CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Siapakah Jodohku?


__ADS_3

Sebelumnya, Mario tidak benar-benar berperan menjadi seorang kakak. Nama Alenna yang berstatus sebagai adik memang sudah diketahui saat Mario berada di bangku sekolah menengah pertama. Semenjak saat itu pula Mario mengingkari kenyataan yang ada. Tampak luar kehidupan Mario memang baik-baik saja, tapi tidak banyak yang tahu rasa apa yang sebenarnya tersimpan di hatinya.


Mario mampu menerima status Alenna sebagai adiknya baru akhir-akhir ini. Semenjak ada Anjani hadir dalam kehidupannya. Semenjak itu pula banyak yang telah berubah. Mario yang sebelumnya bersikap dingin pada Alenna, kini sudah lebih hangat dan mulai bisa berperan sebagai kakak.


Seperti siang itu, Mario memerankan perannya sebagai seorang kakak yang perhatian pada adiknya. Mario berusaha memberi pengertian pada Alenna setelah beberapa menit lalu menerima sebuah keputusan mengejutkan dari Juno, yakni sebuah keputusan yang mematahkan hatinya.


Pulang dari warung bakso, Alenna tidak kembali ke kantor. Alenna tahu betul dirinya tidak akan mampu fokus pada pekerjaannya dengan kondisi hatinya saat itu. Alenna sempat mendapat protes dari Leon karena izin yang dilakukan Alenna terbilang sangat mendadak. Namun, Alenna mengabaikan protes itu dan segera mematikan smartphone miliknya.


Alenna memilih pulang ke rumahnya. Awal sampai di rumah Alenna memang terlihat tegar, hingga mampu menjawab salam dan senyuman dari pekerja-pekerja di rumahnya. Namun, saat langkah kaki Alenna membawanya sendirian di kolam renang rumahnya, sesak itu pun akhirnya tumpah. Tercurah dalam bulir bening. Terus saja mengalir seiring isakan tangis yang keluar dari bibirnya.


Mario sudah sejak tadi sampai di rumahnya. Akan tetapi, Mario tidak langsung menghampiri Alenna. Mario masih memperhatikan Alenna dari kejauhan. Tampak jelas di matanya, Alenna menangis hingga sesenggukan. Mario sengaja membiarkan Alenna menangis, agar pedih di hatinya bisa berkurang.


Sepuluh menit berlalu. Isak tangis Alenna sudah mereda. Alenna terlihat jauh lebih tenang dari sebelumnya. Kaki Alenna bahkan dimainkan pada air kolam. Sesekali tampak senyum menghiasi wajah cantik kebule-buleannya itu.


Mario mengambil kesempatan itu untuk menghampiri Alenna. Kakinya melangkah perlahan, hingga sampai di tepi kolam. Mario duduk di bangku santai yang ada di tepian kolam renang. Mario sengaja tidak duduk menyejajari Alenna. Mario sudah hafal dengan karakter adiknya itu. Alenna tidak akan mau wajah sedih bekas tangisnya terlihat oleh orang lain.


"Apa sakit sekali rasanya?" tanya Mario.


Alenna seketika menoleh dan melirik tajam kepada Mario. "Gimana, sih? Pakai acara tanya segala. Kamu kan pernah ditinggalin Anjani. Pasti tahu rasa sakitnya gimana. Sakit banget, nih!" seru Alenna, lalu kembali melihat air kolam.


Mario mencoba tenang menghadapi reaksi Alenna atas pertanyaannya.


"Benar, rasanya sakit. Kamu tahu kenapa aku tidak sampai menangis sesenggukan saat itu? Kenapa aku tidak sampai kesal berlebihan, dan kenapa aku tidak sampai membuat pecah barang-barang di kamar?" tanya Mario panjang lebar.


Alenna semula terdiam. Alenna ingat sekali beberapa menit lalu telah memporak-porandakan kamarnya, hingga membuat pecah beberapa barang. Alenna ingat bagaimana emosinya terlampiaskan pada barang-barang di kamarnya. Ya, Alenna ingat itu. Beberapa detik kemudian Alenna kembali menoleh pada Mario. Alenna berseru lantang.


"Ya jelas aku nangis, dong. Aku cewek, kamu cowok. Aku nangis wajar. Y-ya iya, sih. A-aku sempat hilang akal juga sampai tadi mecahin barang di kamar. Namanya juga lagi patah hati! Nyesek di sini!" seru Alenna.


"Hm? Nggak tanya balik kenapa rasa sakitku waktu itu nggak lama-lama?" tanya Mario.


