CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Si Dalang


__ADS_3

Jumat pagi. Berharap keberkahan menghampiri. Mario-Anjani mengawali pagi dengan berbagi rizki. Membuat beberapa kotak makanan, dan dibagikan kepada orang-orang yang melintas di pinggir jalan. Makanan itu tidak dipesan, melainkan dimasak sendiri oleh Anjani, Mommy Monika, dan tentunya dibantu oleh juru masak di rumah itu.


Mario mendukung niatan baik Anjani. Meski sempat memberi saran agar makanan yang dibagikan sebaiknya dipesan, pada akhirnya Mario justru sukarela membantu menyiapkan kotak makanan.


"Sebelum menikah denganku, apa kamu sering bersedekah seperti ini?" tanya Mario.


"Iya. Apalagi sejak Paman Sam menikah dengan Bibi Sarah. Kami rutin melakukan ini meski hanya beberapa bungkus saja." Senyum manis Anjani mengembang.


"Senangnya punya istri sholihah begini," puji Mario.


Senyuman Anjani mengembang. Begitu indah dipandang Mario.


"Semoga hari ini pun dipermudah. Sehingga si dalang penyebaran foto itu bisa segera ditemukan," doa Anjani. "Jadi, suamiku ini tidak bingung-bingung lagi. Nama baiknya juga bisa kembali. Aamiin," imbuh Anjani.


Mario semakin mengembangkan senyumnya. Dengan satu gerakan cepat, satu kecupan singkat mengikis jaraknya dengan bibir Anjani. Anjani yang kaget pun lekas menghadiahi Mario dengan satu cubitan gemas di perut.


"Aw! Cubitanmu nggak sakit lho, Sayang" Mario terkekeh. Pagi ini dia jahil betul. Sengaja, agar Anjani tidak terlalu mengkhawatirkan permasalahan dirinya.


"Nanti kalau ada yang lihat gimana?" protes Anjani dengan nada setengah berbisik.


"Nggak ada yang lihat. Paling yang mergokin kita cuma Mommy," ujar Mario tanpa memudarkan senyum jahilnya.


"Au deh. Ayo cepat selesaikan ini. Biar kamu bisa segera berangkat juga," saran Anjani.


"Kamu ada jadwal kelas?" tanya Mario.


"Hari ini tidak ada. Cuma tinggal upload satu tugas online saja. Em, hari ini izin ke ruko lagi, ya?" izin Anjani, hati-hati.


Sebenarnya Mario ragu hendak memberi izin lagi, entah itu ke kampus ataupun ke ruko. Selama si dalang belum ditemukan, dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Anjani menangkap kekhawatiran Mario.


"Sayangku jangan khawatir berlebihan dong. Sesungguhnya yang berlebihan itu tidak baik. Insya Allah aku baik-baik saja. Kamu tahu sendiri kan bagaimana cara Meli membelaku kemarin?" Anjani meyakinkan.


Mario mengangguk. "Aku senang kamu punya sahabat sebaik Meli," ungkap Mario.


"Em .... Sebenarnya, Meli sedang bersiap ke Jogja, sih. Akhir pekan ini Meli, Paman Roni, dan Bibi Fatimah pergi menjenguk Eyang Probo. Jadi, kemungkinan Meli tidak bersamaku. Hehe." Anjani akhirnya jujur juga.


"Apa kondisi Eyang Probo drop lagi, sehingga Meli sekeluarga ke sana?" tanya Mario.


"Kurang tahu juga. Meli tidak bercerita lebih. Meli cuma ngasih tahu kalau mau ke Jogja. Lagian, meski tanpa alasan pun mereka tetap bisa ke sana. Meli kan sudah jadi istrinya Mas Azka," terang Anjani.


"Bisa juga mereka sekalian silaturahmi dengan keluarga Jogja. Oya, Adit nggak ikut mereka?" tanya Mario yang seketika teringat anak angkat Roni dan Fatimah.


"Nggak mungkin ikut. Pasti Adit yang disuruh jaga rumah sini. Meli mana mau diusilin sama Adit pas lagi berduaan sama Mas Azka. Eh? Ups." Anjani seketika menutup mulutnya begitu sadar. (Selengkapnya tentang Meli dan Azka, baca di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR)


Senyum jahil Mario kembali ditampakkan. Anjani menangkap kejahilan yang akan dilakukan sang suami. Sebelum Mario sempat menggodanya. Anjani lebih dulu mengalihkan topik.


"Sudah-sudah. Sayangku yang ganteng, yang solih, dan pengertian. Aku izin ke ruko, ya?" Tatapan Anjani penuh harap.


