CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Peresmian Anak Perusahaan


__ADS_3

Mobil mewah kedua telah terparkir rapi di salah satu gedung berlantai sebelas dengan halaman yang cukup luas. Mobil yang baru saja parkir adalah mobil yang dikendarai Mario, dengan Leon dan Alenna bersamanya. Alenna keluar lebih dulu dengan menenteng beberapa buket bunga, disusul Leon dengan membawa buket bunga sisanya.


Mario turun dari mobil belakangan. Sebelum menyusul langkah Leon dan Alenna, Mario menyempatkan diri membaca beberapa pesan masuk di smartphone-nya. Sesaat kemudian, Mario menelepon Ken. Mario ingin meminta bantuannya.


"Mario, kenapa diam di sana, sih. Tuh, banyak yang panggil-panggil namamu di dalam gedung. Wartawan!" ujar Alenna.


"Hm," jawab Mario begitu singkat.


Mario memakai jasnya, membuat aura tampannya semakin terpancar. Langkah kaki ringan menuju pintu utama gedung. Red carpet dan beberapa wartawan sudah menyambutnya di sana. Untung saja, dua bodyguard sewaan ayah Mario langsung bergerak cepat agar langkah Mario tidak dihadang wartawan.


Tamu undangan sudah berdatangan. Ayah Mario juga sudah datang, asyik mengobrol dengan rekan bisnisnya. Para pria kompak memakai setelan jas, sedangkan para wanita memakai gaun indah. Ada pula yang berpakaian biasa, tapi masih sesuai untuk acara di sana.


Saat itu juga telah berlangsung acara peresmian anak perusahaan dari ayah Mario. Anak perusahaan yang baru itu memang mengembangkan bisnis sepatu, sama seperti perusahaan induknya. Akan tetapi, ada bisnis lain yang akan dikembangkan di sana, dan itu masih menjadi rahasia.


Sudah menjadi berita publik bahwa ayah Mario terkenal dengan bisnis sepatunya, hingga telah memiliki tiga pabrik sepatu. Ayah Mario beberapa kali muncul di berita, tapi hanya seputar bisnis dan kesuksesannya.


Saat Mario masih duduk di bangku sekolah dasar, dia juga pernah tersorot berita sebagai putra tunggal yang nantinya akan mewarisi semua harta kekayaan ayahnya. Meski saat itu Mario masih SD, tapi dia sudah paham berita dan isu-isu miring seputarnya. Sejak saat itulah, Mario lebih sering tampil sederhana dan terus berlanjut hingga saat ini. Bukan ingin mencari sensasi, Mario hanya merasa nyaman dengan menjadi diri sendiri.


"Selamat!" seru rekan bisnis ayah Mario sesaat setelah anak perusahaan diresmikan.


"Terima kasih. Anak-anak kita pasti akan mengembangkan bisnis ini dengan baik," tutur ayah Mario.


Lelaki berkumis tipis yang menyerukan ucapan selamat adalah ayah Leon. Tiga pabrik yang dimiliki ayah Mario tentu saja tidak lepas dari dukungan rekan-rekan bisnisnya, termasuk ayah Leon juga ikut andil. Kini, ayah Mario mempercayakan anak perusahaan kepada anak rekan bisnisnya, Leon. Ayah Mario percaya bahwa Leon akan mampu bekerjasama dengan anaknya.


"Mario, kau yakin bisa membagi waktu dengan kuliahmu? Atau kita nego lagi keputusan ayahmu?" tanya Leon.


"Jangan meragukan kemampuanku, Leon!" tegas Mario.


"Hei, panggil aku Kak, Mario. Usiaku lima tahun lebih tua darimu. Mau jadi rekan durhaka kau, ya?" protes Leon dengan nada sedikit bercanda.


"Hm," jawab Mario singkat kemudian berlalu pergi meninggalkan Leon.


"Hah, kebiasaan buruk!" protes Leon sambil bersedekap.


Leon, usianya lima tahun lebih tua dari Mario. Memiliki tubuh ideal, tinggi, tampan, dan lesung pipit di pipinya terlihat saat tersenyum. Berlatar pendidikan manajemen bisnis, Leon juga sudah memiliki pengalaman kerja setahun di perusahaan ayahnya. Leon akan menjadi pimpinan di anak perusahaan yang baru saja diresmikan, sekaligus akan bekerjasama dengan Mario.


Sebelum itu, Mario-lah yang ditunjuk sebagai pimpinan, karena dirasa lebih berhak. Akan tetapi, kondisi Mario yang masih kuliah menjadi pertimbangan bagi ayah Mario. Alhasil, Leon-lah yang akan memimpin perusahaan, dengan Mario yang akan terus belajar dan membantu pengembangan bisnis di sana.


