
Rumah-rumah di perumahan kompleks elit memang berbeda, khususnya rumah Mario. Terlihat megah dengan penjagaan security yang tidak hanya satu. Tukang kebun ada sendiri, begitu pula dengan juru masaknya. Semua fasilitas itu didapatkan oleh Mario lantaran ayahnya yang memang kaya raya. Apalagi sejak Alenna resmi tinggal di rumah Mario, juru masak di rumah tersebut bertambah.
Mario siang itu sedang duduk santai sambil selonjoran di sofa. Mata Mario terpejam. Terlihat begitu damai dan tetap memancarkan aura tampan dari paras wajah yang kini terdapat luka lebam. Sesekali mata Mario terbuka untuk sekedar memperhatikan si Boy yang berlarian di rumahnya. Ya, si Boy, kucing hitam putih yang dirawat Mario kini sudah semakin terlihat besar. Tingkah si Boy pun semakin menggemaskan. Cukup menghibur suasana hati Mario yang saat itu sedikit suram.
Si Boy tiba-tiba meloncat ke arah Mario. Mario bergegas mengelus kepala si Boy sambil tersenyum. Si Boy rupanya menangkap sinyal sayang dari Mario. Otomatis kepala si Boy menyundul-nyundul pelan lengan Mario, berharap bisa mendapat elusan di kepalanya lagi.
"Hei, Boy. Maaf, ya. Aku jarang bisa bermain denganmu. Aku senang, si Boy kecilku tumbuh besar. Hm," kata Mario sambil mengelus badan berbulu si Boy.
Tak lama kemudian, seorang security menghampiri Mario, melaporkan bahwa ada dua wanita ingin bertemu dengannya.
"Apakah nama mereka Anjani dan Meli?" tanya Mario.
"Benar Tuan Muda," jawab security membenarkan.
"Persilakan mereka masuk," pinta Mario.
"Baik Tuan Muda," kata security kemudian berlalu pergi dari hadapan Mario.
Mario beranjak dari sofa dan bergegas menemui juru masak rumahnya untuk menyiapkan minuman dan sedikit suguhan. Setelahnya, Mario berganti baju yang lebih sopan dan segera menuju ruang tamu untuk bertemu Anjani dan Meli.
Di ruang tamu.
Meli tak henti-hentinya terpesona dengan barang-barang mewah di rumah mewah Mario. Sebenarnya tadi Meli ikut Anjani dan Berlian mengantarkan Mario pulang, setelah memeriksakan luka Mario. Namun, mobil Berlian tidak sampai masuk ke halaman rumah Mario. Anjani, Meli, dan Berlian berhenti sampai di depan pagar rumah, lalu pergi ke kampus karena ada jadwal kuliah saat itu.
"Anjani, kamu beruntung banget!" seru Meli.
"Beruntung apanya?" tanya Anjani yang memang tidak paham.
"Ya beruntunglah. Setelah menikah kamu bisa jadi nyonya Mario dan tinggal di rumah mewah ini," jelas Meli antusias.
"Ah, biasa saja kok, Mel. Aku menyukai Mario dengan tulus, bukan karena hartanya." Anjani menjelaskan sambil tersenyum manis dan sedikit malu-malu.
"Cie .... Pakai acara malu-malu segala. Eh, tuh-tuh! Pangeranmu datang," kode Meli pada Anjani saat melihat Mario tersenyum, dan berjalan mendekat.
Mario terlihat lebih segar dengan senyum yang masih terlihat menawan, tidak seperti sesaat setelah mendapat tinju di toko bunga Kak Lisa. Mario terus tersenyum, tapi tidak duduk di sofa. Justru Mario melangkah menuju tempat Anjani duduk, dan langsung berjongkok di depannya.
Anjani yang tidak menduga segera berdiri, tapi tangan Mario memegang lengannya dan mencegahnya. Anjani pun kembali duduk dengan sedikit salah tingkah.
Mario masih saja tersenyum sambil menatap bola mata Anjani. Anjani yang mendapat tatapan dari Mario hanya bisa membalas senyumnya tanpa bisa berkata-kata. Sementara Meli yang duduk di sebelah Anjani hanya bisa melongo sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan saat melihat adegan yang menurutnya romantis.
"Kamu pasti khawatir," kata Mario sambil tetap menatap mata Anjani.
"I-iya," jawab Anjani sedikit terbata, karena saat itu mendadak jantungnya berdebar-debar, tapi kemudian dia tersenyum.
"Jangan pernah khawatir lagi. Senyummu telah mengobati lukaku. Aku beruntung bisa mencintaimu," kata Mario dan sukses membuat jantung Anjani semakin berdebar tak karuan.
