
Ruko begitu sepi. Karyawan diliburkan sampai Rangga dan Mario pulih. Meski demikian, Rangga yang memang sudah izin untuk menginap di ruko tidak enak diam. Rangga sedang berkutat dengan tumpukan kotak-kotak sepatu orderan pelanggan via olshop ketika Alenna datang ke ruko. Rangga begitu larut dalam aktivitasnya sampai-sampai tidak mendengar salam Alenna.
"Duh, Mas Rangga kayak anak kecil, deh!" celetuk Alenna yang baru tiba.
Rangga menoleh dan menatap Alenna dengan aneh. Dia tidak paham dengan maksud Alenna.
"Anak kecil? Aku sudah tumbuh jadi lelaki dewasa Alenna. Tubuhku kekar, nih!" Rangga malah memamerkan lengan kekarnya pada Alenna.
Alenna sempat terpana melihat otot-otot kekar Rangga. Alenna terpaku, diam sejenak sambil menelan salivanya. Tak lama kemudian, Alenna tersadar.
"Iiiih. Mas Rangga kayak anak kecil karena bandel!" seru Alenna. Dia meletakkan makanan yang dibawanya dan berjalan mendekati Rangga.
"Bandel?" Rangga masih tidak paham.
"Iya, bandel. Disuruh istirahat malah kerja!" protes Alenna.
Rangga baru mengerti saat Alenna menjelaskan. Spontan Rangga nyengir kuda dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Alenna mengambil obat oles untuk luka dan lebam di wajah Rangga. Dengan lembut, Alenna mulai merawat Rangga.
"Alenna, maaf nih. Bisa munduran dikit nggak?" Rangga dengan nada khas jawanya meminta dengan sopan.
Berhenti mengoleskan obat, Alenna menatap Rangga dengan heran.
"Mundur? Apa cantikku kelewatan?" Spontan saja Alenna berkata demikian.
"Bukan begitu. Anu .... Em, itu tuh!" Rangga menunjuk ke arah bibir Alenna dengan hati-hati.
Mata Alenna mengerjap cepat. Dia sedikit kaget saat Rangga menunjuk ke arah bibirnya.
"Kenapa dengan bibirku, Mas? Apa warna lipstikku mengganggu Mas Rangga?" tanya Alenna blak-blakan.
Rangga tersenyum canggung. Dia tidak enak hati mau menjelaskan. Posisinya dengan Alenna saat ini masih tetap sama. Wajah mereka terlalu dekat.
"Bukan! Anu, itu. Em, bau ... petai," ucap Rangga pada akhirnya.
"Astaghfirullah," seru Alenna.
Alenna menutup mulutnya. Mendadak dia teringat belum menggosok giginya. Padahal tadi pagi dia menyantap petai dengan lahapnya. Buru-buru Alenna mundur dan langsung berlarian menuju kamar mandi di lantai dua.
Tingkah konyol Alenna membuat Rangga tertawa.
"Adik bos lucu juga," kata Rangga.
Dia mengambil alih obat oles yang dibawa Alenna. Diraihnya cermin dan mulai mengoles obat pada luka dan lebam di wajahnya.
"Ah," pekik Rangga menahan sakit.
Rangga geleng-geleng kepala mengingat semuanya. Sudah jatuh tertimpa tangga. Seharusnya hatinyalah yang terluka karena cintanya ditolak seketika. Eh, ini malah wajahnya yang merana.
"Nasib-nasib!" Rangga merutuki dirinya.
Sementara Rangga mengobati dirinya sendiri, Alenna sibuk menggosok giginya di kamar mandi. Tak tanggung-tanggung sampai dua kali gosok gigi dengan pasta gigi aroma mint.
"Hah!" Alenna mengecek aroma nafasnya.
Rasa percaya diri Alenna kembali setelah memastikan nafasnya segar. Dia membenahi jilbab yang dipakainya, lantas keluar dari kamar mandi.
"Mas Rangga, sudah nggak bau nih!" tutur Alenna dengan senyum ceria.
"Hehe. Ini sudah selesai juga kok. Obatnya juga sudah kuminum. Makasih obatnya, ya. Sepertinya wajahku sudah lebih baik," tutur Rangga.