"Kak Leon, mana Mario?" tanya Alenna.


"Tuh, berdiri di pojokan. Miris lihatnya," tutur Leon sambil menunjuk ke arah Mario.


"Oh no! Untung aku kembali ke Indonesia, jadi bisa sering-sering menghiburnya," jelas Alenna pada Leon.


"Memang kehadiranmu dianggap?" tanya Leon blak-blakan.


Sisi buruk Leon hampir serupa dengan Alenna, sering berkata blak-blakan tanpa memikirkan apakah perkataannya akan menyinggung lawan bicaranya atau tidak.


"Seperti kau peduli saja padaku, huh!" keluh Alenna, kemudian berlalu pergi dengan menahan emosi atas ucapan Leon.


"Eh, apa salahku?" seru Leon tidak peka-peka bahwa pertanyaannya telah menyinggung hati Alenna.


Alenna pergi menjauh. Sementara itu, Leon mendekat ke meja hidangan untuk mengambil minuman. Lemon dingin menjadi pilihan, sembari menyegarkan pikiran. Sambil menikmati minumannya, Leon memperhatikan Alenna yang berjalan mendekat ke tempat Mario berdiri. Leon dapat melihat jelas langkah kaki Alenna tiba-tiba terhenti saat mendengar pertanyaan dari dua wartawan yang baru saja berlari menghampiri Mario.


"Mario, bagaimana dengan kegiatan kuliahmu? Masih lanjut atau akan lebih fokus mengembangkan perusahaan bersama Pak Leon?" tanya salah satu wartawan.


"Dua-duanya akan berjalan seimbang dan akan sama baiknya," jawab Mario.


"Mario, apa kau sudah punya seseorang yang spesial di hatimu?" tanya wartawan yang sama.


"Maaf, itu privasiku," jawab Mario sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


Tiga wartawan lainnya ikut mendekat ke arah Mario. Kamera dan alat perekam suara ikut dibawa serta. Seorang wartawan lainnya tergopoh-gopoh, ikut mendekat karena khawatir ketinggalan berita.


"Mario, bagaimana dengan ibumu? Kami sungguh ingin bertemu dengannya," terang salah satu wartawan.


"Eh, bukankah sebelumnya ada desas-desus perceraian? Itu beberapa tahun lalu," sahut wartawan lain menanggapi pertanyaan tentang ibu Mario.


"Malah isu yang kami dengar 'Bos Besar Pemilik Pabrik Sepatu' terjerat scandal," tambah wartawan yang tadi tergopoh-gopoh.


Percakapan antar sesama wartawan terus berlanjut. Mereka seolah asyik membahas sendiri dan mengabaikan keberadaan Mario di sana. Mario sedikit geram mendengarnya, hingga tanpa sadar jemarinya mengepal.


Alenna mengetahui perubahan suasana hati Mario. Berlarian kecil sembari menerobos kerumunan wartawan, Alenna berteriak-teriak mengaku sebagai bodyguard cantik yang baru saja ditugaskan untuk mengawal dan menjemput Mario.


Alenna menggenggam lengan kanan Mario erat-erat sambil terus berlarian menaiki anak tangga darurat menuju langtai dua gedung. Alenna sengaja tidak menggunakan lift.


"And now, aku menyelamatkanmu, Mario. Masih tidak mau peduli dengan keberadaanku?" tanya Alenna sesaat setelah lengan Mario dilepaskan.


Mario enggan menjawabnya. Dia memilih melangkah mendekati kaca jendela. Kancing jas dilepas semua, dia gerah. Sejenak, dia terdiam sambil menguapkan sesak yang sempat melanda.


"Terima kasih. Kau boleh meninggalkanku sendiri di sini," pinta Mario.


"No-no-no. Kalau tiba-tiba kamu punya niat bunuh diri karena frustasi, bisa-bisa aku yang paling pertama dihantui. Ih, no!"


"Alenna, please!" tegas Mario.


"Ya-ya-ya. Aku pergi. Bye!" pamit Alenna.


Ruangan seketika lengang, menyisakan Mario yang masih tetap terdiam. Hatinya sempat bergejolak saat mengingat percakapan singkat dari para wartawan tadi. Mario tidak pernah menyangka bahwa berita beberapa tahun lalu masih teringat di benak para awak media.


"Mario Dana Putra, kau itu bukan anak ...."


Gumaman Mario terputus karena getar smartphone. Tertulis nama Ken pada layar smartphone Mario. Ken menelepon, dan Mario lekas menerima panggilan suara itu.