"Ah. Kalau sudah kena tatapan itu jadi susah ngelarangnya. Iya. Kamu boleh pergi, tapi diantar sopir. Hati-hati, ya Sayang." Mario menatap mesra manik mata Anjani.


"Kamu juga hati-hati. Jika si dalang sudah diketahui, cari dulu alasannya apa. Jika memungkinkan untuk damai, lebih baik tidak diperpanjang hingga ke pengadilan apalagi sampai masuk penjara. Memaafkan itu jauh lebih baik," tutur lembut Anjani.


Mario paham betul bagaimana Anjani. Istrinya itu terlalu berbaik hati. Apalagi semenjak mampu mengatasi dendamnya dengan sang ayah yang sudah menelantarkan dirinya dan Ma, sejak saat itu Anjani selalu murah hati untuk memaafkan orang lain.


"Heeeem. Lihat nanti, deh. Kalau lagi mode geram ya aku tidak bisa dihentikan," goda Mario.


Anjani berkedip cepat. Tak percaya dengan ucapan sang suami. Begitu Anjani hendak menanggapi, eh Mommy lebih dulu menghampiri.


"Hayooo. Pantes lama. Ternyata suami jahilmu ini toh yang bantuin. Biar Momny yang gantikan. Mario, sebaiknya kamu segera bersiap. Ada anak buah ayah menunggu di halaman depan," terang Mommy Monika.


Mimik wajah Mario seketika berubah serius.


"Baik, Mom. Mario pamit bersiap dulu. Sayang, aku pergi dulu."


Anjani mengangguk. Ditatapnya punggung sang suami yang berlalu pergi. Dalam hati, Anjani berdoa agar langkah sang suami dipermudah dalam mengungkap sosok si dalang yang telah merusak citra baiknya.

__ADS_1


***


Di dalam sebuah mobil, di sekitaran area Dedaun Timur Raya, si profesional menunjukkan part penting dari rekaman CCTV. Dapat Mario lihat dengan jelas perawakan si pelaku penjambretan ponsel, juga motor beserta plat yang tertangkap jelas.


"Selanjutnya kami akan mengantar Tuan Mario bertemu dengan pelaku sabotase ponsel. Gun, jalankan mobilnya!" perintah si profesional pada sopir.


"Apa paman sudah mencoba mengorek keterangan darinya?" Mario bertanya usai beberapa menit mengamati ulang rekaman CCTV.


"Sudah. Orang ini memang terlibat. Si pembidik gambar Tuan dan Nona Vina juga sudah kami tangkap berdasarkan keterangan orang ini," terang si profesional.


Mario terkejut mendengarnya. Kinerja si profesional dan orang-orangnya terlalu cepat menurut Mario. Meski sudah lama tahu tentang orang-orang yang bekerja untuk ayahnya, tapi baru kali ini Mario mengetahui kinerja mereka secara langsung. Tak heran jika sang ayah selalu dapat mengorek informasi yang diinginkan dengan mudah. Di balik itu ada orang-orang profesional yang bisa diandalkan rupanya.


"Lalu, apa mereka mau menyebut nama Tuan mereka?" tanya Mario, memastikan lagi.


"Maaf, Tuan. Hingga saat ini mereka berdua bungkam. Kami berniat memaksa mereka buka mulut dengan kekerasan fisik, tapi kemarin Tuan Mario berpesan untuk tidak menggunakan kekerasan. Kami jadi berpikir ulang," aku si profesional.


"Baiklah. Kita coba pikirkan sebuah cara," kata Mario mencoba tenang.


Sepanjang perjalanan Mario memikirkan cara yang bisa digunakan untuk membuka kedok si dalang. Penat rasanya saat tak ada jalan yang bisa ditempuhnya.


"Caption di foto sangat menjelaskan bahwa sasarannya bukan hanya aku, tapi juga istriku. Pelakunya pasti menyimpan dendam pada kami berdua," pikir Mario.


Sejenak pandangannya terarah ke jalanan. Sementara pikirannya tetap berputar. "Cara baik-baik tidak bisa. Cara kekerasan tidak boleh dicoba. Tapi ... cara mereka untuk menjatuhkan citraku dan Anjani sungguh licik. Bagaimana jika aku juga bermain licik?" pikir Mario lagi.


Mario menghela nafas dalam. Dugaannya terarah kuat pada satu nama. Seketika kedua tangan Mario mengepal. Dia teramat geram.


Maaf, aku harus melakukan ini. Anjani Sayang, maafkan aku, ya. Batin Mario.


