CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Niat Baik Mario Tersampaikan


__ADS_3

Hari pertama kulih di semester empat, Anjani absen lantaran sakit. Anjani menjadi pasien yang baik dengan menuruti nasihat Mario. Dia beristirahat penuh seharian. Makan teratur dan konsumsi obat dari Dokter Ema. Meli sempat datang menjenguk membawa sekeranjang buah apel, tapi hanya sebentar. Setelah itu, Anjani kembali berbaring di kamar.


Hari kedua, tubuh Anjani lebih baik dan lebih segar. Bibi Sarah, istri Paman Sam begitu perhatian pada Anjani. Semangkuk bubur ayam telah siap saat pagi hari. Begitu pula dengan makanan bergizi lainnya saat siang dan malam hari. Anjani PeDe memutuskan akan masuk kuliah di hari ketiga.


“Yakin kau mau masuk besok? Nak Mario sudah ngasih surat izin dokter tiga hari biar kau istirahat,” terang Paman Sam di sela aktivitas makan malam.


“Insya Allah sudah lebih baik, Paman. Anjani sudah kangen Meli dan teman-teman lain di kampus.” Anjani tersenyum sambil menyuap sup jagung manisnya.


“Mbak, PR Renal ada yang nggak paham,” curhat Renal tiba-tiba.


“Setelah ini Mbak ajari, ya. Matematika, kan?” Anjani sudah bisa menebak.


Renal cengar-cengir kemudian mengangguk. Anjani sudah hafal pelajaran yang sering ditanyakan Renal.


“Renal belajar sama ibu dulu, ya. Mbak Anjani biar istirahat.” Bibi Sarah membujuk putranya.


“Siapa aja, deh. Pokok ada yang bantuin Renal belajar,” terang Renal.


Anjani hendak mengambil alih tugas itu. Akan tetapi, Bibi Sarah kembali menyuruh Anjani untuk istirahat saja setelah makan malam. Anjani setuju, dan melanjutkan makan malamnya.


“Eh, Anjani. Tadi siang paman kau ini ketemu ayahnya Juno. Rupanya dia sudah tinggal di kota ini bareng si Juno tampan itu.” Paman Sam memberi tahu.


Deg!


Anjani berhenti menyuap sesendok sup ke mulutnya. Anjani seketika teringat perkataan Ma tempo hari. Ayah Juno masih mengharapkan Anjani untuk menjadi menantunya. Cepat atau lambat, ayah Juno akan datang menemui Anjani untuk kembali bertanya tentang kesediaannya.


Aku harus menghadapi. Aku tidak boleh kabur lagi! Batin Anjani.


“Hei, Anjani. Malah bengong!” seru Paman Sam membuyarkan lamunan Anjani.


“Eng-enggak, Paman. Em, ayahnya Juno ngomong sesuatu nggak?” tanya Anjani.


“Basa-basi aja. Malah lebih banyak cerita bisnis barunya di kota ini. Bisnis alat pertanian berteknologi canggih dia. Tokonya besar banget. Ceritanya sih, bakal diwariskan buat Juno, teman kau.” Paman Sam antusias menjelaskan.


Anjani sama sekali tidak terpukau. Saat di desa pun ayah Juno terkenal sebagai orang yang sukses. Jadi, sama sekali tidak mengherankan bila ayah Juno memiliki ide bisnis yang seperti itu.


“Sempat tanya Anjani nggak?” Anjani bertanya hati-hati.


“Iya, tanya kabar kau. Kubilang kau lagi sakit. Eh, ayahnya Juno malah mau jenguk kau ke sini,” terang Paman Sam.


Anjani melotot. Dia tidak akan pernah siap bertemu ayah Juno dengan alasan apa pun.


“Paman Sam punya nomor teleponnya ayah Juno? Telponin sekarang, Paman. Bilangin Anjani sudah sehat dan tidak perlu dijenguk.” Anjani tergopoh.


“Eh. Kenapa pula kau serius gitu. Santuy Anjani. Belum tentu ke sini. Ayah Juno bilang akan datang kalau lagi senggang. Kalau tak senggang ya tak datanglah.” Paman Sam enteng menjelaskan.


Anjani sedikit lega mendengarnya. Namun, masih ada kemungkinan bahwa ayah Juno akan datang menemuinya. Pikiran Anjani sedikit terusik karenanya. Sisa waktu makan malam pun dilewati dengan kurang bersemangat.


***


Keesokan harinya. Anjani mengabari Meli jika dia akan masuk kuliah. Meli langsung menjemput Anjani ke rumahnya tanpa bilang-bilang. Meli ingin memastikan sahabatnya itu sudah baik-baik saja.


Begitu tiba, Meli lekas memberi salam dan langsung menempelkan punggung tangannya


ke kening Anjani.


“Tidak panas. Berarti sudah sembuh,” kata Meli serius.


“Alhamdulillaah, Mel. Aku sudah sehat.” Anjani tersenyum.

__ADS_1


Baru saja Anjani selesai berkata, Meli langsung memeluknya dengan erat.