"Mario, tunggu 30 menit lagi. Juno aku ajak juga," jelas Ken dari seberang telepon.


Begitu telepon berakhir, suasana kembali lengang. Mario masih terdiam, sembari memandang ke luar.


***


"Aaaaa!" teriak Anjani, Meli, dan Berlian dengan kompak.


"Tenang teman-teman," tutur Ken.


Ken bermaksud menenangkan teman-temannya agar tidak terus-terusan berteriak di dalam mobil. Ken khawatir teriakan itu akan mengundang keanehan dari orang-orang di jalan. Kekhawatiran Ken menjadi saat ada polisi yang sempat melirik, untung tidak menilang.


"Juno, mending aku saja yang nyetir mobilnya," tawar Berlian sambil berpegangan erat.


"Aku bisa, kok. Tenang saja," terang Juno sambil tetap fokus pada jalanan.


Juno mengemudikan mobil Berlian dengan tidak wajar. Sebelum berangkat, Juno sok-sokan bilang mahir mengemudi. Nyatanya, para penumpang dibuat histeris terus-terusan karena Juno berulang kali membuat kejutan. Hampir menyerempet motor yang parkir di pinggir jalan, hampir menabrak gerobak sayur, hampir pula kurang jeli melihat rambu merah lampu lalu lintas. Untungnya semua itu masih hampir. Akan tetapi, sesaat setelah mobil memasuki halaman gedung tujuan, tiba-tiba Juno membuat kesalahan.


Brak!


"Juno, kau perlu ambil kursus mengemudi," saran Anjani.


"Rasa-rasanya seperti habis naik wahana roller coaster," timpal Berlian.


Meli lebih dulu keluar dari mobil dan langsung mengecek kondisi mobil yang ditabrak, termasuk mengecek kondisi mobil Berlian. Ken menyusul Meli keluar dari mobil.


"Juno ...! Bagaimana ini?" panik Meli saat melihat body mobil yang sama-sama meninggalkan bekas penyok.


Kepanikan Meli membuat Anjani, Berlian, bahkan Juno ikut turun dari mobil dan bergegas melihat kerusakan mobil. Penyok di kedua mobil membuat semua panik. Juno langsung jadi sasaran empuk untuk disalahkan. Dasar Juno yang kelewatan, dia hanya memasang wajah tak bersalah sambil garuk-garuk kepala saat teman-temannya menasihatinya.

__ADS_1


***


Mario melihat jelas kejadian mobil penyok dari lantai dua gedung. Kebetulan di sana ada Leon dan Alenna yang baru saja sampai di lantai dua. Begitu mendapat isyarat dari Mario untuk segera menuju halaman parkir, seketika Leon dan Alenna menurut.


"Siapa yang ada di parkiran?" tanya Leon saat di dalam lift.


"Teman-temanku," jawab Mario.


"Wow, kamu bisa berteman juga rupanya," goda Leon dan langsung mendapat sikutan dari Alenna di bagian perutnya.


Lift terbuka. Mario, Leon, dan Alenna bergegas keluar. Kaki-kaki mereka melewati meja-meja hidangan dan hiasan-hiasan, sisa acara peresmian yang sengaja belum dibereskan atas permintaan Mario.


Sesaat kemudian Mario, Leon, dan Alenna telah sampai di halaman parkir. Pemandangan yang tergambar di sana adalah wajah-wajah panik dari teman-teman Mario. Leon dan Alenna menambah daftar kepanikan di sana. Hanya Mario saja yang seketika tersenyum tenang saat melihat teman-temannya dalam kondisi baik, tanpa ada satu pun yang terluka fisik.


"Tenang, semua akan diperbaiki dengan segera. Termasuk mobilmu, Berlian. Kalian semua tidak perlu memikirkan biayanya," jelas Mario sembari tersenyum ramah pada teman-temannya.


Mario seketika melihat ekspresi lega di wajah teman-temannya, termasuk Anjani. Tergambar jelas kelegaan di wajahnya. Senyum pun juga menghiasi wajah manisnya, membuat Mario juga ikut merasakan rasa lega sekaligus ikut tersenyum melihatnya.


"Baik, hari ini kalian tamuku. Silakan nikmati semua hidangan yang ada di dalam sana," terang Mario begitu ramah menyambut teman-temannya.


"Wow, untuk kesekian kali aku mendapat kejutan. Aura dingin seketika meleleh. Ternyata Mario bisa ramah juga," puji Leon, dan lagi-lagi mendapat satu sikutan dari Alenna di bagian perutnya.