Lagi-lagi Alenna terdiam. Namun, pada akhirnya kepo juga, ingin tahu alasan Mario.


"Kenapa?" tanya Alenna dengan nada yang lebih baik dari sebelumnya.


Mario tersenyum karena Alenna tertarik juga mendengarkan alasannya. Mario beranjak dari tempat duduknya. Perlahan kakinya melangkah menuju tepi kolam, lalu duduk di sana. Ada jarak dua meter yang memisahkan Alenna dengan Mario. Sengaja Mario memilih untuk duduk di dekat pegangan kolam renang.


"Cepat jelasin, dong. Kenapa, Mario?" tanya Alenna yang sudah tak sabar menunggu Mario menjelaskan.


Mario tersenyum, lalu berkata. "Aku tidak sampai larut berlebihan karena aku percaya pada-Nya. Aku memang tidak tahu siapakah jodohku. Namun, aku tetap percaya. Andai aku dan Anjani berjodoh, sejauh apa pun jarak yang memisahkan, maka kami pun akan kembali dipertemukan dalam waktu yang tepat menurut-Nya. Aku percaya itu, dan kamu pun harus percaya itu, Alenna." Mario menjelaskan dengan tutur kata yang lembut dan terasa sekali ada sebuah keikhlasan di sana.


Perkataan dari Mario membuat Alenna berpikir. Alenna mencerna kata-kata itu. Satu menit berlalu, digunakan Alenna itu merenungkan kata-kata itu. Lima menit berlalu, dan tetap tidak ada obrolan di sana.


"Lalu, apa yang sebaiknya aku lakukan?" tanya Alenna setelah menit-menit bisu.


"Terserah kamu, Alenna. Akan lebih baik kalau kamu ikhlaskan yang telah terjadi, dan ke depannya memperbaiki diri. Mau dekat dengan pemilik hati Juno nggak?" tanya Mario tiba-tiba.


Alenna menaikkan sebelah alisnya karena tidak paham.


"Pemilik hati Juno? Maksudnya Anjani?" tebak Alenna.


Mario terkekeh karena jawaban polos Alenna. "Bukan. Maksudku Dia, Sang Pemilik Hati."


Penjelasan singkat itu membuat Alenna paham dengan arah pembicaraan Mario.


Mungkin ini kode agar aku hijrah, batin Alenna.


"Pakek jilbab seperti Anjani enak nggak, ya? Apa bikin gerah?" tanya Alenna.


"Kepo? tanya aja sendiri sama Anjani. Nanti sore ada jadwal ngaji bareng di mushollah dekat kontrakanku. Ikut ke sana, gih!" ajak Mario.


Alenna berdecak. Dirinya enggan mendatangi Anjani di tempat yang dimaksud Mario, karena di sana pasti ada Juno. Alenna belum siap bertemu dengan Juno setelah semua yang dia alami.


"Kenapa? Kok gitu ekspresinya?" tanya Mario yang melihat perubahan mimik wajah Alenna.


"Nanti-nanti aja deh tanya sama Anjani. Males banget kalau ke sana nanti sore. Pasti ada Juno di sana," kata Alenna.


"Eit, niat baik itu harus disegerakan, lho. Mending cepat-cepat deh tanya sama Anjani," saran Mario.


Alenna segera menoleh pada Mario. Sebuah senyum pun menghias di wajah kebule-buleannya. Alenna memperhatikan eskpresi Mario saat nama Anjani disebut-sebut dalam obrolan.


"Ih. Giliran ngebahas Anjani aja tuh muka ceria banget. Rasa-rasanya dulu itu kakakku yang satu ini dinginnya minta ampun. Kenapa sekarang bisa hangat begini, ya?" Alenna bertanya-tanya.


"Mau yang dingin?" Bukan menjawab pertanyaan Alenna, Mario malah bertanya balik.


"Nggak maulah!" Alenna berkata tegas. Dirinya benar-benar tidak mau Mario bersikap dingin lagi padanya.


Mario terkekeh mendengar jawaban dan reaksi Alenna.


"Mau yang dingin nggak? Padahal aku mau nawarin es jeruk. Yaudah kalau nggak mau." Mario berlagak cuek dan pergi meninggalkan Alenna.


"Eh-eh-eh. Aku mau kalau itu. Tunggu aku!" seru Alenna sembari menyusul langkah Mario.