"Apanya yang lebih baik. Tuh, mata Mas Rangga yang satu masih bonyok. Lebam di dekat bibir dan pipi masih jelas. Sepertinya kakakku pakai tenaga dalam waktu emosi!" gerutu Alenna, tidak habis pikir dengan kakaknya.
Rangga tersenyum. Dia tidak punya kata-kata untuk membalas perkataan Alenna. Dia pun juga tidak bisa menyalahkan Mario. Walau bagaimanapun, semua terjadi karena salah paham.
"Apa itu makanan untukku?" tanya Rangga.
"Oh, yes. Ini buat Mas Rangga. Maaf aku datangnya agak siang. Tadi masih harus ngantar berkas ke kantor. Ayo, makan!" Alenna antusias menyiapkan makanan untuk Rangga.
Sayur sup, ayam goreng, nasi, dan kerupuk. Rangga begitu lahap menyantapnya. Sesekali dia mengacungkan jempolnya, memuji masakan yang dibawakan Alenna.
"Mas Rangga tinggal sama siapa?" tanya Alenna sambil menunggui Rangga makan.
"Ibu dan dua adikku yang masih sekolah. Ayahku sudah tiada," terang Rangga.
__ADS_1
Alenna manggut-manggut. Perhatiannya tidak bisa lepas dari Rangga yang sedang melahap makanannya. Rangga makan tanpa sendok. Rangga menggunakan tangan kanannya, meski dia tahu sayur supnya berkuah. Namun, Rangga tetap terlihat lahap menyantap semua makanan yang terhidang di depannya.
"Alenna, kenapa wajahmu kebulean? Beda sama Bos." Rangga ingin tahu.
"Wajah ini begitu spesial, karena statusku juga spesial." Alenna menyampaikannya secara tersirat.
Sebenarnya Rangga tidak memahami, tapi dia memutuskan untuk mengangguk saja.
Beberapa menit keduanya terdiam. Tidak ada obrolan. Rangga larut dalam makanannya, sedangkan Alenna masih setia menunggui Rangga makan sambil sesekali mengecek pesan di smartphone-nya.
"Alhamdulillaah," ucap Rangga begitu semua makanan habis tak tersisa.
"Sini biar aku yang cuci tempat makanannya, Mas." Alenna beranjak.
Tangan Alenna berbarengan dengan tangan Rangga yang juga berniat mengambil tempat makanan untuk mencucinya. Sungguh tak disengaja, tangan Rangga dan Alenna bersentuhan.
"Ma-maaf." Rangga buru-buru melepas tangannya.
Alenna tersenyum, lalu mengambil alih tempat makanannya.
"Aku mau cuci tangan. Sini sekalian aku aja yang nyuci," pinta Rangga.
"No! Pasien harus menurut sama perawatnya." Alenna mengedipkan sebelah matanya pada Rangga.
Mendadak saja Rangga berdebar melihat kerlingan mata Alenna.
"Duh, masa iya habis ditolak Anjani langsung dibuat terpesona sama Alenna, sih. Sadar Rangga! Dia adiknya Bos. Sadar!" Batin Rangga meronta, berusaha menyadarkan pikirannya.
Rangga menurut. Dia memutuskan untuk cuci tangan saja. Begitu selesai, Rangga berniat melanjutkan pekerjaannya.
"Loh, Mas Rangga mau ngapain lagi?" tanya Alenna yang melihat Rangga sudah duduk di depan tumpukan box sepatu.
"Mau lanjut," jawab Rangga santai.
Alenna gemas dengan Rangga. Sama sekali tidak menurut dan lebih memilih bekerja. Alenna meraih bantal kecil di dekat sana, lalu melemparkannya tepat di dada Rangga.
"Bandel! Ayo, aku temani Mas Rangga tidur!" seru Alenna.
Rangga melongo. Kata-kata Alenna barusan sungguh ambigu.
Alenna tepuk jidat. Dia baru menyadari keambiguan ucapannya tadi.
"Maksudku, Mas Rangga tidur sendiri di kasur. Aku temani sambil duduk di sofa," terang Alenna, meluruskan semua.
Oh, kirain adik Bos berniat menggodaku. Ah, pikiran apa sih ini. Sadar Rangga! Sadar! Batin Rangga kembali meronta, menyadarkan pikirannya.
