Ini minumlah dulu. Kalau capek jangan dipaksakan, Anjani. Istirahatlah dulu.” Rangga tersenyum, nadanya begitu ramah.


“Terima kasih, Mas.” Anjani menurut, lalu meneguk minumannya.


Ken sedari tadi memperhatikan sekaligus menjadi saksi betapa Rangga sangat peduli dan perhatian pada Anjani. Ken tidak berhak untuk melarang Rangga menaruh perhatian lebih pada Anjani, meski khawatir Mario bisa cemburu. Ken menyadari bahwa sampai saat ini pun Mario-Anjani belum memiliki ikatan apa-apa. Jadi siapa pun berhak atas perasaannya, termasuk Rangga bahkan Juno sekalipun.


Anjani mengabaikan nasihat Meli untuk menjaga jarak dengan Rangga. Anjani sungguh terhibur dengan canda yang dibuat Rangga. Dekat-dekat dengan Rangga justru membuatnya sering tertawa bahagia. Bahkan obrolan yang dibuat Rangga sama sekali tidak membosankan. Anjani menikmatinya.


“Aku ambil kertas dulu di lantai dua,” pamit Ken yang menyadari kertas packing mulai menipis.


Ini kesempatanku, batin Rangga.


Rangga mengambil kesempatan itu untuk melancarkan rencananya.


“Anjani, aku ingin mengatakan sesuatu. Boleh?” Rangga berhati-hati memulainya.


“Katakan saja, Mas.” Anjani tersenyum ramah.


“Janji dulu tidak akan marah,” pinta Rangga.


“Hem? Memangnya Mas Rangga mau membuat lelucon yang membuatku marah? Lelucon macam apa itu?” Anjani terkekeh. Dia mengira Rangga akan membuat lelucon lain lagi.


Rangga menghela nafas pelan. Menenangkan hati, sekaligus menambah nyali.


“Kali ini bukan lelucon. Aku serius. Aku mau mengatakan sesuatu padamu.” Tatapan Rangga berbeda.


“Apa itu?” Anjani menangkap keseriusan di wajah Rangga.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


Rangga masih terdiam sambil terus menatap Anjani. Anjani mulai merasa tidak enak ditatap seperti itu oleh Rangga.


“Mas Rangga mau mengatakan apa? Katakan saja, Mas.” Anjani mendesak agar Rangga segera mengatakan.


“Aku menyukaimu,” kata Rangga serius.


Jedeeeer!


Dugaan Meli benar. Rangga punya maksud lain di balik sikap perhatiannya. Anjani sungguh tidak peka dan menganggap semua itu adalah sikap yang biasa. Sekarang, Anjani bingung harus bagaimana.


“Anjani. Aku menyukaimu,” ulang Rangga.


Anjani mematung. Panah cinta baru saja diarahkan kepadanya, dan panah itu dari Rangga.


“Maukah kau menikah denganku?” imbuh Rangga, serius.


Panah lainnya menghujam. Anjani semakin memantung. Bingung harus bagaimana.


Ken membelalakkan mata. Dia bisa mendengarnya dengan jelas dari anak tangga. Ken mendengar ungkapan cinta Rangga pada Anjani. Cepat-cepat Ken mengeluarkan smartphone dan mengirim pesan pada Mario.


Hati Mario memanas begitu membaca pesan dari Ken. Dia baru saja tiba dari desa. Mario langsung menghidupkan mesin mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ruko.


Bersambung ….


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Hehe. Nantikan lanjutannya, ya. Vote novel ini dong. Hihi.

__ADS_1


Yuk, kepoin Meli dan Azka di Jogja. Kunjungi novel karya Kak Cahya sekarang juga. SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung kami berdua, ya. Like, Vote, dan tinggalkan jejak komnetar kalian. Insya Allah dukungan kalian akan menambah semangat author. See You. Barakallah. 😉



__ADS_2