Mario tersenyum lega. Melihat adiknya yang sudah lebih baik itu benar-benar membuat Mario lega. Mario tahu semua tidak akan begitu saja terlupakan, tapi Mario yakin perlahan semua akan kembali normal.


"Aku bilangin Anjani ya kalau kakakku yang satu ini masih cinta," goda Alenna di tengah perjalanan.

__ADS_1


"Jangan macam-macam Alenna!" sahut Mario.


"Hehe, prank!" Alenna mengaku bercanda.


Tiada masalah yang tak memiliki penyelesaian. Semua akan bertemu dengan jalan keluar melalui sebuah ikhtiar. Yakinlah, Allah Maha Memberi Kemudahan.


***


Juno mengirim pesan singkat pada Mario. Meski sudah menjadi penjahat cinta dan sudah melukai hati Alenna dengan memutuskan hubungan dengannya, Juno masih memiliki hati untuk sekedar khawatir dengan kondisi Alenna pasca adegan putus siang tadi. Juno segera menerima balasan pesan dari Mario selang satu menit setelah pesan itu terkirim.


Tenang. Alenna baik-baik saja. Sekarang dalam perjalanan mau borong es jeruk. Mario


Begitulah pesan dari Mario. Usai membaca pesan itu, ada sedikit rasa lega di hati Juno. Dugaan bahwa Alenna akan bersikap macam-macam seketika tersingkirkan. Lekas terganti oleh pemikiran positif.


"Juno. Woi, kamu dengerin aku nggak, sih?" tanya Dika yang merasa diabaikan oleh Juno.


Sedari tadi Dika memang menjelaskan rincian yang perlu disiapkan untuk acara penyambutan mahasiswa baru. Pagi tadi Dika bahkan sudah memimpin rapat bersama masing-masing koordinator bidang untuk mengetahui perkembangan bagian yang ditangani. Juno sempat bergabung sebentar tadi, lalu izin mempersiapkan hadiah untuk Alenna. Kini, Dika mengundang Juno hadir di gazebo kampus untuk mendengarkan garis besar acara. Dika juga mengundang Ken sebagai penasihat.


"Sudah beres belum? Aku anti dicuekin, nih!" protes Dika sekali lagi.


"Iya-iya. Maaf. Lanjutin!" sahut Juno yang sudah bisa lebih fokus.


Setelahnya Juno benar-benar memperhatikan penjelasan Dika. Sesekali Juno menambahi dan memberi arahan perbaikan. Ken juga berperan banyak dengan memberi nasihat-nasihat kepada juniornya itu.


Seharusnya ada Berlian yang juga harus hadir, tapi izin karena ada keperluan dengan Kak Lisa. Juno dan Dika biasa-biasa saja saat Berlian mengabari tidak bisa hadir. Jusru Ken yang heboh sendiri dan terus bertanya pada Juno tentang detil alasan Berlian tidak hadir.


"Mas Ken nanti malam pesan kopi varian rasa baru, yuk! Order online aja. Aku sambil lembur ngerjain ini," ajak Juno.


"Males, mending pesan bunga!" tolak Ken dengan wajah kurang bersemangat.


"Aku tahu, nih. Pasti ini ujung-ujungnya ngebahas Berlian, kan?" tebak Dika.


Juno yang paling keras ketawanya. Tebakan Dika sangat jitu menurutnya.


"Iya, nih. Nggak ada dia nggak seru. Nggak rame," imbuh Ken.


"Tenang-tenang. Dijamin bentar lagi pasti rame karena aku sudah mengundang dua orang untuk hadir di sini," terang Juno sembari memainkan kedua alisnya.


Ken dan Dika saling tatap. Mereka berdua mencoba menebak, tapi gagal. Setahu mereka berdua yang hadir dalam diskusi siang menjelang sore saat itu hanyalah panitia inti. Satu-satunya panitia inti yang tidak hadir adalah Berlian. Jadi, baik Ken ataupun Dika tidak menemukan opsi nama lain untuk menebak nama yang dimaksud oleh Juno.


"Ngundang siapa, Jun?" tanya Dika.


"Anjani sama Meli," jawab Juno dengan raut wajah ceria.


"Dasar modus-modus-modus!" seru Dika.


"Biarin. Wek!" Juno cuek saja.


"Tuh-tuh! Yang lagi diomongin datang, tuh!" tunjuk Ken pada dua wanita cantik berhijab yang melangkah mendekati area gazebo.


Juno dan Dika kompak melihat ke arah yang ditunjuk Ken. Terlihat jelas senyum Juno mengembang, karena yang dia perhatikan adalah Anjani.


