
Fardu maghrib telah selesai ditunaikan. Mengulang beberapa surat hafalan juga sudah dilakukan. Setelahnya Anjani bersiap diri untuk pergi keluar. Gamis navy dengan jilbab senada dipilih untuk dikenakan. Tak lupa, bros berornamen bunga mawar menghiasi jilbabnya.
“Sudah siap?” tanya Paman Sam yang sudah terlihat rapi dengan kemeja lengan panjang.
“Iya, Paman. Sekalian saja Anjani bawa cokelat dari Dika. Meli kan suka ngemil. Biar nggak gugup terus karena mau kedatangan camer. Hehe.” Anjani terkekeh.
“Meli yang heboh macam itu bisa gugup juga?” Paman Sam ikut terkekeh.
“Ya bisa dong, Paman. Siapa sih yang nggak dag-dig-dug saat mau dilamar,” terang Anjani.
“Berarti dulu saat Nak Mario datang melamar, kau gugup juga, dong. Kalau Nak Mario datang melamar lagi masih gugup tak?” tanya Paman Sam tiba-tiba.
Anjani tidak menjawab pertanyaan Paman Sam. Dia senyum-senyum dengan rona wajah memerah. Ada rasa malu bercampur rasa senang saat Paman Sam bertanya demikian.
“Sudah pasti masih ada rasa gugupnya. Itu wajar. Orang mau merubah status jadi istri orang, kok.” Bibi Sarah menimpali.
Paman Sam tersenyum melihat sang istri yang terlihat anggun dengan setelah gamis dan hijab yang terjulur panjang menutupi dada. Di sebelahnya ada Renal. Akan tetapi, penampilan Renal tidak serapi Paman Sam dan Bibi Sarah.
“Renal berani di rumah sendirian?” tanya Anjani sambil berjongkok di depan Renal.
“Berani dong, Mbak. Renal kan laki-laki yang bisa diandalkan. Hehe.” Renal tersenyum manis hingga menampilkan lesung pipinya.
Anjani, Paman Sam, dan Bibi Sarah akan pergi ke rumah Meli untuk berbincang serius sekaligus membantu persiapan menyambut lamaran Azka dan keluarganya dari Jogja. Bibi Sarah bahkan berencana menginap di rumah Meli agar bisa membantu menyiapkan masakan-masakan untuk menyambut tamu spesial.
Kardus berisi bahan-bahan makanan, buah-buahan, dan makanan ringan sudah tersusun rapi. Paman Sam dan Bibi Sarah yang menyiapkan itu semua untuk keluarga Meli. Bibi Sarah bahkan menyiapkan gamis brukat seukuran tubuh Meli. Gamis brukat bernuansa islami itu adalah hadiah dari Bibi Sarah untuk Meli, agar Meli memakainya saat keluarga Azka datang melamarnya.
“Sudah tidak ada yang tertinggal?” tanya Anjani.
“Langsung berangkat saja. Itu bentornya sudah datang.” Renal yang masih berdiri di samping ibunya menunjuk abang bentor yang baru saja tiba.
“Menurut kalian apa aku perlu beli mobil baru?” tanya Paman Sam tiba-tiba.
“Memangnya bisa nyetir?” Bibi Sarah balik bertanya.
“Sudah. Uangnya ditabung saja, Paman. Enak naik bentor aja, sekaligus buat penglaris bagi mereka yang mencari nafkah dengan bentornya,” terang Anjani.
“Baiklah. Tapi kalau kalian suatu saat ingin mobil bilang saja, ya. Paman kalian yang ganteng ini siap jual sawah. Hehe.” Paman Sam terkekeh sambil mulai menggotong barang-barang yang akan dibawa ke rumah Paman Roni dan Bibi Sarah.
Langkah Anjani sudah sampai di teras depan. Tiba-tiba saja dia melihat motor yang sangat tidak asing mulai memasuki halaman rumah. Itu Juno. Otomatis Paman Sam memberi kode pada Anjani untuk mempersilakan Juno masuk dulu, sementara Anjani bisa menyusul ke rumah Meli nanti dengan motor.
“Juno, silakan masuk!” Anjani mempersilakan.
“Rapi banget. Kalian mau pergi kemana?” tanya Juno sambil melepas helm yang dipakainya.