Sebenarnya Rangga enggan, tapi tubuhnya membenarkan bahwa dirinya memang butuh istirahat. Terutama area wajah dan perut yang sesekali terasa nyeri.
"Yuk, tidur!" ajak Alenna. Duh, kok ambigu lagi sih ajakanku! Batin Alenna merutuki dirinya.
Rangga berusaha untuk tidak berpikiran macam-macam atas keambiguan kata-kata Alenna. Dia menurut, melangkah perlahan menuju kasur.
"Mau dinyanyikan lagu pengantar tidur? Suaraku merdu lho," kata Alenna.
"Tidak perlu. Aku rasa aku sungguh mengantuk. Apa obat yang sempat kuminum tadi ada efek kantuknya?" tanya Rangga.
Rangga baru teringat dengan sebutir obat yang dia minum tadi setelah mengoles lukanya. Alenna yang memberikan obat itu.
"Iya. Memang gitu efeknya. Biar Mas Rangga bisa tidur, nggak nyeri lagi. Tidur saja. Aku temani Mas Rangga sampai kakakku datang," terang Alenna.
Begitu tahu Mario akan datang, Rangga spontan duduk di kasurnya. Dia berusaha melawan kantuk. Pikirnya, akan sangat tidak sopan bila bosnya datang tapi dirinya malah asik tidur.
"Tuh kan bandel lagi. Cepetan tidur!" suruh Alenna.
Rangga sudah sangat mengantuk. Dia tidak kuat lagi. Ingin segera merebahkan tubuhnya.
"Apa obat yang kuminum tadi itu obat tidur?" lirih Rangga.
Rangga sudah merebahkan dirinya. Matanya terpejam. Tak lama kemudian, dia benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Alenna tersenyum melihatnya. Obat yang diberikan pada Rangga memang obat tidur. Alenna sengaja, agar Rangga bisa terlelap dan tidak terus-terusan bekerja.
"Maaf, ya Mas. Ini demi kebaikanmu," tutur lembut Alenna.
Alenna menyelimuti tubuh Rangga. Ditatapnya wajah Rangga yang tampak tak karuan karena lebam. Senyum Alenna mengembang.
__ADS_1
"Tubuh Mas Rangga benar-benar kekar. Sungguh gagah," guman Alenna sambil tetap tersenyum. "Sayangnya, Mas Rangga pernah menaruh hati pada Anjani." Senyum Alenna seketika berubah.
Tidak lama kemudian, senyum cemerlangnya kembali saat mengingat bahwa Mario dan Anjani akan segera bersatu. Sungguh Alenna tidak pernah cemburu pada Anjani yang telah sukses membuat Juno dan Rangga menaruh hati padanya. Alenna sadar, perasaan manusia itu tidak terkekang. Hatinya berhak berlabuh pada siapa saja. Namun, sedikit banyak Alenna mengharapkan cinta dan kasih sayang tulus dari seseorang untuk dirinya.
Alenna larut dalam pikirannya, hingga tidak menyadari kehadiran Mario dan Anjani.
"Alenna," panggil Mario untuk ke sekian kali.
"Iya, wa'alaikumsalam." Alenna kaget.
Mario dan Anjani menghampiri Alenna. Anjani sudah membawa sebungkus bubur ayam untuk Rangga.
"Mas Rangganya tidur," terang Alenna sambil menunjuk Rangga yang terlelap.
"Aku bangunkan dulu. Buburnya mumpung masih hangat," kata Mario.
Mario sudah bersiap melangkah ke samping tempat tidur untuk membangunkan Rangga.
"Jangan dibangunkan! Mas Rangga nggak akan bangun," seru Alenna mencegah Mario.
"Alenna, kamu tidak berbuat macam-macam pada Rangga, kan?" Insting Mario begitu kuat, curiga pada adiknya.
Alenna menunduk sambil memainkan jemarinya. Dia tidak berani melihat wajah kakaknya. Jelas-jelas kakaknya jenius, akan sangat mudah untuk mengetahui perbuatannya pada Rangga.
"Alenna," panggil Mario lagi.
"Aku cuma ngasih obat tidur dosis rendah, kok. Sudah itu aja. Beneran nggak macam-macam sama Mas Rangga. Aku cuma ingin lihat Mas Rangga tidur nyenyak. Istirahat biar cepat pulih," terang Alenna mengakui.