***


Pukul sepuluh, Anjani tergopoh-gopoh hendak memasuki ruangan tempat dua orang yang disekap. Anjani sudah berhasil sampai di depan pintu ruang penyekapan tanpa penjaga itu. Dengan tangan gemetar Anjani membukanya. Begitu terbuka, tampaklah dua orang lelaki yang terduduk dengan ikatan di bagian tangan, kaki, dan tubuhnya.


"Anjani! Beraninya kau mau membebaskan sandra!" teriak Mario.


"Pergi kau! Dasar suami tukang selingkuh!" seru Anjani pada Mario.


Langkah kaki Anjani yang berniat membebaskan sandra pun terhenti. Dia menoleh cepat ke arah pintu, lantas menguncinya lagi.


Dua sandra saling melepar pandang. Mereka bertanya-tanya tentang keributan yang sedang terjadi.


"Apa kalian berdua yang berhasil mengungkap fakta perselingkuhan suamiku?" tanya Anjani tergesa.


Meski tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi kedua orang yang disekap itu mengangguk.


"Terima kasih sudah menolongku. Aku sungguh tidak tahu lagi jika aku terlambat mengetahui hal ini. Sejak kapan kalian tahu perselingkuhan suamiku?" Anjani sedikit terisak.


Kembali dua orang yang disekap saling pandang. Hingga kemudian salah satu dari mereka mengangguk.


"Kami tidak tahu pasti, Mbak. Kami cuma disuruh memotret perselingkuhan suami Mbak dan disuruh menyebarkan fotonya tanpa jejak," terang salah satu sandra.


"Tapi syukurlah kalau Mbak terbantu dengan foto itu. Suami yang selingkuh memang tidak bisa dibiarkan. Harus segera ditinggalkan," imbuh sandra lainnya.


"Iya. Aku akan meninggalkannya. Aku sudah muak dengan suami yang tukang selingkuh macam dia! Di mana? Di mana sekarang Tuan kalian? Tolong bawa aku padanya? Aku harus berterima kasih. Jika perlu, aku akan menikah saja dengannya!" tegas Anjani.


Kedua sandra antusias berniat membawa Anjani pada tuannya. Namun, mereka sendiri tidak bisa berbuat banyak karena sedang dijadikan sandra.


"Mbak kenapa bisa masuk ke sini dengan mudah?" tanya salah satu sandra.


"Aku racuni makanan mereka. Suamiku itu menyadari dan malah mau menyeretku pulang karena aku mengancam meminta cerai darinya! Tapi, sebentar lagi suamiku itu pastilah merasakan efek samping dari racun yang diminumnya juga! Hiks. Aku takut! Hidupku jadi kacau begini!" Hati Anjani teramat sesak mengatakannya.


"Tenang, Mbak. Lebih baik Mbak bersama Tuan kami. Tuan yang menyuruh kami pastilah sangat mencintai Mbak, makanya sampai rela membayar kami mahal untuk memotret kelakuan mereka," terang si sandra yang bertugas mensabotase ponsel.


Sedangkan si sandra yang bertugas memotret Mario dan Vina hanya mengiyakan, karena saat misi dia hanya ditugasi berdiri di salah satu area parkir anak perusahaan lantas memotret dua pasang kekasih yang sedang bertengkar. Hanya itu perintah yang dia dapatkan.


Anjani semakin terisak, membuat dua sandra tidak tega melihatnya. Mereka juga memiliki istri dan seorang anak di rumah.


"Sudah, Mbak. Jangan menangis. Kami ingin mengantarkan Mbak padanya. Tapi kami sendiri diikat begini," keluhnya.

__ADS_1


"Sebentar. Aku cari alat pemotong untuk tali itu!" Anjani berinisiatif.


Anjani mengelilingi ruangan penyekapan. Sama sekali tidak ditemukan alat untuk memotong tali. Hanya ada satu tongkat kecil di sana. Anjani mengambilnya. Dengan putus asa, dia mengarahkan tongkat itu pada ikatan tali. Percuma. Sia-sia. Tak akan putus ikatannya.


"Ayo terbukalah. Simpul apa sih yang mereka gunakan!" seru Anjani putus asa.


"Begini saja. Mbak hubungi Tuan kami. Dengan senang hati dia pasti mau menjemput Mbak di sini. Sekalian membebaskan kami. Tidak mungkin juga meminta tolong orang sekitar sini. Bisa-bisa kita semua ditangkap polisi. Apalagi Mbak habis mainan racun," terang salah satu sandra.