“Iya, nih. Kita mau ke rumah Meli. Duduk dulu!” Anjani menunjuk sofa ruang tamu rumahnya, mempersilakan Juno duduk.
“Ada acara apa di rumah Meli?” tanya Juno ketika sudah duduk.
“Acara keluarga,” jawab Anjani. Dia tidak mau bercerita apa-apa dulu pada siapa pun tentang lamaran Meli. Khawatir kalau Juno tahu malah akan diceritakan pada Dika.
Juno tersenyum ramah. Bukan karena keramahan Anjani saat mempersilakan Juno duduk. Juno tersenyum lantaran melihat bros yang dipakai Anjani. Bros berornamen bunga mawar.
“Seneng banget deh lihat kamu pakai bros dariku. Makin cantik!” Juno mengacungkan dua jempol tangannya.
“Eh? He-he-he.” Anjani hanya nyengir.
Anjani tidak menjelaskan pada Juno bahwa bros berornamen mawar yang Anjani miliki ada dua. Dua-duanya memiliki warna dan ukuran yang sama. Dua bros itu pemberian Juno dan Mario. Meski sama persis, Anjani tetap mampu membedakan mana bros pemberian Mario dan mana bros pemberian Juno. Untuk bros yang saat ini dipakai Anjani, adalah bros pemberian Mario.
“Ada apa?” tanya Anjani to the poin, karena dia terburu ingin segera pergi ke rumah Meli.
“Aku ke sini nganterin titipan Ma. Ma belum bisa ke kota karena masih musim panen." Juno menunjukkan kresek hitam berukuran besar yang dibawanya.
“Alhamdulillaah. Cabai, mentimun, jeruk. Nah, ini nih yang paling doyan. Petai!” Anjani antusias menerima oleh-oleh dari Ma di desa.
“Ohya, Anjani. Kamu dapat salam dari ayahku. Kapan-kapan ayah ingin makan nasi goreng petai buatanmu,” terang Juno dengan wajah ceria.
“Eh? Kamu cerita ke ayahmu kalau aku suka masak nasi goreng petai?” tanya Anjani.
__ADS_1
“Iya,” jawab Juno terus terang.
“Ih, ngapain sih pakai cerita-cerita segala sama Pak Kades, Jun.” Anjani terlihat tidak suka.
“Bagus, dong. Ayah kan memang berharap kamu jadi menantunya.” Juno berterus terang.
Anjani tidak suka saat Juno bercerita tentang keinginan ayahnya. Hal itu mengingatkan Anjani pada masa lalunya. Masa lalu yang membuat Anjani kabur dari desa ke kota hanya untuk menghindari perjodohan dengan Juno. Cerita Juno mengisyaratkan bahwa Pak Kades yang tak lain adalah ayah Juno benar-benar masih mengharapkan Anjani sebagai menantunya.
“Terima kasih sudah diantar ke sini,” kata Anjani datar.
“Sama-sama, Anjani. Kamu terburu berangkat ke rumah Meli, ya?” Juno masih saja antusias bertanya meski sudah melihat ekspresi datar dari Anjani.
“Iya,” jawab Anjani singkat dan sedikit ketus.
“Wooo. Jangan ketus gitu, dong. Kamu pasti tidak suka ya aku cerita tentang keinginan ayahku?” Lagi-lagi Juno bertanya.
“Hm.” Anjani meniru kata khas Mario.
“Aaah. Jawaban seperti itu benar-benar mengingatkanku sama Mas Mario.” Juno bersandar pada sofa dengan kasar. Giliran dia yang terlihat tidak suka.
Anjani tidak menjawab. Tangannya sibuk mengaduk-aduk isi kresek yang dibawa Juno.
“Baiklah. Kalu begitu aku pamit pulang dulu, ya. Hati-hati di jalan saat ke rumah Meli. Assalamu’alaikum.” Juno beranjak dengan senyum mengembang.
“Wa’alaikumsalam,” lirih Anjani menjawab salam Juno.
Juno sumringah sambil mengenakan helmnya kembali. Dia sama sekali tidak ambil pusing dengan ekspresi datar Anjani. Hatinya sudah bertekad untuk terus opstimis mendapat cinta Anjani. Selama Anjani belum SAH menjadi istri orang, pantang bagi Juno untuk menyerah.