"Cantiknya," gumam Juno.


Dika segera menimpuk Juno dengan box bekas makanan ringan.


"Aduh! Iseng aja sih dari tadi!" protes Juno sambil memegangi kepalanya.


"Jaga pandangan mata! Mereka berdua teman kita, bro. Hargai jalan hijrah mereka." Dika mengingatkan dengan nada setengah berbisik.


Ken yang mendengar penuturan Dika itu segera mengacungkan jempolnya. Ken sependapat dengan Dika. Niatan baik seorang teman harus didukung.


Tepat setelah obrolan Dika, Ken, dan Juno selesai, Anjani dan Meli sampai juga di gazebo. Salam sapaan diucapkan. Segera pula mendapat jawaban salam dari tiga lelaki di sana.


Anjani mengambil posisi duduk di seberang Ken, sementara Meli duduk di seberang Dika. Anjani mendapat sambutan hangat dari teman-temannya, terutama oleh Juno. Sementara Meli langsung diajak berdebat oleh Dika.


"Mel, jutek amat tuh muka. Mending pulang aja deh sana." Dika ceplas-ceplos berseru pada Meli.


"Eh, baru juga datang sudah main usir aja. Tuh, yang ngundang aku ke sini nggak ngusir tuh!" Meli menunjuk Juno. "Kalau situ naksir sama aku bilang, dong. Nggak perlu sewot!" tuduh Meli sembari membuang muka.


"Naksir? Haha, mana mungkin aku naksir sama cewek bawel macam kamu, Meli." Dika langsung menyangkal.


Anjani geleng-geleng kepala. Ken tepuk jidat. Sementara Juno merekam aksi Meli dan Dika yang sedang bertengkar itu menggunakan smartphone miliknya.


Anjani diam-diam mengamati. Akhir-akhir ini Dika seringkali mencari gara-gara pada Meli. Pertengkaran yang saat ini terjadi bukanlah pertama kali.


Apa mungkin Dika diam-diam naksir Meli? batin Anjani menduga-duga.


Anjani sibuk memperhatikan Dika dan Meli. Anjani sengaja memperhatikan raut wajah Dika ataupun Meli, siapa tahu akan menemukan maksud tersirat di sana.


Sementara Anjani memperhatikan Meli dan Dika, Juno memperhatikan Anjani. Bukan sikap memperhatikan diam-diam, melainkan secara terang-terangan. Meski Ken sempat menegur Juno agar bersikap lebih sopan, Juno tetap saja melanjutkan misinya itu.


Juno memperhatikan senyum Anjani, sekaligus mengagumi sosoknya. Juno seperti sudah tidak mau ambil pusing lagi. Baginya, hal yang menjadi misinya saat ini adalah terus bisa dekat dengan Anjani.


Perhatian Juno turun pada bros yang dipakai Anjani. Senyum Juno mengembang karena Anjani memakai bros berornamen mawar.

__ADS_1


Aku senang kamu memakai bros pemberianku, batin Juno.


"Anjani, kita pulang aja, yuk! Emosi banget aku di sini!" seru Meli tiba-tiba mengajak Anjani pulang.


"Eh-eh. Tunggu dulu. Sebentar lagi Mario ke sini. Tunggu sebentar," kata Anjani.


"Mario?" Juno dan Ken kompak berkata.


Dika bersikap biasa saja, tidak seperti Ken dan Juno yang berekspresi berlebihan begitu nama Mario disebutkan oleh Anjani.


"Sejak kapan kamu saling kirim pesan lagi sama Mas Mario?" tanya Juno dengan nada dan mimik wajah yang tidak bisa dikontrol.


"Hei, biasa aja tanyanya, Juno!" protes Meli.


"Sudah-sudah. Mending kita bahas acara persiapan penyambutan mahasiswa baru. Kita berdua di bagian konsumsi, nih. Kasih gambaran dikit, dong. Untuk persiapan menunya sudah. Tinggal teknisnya." Anjani mengingatkan pada topik yang seharusnya dibahas di pertemuan itu.


Semuanya setuju. Juno, Dika, dan Ken kembali membahas tentang acara penyambutan mahasiswa baru. Anjani dan Meli menjadi pendengar baik saat itu. Baru saat bagian konsumsi dibahas, Anjani dan Meli pun segera ikut berbicara.