Dag-dig-dug!
"Dooor!" seru Meli mengagetkan Anjani dan Mario.
"Astaga, Meli!" seru Anjani sambil mencubit gemas pipi Meli.
"Aw-aw-aw. Habisnya, sih. Kalian berdua ini pamer adegan romantis melulu di depan jomblo cantik macam aku," protes Meli.
__ADS_1
Mario terkekeh pelan, lalu berdiri dan lekas duduk di sofa.
"Meli, kamu mau bantu kami berdua?" tanya Mario.
"Ya mau sekali dong, Kak. Bantu apa, nih?" tanya Meli.
"Bantu apa?" tanya Anjani bingung, karena memang dia tidak tahu.
"Maaf, aku belum memberi tahumu. Aku sendiri pun baru mendapat pesan dari sekretaris pribadi ayahku. Sepertinya rencana tersebut sudah diurus oleh ayahku sendiri, juga sudah mendapat persetujuan dari Paman Sam dan Ma," jelas Mario sambil tersenyum pada Anjani.
"Maksudnya. Em, maaf. Aku belum paham dengan yang kamu maksud rencana yang telah diurus ayahmu juga persetujuan dari Paman Sam dan Ma," kata Anjani terus terang.
Meli di sebelah Anjani mengangguk sependapat dengan pertanyaan tersebut. Sementara Mario masih saja belum melanjutkan penjelasannya dan masih menikmati wajah bingung Anjani, wanita yang akan segera menjadi pendamping hidupnya.
"Hari pernikahan dimajukan. Kita akan menikah Sabtu ini. Tiga hari lagi," jelas Mario.
"Apa?" seru Anjani dan Meli bersamaan.
Anjani kaget. Baginya persiapan pernikahan selama seminggu saja sudah cukup cepat, apalagi tiga hari.
"Serius?" tanya Anjani masih belum percaya.
Mario mengangguk, lalu melanjutkan perkataannya. "Kenapa, Sayang? Apa kamu tidak ingin cepat-cepat menikah denganku, lalu menikmati malam pertama bersamaku?" tanya Mario menggoda.
"Uhuk-uhuk!" seru Meli, sengaja terbatuk-batuk setelah mendengar perkataan Mario.
Anjani hanya menahan senyum, lalu dia pun tertunduk malu.
"Meli, tolong bantu Anjani memilih model baju, tata rias, model undangan, dekorasi, dan pernak-pernik lainnya. Semua harus terpilih saat ini, dan akan kukirimkan pada sekretaris pribadi ayahku sore ini juga," jelas Mario.
"Tenang saja. Serahkan pada tim yang diketuai sekretaris pribadi ayahku. Mereka dapat diandalkan," terang Mario.
Anjani tersenyum mendengarnya. Paling tidak hatinya sedikit tenang karena ada yang telah mengurus persiapan pernikahannya.
Tiga hari lagi aku akan menikah. Seharusnya aku bahagia, tapi ... kenapa tiba-tiba hatiku mendadak ragu? batin Anjani karena merasakan perasaan yang aneh dan sedikit membuatnya bingung.
Kata orang, mendekati hari pernikahan akan semakin banyak hal yang membuat ragu. Apa memang seperti ini rasanya? Ah, semoga semua akan berjalan lancar dan baik-baik saja, batin Anjani lagi.
***
Sementara itu di rumah Ken.
Tidak biasanya saat istirahat makan siang kantor, Alenna pergi hingga sejauh itu. Alenna siang itu ke rumah Ken. Ken yang memang baru saja pulang dari kampus sengaja meminta Alenna ke rumahnya. Alenna tadi menelepon Ken, mengajak bertemu. Namun, Ken enggan keluyuran. Semula Ken asal bicara saja meminta Alenna bertemu di rumahnya, tapi rupanya Alenna serius bersedia ke rumah Ken.
Ken menunggu kedatangan Alenna sambil duduk santai di kursi teras depan rumah. Tidak lama berselang, sebuah mobil bercat putih berhenti di depan rumah Ken. Ken memang tidak pernah melihat mobil tersebut, tapi dia langsung bisa menebak bahwa yang mengemudikan mobil tersebut adalah Alenna.
Segera Ken menyambut kedatangan Alenna. Pagar rumah Ken dibuka lebar-lebar agar mobil putih tersebut bisa parkir di halaman rumahnya, sehingga tidak menghalangi jalan pengendara lain.
"Ken, aku tidak mengganggumu, kan?" tanya Alenna basa-basi sesaat setelah menutup pintu mobil.