“Emmmm. Aku ikut senang deh kamu sudah sehat. Jangan sakit-sakit lagi ya. Kamu bikin Kak Mario khawatir tahu,” celetuk Meli.


“Mario?” tanya Anjani.


Meli melepas pelukannya.


“Iya, dua hari ini Kak Mario tanya aku terus. Di kampus tanya. Via chat juga tanya. Yang ditanyain cuma satu, apakah Anjani baik-baik saja?” Meli menirukan kata dan nada bicara Mario.


“Masa, sih?” Anjani sok-sokan tanya, padahal hatinya senang karena Mario mempedulikannya.


“Sini kalau nggak percaya kutelponin Kak Mario, ya?” Meli sudah siap memegang smartphone.


“Nggak perlu. Aku percaya. Mending sekarang kita berangkat kuliah saja.” Anjani menarik lengan Meli agar lekas menuju motornya.


Meli menurut saja. Dengan riang dia mengekori Anjani. Lantas memboncengnya menuju kampus.


Motor Meli melaju di rute yang berbeda dari biasanya. Meli mampir sebentar ke rumah saudaranya untuk mengantar pesanan ibunya. Tak disangka, di tengah jalan Anjani tidak sengaja menangkap sosok sang ayah di sebuah warung nasi lauk bakaran.


“Ayah,” lirih Anjani dengan ekspresi terkejut.


Cepat-cepat Anjani mengontrol dirinya agar tidak terlalu terbawa suasana hati. Anjani telah memutuskan untuk menghapus luka masa lalunya. Luka yang tertoreh saat sang ayah pergi begitu saja dengan wanita lain, dan mencampakkan Ma.


“Anjani,” panggil Meli.


“Kok diem aja?” tanya Meli sambil tetap fokus mengemudi.


“Tidak apa-apa, Mel. Ini langsung ke kampus, kan?” Anjani mengalihkan perhatian.


“Iya. Langsung ke kampus aja. Mata kuliahnya Pak Nizar,” sahut Meli.


***


Di tempat lain, Juno dan Ken sedang duduk di bangku taman kampus. Beberapa jadwal mata kuliah yang ditempuh Juno tidak sama dengan Anjani dan Meli. Sementara Ken, hampir semua jadwal kuliahnya sama dengan Mario. Mereka berdua sedang menunggu Mario kembali dari ruangan Pak Koko.


Juno sudah tidak tinggal di rumah Ken sejak dua hari lalu. Juno tinggal bersama sang ayah di salah satu kompleks perumahan. Hari itu juga Juno resmi ikut andil dalam bisnis yang dikelola sang ayah.


“Gimana dong, Mas Ken?” Juno meminta pendapat Ken.


“Menurutku sih turuti saja kemauan ayahmu, Jun. Nggak ada salahnya dicoba,” terang Ken.


Juno sedang membahas saran sang ayah, agar dirinya sedikit menjaga jarak dari Anjani. Sang ayah juga menyarankan pada Juno agar tidak terlalu sering bertemu apalagi mengakrabkan diri dengan Anjani, seperti yang sudah dilakukan seperti sebelum-sebelumnya. Sang ayah bilang itu adalah sebuah strategi untuk membuat Anjani rindu pada sosok Juno.


“Baiklah. Tidak ada salahnya mencoba saran ayah. Siapa tahu karena jarang ketemu, Anjani akan merindu. Asiiik. Aku sudah tidak sabar menantikannya.” Juno berangan-angan.


Dalam hati, Ken merasa tidak yakin misi Juno akan berhasil. Ken tahu persis, Mario-Anjani memiliki rasa yang sama. Namun, Ken tetap mendengarkan curhat Juno tentang Anjani dengan baik. Sering pula Ken menyarankan agar Juno mencoba melirik yang lain, tapi tidak mempan. Alhasil, Ken mengembalikan semua pilihan pada Juno.


“Yasudah. Aku pamit ke perpustakaan dulu. Mata kuliah baru. Ada buku yang belum aku punya. Salamin ke Mas Mario, ya. Kapan-kapan aku mampir ke ruko deh.” Juno pamit.


“Oke,” jawab Ken singkat.


Juno pergi. Ken masih duduk sambil memegang jurnal-jurnal sembari menunggu Mario kembali. Sementara itu, Mario baru saja selesai menemui Pak Koko. Dalam perjalanan menuju ke tempat Ken, Mario bertemu Anjani dan Meli.


Jarak mereka masih lima meter jauhnya, tapi senyum keduanya sudah merekah. Mario-Anjani berjalan mendekat. Senyum di wajah mereka terus-terusan mengembang.


“Sudah lebih baik?” tanya Mario.


“Alhamdulillaah,” jawab Anjani.

__ADS_1


“Eheem. Jaga pandangan, ehem. Kalau mau tatap-tatapan segera halalkan. Ehem!” Meli usil dengan terus berdehem.


Mario terkekeh. Dalam hati dia membenarkan penuturan Meli. Beda lagi dengan Anjani. Sempat dia tersenyum malu, lantas mendaratkan cubitan gemasnya di lengan Meli. Seperti biasa, Meli terus saja iseng mengompori Mario agar lekas menghalalkan Anjani.