Sesaat setelah menyikut Leon, kaki-kaki Alenna bergerak lincah mendekat ke arah Juno. Sampai tepat di hadapan Juno, Alenna hanya berdiri sambil tersenyum menatap ke arah Juno. Beberapa detik berlalu tanpa ada kata-kata meluncur dari mulut Alenna. Dua bola mata Alenna terus menatap Juno, hingga yang ditatap sedikit jadi salah tingkah.


"A-apa kamu yang bernama Alenna?" tanya Juno yang memang baru bertemu langsung dengan Alenna.


"Iya, kenalkan namaku Alenna. Nice to meet you, Juno. Hei, kamu tampan!" ujar Alenna blak-blakan.


Mendapat pujian dari Alenna malah membuat Juno semakin salah tingkah. Juno nyengir-nyengir tidak jelas, efek menerima pujian dari si bule cantik Alenna. Tidak berhenti di sana, Alenna kemudian menarik lengan Juno dan menyuruhnya untuk bergegas menikmati hidangan di dalam gedung.


Diam-diam ada hati yang merasa jengkel dengan sikap Alenna pada Juno. Rasa-rasanya telah muncul benih-benih cemburu, pertanda juga bahwa ada benih merah jambu tumbuh subur di dalam hatinya. Hati merah jambu yang tengah dilanda rasa cemburu itu milik Berlian.


***


Di dalam gedung telah tersuguh beberapa macam hidangan. Meja-meja dan hiasan di sana memang bekas acara, tapi hidangan yang tersuguh bukanlah makanan sisa. Mario sengaja mengatur semua itu untuk teman-temannya.


Aneka macam kue, beberapa macam jus, dan air mineral telah terhidang. Makanan utamanya adalah nasi ayam geprek. Mario sengaja memilihnya karena banyak yang menyukai rasanya.


Meli dan Ken yang pertama bergerak mengambil hidangan yang tersedia. Mereka berdua sempat teringat Dika yang tidak bisa ikut bersama mereka. Akan tetapi, Dika hanya melintas sesaat di pikiran Meli dan Ken. Setelahnya, ingatan itu dihempaskan dan segera terganti dengan aneka macam makanan yang terhidang.


Selanjutnya ada Berlian yang mengajak Juno untuk memilih minuman. Akan tetapi, tiba-tiba saja Alenna datang dan menarik lengan Juno menuju kue-kue di sisi kanan. Berlian mendengus kesal, lalu mengambil nasi ayam geprek banyak-banyak sebagai pelampiasan.


Anjani tidak mau kalah dari teman-temannya. Dia mengambil piring dan menuju ayam geprek dengan ulekan sambal terbanyak. Matanya dimanjakan dengan warna merah sambal yang menggoda. Tanpa pikir panjang, seketika ayam geprek incaran langsung berpindah ke piringnya.


"Anjani, sambal ayam geprek itu dibuat dari cabai-cabai yang dibawa Ken dari desamu. Sayangnya, aku sepertinya terlewatkan hingga tidak mendapatkan bagian," jelas Mario yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Anjani.


Mendengar penjelasan Mario, membuat Anjani sedikit tidak enak hati. Sebenarnya Ma sudah menyiapkan oleh-oleh bagian untuk Mario. Ma juga berpesan untuk mengantarkannya langsung ke rumah Mario. Akan tetapi, saat itu Anjani benar-benar tidak punya nyali. Jangankan untuk datang ke rumahnya, mengangkat telepon dari Mario saja waktu itu Anjani tak kuasa.


"Em, maaf. Aku lupa, hehe. Atau mau kupesankan pada Ma biar dikirimkan dari desa?" tanya Anjani, yang sebenarnya itu hanya basa-basi.


"Boleh, aku tunggu, ya. Jangan lupa antar langsung ke rumah," jawab Mario menanggapi Anjani.


Ups, aku kan hanya basa-basi. Kenapa diiyakan, sih? batin Anjani.


"Tidak keberatan, kan?" tanya Mario.


"Oh, tentu saja tidak. Ditunggu saja, ya. Yuk, makan!" ajak Anjani.


Ajakan itu meluluhkan kecanggungan yang sempat terjadi sebelum-sebelumnya. Baik Anjani ataupun Mario saat itu sama-sama lega. Mario lega karena Anjani sudah kembali menjadi dirinya. Anjani lega karena berhasil meruntuhkan rasa canggungnya, meski pada kenyataannya jantungnya berdebar kencang sejak saat Mario berdiri di sampingnya.


"Wow, sepertinya banyak hal menarik akan terjadi," tutur Leon dengan nada lirih sambil memperhatikan Mario dan Anjani, juga teman-teman Mario yang lainnya.

__ADS_1


***


__ADS_2