"Aslinya mengganggu, sih. Ya, tapi mau gimana lagi. Yuk, duduk!" seru Ken.
Alenna sempat menggerutu sambil mengekori Ken. Alenna tidak terima dikatakan sudah mengganggu waktu Ken. Padahal pertanyaan Alenna yang sebelumnya hanya basa-basi saja. Meski demikian, Ken tidak menghiraukan ocehan Alenna.
__ADS_1
"Ken, Juno mana?" tanya Alenna saat baru duduk.
"Kamu ke sini mau cari Juno atau aku, sih?" tanya Ken sambil memperbaiki letak kacamatanya.
"Huh. Biasa aja dong jawabnya, Ken. Aku mumpung lagi baik, nih!" protes Alenna.
"Oke, katakan ada perlu apa mencariku." Ken pun bertanya maksud kedatangan Alenna.
Alenna segera menyampaikan maksud kedatangannya. Pertama-tama Alenna menyampaikan tentang jadwal pernikahan Mario-Anjani yang dimajukan. Tentu saja Ken jadi heboh sendiri, meski ujung-ujungnya mendukung juga rencana tersebut.
"Aku dukung mereka, deh. Lebih cepat lebih baik," jawab Ken.
"Em, yes. By the way, Ken ... aku boleh tanya?" tanya Alenna ragu-ragu.
"Cepat bilang, Alenna. Bukankah dari tadi sudah tanya melulu," sahut Ken.
"Okey. Juno itu cinta mati sama Anjani, ya? Terus, apa hubungan Juno sama Berlian?" tanya Alenna tanpa basa-basi lagi.
Pertanyaan tersebut rupanya membuat Ken terkekeh. Ken sampai melepas kacamatanya dan melanjutkan tawanya. Puas tertawa, Ken pun kembali memasang kacamatanya dan melihat Alenna dengan ekspresi manyun. Lagi-lagi Ken terkekeh, hingga tak jadi-jadi menjawab pertanyaan Alenna.
"Aku pulang aja, deh!" ancam Alenna saat melihat Ken seperti meledek dirinya.
"Eh-eh. Stop. Heleh, gitu aja ngambek. Nggak cantik lagi ntar kalau ngambek. Haha!" seru Ken lalu terkekeh, tapi kali ini lebih pelan.
"Sudah, cukup ketawanya, Ken! Jawab pertanyaanku, dong!" pinta Alenna.
"Oke-oke. Juno, ya. Em. Kalau cinta mati sama Anjani, mungkin nggak. Buktinya saat Mario-Anjani sudah mau menikah, tapi Juno masih hidup, tuh. Kalau sama Berlian aku kurang tahu. Tapi ... sekarang aku jadi tahu kalau seorang Alenna ternyata naksir Juno. Haha." Tawa Ken pecah lagi.
Alenna tidak menyangkal pernyataan Ken. Alenna memang memiliki perasaan pada Juno, dan Alenna mengakui itu.
"Sudah ketawanya?" tanya Alenna sambil bersedekap, melihat ke arah Ken.
"Sorry, Alenna. Aku berlebihan, ya. Habisnya, sih. Lucu banget lihat ekspresi bule macam kau galau karena cinta Juno. Haha. Ehem .... Oke-oke, aku tidak bercanda lagi," kata Ken setelah melihat ekspresi Alenna yang serius.
"Juno sekarang di mana?" tanya Alenna.
"Ada di kampus. Paling sendirian di gazebo dekat kantin sambil ngerjain tugas," jawab Ken.
"Oke, aku mau ke sana saja. Bye!" pamit Alenna tiba-tiba.
"Mau ngapain?" tanya Ken sambil ikut berdiri dan mengekori Alenna hingga ke mobilnya.
"Aku mau nembak dia!" seru Alenna sambil membuka pintu mobilnya.
"What? Nembak? Door ... lalu mati?" tanya Ken berlagak bodoh.
"Ah, Ken sok nggak tahu, deh. Aku mau nembak Juno pakai panah cinta! Biar Juno tergila-gila! Siapa tahu tiga hari lagi bisa nikah bareng. Mario sama Anjani, dan Alenna sama Juno!" seru Alenna serius kemudian menutup pintu mobilnya.
"What? Dasar bule nekat!" seru Ken tak percaya dengan perkataan Alenna barusan.
Mobil putih Alenna perlahan mundur, melewati pagar, lalu melaju pergi meninggalkan rumah Ken. Sementara itu, Ken masih berdiri terdiam di tempatnya. Ken masih tidak percaya dengan tindakan nekat yang akan dilakukan Alenna.
***
__ADS_1
Nantikan lanjutannya, ya. ❤😊