Lima belas menit berlalu, yang ditunggu pun akhirnya datang. Terlihat dari kejauhan Mario datang membawa bungkusan-bungkusan. Namun, bukan bungkusan itu yang membuat orang di sana kaget. Alenna yang datang bersama Mariolah yang membuat mereka terkejut. Maklum, kabar putusnya hubungan antara Juno dan Alenna dengan cepat menyebar. Tidak hanya Anjani dan Meli yang tahu, Ken dan Dika pun telah mengetahui berita itu.


"Alenna," gumam Juno dengan wajah gelisah.


Juno merasa belum siap bertemu dengan Alenna lagi setelah kejadian siang tadi di warung bakso.


Anjani melirik Juno. Tergambar kegelisahan di sana meskipun samar. Setelahnya Anjani berganti melihat ke arah Mario dan Alenna yang sudah tiba di gazebo. Anjani menyuguhkan senyum pada mereka.


"Assalamu'alaikum," salam Mario dengan senyum menghias di wajahnya.


"Wa'alaikumsalam," kata Anjani.


Anjanilah yang lebih dulu menjawab salam itu. Setelahnya diikuti oleh Meli dan lainnya.


Mario langsung meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas meja gazebo. Rupanya bungkusan-bungkusan itu berisi kue piscok (pisang cokelat) dan es jeruk dalam wadah gelas plastik. Otomatis bungkusan makanan dan minuman itu membuat semuanya girang. Meli, Dika, dan Ken bahkan kompak langsung mencomot piscok.


"Bismillaah dulu, dan pelan-pelan biar nggak tersedak." Anjani mengingatkan.


"Mario, katanya ada yang mau disampaikan pada kita. Apa itu?" tanya Anjani segera membahas pesan singkat yang sebelumnya diterimanya.


Mario mengangguk dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya.


MasyaAllah, senyuman itu kenapa kembali membuatku berdebar. Astaghfirullah, batin Anjani seraya menundukkan kepalanya.


"Iya. Teman-teman semua, belajar mengaji bersama Pak Nizar dan ustaza Nuri untuk nanti sore hingga tiga hari ke depan libur dulu. Ustaza Nuri ada kepentingan keluarga, sementara Pak Nizar pergi keluar kota." Mario menjelaskan.


Anjani mengangguk, disusul Meli. Juno segera membuat tanda 'OK', sementara Ken manggut-manggut.


"Kak, aku gabung belajar ngaji juga boleh? Pengen tobat," kata Dika.


"Iya, tobat sana!" celetuk Meli.


Anjani segera menahan Meli agar tidak berlarut-larut.


"Boleh. Akan kusampaikan pada Pak Nizar. Satu lagi, adikku yang bule ini juga akan bergabung," jelas Mario.


Anjani dan Meli senang mendengarnya. Ken dan Dika juga demikian. Hanya Juno yang menunjukkan reaksi berbeda. Ada sebuah rasa bingung bercampur canggung tergambar di wajahnya.


Alenna, dia hanya menunjukkan sikap hangatnya pada teman-teman Mario, kecuali Juno. Sedari tadi Alenna membuang muka dari Juno. Sedangkan Juno yang awalnya bingung harus bersikap bagaimana, kini mencoba acuh dan kembali memperhatikan Anjani.


"Oke, yuk kita makan pisang cokelatnya. Alenna, ayo duduk!" ajak Mario pada adiknya itu.


"Hm, iya."


Obrolan ringan pun mewarnai kebersamaan mereka saat itu. Beberapa kali Mario tersenyum karena candaan yang dibuat Ken, Meli, dan Dika. Senyum itu pun ditangkap oleh Anjani dengan diam-diam.


Astaghfirullah, kenapa senyum Mario kembali membuatku berdebar? batin Anjani.


Rupanya Mario sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan. Saat Anjani membuat obrolan dengan yang lainnya, diam-diam pula Mario memperhatikan Anjani.


Aku senang kamu memakai bros dariku, batin Mario seraya tersenyum.


Juno pun memperhatikan Anjani, dan berpikiran pula tentang bros itu.


Aku yakin nantinya Anjani akan memilihku. Buktinya bros pemberianku dipakai, batin Juno.


Dalamnya hati manusia hanya Allah yang tahu. Begitu pula dengan jodoh, rahasia tentangnya hanya Allah yang tahu. Siapa sebenarnya yang akan berjodoh dengan Anjani?


***


Siapa jodohku?


***


Bersambung ....


Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Kritik saran buat author juga ditunggu. Vote buat karya ini juga boleh, lho. See You. Author bukanlah apa-apa tanpa reader semua. Big Love. 😘 Luv Kalian Semua, deh. 😊

__ADS_1


__ADS_2