***
Lima belas menitan Anjani menyusuri jalanan kota dengan kecepatan pelan. Anjani santai saja mengendarai motor hingga sampai di rumah Meli. Anjani tidak ingin mood buruknya mengganggu fokusnya saat berkendara.
Sesampainya di rumah Meli. Rupanya Paman Sam dan Bibi Sarah sudah berbincang banyak dengan orang tua Meli. Semua rencana untuk menyambut calon mantu dan calon besan dari Jogja sudah diperbincangkan dengan matang.
“Yuk, ikut ke kamarku!” ajak Meli.
“Ayo!” Anjani mengekori Meli, meninggalkan Paman Sam, Bibi Sarah, dan orangtua Meli yang masih asik berbincang tentang lamaran dan pernikahan.
“Kamu habis ngajak ribut gamis-gamismu?” Anjani berjalan mendekati gamis-gamis di atas kasur Meli.
“Anjani, aku tadi bingung pilih gamis yang mana untuk kupakai saat lamaran. Gamis pemberian Via bagus-bagus sampai bingung pilih yang mana. Tapi alhamdulillaah, ternyata Bibi Sarah baik banget ngasih aku gamis brukat yang cantik.” Meli memegangi pipinya. Senyumnya terus-terusan merekah.
Anjani berjalan menuju gantungan baju di dekat almari. Gamis brukat pemberian Bibi Sarah tergantung rapi di sana. Lekas diambilnya gamis itu dan dibawa menuju
Meli.
“Kamu pasti terlihat anggun memakai gamis brukat ini, Mel. Besok aku bantu make-up tipis-tipis, ya.” Anjani memposisikan gamis di depan tubuh Meli.
“Terima kasih, Anjani. Kamu memang sahabatku yang ter-ter-ter deh pokoknya.” Meli memeluk Anjani.
“Hehe. Kamu bahagia banget ya mau dilamar Mas Azka?” tanya Anjani sambil membalas pelukan Meli.
Meli lekas melepas pelukannya setelah mendengar pertanyaan Anjani. Tangan kanan Meli gesit mencubit gemas pipi Anjani.
“Iiih, gemes! Kamu ini kayak nggak pernah dilamar orang saja. Sudah pasti hatiku berbunga-bunga.” Meli melepas cubitan tangannya begitu selesai berkata.
“Mel, nanti kalau sudah jadi istrinya Mas Azka, jangan sering-sering nyubitin pipinya, ya. Kasihan,” canda Anjani.
“Tergantung.” Meli memainkan jemari dan kedua alisnya.
“Tergantung apa?” tanya Anjani.
“Ya tergantung Mas Azka ngegemesin apa nggak? Kalau aku gemes banget ya bakal aku cubit. Mas Azka cubit aku balik juga nggak apa-apa. Main cubit-cubitan bareng pasti seru.” Meli terkekeh.
Anjani ikut-ikutan terkekeh. Tak lama kemudian Anjani teringat dengan sekotak cokelat pemberian Dika. Anjani meminta Meli menunggu sebentar, sementara dirinya mengambil cokelat yang tertinggal di motor.
"Sekotak cokelat penuh cinta dari Bang Dika," kata Anjani begitu kembali.
__ADS_1
"Ih apa'an, sih. Nggak mau ah kalau ada cintanya. Cinta Meli sekarang untuk Mas Azka. Dika itu sudah masuk dalam lembaran masa lalu." Meli serius.
"Serius banget sih, Mel. Aku bercanda. Ini cokelat terima kasih Dika atas oleh-oleh dari Jogja," terang Anjani sembari menyenggol bahu Meli.
"Heeem. Anjani jahil banget, sih. Udah, tuh cokelat dari Dika kasih di ruang tamu aja buat dimakan Paman Sam sama Bibi Sarah." Meli tak lagi menawarkan, tapi langsung membawa cokelat itu ke ruang tamu.
Anjani menunggu Meli sembari duduk di kursi dekat meja belajar. Dia memeriksa pesan yang masuk. Salah satu pesan yang masuk adalah dari Juno. Anjani enggan membaca pesannya lantaran masih kesal pada Juno karena telah membuat sang ayah kembali mengharapkan Anjani untuk menjadi menantunya.
"Kenapa mendadak jutek tuh muka?" tanya Meli yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang Anjani.
"Ah. Nggak, kok. Bukan apa-apa," kata Anjani sambil menggeleng pelan.