“Mario, sudah bolehkah aku ke ruko?” Anjani mengalihkan topik.


“Silakan. Mau kuantar setelah kuliah selesai?” Mario menawarkan.


“Tidak boleh. Kalian berdua dilarang berduaan sebelum halal. Anjani biar sama Meli Syahrani istrinya Mas Azka yang saat ini sedang berjuang menyelesaikan tesisnya di Medan sana. Meli tidak keberatan menemani Anjani sampai kalian berdua HALAL.” Meli terus berceloteh dan menyerukan kata HALAL.


“Aku setuju. Tolong jagakan Anjani untukku, Meli.” Mario antusias menyambut kata-kata Meli.


“Yesss!” Meli bersorak girang.


Sementara Meli kegirangan, Anjani justru salah tingkah. Dia tidak menduga Mario akan berkata seperti itu.


Mario tersenyum melihat sikap Anjani. Dia semakin yakin dengan keputusan yang sudah diambilnya.


“Anjani,” panggil Mario.


“Em, iya?” Anjani menoleh. Tatapan Mario terlihat berbeda.


“Tunggu sebentar lagi. Insyaa Allah aku akan segera berniat baik terhadapmu,” terang Mario, tulus.


“Eh? Niat baik terhadapku? Maksudnya?” Anjani belum paham.


“Tanyakan itu pada Meli. Dia ahlinya, dan sudah melaluinya dengan Mas Azka. Aku tinggal menemui Ken dulu. Assalamu’alaikum,” pamit Mario tanpa mengurangi senyuman di wajahnya.


Sedari tadi Meli menahan diri untuk tidak bersorak senang. Baru setelah Mario pergi, Meli segera memeluk Anjani.


“Mel, jelaskan!” pinta Anjani.


“Duh, Anjani. Kamu itu termasuk mahasiswa jenius di kelas. Nilai selalu bagus. Kenapa sekarang mendadak tulalit sih. Ini pasti efek demam kemarin.” Meli kembali menempelkan punggung tangannya di kening Anjani. Tidak panas.


Sebenarnya Anjani cukup memahami. Namun, Anjani butuh seseorang untuk meyakinkan pemahamannya. Anjani khawatir dia sedang berhalusinasi, sehingga tidak mau langsung percaya.


“Coba artikan ini. Kak Mario punya niat baik terhadapmu. Menurutmu, apa artinya?” Justru Meli yang bertanya.


“Em. Sebenarnya aku nggak mau kepedean, sih. Apa itu artinya Mario akan kembali melamarku? Mengajakku menikah?” Anjani memastikan.


Meli mengangguk mantap, lantas mencubit pelan hidung mancung Anjani. “Benar sekali Anjani, Sayang. Sebentar lagi kalian berdua akan menyusul kebahagiaanku dengan Mas Azka. Selamat, ya.”


“Benarkah?” Anjani ingin bersorak juga, tapi dia gengsi.


“Ih, udah ah tulalitnya. Tunggu saja sampai Kak Mario membicarakan ini lebih serius. Aku sangat yakin itu tidak akan lama lagi,” terang Meli.


Perlahan, senyum Anjani mengembang. Jantungnya berdebar-debar. Dalam hatinya menggema rasa syukur atas berita baik yang baru saja didengarnya. Jujur, Anjani juga tidak ingin berlama-lama.


“Alhamdulillaah,” lirih Anjani seraya tersenyum.


Mario akan segera melamar Anjani. Beberapa hari ini dia telah sholat istikhoroh dan hatinya mantap memilih Anjani. Mario juga sudah mengatakannya pada John, Mommy Monika, bahkan Alenna. Tentu saja mereka menyambutnya dengan baik, karena memang itulah yang mereka harapkan selama ini.


Mario akan melamar Anjani, tapi setelah dia menjalankan sebuah misi. Mario berencana mempertemukan Anjani dengan ayah kandungnya. Mario sudah memiliki semua informasi dari hasil penyelidikan Paman Li dan anak buahnya. Mario berniat membantu Anjani sembuh dari luka masa lalunya, kemudian bisa memaafkan sang ayah. Walau bagaimanapun, langkah ke depan akan lebih ringan dan kokoh jika luka masa lalu sudah terobati dan termaafkan.


Bersambung ….


Bagaimana cara Mario mengobati luka masa lalu Anjani? Dan … Alhamdulillaah, hati Mario sudah mantap dan segera melamar Anjani lagi. Mario-Anjani akan segera menyusul kebahagiaan Azka-Meli. Ikuti kisah Azka saat LDR-an dengan Meli juga ya. Azka dan keluarganya punya cerita seru tuh. Cari tahu di novel karya Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung karya kami, ya. Terima kasih bagi kakak-kakak semua yang sudah setia memberikan vote, like, dan meninggalkan jejak komentarnya di novel kami berdua. Barakallah. 😊


__ADS_1


Mohon maaf juga beberapa hari CS1 tidak up karena authornya dalam mode banyak tugas mendesak di dunia nyata. Semoga pembaca semua dimudahkan segala urusannya, sehat selalu, dan selalu dukung karya ini, ya. See You. 🌷


__ADS_2