"Aduh. Ayo kita sebaiknya kabur saja Mbak dari sini. Saya tidak ingin masuk lapas, Mbak. Anak saya masih TK," aku sandra lainnya.


"Sama. Anakku juga masih paud," imbuh sandra satunya.


Hati Anjani pun seketika iba mendengar pengakuan kedua sandra. Bisa ditangkap olehnya bahwa kedua sandra hanya diberi instruksi terbatas, tanpa tahu info yang jelas. Sungguh uang dan himpitan keadaan kadang membutakan yang salah dan yang benar.


"Berikan aku nomor ponselnya. Akan kubantu kalian juga setelah ini," janji Anjani.


"HP kita kan langsung disuruh buang sesudah menjalankan misi. Aku nggak hafal," terang si penyabotase ponsel.


"Tenang. Aku hafal. Gini-gini otakku encer, lho, terang si pemotret yang sudah mengenal baik si penyabotase ponsel.


Anjani tergesa mengambil smartphone. Agak susah dirinya mengoperasikan smartphone yang bukan miliknya. Begitu nomor didapat, dial pemanggil segera ditekan. Beberapa detik dering terdengar, panggilan pun diterima orang di seberang.


***


"Ketemu! Segera meluncur ke lokasi Dedaun Barat Daya. Peta kukirim. Lekas bawa dia kemari!" perintah si profesional di sebelah ruang penyekapan. "Istri Anda jago bermain drama, Tuan," pujinya.


Mario tersenyum. Sesaat kemudian, dia bergegas lari menemui Anjani. Begitu pintu ruang penyandraan dibuka, dua sandra tampak terkejut luar biasa.


"Mbak, kau membohongi kami, ya! Katanya mereka sudah diracun?" Si sandra tidak terima.


"Maaf," ucap Anjani lirih, lantas berbalik badan dan menghampiri Mario.


Mario mendekap tubuh Anjani. Dapat dirasakannya pelukan sang istri begitu erat di tubuhnya.


"Suamiku licik, tapi aku suka." Anjani memuji Mario di sela rasa takutnya.


"Ini namanya permainan otak, Sayang. Tenanglah. Setelah ini kita pasti tahu siapa dalangnya. Semoga," tutur lembut Mario.


Dua sandra yang telah ditipu Anjani tak bisa apa-apa. Kini si profesional dan anak buahnya mengancam akan menyakiti fisik mereka. Hanya gertakan, tapi mempan. Sementara anak buah si profesional lainnya sedang menyeret paksa seorang di sebuah kompleks perumahan.


***


"Lepaskan aku. Aku bukan dalangnya. Ada yang menyuruhku!"


Seorang lekasi berkaos merah dan masih mengenakan celana selutut dipaksa mengikuti langkah empat orang bertubuh kekar.


Mario tersentak kaget. Dia mengenali lelaki itu. Dia adalah mantan karyawan anak perusahaan yang sudah dipecat karena membantu melancarkan jebakan obat perangsang.


"Sudah kuduga. Aku sudah tahu siapa dalangnya!" seru Mario tiba-tiba. Dia geram.


Anjani lekas menggenggam erat tangan suaminya. Anjani begitu khawatir Mario malah berbuat tindakan yang tidak diharapkan.


"Menurut Tuan Mario, bukan orang ini dalangnya?" tanya si profesional.


"Bukan! Sumpah bukan aku! Aku hanya disuruh!" sahut si mantan karyawan yang masih diawasi empat orang bertubuh kekar.


Si profesional segera menginstruksikan kepada anak buahnya untuk membawa mantan karyawan menuju ruangan yang sama dengan dua sandra lainnya.


Mario tersenyum pada Anjani. Diusapnya pelan pipi sang istri.


"Doamu terkabul, Sayang. Kita tidak perlu menjebloskan si dalang ke penjara, karena dia sudah ada di penjara," terang Mario pada Anjani.


"Siapa?" Anjani masih belum bisa menebak.


"Yang pernah menyukaimu di masa lalu. Sudah dipenjara, tapi rupanya masih berulah. Leon, dialah dalangnya!"


"Leon?"

__ADS_1


Si dalang sudah ditemukan. Lalu, apa yang akan Mario-Anjani lakukan? Nantikan lanjutannya, ya. Maaf episode kali ini agak receh. Ide author menthok 😗 Semoga terhibur. Hayuuuk, ikuti juga kunjungan Meli dan keluarganya di Jogja. Apakah Meli sempat bermesraan dengan Azka jika orangtuanya ikut ke Jogja? Cari tahu yuk di novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung karya kami. 😉



__ADS_2