Mario membuang nafas kasar. Dia mencoba untuk tidak menegur adiknya dengan keras.
"Aku tidak tahu sejak kapan kamu berani bermain dengan obat tidur. Aku tidak akan tanya alasannya. Jangan diulangi lagi. Mengerti?" Mario berusaha menasihati dengan lembut.
Alenna mengangguk. Sejujurnya ini baru pertama kali. Inisiatif dadakan yang muncul di tengah perjalanan menuju ruko. Alenna ingin melihat Rangga terlelap. Beristirahat dengan penuh agar lekas pulih. Setelah nasihat dari kakaknya, Alenna berjanji tidak akan melakukan hal yang serupa lagi pada Rangga.
"Lalu, bubur ini bagaimana?" tanya Anjani.
"Karena kondisiku hampir serupa dengan Rangga, jadi aku berhak memakan bubur ini. Suapi aku!" pinta Mario sambil tersenyum penuh arti.
"Tidak mau," tolak Anjani lembut sambil tersenyum manis pada Mario. "Kuadukan pada Meli kalau sikapmu padaku seperti ini. Biar Meli menceramahimu habis-habisan. Ingat, kita belum menikah. Belum sah. Aku tidak mau terlalu dekat denganmu. Jaga jarak!" Anjani spontan mundur sambil tetap tersenyum.
"Lalu, kenapa waktu itu kamu menciumku kalau tidak ingin dekat-dekat? Ayo nikah sekarang saja!" ajak Mario. Sengaja bercanda untuk melihat reaksi Anjani. Namun, Alenna lebih dulu menegurnya.
"Iiihhh. Jangan mesra-mesraan di depanku, dong. Nggak sopan banget sih sama jomblo!" tegur Alenna. "Mario, kamu disuruh mengecek beberapa dokumen sama ayah. Sekalian ambil tugas kuliahmu yang dua hari lalu tertinggal di meja kantorku." Alenna mengingatkan.
Mario mengangguk. Tadi dia juga sempat ditelepon sang ayah.
"Anjani, yuk kuantar pulang. Biar kakakku tidak menggodamu terus." Alenna menarik lengan Anjani untuk ikut bersamanya.
"Mario, aku pulang dulu. Assalamu'alaikum," pamit Anjani.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mario seraya melambaikan tangannya.
Anjani dan Alenna pergi. Mario belum mau segera beranjak pergi juga karena harus mengecek ruko, terutama orderan pelanggan. Sudah beberapa hari ini dia tidak memeriksanya. Ditambah lagi sekarang ruko tutup dan karyawan diliburkan akibat ulahnya pada Rangga.
Usai sedikit merapikan rukonya, Mario mengecek orderan via olshop dengan smartphone khusus di ruko. Dia duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat Rangga terlelap. Tiba-tiba saja konsentrasinya buyar karena mendengar Rangga mengigau menyebut nama adiknya.
"Alenna," gumam Rangga, mengigau.
Mario awalnya acuh, karena tidak ada yang bisa mengontrol mimpi dalam tidur seseorang. Namun, Rangga kembali menyebut nama Alenna untuk kedua kalinya.
"Alenna," lirih Rangga, masih mengigau.
Smartphone diletakkan. Mario berdiri dan menghampiri Rangga yang masih berada dalam pengaruh obat tidur yang diberikan Alenna.
"Alenna. Uhm." Untuk ketiga kalinya Rangga mengigau menyebut nama Alenna.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Rangga dan Alenna? Batin Mario.
Merasa Rangga sudah tidak mengigau lagi. Mario kembali ke sofa. Kembali larut mengecek orderan via olshop. Sesekali Rangga kembali mengigau menyebut nama Alenna. Namun, Mario tidak menghiraukan. Pikir Mario, Rangga hanya sedang bermimpi, dan tidak sengaja mengigau menyebut nama Alenna.
Bersambung ....
Kepo sama lanjutannya? Tunggu update selanjutnya, ya. Meli masih di Jogja sama Azka, tuh. Mereka sedang apa, ya? Cari tahu yuk di novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung kolaborasi kami, ya. Terima kasih atas dukungannya. Barakallah. 😊
__ADS_1