Anjani enggan bercerita pada Meli. Dia tak ingin merusak suasana bahagia Meli dengan berbagi cerita yang tidak perlu.
"Em, Mel." Anjani ingin memulai obrolan lainnya.
"Apa?" tanya Meli tanpa mengalihkan perhatian dari smartphone.
"Kamu beneran udah nggak ada rasa sama Dika?" tanya Anjani hati-hati.
"Iyap. Udah nggak. Lagian Dika juga nggak punya rasa apa-apa kok sama aku. Huh. Kemarin itu sungguh perasaan yang sia-sia," keluh Meli.
"Kalau ternyata Dika ada rasa sama kamu gimana? Apa kamu akan batal nikah sama Mas Azka?" Anjani kembali bertanya. Dia ingin tahu jawaban Meli.
Fokus Meli beralih ke Anjani. Meli mengernyitkan dahi.
"Kumohon jangan bahas Dika lagi, Anjani. Nggak mungkin banget Dika juga punya perasaan itu. Bagi Dika aku cuma teman ribut doang, nggak lebih." Meli berkata tegas.
Meli melangkah mendekat. Dia menarik satu kursi lagi agar bisa duduk berhadap-hadapan dengan Anjani.
"Setiap orang pasti punya masa lalu. Dika adalah masa lalu. Dan aku nggak mau terus-terusan dihantui oleh masa lalu. Sekarang, masa depanku adalah Mas Azka." Meli begitu ceria saat menyebut nama Azka.
Anjani tersenyum. Dia senang karena sahabatnya itu yakin dengan pilihan masa depannya.
"Aku sungguh tak sabar menanti momen SAH Meli-Azka," tutur Anjani.
"Tak akan lama lagi. InsyaAllah Meli-Azka segera SAH." Meli memeluk Anjani erat karena bahagia.
Anjani membalas pelukan Meli. Kebahagiaan Meli seolah menular, hingga Anjani dapat merasakannya.
"Nah, sekarang kamu harus ngasih tahu aku!" seru Meli lantas melepas pelukannya.
"Kasih tahu apa?" Anjani tak paham.
"Ehem. Kalau aku udah SAH, terus ... aku harus ngapain aja sama Mas Azka?" tanya Meli polos.
"Waktu siang apa malamnya?" Anjani meminta Meli untuk memilih.
"Siangnya," ucap Meli antusias.
"Ya kamu bisa buatin makanan kesukaan Mas Azka, curcol bareng, manja-manjaan bareng. Sejenis itu deh," jelas Anjani.
"Kalau ... malamnya?" tanya Meli lagi.
Anjani menyentil dahi Meli dengan gemas.
"Kalau malamnya tanyain sendiri Mas Azka-mu mau main apa." Anjani menjawab dengan gemas.
"Hahaha." Meli terkekeh melihat mimik wajah Anjani
Menit-menit berlalu. Paman Sam, Bibi Sarah, Roni, dan Fatimah masih asik mengobrol seputaran lamaran dan pernikahan. Tentang masakan, tamu undangan, hingga kamar pengantin pun jadi perbincangan. Paman Sam ingin sebuah acara yang besar dengan banyak undangan, tentu semua biaya akan dia tanggung. Namun, Roni dan Fatimah lebih setuju acara yang sederhana dengan menghadirkan beberapa orang terdekat saja. Untuk resepsi besar bisa dilaksanakan setelah Azka ataupun Meli lulus kuliah.
Perbincangan terus berlanjut. Anjani dan Meli pun terus berbincang di dalam kamar Meli. Tanpa mereka semua sadari, di halaman depan ada lelaki yang sedang memandang ke arah rumah itu. Lelaki itu tetap duduk di atas motor tanpa mematikan mesin motornya. Senyumnya kecut. Tangannya pun mengepal.
"Mel, rupanya kamu akan menikah," gumam lelaki itu.
Bersambung ....
__ADS_1
Siapa lelaki itu??? Eit, Azka dan keluarganya akan segera ke Jember lho untuk melamar Meli. Apa saja yang mereka persiapkan untuk hantaran lamaran? Cari tahu jawabannya di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR Karya Kak Cahyanti. Dukung kolaborasi kami, ya. Terima kasih yang sudah like, vote, dan meninggalkan jejak komentar. See You 😉